Aku hanya pengamen
Digrogol ku genjrang-genjreng
Bekerja tak mengenal waktu
Bernyanyi menghiburmu
Ingin aku menangis
Namun air mataku habis
Aku kuat karena percaya
Masa depanku kan berbeda
.
Joanna ikut bernyanyi di dalam bus, bersama ketiga pengamen kecil Leon, Cilla dan Anne sambil menjajakan jualan cangcimen. Sesekali tawa membahana walau di dadda mereka tak seperti kelihatannya.
Setelah selesai, mereka beruntun turun dari bis sambil mengibaskan peluh di kening.
Leon mendekat dan memeluk Joanna.
“Makasih ya kak Jo, udah nemenin kita lagi. Kangen.”
Joanna tersenyum. Ia berjongkok mengimbangi tubuh Leon, sementara kedua kakaknya sama-sama berhambur memeluknya. “Sama-sama. Sorry ya, gue bakalan jarang ngamen mulai sekarang karena lagi banyak kerjaan banget, tapi tetap bakalan diusahakan menemui kalian kok.”
Air muka mereka tampak sedih.
“Hei, jangan sedih gitu dong. Semua kan buat kalian juga, gue lagi nabung biar bisa nyekolahin kalian lagi, bisa bikin tempat tinggal yang layak juga.”
“Iya Kak, makasih banyak,” ucap Cilla.
“Jo, mana kak Kennan. Gue udah lama gak lihat dia.”
Mata Joanna meredup, menyebut nama pemuda itu membuatnya kembali mengingat permasalahannya.
‘Jangan-jangan, kemarin perlakuanku terlalu berlebihan menuduh Kennan melakukan suap. Tapi ... kalau bukan dia siapa lagi? Gak mungkin dosen itu tiba-tiba baik kalau bukan ada sesuatu yang membuatnya berubah,' batinnya bersenandika.
“Jo, kok bengong?” tanya Leon bersuara nyaring.
Joanna mengerjap. “Oh, iya. Soal dia, mungkin sama bakalan jarang ketemu kalian. Kak Kennan kan udah semester akhir, bentar lagi ujian dan bikin skripsi, dimaklum ya?”
Ketiganya mengangguk pelan, walau hati mereka sama sedihnya.
Obrolan itu, terus berlanjut tanpa disadari ada sebuah mobil Mercedes melaju pelan.
“Gary, stop di sini. Saya ingin melihat mereka terlebih dahulu, tapi jangan terlalu dekat,” ujar seorang wanita paruh baya pada sopirnya.
“Baik Nyonya.”
Mobil itu dipinggirkan. Sekian detik berlalu, wanita itu memutuskan untuk turun dari mobil diantar sang sopir. Perlahan kursi rodanya didorong mendekati mereka yang asyik bercengkerama.
Joanna menyadari kedatangan wanita itu yang sedari tadi menatapnya. Ia bangkit dan mengangguk samar.
Sekilas saja, Joanna cukup terpukau dengan wajah cantik wanita itu. Rambutnya hitam di sanggul kecil, dengan baju dress panjang model cheongsam warna marun.
“Maaf Dek, punya waktu sebentar?” tanya wanita itu pada Joanna.
****
Joanna dibawa ke sebuah restoran tak jauh dari tempat mereka bertemu. Walau dengan raut wajah malu dan bingung, ia menaruh topi lusuhnya di meja sambil sibuk menerka-nerka, apa yang akan dilakukan wanita itu.
“Nama saya Rose. Kamu siapa?”
“Sa-saya Joanna, Nyonya.”
“Nama yang cantik. Mau makan apa? Pesan saja, jangan sungkan.”
Joanna menggaruk tengkuknya, ia bingung harus pesan makanan apa. Karena nama-namanya saja membuatnya terpleset lidah.
Rose menyadarinya, ia terkekeh pelan.
“Ini restoran Italy. Tapi menunya sudah disesuaikan dengan selera kita kok.”
“Saya ikut Nyonya saja, karena makanan apa pun saya suka,” ucap Joanna kemudian.
Rose mengangguk. Ia pun memesan dua porsi beefsteak, lasagna, makanan pembuka dan minuman segar.
Kembali tatapannya mengarah pada wajah lembut milik Joanna.
“Oh, ya Nyonya. Kok, tau saya cewek? Langsung bisa nebak lho, biasanya orang-orang bakalan mengira saya ini cowok,” ujar Joanna polos.
“Tentu lah, dari wajahnya saja udah kelihatan kalau kamu cewek, jarinya aja lentik gitu,” ucap Rose di sela tawa.
Ucapan Rose membuatnya sangat tersipu. Bukan keinginannya, ia berpenampilan seperti lelaki tapi Joanna sengaja demikian agar saat bekerja serabutan, tak ada lelaki yang berani mengganggunya.
“Kenapa? Apa ucapan saya menyinggung perasaanmu?” tanya Rose khawatir.
Gadis itu dengan cepat menggeleng. “Ah, nggak Nyonya. Saya, justru merasa tersanjung.”
Kembali, Rose tersenyum. Ia suka dengan kepolosan gadis itu, entah dari cara bicara maupun penampilan.
‘Seperti aku waktu remaja,' batinnya.
Pesanan mereka datang. Joanna, masih bergeming memperhatikan gerak gerik Rose. Ia tidak ingin salah dalam tata cara makan, yang hanya akan mempermalukan wanita di hadapannya itu.
Tampak Rose memegang pisau di tangan kanannya, dan garpu di tangan kirinya. Lalu, dengan gerakan anggun, wanita itu memotong daging untuk ia masukkan ke mulut. Diam-diam, Joanna mengikutinya.
“Pasti kamu heran, kita baru ketemu sekali tapi saya sudah berani mengajakmu bicara.”
Joanna mengangguk samar.
Tampak wanita itu menaruh pisau dan garpu kemudian menghela napas panjang.
“Saya ingin meminta bantuanmu jika bisa. Tapi sebelumnya, mau tanya dulu siapa ketiga anak itu dan dari mana asal usulnya,” sambung Rose.
Untuk beberapa detik, mereka berdua terdiam. Tampak Joanna menimbang kalimat apa yang baik untuk diucapkan. Sebenarnya, gadis itu bukan tipe orang yang mudah diajak bicara oleh seseorang yang baru dikenali, namun saat bertemu dengan Rose, seolah terhipnotis entah kenapa.
“Awalnya ... kedua orang tua anak-anak itu meninggal karena kecelakaan, yang akhirnya membuat mereka tinggal di sebuah panti asuhan. Awalnya, hidup dengan damai, sampai musibah kebakaran menimpa yayasan itu. Ada yang memang meninggal ada juga yang selamat termasuk mereka bertiga. Namun, sudah tidak ada lagi harapan untuk tetap tinggal, ya kasarnya gak ada lagi yang mau ngurus mereka lah. Akhirnya, Anne, Cilla, Leon hidup di jalanan seperti sekarang,” terang Joanna panjang lebar.
Tampak Joanna berdehem seolah tersadar sesuatu. “Ah, maaf Nyonya. Saya, malah cerita panjang-panjang begini.”
“Tidak apa-apa. Saya memang ingin tau banyak hal tentang anak-anak itu. Karena, ini ada hubungannya dengan maksudku untuk berbicara denganmu sekarang,” ujar Rose.
Joanna tersenyum dan mengangguk penuh arti.
****
Hari berganti, dengan terik di pelataran siang.
Klung!
Langkah Joanna terhenti, tepat di gerbang kampus. Ia merogoh benda pipih miliknya di saku celana jeans, dan segera mengecek kalau-kalau ada chat yang penting.
[Joanna. Mari kita bicara.]
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, tatapannya berhenti tepat di belakangnya. Tampak seorang pemuda tengah berdiri, yang jaraknya sekitar empat meter, segaris lurus dengannya.
“Ngomong apa Ken?” tanya Joanna yang melangkah mendekatinya.
“Kosong gak?” tanya Kennan.
Joanna melirik jam tangannya. “Gue ada mata kuliah setengah jam lagi.”
“Sip! Cukuplah buat kita ngobrol.”
Joanna berdecak kesal. “Mau ngobrol apa lagi?”
“Soal tempo hari.”
“Hff! Malas ah,” ucap Joanna sambil membuang muka.
“Emangnya, lo mau tetap nething kalau gue yang suap pak Roberto?”
Joanna bergeming sambil menyilangkan kedua tangan di dadda.
“Asal lo tau, orang tuaku emang kaya. Tapi gue masih pengangguran, dan bukan tipe anak yang apa-apa minta duit sama mereka, apalagi dengan jumlah yang banyak. Tiap gue minta duit, pasti hanya berhubungan sama kuliah nggak yang lain. Bukan mereka pelit, tapi ogah aja terlalu tergantung sama mereka,” terang Kennan.
Mata Joanna bergerak menatapnya. Tidak adil rasanya, jika ia masih berprasangka buruk atas sesuatu yang mungkin tidak pernah Kennan lakukan.
“Gue ... gak bermaksud nuduh lo, tapi sikap pak Roberto sangat aneh. Gue gak biasa aja diperlakukan kayak gitu.”
Kedua alis tebal Kennan bertaut.
“Sikap yang bagaimana?”
“Pak Roberto kayak seorang pembantu, yang lagi menghadapi majikannya. Sangat hormat dan sedikit takut padaku, dan beliau manggil aku dengan sebutan Nona, hii ... itu geli, Ken!”
Kennan mencoba menahan tawa.
“Dasar! Tapi iya juga sih. Sudahlah, gak usah dipikirin yang penting lo sekarang percaya kan sama gue?” tanya Kennan.
“Yeah, gimana lagi.”
“Asik! Thank you!” Kennan merangkul bahunya sambil berjalan beriringan, membuat degup jantung Joanna seketika menjadi cepat.
“Eh, Jo. Titip salam buat Bella, bilang ke dia ada yang diam-diam suka sama sama dia, jangan dulu kasih tau kalau gue orangnya ya?” imbuh Kennan.
Joanna langsung menghentikan langkahnya dan menatap lekat-lekat wajah Kennan.
“A-apa ... ini udah waktunya, gue comblangin lo?”
“Of course. Tunggu apa lagi coba! Gue gak sabar buat jadi pacarnya Bella,” cetus Kennan bersemangat, ia menampilkan deretan giginya yang rapi.
“Oke,” ucap Joanna sambil menelan saliva.
****
Benar kata Pak Roberto, semua staf bahkan seluruh mahasiswa tidak ada yang menuduhnya macam-macam, mencibir atau menyudutkannya. Hanya anggukan sopan dan menyapa dengan ramah, saat Joanna berjalan di koridor atau area kampus
Tapi hal itu, justru membuatnya risih dan semakin heran.
‘Mereka, gak sedang kerasukan massal kan?’ batinnya bertanya-tanya.
“Joanna!” seru Bella kejauhan sambil melambaikan tangan ke arahnya, ia pun membalas lambaian itu diiringi senyum kotak.
“Hai, Bella!”
Bella mendekat. Ia memakai rok kotak-kotak warna mocca selutut, dipadu kemeja putih yang cukup ketat membentuk tubuhnya yang langsing.
‘Ah, gadis itu memang sangat cantik dan feminim. Pantas saja, Kennan naksir.’ Bibir Joanna mengerucut.
Bella merangkulnya erat-erat.
“Jo, kamu bikin aku khawatir. Tapi syukurlah, semuanya sudah selesai, dan sejak awal aku yakin kalau ini cuma jebakan orang iseng,” ucap Bella.
Mereka saling mengurai pelukan.
“Makasih ya Bel, kamu udah percaya.”
“Itulah gunanya sahabat bukan? Ayo!” Bella menggiringnya masuk ke ruangan.
Mereka duduk di kursi masing-masing.
Joanna sibuk memperbaiki duduknya berkali-kali. Sesekali ia memutar-mutar pulpen di meja dan berpikir, antara harus mengutarakan pesan Kennan untuk Bella ataukah tidak.
Bella menoleh ke arahnya.
“Kenapa Jo?”
Mata Joanna membulat karena terkejut. “Ng-nggak apa-apa. Oh, ya mau nanya nih.”
“Hu-um apa?”
“Kamu, udah punya pacar belum?”
“Kenapa tanya itu?” Bella balik bertanya.
Joanna menyeringai, ia mulai merasa tidak nyaman. Buka gayanya bertanya soal pribadi seseorang.
“Cuma mau tau sih,” ucapnya seraya menggaruk tengkuknya.
“Belum.”
“Kenapa?”
Bella tertawa. “Punya pacar kan gak harus, Jo.”
“Iya, sih. Aneh aja, cewek secantik kamu gak punya pacar.”
Bella menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mendekatkan wajah ke arah Joanna.
“Yang naksir ada beberapa di kampus ini, tapi aku tolak karena bukan tipeku,” bisiknya.
“Waah, artinya seleramu cukup tinggi.”
Kembali gadis berambut panjang itu tertawa kecil. “Bisa aja kamu.”
“Tapi kamu benar, dan orang yang menyukaimu bertambah satu orang,” ucap Joanna.
“Oh, ya? Siapa?”
“Teman dekatku, kakak tingkat di kampus ini. Tadi, dia titip salam untukmu,” ucap Joanna. Akhirnya, kata itu terucap juga seketika hatinya mencelos entah kenapa.
Namun, reaksi Bella hanya mengendikkan bahu seolah tak peduli.
“Biarin aja. Pagi ini, udah ada tiga orang yang nitip salam, semua kuabaikan,” cetus Bella sambil memutar tubuh, kembali memunggunginya.
Seolah ada angin segar menerpa wajah Joanna, entah kenapa ia bahagia dengan kalimat yang diucapkan Bella, walau sedetik kemudian ia menampar pipinya sendiri.
‘Sadarlah Joanna. Walau Bella gak suka Kennan, pasti cowok itu akan nyari cewek lain. Dan yang pasti bukan kamu! Mengsediiih ....’ batinnya.