Prasangka

1991 Kata
Joanna menyeret ransel cokelatnya dan duduk berjongkok untuk memperbaiki tali sepatunya. Untuk kesekian kali, ia mendesah dengan berat membayangkan apa yang akan ia hadapi di kampus. ‘Bagaimana, jika ternyata gue benar-benar dikeluarkan dari kampus?’ Harapannya, tak ingin mengecewakan sang nenek. Wanita paruh baya itu, kekeh ingin ia lulus dengan nilai cumlaude lalu melamar kerja di perusahaan Lion Sam Corporation. Harus di perusahaan itu, titik. Pikir Joanna, entah kenapa neneknya bersikukuh harus bekerja di sana, bukan di tempat lain. Bahkan andaikan lamarannya ditolak, maka Joanna harus memikirkan bagaimana pun caranya agar ia diterima di perusahaan Lion Sam. Sungguh sangat tidak masuk akal! “Kamu seperti tengah memikirkan sesuatu, Jo.” Suara Elle, membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke arah wanita sepuh yang berjalan pelan mendekatinya. “Nggak, Oma. Aku, cuma lupa gak mengerjakan tugas. Tapi it’s oke, pasti bisa menyelesaikannya hari ini juga.” Omanya berdecak pelan. “Kebiasaan emang! Pasti kamu sibuk main sama ketiga anak jalanan itu.” “Ayolah Oma, mereka bukan anak jalanan. Ketiga anak itu hanya terusir dari panti asuhan, lagian bukan keinginan mereka ka__” “Ssstt ... Oma udah seribu kali denger kamu ngomong begitu. Sudah sana cepat, nanti telat dan gak bisa lagi mengerjakan tugas. Ingat, nilai kamu harus sempurna.” Joanna bangkit sambil membenarkan topinya yang miring. “Yeah! Apa sih, ya nggak buat Oma,” ujar Joanna berseloroh seraya menjulurkan tangan, dan mencium punggung tangan milik Elle dengan takzim. Baru saja ia menutup gerbang rumah dengan rapi, telinganya kesakitan mendengar klaskon sebuah mobil. “Sialan! Pagi-pagi bikin kaget, siapa sih?” umpat Joanna, matanya beredar ke arah suara dan mendapati mobil yang tidak asing. “Cih! Anak tengil itu lagi, dasar.” Walau bibirnya mengumpat, tapi hatinya terasa melompat saat tahu itu adalah mobil Kennan. Ia berjalan cepat mendekatinya sambil sibuk berpikir, kalimat apa yang harus diucapkan. “Rese lo, pagi-pagi bikin onar.” Nah, kan pasti kalimat bar-bar itu lagi. ‘Ayolah Joanna, bicaralah lembut seperti Bella, agar Kennan bisa mudah menyukaimu,' batinnya. Pemuda itu terkekeh sambil membukakan pintu mobil untuknya, namun alis Joanna bertaut. “Ngapain?” “Lho, kok ngapain. Ayo, jalan bareng ke kampus,” ucap Kennan. “Seriously? Apa lo salah makan pagi ini?” Joanna melepas salah satu tali ransel dan mendudukkan tubuhnya di jok. Setelah memasang safety belt, mobil Chevrolet Camaro silver milik Kennan, mulai melaju dengan kecepatan konstan. “Mulai hari ini, pas kita barengan ada jadwal ke kampus, gue bakalan menjemputmu. Secara, lo kan comblang gue, jadi wajar dong kuperlakukan dengan baik,” ujar Kennan santai. Joanna terkejut dengan ucapan Kennan, tadinya ia pikir mungkin saja pemuda itu memang sedang berbaik hati ingin menjemputnya, tapi rupanya .... ‘Ada cumi-cumi di balik batu?’ batin Joanna kesal. Sesampainya di parkiran kampus, Kennan mengulurkan tangan bermaksud melepas safety belt, namun Joanna terkejut dan langsung menepisnya. Sebenarnya, ia hanya tidak ingin, jika Kennan mengetahui wajah gugupnya. “Gue bisa sendiri,” ujar Joanna berusaha datar. Kennan mengangkat alisnya. “Oke. Oh, ya sekarang lo mau menghadap rektor kan?” “Iya. Jujur gue gugup, pasti bakalan di keluarin karena udah mencemarkan nama baik kampus,” cetus Joanna. Matanya seketika meredup. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Oh, ya Ken. Kalau bener gue dikeluarin, artinya gak jadi nyomblangin lo sama Bella dong!” Keduanya terpaku beberapa detik. Kennan pun baru menyadarinya. Namun, bukan persoalan itu yang ia pikirkan, melainkan khawatir jika ia tidak bisa sering bertemu dengan Joanna. Untuk mencairkan suasana, Kennan menggelitik pucuk kepala Joanna. “Jangan khawatir. Siapa bilang lo bakalan dikeluarin? Yakin deh, kebenaran akan berpihak ke lo, tenang aja. Pokoknya, sampai kapan pun gue akan membantumu.” Joanna menatap wajah Kennan lekat-lekat. Untuk kesekian kali, Joanna dibuat nyaman dengan ucapan pemuda itu. **** _Ruang rektor_ Seorang lelaki paruh baya, berjas abu-abu metalik. Sedari tadi, sibuk merapikan tempat duduknya. Entah kenapa, wajahnya sedikit pucat dan terlihat gugup. Setiap menatap wajah Joanna, rektor bernama Roberto itu tampak tersenyum canggung. Padahal, sejatinya Joanna lah yang harus bersikap demikian. Setelah berdehem untuk menenangkan diri, pria itu mulai membuka mulutnya. “Joanna Olivia Wyne, betul?” Joanna mengangguk sopan. “Betul, Pak.” “Dari catatan ini, Anda terkena masalah.” Roberto membenarkan kaca matanya sambil terus menatap sebuah lembaran kertas. Joanna seketika menelan saliva dengan kasar, menunggu detik-detik keputusan yang sudah ia perkirakan sebelumnya. Walau sedari kemarin, ia sibuk menguatkan mental, nyatanya memang tak cukup kuat. Tetap saja, hatinya bergemuruh menahan tangis. “Menurut laporan yang diterima, ada dua orang asing yang dengan sengaja, memasukkan pil-pil obat terlarang ke mulut Anda. Hal itu diketahui oleh seorang saksi yang melihat kalian bertiga di tempat kejadian.” Deg! Mata hazel Joanna membulat. ‘Seorang saksi? Siapa?’ Seingatnya, itu tempat sepi yang jarang dilalui orang-orang. Dan Joanna yakin, tepat saat kejadian itu, tidak ada orang lain selain ia, Mark dan Sean. “Dan si saksi itu juga yang akhirnya, membawa Anda dengan segera ke rumah sakit,” imbuh Roberto. “A-anda yakin Pak? Tapi si-siapa?” tanya Joanna tergugu sambil diliputi rasa penasaran. Roberto menggeleng. “Orang itu, tidak ingin diketahui identitasnya. Yang jelas, Anda tidak perlu khawatir Nona Joanna, kedua pelaku itu akan segera kami usut. Saya atas nama seluruh staf pendidik mohon maaf, atas fitnahan yang menimpa Anda. Dan kami pastikan, seluruh penghuni kampus, tidak akan ada lagi yang menuduh Anda pemakai obat-obatan itu.” Joanna menggelengkan kepala, belum sirna rasa kagetnya atas orang yang menjadi saksi sekaligus yang menolongnya, ditambah sikap rektor yang terlampau sopan padanya dengan cara meminta maaf, bahkan menyebutnya dengan sebutan Nona. ‘Apa-apaan sih!’ Joanna keluar dari ruangan rektor dengan napas memburu. Harusnya, gadis itu bahagia tidak jadi dikeluarkan dari kampus, tapi hal janggal ini cukup membuatnya bingung dan kesal. Sementara Kennan, berdiri dengan gelisah di bawah tangga. Kepalanya sesekali mendongak ke atas, berharap Joanna segera muncul dengan seraut wajah sumringah dan membawa kabar bahagia, jika gadis itu tidak jadi dikeluarkan. Hal itu, disadari oleh Jimmy yang sedari tadi mencarinya. “Bro, gue cari lo sampe ke got-got, di sini rupanya. Ngapain sih?” Kennan bergeming, pikirannya fokus pada satu nama, Joanna. “Hei, Joanna!!” pekik Jimmy. “Hah, hah. Di mana? Di mana?” Mata Kennan menyapu seisi koridor bahkan tiap sudutnya, namun ia baru tersadar jika tengah dijahili sahabatnya. Jimmy tergelak. “Huh! Denger nama Joanna aja, cepet tanggap. Giliran gue ngomong, mendadak autis!” desis Jimmy. “Rese!” Kennan menonjok lengan pemuda itu kuat-kuat. Yang ditunggu, datang. Joanna menuruni anak tangga dengan cepat, dan menatap Kennan dengan tatapan tajam. “Bagus lo di sini!” ujar Joanna. Baik Kennan maupun Jimmy berdiri bersisian. Kennan menyunggingkan senyuman. “Iya, Jo. Gue, khawatir, sampe gak fokus belajar tadi. Gimana kata pak Roberto? Lo gak jadi di drop out kan?” Joanna mengisyaratkan pemuda itu, untuk bicara di belakang kampus. Jangan lupa, Jimmy harus ikut serta sebagai tim hore. “Lo bayar berapa rektor itu?” tanya Joanna tiba-tiba. “Hah? Apa?” Bukan Kennan tak siap dengan pertanyaan Joanna, namun ia sangat tidak paham apa maksud pertanyaan gadis itu. Joanna mendecih seraya membuang muka. “Jangan pura-pura beggo. Apa sih, yang gak bisa dari seorang Kennan Alister Edberth, anak konglomerat yang hartanya gak akan habis tujuh turunan. Gue tau, orang tuamu, penyumbang dana terbesar di kampus ini, dan patutlah gue berterima kasih, karena berkat itu juga, cewek miskin ini dapat beasiswa. Tapi, jangan jadikan kekuasaan orang tuamu, memudahkanmu berbuat seenaknya!” Kennan menatap tak percaya, walau Joanna telah mengucapkan serentetan kalimat, namun tak jua berhasil membuatnya paham. “Ada apa Jo?” ucap Kennan dengan suara rendah. “Lo, kan yang menyuap sejumlah uang ke rektor itu, biar gue gak dikeluarkan?” Mata Kennan membulat. “Bahkan sampe kasih berita bohong kalau ada seorang saksi segala,” imbuh Joanna. “Nggak. Kenapa lo mikir kalau gue yang melakukannya?” “Siapa lagi? Satu-satunya teman dekat yang suka ikut campur kan lo.” Kedua bahu Joanna dipegang kuat-kuat oleh Kennan. “Lo mulai ngawur!” Joanna melepas rengkuhan itu dengan kasar. “Jujur aja deh. Lo melakukan ini, agar gue gak keluar dari kampus, biar tetep bisa comblangin lo sama Bella. Ya kan?!” “Hah comblang?” Jimmy yang terkejut dengan kalimat Joanna, langsung sibuk menutup mulutnya rapat-rapat. Sementara Kennan menatap Joanna dengan tatapan tak percaya. “Jo, kenapa lo menuduhku yang berbuat itu? Walaupun, mamaku penyumbang dana terbesar, tapi bukan berarti gue bisa seenaknya menyuap pihak kampus. Itu perbuatan salah.” Joanna mendecih. “Kok, gue gak percaya ya. Ah, sudahlah, gue capek. Otakku terkuras sejak kemarin, gua mau pulang.” “Eh, Joanna!” Jimmy menahan tubuh Kennan yang hendak menyusulnya. “Percuma, kalian ngomong dalam keadaan emosi. Yang ada, api itu semakin gede,” cetus Jimmy. Kennan mengusap wajah dengan frustasi. “Denger gak tadi? Dia nuduh gue nyuap pak Roberto! What the f**k!” “Sshhttt! Tahan mulut, jangan sampai kata-k********r keluar lagi, ademin dulu deh, yuk!” Jimmy memegang kedua bahu Kennan keluar dari kampus. **** Keduanya berhenti di salah satu stand minuman buah. Jimmy memesan dua minuman, sementara Kennan duduk menunggu. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, yang entah apa. ‘Pikirannya habis tersita untuk Joanna. Ada apa dengan dia?’ batin Jimmy yang diam-diam memperhatikan sahabatnya. “Jus mangga, buat me-rileks kan otak,” ujar Jimmy. Ia menarik kursi untuk duduk di hadapan Kennan. “Makasih.” Kennan kembali sibuk dengan benda pipihnya. “Ngapain?” “Gue mencoba menghubungi Joanna, tapi ponselnya gak aktif,” ucap Kennan gusar. Jimmy berdecak kesal. “Dibilangin ademin dulu. Ngeyel!” Ia menyambar ponsel milik Kennan, dan memasukkannya ke dalam saku jaket jeans-nya. Pasrah. Kennan memilih menyeruput minumannya. Pikirannya masih tertuju pada Joanna, bagaimana bisa gadis itu menuduhnya yang menyuap rektor? ‘Gak masuk akal. Lebih gak masuk akal lagi, saat dia bilang itu semua demi urusan comblang. Ck, dasar otak udang!’ “Banyak hal yang mau gue tanyain ke lo. Tapi bingung, mulai dari mana dulu,” ucap Jimmy. Kennan bergeming. Matanya lurus ke arah meja bundar berwarna putih. Sekeliling mereka belum terlalu ramai, karena belum jam istirahat para mahasiswa. “Jim. Gimana menurut lo soal tuduhan tadi?” Jimmy mengendikkan bahu. “Entahlah. Yang deket sama Joanna kan cuma lo.” Kennan mendengkus kesal. “Artinya, lo sama dengan Joanna. Percaya, kalau gue nyuap rektor itu!” sungutnya. “Ya nggak juga. Karena, gue kan tau sifatmu, gak mungkin melakukan hal yang melanggar aturan. Cuma merasa aneh aja sih.” “Nah, itu dia! Kemungkinan ada seseorang yang bantu Joanna, tapi siapa?” Mereka terdiam, seolah memikirkan sesuatu. “By the way. Lo minta Joanna buat dicomblangin sama, siapa tadi ... Bella?” tanya Jimmy. Kennan mengangkat alis seraya mengangguk “Begitulah.” “Why? Lebih cantik dari Dasya emang?” tanya Jimmy penasaran, jiwa playboy-nya meronta-ronta. Kennan terkekeh. “Mukanya aja, gue gak tau.” “Lha, terus?” “Ya ampun Bray. Kok, lo lemot sih. Bukannya ini ide gila dari lo. Agar gue lebih dekat sama Joanna, gue mesti akrab sama temannya. Inget gak?” Jimmy menepuk dahinya. “Iya, gue lupa. Tapi ... gak dengan cara minta dijodohin gini kali. Maksudnya tuh, kalau lo dekat sama temennya si Joanna, kan bisa tanya-tanya apa kesukaan cewek itu, apa kebiasaannya dan lain-lain.” Jimmy menjeda ucapannya. “Misalnya nih. Lo mau kasih sesuatu ke Joanna, gak akan bingung lagi, karena udah tau.” Ucapan Jimmy, sukses membuat Kennan membeku seketika. Jimmy merasa tak percaya. Sahabat yang selalu ia kagumi karena kepintarannya, kenapa mendadak bodoh soal cinta? “Telanjur ... sekarang, gimana dong?” tanyanya memelas, sambil bersandar di badan kursi. Seolah ada sesuatu yang menyedot energinya. “Jujur, gue takut ini malah akan menjauhkanmu dari Joanna. Tapi ya gimana lagi, pikirin ajalah sendiri,” cetus Jimmy. “Lo, gak bantu gue lagi Jim?” rengek Kennan penuh harap. Jimmy menggeleng seraya bangkit. Kaki panjangnya mulai menjauh. “Lo bayar minumannya ya!” seru Jimmy terdengar samar. Melihat itu, Kennan semakin gusar dibuatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN