Suara ketukan pintu tidak membuat Kennan bergeming sedikit pun. Ia hanya meringkuk dengan tubuh sepenuhnya tertutup selimut, membuat Rose terpaksa membukanya dan masuk.
Bi Mui bercerita, jika Kennan pulang dini hari dalam keadaan luka namun pemuda itu tidak ingin diperiksakan ke dokter.
Mata Rose berembun saat merasakan tubuh anaknya bersuhu tinggi, Bi Mui pun datang mendekat sambil membawa wadah berisi air dan handuk kecil untuk mengompres.
“Biar saya saja Bi, kamu segera telepon dokter Gerald dan suruh segera datang ke sini.”
“Baik, Nyonya.” Bi Mui mundur perlahan sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Tatapan wanita itu, kembali mengarah pada Kennan yang tengah menggigil. Ia mengguncang halus tubuh anaknya.
“Ken, bangun Sayang. Kamu harus dikompres dulu.”
Tubuh Kennan sedikit menggeliat, dan menyingkap selimut hanya di bagian wajahnya.
Ia melenguh pelan seraya menyipitkan mata.
“Kenapa Mama pagi-pagi berisik?” ucap Kennan dengan suara parau.
Rose hanya tersenyum. Ia dibuat khawatir sejak tadi dengan kondisi anaknya, tapi pemuda itu masih belagak kuat.
“Mama mau mengompres keningmu.”
“Gak usah.”
“Jangan menolak.” Rose menahan tangan Kennan yang mencoba menghalaunya.
Tampak pemuda itu pasrah saja dan memilih diam menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Iris matanya berpindah ke dinding sebelah kirinya, yang menempel jam dinding berbentuk bundar. Jam menunjukkan pukul delapan pagi.
“Ma, aku harus bangun.” Kennan mencoba bangkit, namun gagal. Tubuhnya terasa sangat sakit dan kaku.
“Mau ngapain? Lihat, bahkan bangun saja kamu kesusahan. Sebaiknya tidur saja.”
Kennan membuang napas kasar dan dengan raut kecewa ia kembali berbaring.
“Aku mau ke kampus,” ucapnya kemudian.
“Jangan ngawur, Nak. Kamu gak mungkin pergi dalam keadaan begini.”
Bukan Kennan terlalu rajin, namun ia teringat akan janjinya menjemput Joanna, sementara ia baru ingat jika ponselnya remuk, hancur akibat kecelakaan semalam.
Ia hanya bisa menggasak rambutnya kecewa.
“Apa ada tugas penting, sampai kamu gusar begini?” Rose kembali bertanya.
“Menurutku lebih penting dari itu.”
“Oh, kalau begitu mungkin mama bisa bantu. Katakan saja Ken.”
Kennan mendecih, baginya apa yang bisa dilakukan orang yang lumpuh. Eh, tapi ....
Rose cukup terkejut, saat Kennan tiba-tiba terperanjat seolah luka di tubuh tak terasa sakit.
“Tolong telepon pihak kampus sekarang,” ucap Kennan kemudian.
****
Di tempat lain.
Bella menoleh ke belakang, di mana Joanna tengah mem-pout kan bibir sambil bersedekap di meja miliknya.
Joanna rupanya masih kesal pada Kennan, karena tak kunjung datang untuk ke kampus bersama, padahal sudah janji. Bahkan berkali-kali dihubungi, ponsel pemuda itu tidak aktif.
‘Dasar tukang php! Gue gak bakalan ngarep nebeng mobil lo, kalau gak dijanjiin,' batinnya kesal.
“Kamu kenapa Jo, dari mulai datang kok mukanya bete?”
Joanna menegakkan tubuh.
“Nggak apa-apa, gue cuma__”
Belum selesai ia bicara, seseorang menarik tangannya dengan kasar. Sedetik, Joanna berpikir pasti itu Kennan karena sudah kebiasaan lelaki itu sering melakukannya, namun saat mendongak ....
‘Mark? Siallan, mau ngapain lagi dia!’ batinnya.
Pemuda itu mengajaknya bicara di tempat sepi, masih di area kampus, tak lupa Sean yang selalu berada bersamanya.
“Mau ngapain lagi? Belum puas lo nyiksa gue?!” bentaknya.
Joanna terpojok, tubuhnya bersandar di tembok dan ditahan kedua tangan Mark.
“Gue gak habis pikir, kok lo bisa bebas dari kasus kemaren? Si Ken nyuap pihak kampus?” tanya Mark mengintimidasi.
“Nggak, siapa bilang? Beruntung, karena pak Roberto percaya, kalau gue bukan pemakai obat. Dan patutnya kalian berdua juga bersyukur, karena gue gak melaporkan tindakan jahat kalian!” ujar Joanna, lalu membuang muka.
Mark mendengkus kasar. “Oke lupakan. Tapi, gue gak akan berhenti mengganggu, kalau lo masih akrab sama Kennan.”
Alis Joanna bertaut. “Ada masalah apa sih, lo sama dia?”
“Bukan gue, tapi justru dia. Orang satu-satunya yang ingin kusingkirkan, cowok pengganggu, dan tukang ikut campur!”
“Dih, ada juga kalian berdua yang tukang ganggu. Sakit jiwa!” tukas Joanna.
Tangan Mark melayang hendak menampar pipi Joanna, tapi gadis itu lebih sigap membalas dengan menendang organ berharga milik Mark, hingga terjengkang.
“Brengsekk!” umpat Mark kesakitan. Sean sibuk membantunya bangkit.
“Kalian cemen! Beraninya sama perempuan,” ujar Joanna seraya berlalu meninggalkan mereka.
Sean menendang udara ke arah Joanna yang sudah menjauh. “Beuh, dasar cewek jadi-jadian!”
****
Bella berlari kecil mendekati Joanna yang tengah minum minuman soda berkaleng di taman kampus.
“Joanna!”
Joanna tersenyum tipis. “Hai.”
“Tadi Mark sama Sean mau ngapain? Kamu nggak diapa-apain kan?” tanya Bella khawatir.
“Nggak. Buktinya aku baik-baik aja.”
“Huff, syukurlah. Saranku, jangan banyak berurusan sama mereka. Mark dan Sean itu, mahasiswa abadi yang terkenal ditakuti warga kampus.”
Kening Joanna berkerut. “Mahasiswa abadi, maksudnya?”
“Hu’um. Mereka itu harusnya udah lulus tiga tahun lalu, tapi selalu gagal. Sebelum Kak Kennan masuk, mereka itu senior yang selalu mengganggu para mahasiswa. Entah itu bully atau memalak, kalau melawan maka bakalan dipukuli habis-habisan.”
Mata Joanna membulat sambil berdecak.
“Sadis. Emangnya, mereka gak lapor orang tua atau pihak kampus?”
Tampak Bella mengangkat bahu dramatis. “Keburu takut karena diancam duluan, lagian udah jadi rahasia umum juga.”
“Trus, kenapa si Mark dan Sean malah lebih takut sama Kennan?” tanya Joanna kemudian.
“Kamu udah tau dong, kalau orang tua kak Kennan memiliki hampir seluruh saham yayasan kampus ini, berikut dana untuk beasiswa dan lain-lain. So, pasti Mark dan Sean ketakutan jika mereka akan dikeluarkan,” terang Bella.
Mendengar itu, Joanna mengangguk paham. Ia menghela napas lalu mengangkat kaleng minuman untuk dihabiskan. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Oh, ya Bella. Aku belum pernah ngomong ya, siapa yang titip salam sama kamu waktu itu?”
Bella menggeleng. “Belum sempat, kamu cuma bilang kakak tingkat doang.”
“Yeah, itu karena kamu langsung menyanggah dan bilang kalau yang naksir kamu banyak.”
Bella terkekeh. “Sorry. Bukan maksud sombong, tapi agak jengah aja. Habisnya, rata-rata cowok yang naksir aku bukan tipeku sih, jadi malas menanggapinya.”
“Tipemu kayak gimana?” selidik Joanna.
“Yang pasti ganteng, kaya tapi baik dan gak neko-neko.”
Joanna terdiam sesaat, ia menelan saliva antara harus lanjut bicara atau selesai di sini saja.
“Apakah Kennan gak termasuk tipemu?”
“Maksudmu, Jo?” Bella balik bertanya.
“Menurutku, Kennan kaya dan ganteng. Tapi dia gak neko-neko, biasa aja kalau aku lihat,” cetus Joanna sambil melempar kaleng minuman ke tempat sampah.
Sedetik, Bella membeku menatapnya. Lalu, gadis itu membalikkan kedua bahu Joanna agar berhadapan dengannya.
“Arah pembicaraanmu ke mana? Ada apa soal kak Kennan?”
Joanna mengangkat bahu. “Yang titip salam lewat aku buatmu, ya Kennan. Dia naksir sama kamu, Bella.”
Deg!
Mata Bella membulat, dan untuk kedua kalinya ia mematung lebih lama.
Mulutnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun seseorang menepuk bahu Joanna membuat gadis tomboi itu menoleh ke belakang.
“Joanna Olivia?” tanya salah satu dosen laki-laki.
“Oh, betul saya Pak. Ada apa?” Joanna berucap sopan.
“Saya mencarimu ke mana-mana. Ada telepon untukmu. Mari ikut saya ke ruangan dosen.”
Sesaat, Joanna berpikir siapa yang meneleponnya. Jika penting, kenapa tidak lewat ponselnya?
Tatapannya mengarah ke Bella. “Bella, aku pergi dulu ya. Tapi, habis ini kayaknya langsung balik juga karena mata kuliahku udah selesai. Bye!”
Bella mengangguk samar, hatinya masih ingin berbicara. Karena seolah ingin meminta kejelasan, apakah benar Kennan menyukainya?
‘Ya Tuhan. Pasti aku bermimpi, laki-laki yang kusuka selama ini, balik menyukaiku?’ batin Bella bersorak.
****
Joanna duduk sesuai arahan dosen laki-laki itu, lalu meraih gagang telepon dan didekatkan ke telinganya.
“Ha-halo?”
“Halo, dengan Joanna?” Terdengar suara wanita di seberang telepon.
“Betul. Anda siapa?”
“Saya ibunya Kennan. Dia memintamu untuk datang ke rumah sekarang, kondisinya masih belum pulih pasca kecelakaan tunggal semalam, jadi ....”
Wanita itu terus berbicara dan memberikan alamat rumahnya. Sementara Joanna menepuk dahi.
‘Kenapa tadi gue kesel karena Kennan gak jemput? Mestinya gue paham dong, dia masih sakit!’ batinnya.
Setelah pamit pada dosen, dia berlari kencang ke arah parkiran dan menaiki motor bututnya menuju perumahan elite – kediaman Kennan.
Tidak sampai sepuluh menit, Joanna sampai di depan gerbang rumah mewah berlantai tiga. Bangunan kokoh nuansa putih tulang mendominasi dengan aksen keemasan itu, tampak kokoh dan elegan.
Joanna berdecak kagum.
“Selamat siang?” ujar security membuat Joanna tersadar dan sedikit beringsut.
“Eh, siang Pak. Saya Joanna, dan__”
“Silakan masuk. Tuan rumah sudah menunggu.”
Security itu membuka gerbang besi nan tinggi, membuat Joanna semakin insecure dan sempat ragu. Ia bahkan menatap penampilannya yang sangat kontras.
‘Ck! Malu aing, buluk gini!’ Joanna menggigit bibir dan hendak mengetuk pintu, namun seorang maid lebih dulu membukanya dan memintanya untuk masuk.
“Silakan masuk, dan ikuti saya Nona.”
Joanna hanya mengangguk dan mengikuti langkah maid. Ia berjalan dan menyapu seisi rumah yang tidak bisa dibilang biasa saja.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu lift, kembali ia mengikuti arahan untuk masuk. Tak lama, mereka sudah berada di lantai dua dan mendekati sebuah pintu kamar.
Suara seseorang, meminta Joanna masuk sesaat setelah pintu diketuk.
Maid membiarkan Joanna masuk sendirian, dan mendapati seorang wanita paruh baya duduk di kursi roda memunggunginya. Lalu ada seorang lelaki berjas putih menghadap Kennan yang tengah duduk bersandar di bahu ranjang.
Kennan menoleh ke arahnya.
“Joanna, sini mendekat,” ujar Kennan dengan wajah sumringah. Jujur saja, Rose merasa aneh dengan raut wajah anaknya yang tidak bisa.
Wanita itu pun memundurkan roda dan menoleh ke arah Joanna.
“Eh, Nyonya Rose?” Joanna menunjuk ke arah wanita itu karena terkejut.
Sama halnya dengan Joanna, Rose pun cukup terkejut.
“Oh, jadi Joanna yang dimaksud Kennan adalah kamu.”
Joanna sedikit tertawa.
Sementara Kennan dibuat bingung. “Kalian ... saling mengenal?”
Joanna masih berdiri di tempatnya, barulah ia melangkah saat Rose memintanya duduk di kursi dekat ranjang.
“Iya, Ken. Mama tidak sengaja bertemu, saat Joanna dan teman-temannya selesai mengamen. Setelah itu, kami ngobrol banyak hal, terutama mengajak Joanna bergabung di yayasan yang pernah mama ceritakan dulu padamu.”
Kennan bergeming, dan masih menatap wajah Joanna seolah sedikit kecewa karena ia tak tahu menahu soal ini.
“Sebenarnya, mama sudah ingin cerita tapi selalu gak sempat karena kamu kayaknya sibuk akhir-akhir ini. Tapi mama pernah bilang, bahwa yayasan panti asuhan dan yayasan pendidikan yang mama bangun, butuh seseorang yang mengelola. Tapi karena kamu belum siap, jadi mama cari beberapa orang sebagai pengganti sementara, termasuk Joanna,” sambung Rose panjang lebar.
Dalam diam, dokter Gerald melirik ke arah Joanna. Yang ditatap menyadari dan balik menatapnya, lalu menangguk hormat.
Rose mengalihkan pandangan ke arah Joanna.
“Joanna. Nanti, kamu bisa jelaskan pada Kennan ya. Kayaknya, kalian harus berbicara banyak hal.”
Joanna mengangguk sopan. “Baik, Nyonya.”
“Kalau begitu, aku balik dulu ya Ken. Jangan lupa obatnya diminum dan perbanyak istirahat,” ujar Gerald menengahi obrolan mereka.
“Makasih Bro,” ucap Kennan.
Mereka saling bersalaman dan menepuk-nepuk bahu.
“Terima kasih Nak Gerald. Mari, Tante antar.”
Dokter Gerald mengangguk dan kembali menyempatkan menatap Joanna, hatinya berdesir begitu saja.
Joanna duduk di tepi ranjang sambil melempar senyum pada Kennan.
Tatapan keduanya beradu, dan cukup membuat detak jantung kembali cepat.
“Gimana kabarmu Ken? Gue lupa, kalau lo pasti masih sakit.”
Tampak Kennan memasang wajah datar.
“Gue, meminta mama buat datengin lo ke sini. Mau minta maaf, karena gak jadi jemput. Tapi, gue malah jadi kesal sama kalian berdua.”
Joanna mengangkat alis karena tidak paham.
“Kesal kenapa?”
“Jadi, yang soal gaji yang gede di tempat baru itu, kerjaan yang di yayasan mama?”
“Oh, iya Ken. Emang kenapa? Gue juga baru tau kalau Nyonya Rose itu adalah mamamu, dan beliau baik banget lho, gak mandang gue rendah.”
“Lo, emang punya pengalaman mengelola seluk beluk memimpin yayasan?” selidik Kennan.
Mendengar kalimat itu, Joanna menggaruk tengkuk sambil menyeringai.
“Nggak. Tapi nanti pasti diajarin kok, lagian gue terpaksa menerima tawaran nyonya Rose.”
“Kenapa?” Kennan kembali bertanya dengan wajah dingin, walau sebenarnya ia sibuk menahan tawa dengan wajah polos Joanna yang menggemaskan.
“I-itu gue ... jujur aja, lagi butuh banyak uang buat berobat Oma. Terlebih, trio bocil bisa kuselamatkan.”
Alis Kennan bertaut.
“Anne, Cilla dan Leon maksudmu?”
“Iya.”
Kennan memilih diam menyimak ucapan Joanna.
“Mereka bakalan kembali ke panti dan bisa bersekolah di yayasan mamamu. Sebenarnya, itu sih hal utamaku langsung menerima tawaran Nyonya Rose. Bagaimana menurutmu?”
Kennan mendelik dan mengalihkan pandangannya lurus.
“Syukurlah. Tapi gue tetap kesal, karena gak diberitahu soal penting ini.”
“Bukan gitu, gue kan pernah bilang bakalan ngomong ke lo.”
Kennan kembali menatapnya. “Ya sudah, kita bicara hal lain yang lebih seru. Gue bete di kamar terus, kita ngobrol di gazebo yuk!”
“Eh, tapi lo kan lagi luka!” Joanna mencoba mencegah.
“Slow, masih bisa jalan kok.”
Kennan mencoba bangkit dan berjalan tertatih, itu membuat Joanna ingin membantu.
“Gue bantu memapah mau gak?” tawar Joanna.
“Gak usah, badan lo kecil gitu, tar ketiban tubuh gue!”
Joanna mendengkus kesal mendengar kalimat itu. Namun hanya sebentar, buktinya Kennan merangkul bahu Joanna membuatnya gugup seketika.
Tanpa mereka tahu, Rose menatap keduanya yang berjalan ke belakang rumah.
“Mui, mereka berdua tampak manis ya,” ujar Rose pada maid-nya.
Keduanya melempar senyuman.
“Iya, Nyonya. Dan jujur saja, saya sudah lama sekali tidak melihat Den Kennan tersenyum selebar itu.”
“Kamu benar. Kupikir, cuma perasaanku saja. Sejak awal bertemu dengan gadis itu, saya memang langsung sreg, mungkin ada aura ketulusan.”
“Setuju, Nyonya.”
****
Semilir angin, air jernih, dan tumbuhan warna warni yang eksotis memanjakan netra Joanna. Ia menghirup aroma mawar dan anggrek yang mendominasi taman.
Mereka duduk bersisian sambil mencelupkan kedua kaki pada aliran air yang jernih.
“Lo kelihatan akrab sama dokter itu,” ucap Joanna membuka obrolan.
“Gerald? Dia kakak sepupuku, baru setahun jadi dokter dan resmi jadi dokter pribadi keluargaku,” jelas Kennan.
“Seumuran?”
“Beda dua tahun, lebih tua dia. Eh, ngapain sih kok jadi ngomongin Gerald!” cetus Kennan bernada tidak suka.
Ia bahkan baru sadar, jika tatapan Gerald pada Joanna tadi tampak berbeda.
Joanna tergelak. “Nggak. Gue gak nyangka, bisa ketemu sama cowok yang lebih ganteng dari lo.”
Mata Kennan membola sempurna. “Apa lo bilang? Matamu pasti katarak, jelas-jelas gantengan gue!” sungut Kennan.
Joanna memencet hidung bangir Kennan membuat lelaki itu memalingkan wajah tak suka.
“Ututu ... anak mama marah.”
“Diamlah!” ujar Kennan kesal.
Gadis memiringkan wajah, menelisik air muka Kennan. “Hei, lo beneran marah?”
Kennan menoleh dan menatapnya lekat-lekat.
“Lo, naksir sama Gerald?”
“Hah?’
“Jangan sok blo’on, jawab?”
“Pppfftt!” Joanna menutup mulut menahan tawa.
“Baru sekali ketemu masa naksir, emang gue mata keranjang,” ucap Joanna terkikik geli, namun membuat Kennan merasa lega.
Kembali mereka menatap suasana hijau yang menyejukkan pandangan. Belum pernah, Kennan sedamai ini sejak tiga tahun lalu.
Ia pun sadar, sejak mengenal Joanna lebih banyak tersenyum dan bersemangat. Seolah masa depannya, akan dijalani sebaik mungkin.
Kennan kembali menatap wajah bersih milik Joanna. ‘Gue butuh lo, cuma lo. Jangan pernah ninggalin gue,' batin Kennan.
Joanna menoleh dan menangkap basah Kennan yang tengah dalam-dalam menatapnya, membuat gadis itu kembali dilanda gugup.
“Gu-gue gak disuguhi apa-apa hm?” ujar Joanna mencoba menyadarkan Kennan yang tak henti menatapnya.
Kebetulan Joanna memang belum makan siang sejak pulang kuliah.
Kennan mengerjap lalu terkekeh. “Iya, ntar Bi Mui anterin cemilan ke sini.”
“Cemilan? Kirain makanan berat, gue laper.” Joanna meringis seraya mengelus perut rampingnya.
“Lo kurus padahal, tapi di otakmu cuma makanan!” ujar Kennan masih di sela tawa.
