Tanpa sadar, senyum tersungging di bibir mungil milik Joanna. Ia melangkah cepat hendak menemui Kennan, untuk mengabarkan pada pemuda itu, jika Bella hanya bersikap acuh tak acuh saat mendapat salam dari Kennan.
Entah kenapa, ia bahagia dengan reaksi Bella.
Brukk!!
Seseorang jatuh, saat Joanna tak sengaja menabraknya. Ia pun terkejut dan langsung mendekati orang itu untuk mengulurkan tangan.
“Maaf, saya tidak sengaja.”
Orang itu yang dalam kondisi menunduk segera bangkit dan menepuk-nepuk rok mustard-nya yang terkena sedikit debu. Namun, saat mengetahui wajahnya, Joanna membeku seketika.
“Duh, kalau jalan hati-hati ya,” ucap orang itu.
Joanna masih bergeming, bibirnya terkatup rapat dengan tangan yang bergetar.
Sadar, Joanna hanya terdiam. Orang itu menatap ke arahnya.
“Hei, kamu ....” ucapannya menggantung saat sadar, siapa yang telah menabraknya.
“Ka-kamu ... kenapa, ada di sini?” tanya Laura tergagap. Ia sibuk menengok kanan dan kiri lalu menarik pergelangan Joanna ke tempat yang agak sepi.
Netra Joanna langsung berembun melihat sikap Laura yang tidak pernah berubah padanya.
“Aku kuliah di sini. Anda sendiri, sedang apa di kampus ini Nona Laura?” ujar Joanna menatapnya dengan nanar.
Tampak wajah cantik paripurna itu, seketika menegang, namun mampu mengatasi situasi. Laura pun merapikan blazer dan mencoba memberanikan diri menatap Joanna.
“Aku dosen akuntansi di sini.”
Deg!
Ternyata selama ini, mereka berada di tempat yang sama.
‘Bagaimana mungkin gue baru nyadar? Kalau tau sejak awal, gue gak sudi kuliah di sini sekali pun Oma memaksa,’ batin Joanna.
“Kita sebaiknya pura-pura saling tidak mengenal satu sama lain,” desis Laura
“Jangan khawatir Nona, tanpa kamu mengucapkan itu aku akan melakukannya. Justru, itu membuatku jauh lebih senang,” ucap Joanna lantang, kemudian ia melangkah melewatinya..
Sementara Laura mengumpat dalam hati, dan menyesalkan kenapa harus satu kampus dengan Joanna.
‘Sial! Dia gak boleh terus kuliah di sini!’ batinnya.
****
Joanna celingukkan tepat di depan pintu ruangan, di mana Kennan masih mengikuti mata kuliah.
Ia menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam tangannya.
Yang ditunggu muncul sambil menyuguhkan senyum manisnya.
‘Dasar bocah tengik, sempat-sempatnya tersenyum manis!’ batin Joanna kesal, karena hal itu menimbulkan detak jantung yang tak biasa.
“Hai. Udah lama nunggu?” tanya Kennan.
“Iya, tumben lo telat.”
“Lusa mulai ujian, jadi tadi banyak pengarahan-pengarahan dari dosen. Yuk gue antar pulang.”
Alis Joanna bertaut. “Lo gak nanya?”
“Nanya apa?” tanya Kennan bingung.
“Gue udah sampein salam ke Bella. Lo gak penasaran apa reaksi cewek itu?”
Tentu saja, Kennan tidak penasaran bahkan ia lupa pernah menitipkan salam pada Joanna untuk Bella. Karena mulut dan hatinya jelas berlawanan.
“Oh iya, apa reaksinya?” tanyanya setengah malas.
“Biasa aja. Dia bilang, udah gak aneh dapat salam dari para cowok, dan lo orang ketiga yang titip salam buat dia hari ini.”
Kennan mengangkat bahu dramatis. Sebenarnya, ia malas tapi ....
“Urusan gue udah kelar berarti ya, karena dia udah nolak lo sebelum ditembak. Artinya comblang ini gak akan dilanjutkan. Dengan begini, kita akan jarang ketemu karena udah gak ada urusan lagi,” ucap Joanna.
Tanpa gadis itu sadari, Kennan cukup terkejut.
“Apa, jarang ketemu? Si-siapa bilang? Comblangnya tetap lanjut dong, gue kan belum menyatakan perasaan sama Bella.” Terpaksa, Kennan mengucapkan itu, agar ia bisa tetap bisa bertemu Joanna.
Tampak Joanna menghela napas dengan berat.
“Tapi Bella kayaknya gak antusias. Dari pada sakit hati karena ditolak, mending nyerah aja.”
Kennan menggeleng. “Enak aja nyerah. Gak ada dalam kamus gue!”
Kegigihan Kennan, malah membuat hati Joanna teriris.
‘Ya Tuhan. Sebesar itukah cinta Kennan untuk Bella?’
“Joanna! Kok lo diem? Masih mau jadi comblang gue kan?”
Joanna menggigit bibir bawahnya, sejurus kemudian ia mengangguk pasrah. Melihat itu, Kennan tiba-tiba memeluknya.
Grep!
'Jantungku!’
“Makasih, Joanna imuuut ....”
“Ken! Ini di kampus, lepas ih malu!” ujar Joanna memekik tertahan.
Kennan sontak melepas dengan cepat.
“Maaf Jo. Gue refleks!” ujar Kennan terkekeh geli.
Lalu mereka tertawa canggung.
Gadis itu pun merapikan topi dan ranselnya lalu menghirup udara dengan napas panjang.
“Ya udah, gue balik dulu ya.”
“Eh, kan udah bilang tadi, gue antar.”
“Gak usah. Gue gak pulang dulu, mau ke tempat lain.”
Kennan menghalangi tubuh Joanna dengan merentangkan tangan, saat gadis itu mulai melangkah.
“Pokoknya ke mana pun lo pergi, gue antar.”
Senyum tipis terukir di bibir Joanna, ia menurunkan salah satu tangan Kennan.
“Jangan Ken. Nanti, gue keenakan diantarin terus. Kalau suatu saat lo jadian sama Bella, kan gak mungkin bisa nganter lagi. Jadi, harus dibiasakan dari sekarang. Oke!”
Kennan terpaku seketika, entah kenapa ia merasa pilu mendengar kata-kata itu.
‘Apa mungkin, Jimmy benar. Jika memintanya menjodohkanku dengan Bella, malah akan membuatku jauh dari Joanna?’
Pemuda itu, pasrah menatap Joanna yang semakin jauh melangkah pergi.
****
Joanna sudah sampai depan pintu rumahnya, ia melepas sepatu converse dan mendapati neneknya tengah menjahit sesuatu memakai mesin jahit usangnya.
“Wajahmu suram, Jo. Ada masalah?” tanya Elle.
“Kok, Oma tau? Padahal belum lihat mukaku sejak aku masuk rumah,” ujar Joanna melenggang dan menaruh ransel di sofa.
“Tepi mata Oma bisa lihat kamu jalan dengan gontai. Ada yang mengusik hatimu?”
“Ya, hari ini sangat kacau.”
“Soal apa?”
Joanna mendudukkan dirinya pada sofa, sambil sesekali memijat pangkal hidung.
“Aku suka sama seseorang Oma, tapi dia gak suka. Gak aneh sih, mana ada cowok yang mau sama cewek aneh kayak aku,” ujarnya tertawa hambar.
Elle menghentikan aktifitasnya, dan menoleh ke arah cucunya.
“Oh, cucu oma normal. Syukurlah ....”
“Oma!!” pekik Joanna kesal.
Elle hanya tertawa renyah, ia bangkit dan duduk di sisi Joanna.
“Kamu cantik kalau gak pakai baju lelaki dengan potongan rambut seperti ini,” cetus Elle sambil menggasak rambut cucunya.
Joanna hanya mengerucutkan bibirnya.
“Lupakan. Ada hal lain yang menambah kekesalanku hari ini.”
“Apa?” Elle kembali bertanya.
“Aku ketemu dia, dan ternyata dia dosen di kampusku.”
Kening Elle bertaut. “Siapa yang kamu maksudkan?”
Gadis itu bangkit sambil mengendikkan bahu.
“Siapa lagi wanita yang kubenci selain Laura? Oh, dunia terasa sempit rasanya.” Ia melangkah ke kamar dengan mengentak-hentakkan kaki, dan sejurus kemudian terdengar teriakan yang cukup keras.
Elle mengelus daddanya. Joanna memang seperti itu, ia akan meluapkan emosi sendirian di kamarnya. Namun, bukan karena itu wanita paruh baya itu mengelus dadda, melainkan kehadiran Laura yang dikhawatirkan akan mengganggu hidup Joanna.