Joanna berdecak. “Dari pada lo, otaknya cewek cantik melulu.”
Kennan menggelitik pucuk kepala gadis itu. “Kok tau sih?”
“Tau lah, semua cowok kan otaknya ngeres!”
Kennan menggeleng kuat sambil melotot. “Tuduhan macam apa itu?!”
“Itu fakta. Cowok itu, sembilan puluh sembilan persen pakai nafsu, sementara satu persennya cinta.”
Kali ini Kennan tergelak. “Salah. Sembilan puluh sembilan persen akal, satu persen perasaan.”
Joanna mencebik. “Sama aja!”
“Biar begitu, gak semua sama. Buktinya, gue pake akal kalau suka sama cewek. Mana yang sifatnya baik, mana yang nggak. Soal cantik belakangan,” kilah Kennan.
Ucapan Kennan membuat Joanna tanpa sadar membeku.
“Tapi, kenyataannya lo suka sama Bella yang cantik dan sekksi itu, padahal belum kenal,” ucap Joanna pelan. Matanya meredup seketika.
Ucapan itu, sukses membungkam mulut Kennan. Bukan membenarkan apa yang diucapkan, tapi jika menyanggah maka lebur sudah harapannya untuk ingin tetap bersama Joanna.
‘Ah, andai lo mau buka hati untuk mencintaiku. Gue gak mungkin melakukan ide konyol ini,' batin Kennan.
“Lo diam, artinya benar. Tapi, gue percaya sih, kalau Bella baik. Dia satu-satunya teman yang gak percaya fitnahan yang dituduhkan padaku. Dan poin utamanya, Bella mampu meluruhkan rasa trauma dalam dirimu, hingga lo bisa jatuh cinta lagi. Bella istimewa,” imbuh Joanna.
“Joanna. Jangan bahas Bella dulu ya, gue mau ngobrol soal kita aja,” ucap Kennan kemudian. Ia sangat malas membahas gadis asing itu.
Joanna mengangguk sambil mengulas senyum hambar.
Kennan benar, harusnya ia manfaatkan waktu bersama dengan pemuda itu. Membicarakan hal-hal seru atau hobi keduanya, karena jika saatnya nanti Kennan menjadi kekasih Bella, mungkin saja waktu bersama lelaki itu akan berkurang atau bahkan tidak sama sekali.
Tanpa sadar, Joanna menggeleng kuat membuat Kennan menyadari.
“Kenapa Jo?”
“Oh, ng-nggak. Gue cuma berharap sore ini gak turun hujan, lupa gak bawa jas hujan tadi,” ujar Joanna terkekeh. Untuk kesekian kalinya ia berkilah.
“Nggak apa-apa. Pake punyaku aja nanti.”
“Jangan lah, ngerepotin.”
Kata-kata itu, sangat dibenci Kennan.
“Jangan suka nolak, Joanna. Terima aja.”
Bi Sumi membawa nampan berisi minuman segar dan beberapa burger buatannya. Iris mata Joanna tak lepas dari makanan berbentuk budar itu, dan langsung menyambar untuk dilahap tanpa jaim sedikit pun.
Kennan justru sibuk menatap Joanna dan makanan miliknya, belum tersentuh sedikit pun.
“Ayo, Ken dimakan nanti gue habisin lho!”
Pemuda itu terkekeh pelan. “Makan aja kalau sanggup. Gue lagi gak laper kok.”
Joanna sanggup-sanggup saja menghabiskan, tapi masa iya sih. Gadis itu, masih memiliki rasa malu.
Ia meraih satu burger dan mendekatkan di mulut kennan.
“Biar cepet sehat, lo harus makan. Aaaa!”
Kennan tak bisa menolak, ia manut dan membuka mulutnya. Matanya tanpa terasa menghangat melihat perlakuan Joanna padanya, entah berapa lama, ia tidak merasakan seseorang memperhatikannya seperti yang Joanna lakukan.
‘Kuharap, Joanna mau membuka hati untukku suatu saat nanti,' batin Kennan berharap.
Tanpa mereka sadari. Bulir-bulir cinta itu, terus datang memberikan kebahagiaan lain bagi keduanya.
*
*
Sorry for typo. Lope-lope reader kesayangan.