“Kedua mahasiswa yang sering mengganggu Nona Joanna, sudah kami keluarkan,” ucap Roberto pada seseorang di seberang telepon.
Bella tanpa sengaja mendengar suara rektornya di balik ruangan dengan pintu terbuka, ia reflek menutup mulutnya.
‘Sebenarnya, siapa Joanna? Masalah kemarin sedetik langsung kelar, dan sekarang si Mark dan Sean di keluarin demi agar Joanna gak diganggu. Ini membingungkan,' batin Bella.
Ia melangkah cepat menemui Joanna, berharap mendapat jawaban dari pertanyaannya.
****
Di koridor, Joanna asyik bercanda dengan Kennan. Jika pemuda itu mengeluarkan jokes lucu, maka Joanna menonjok halus dadda Kennan sambil tertawa.
“Lo mendingan daftar jadi komika deh,” ujar Joanna.
“Nggak ah, kalau penontonnya gak pada ketawa gimana? Tengsin gue, gak semua orang sereceh lo.” Kennan merangkul bahu gadis yang tingginya hanya seleher darinya.
Mereka berjalan beriringan.
“Mulai deh, ngeledek gue.” Joanna mencucu.
“Itu fakta, lo ada lucu dikit aja langsung ngakak. Gimana gak receh,” kekeh Kennan.
“Ck, udahlah kita bahas yang lain. Sebenarnya, mau ke mana?” tanya Joanna penasaran.
Saat sesi pertama mata kuliahnya selesai, Kennan bergegas menemui Joanna, menunggu gadis itu selesai dan memilih duduk tak jauh dari kelas.
“Kita ke__”
“Joanna!!”
Suara itu membuat keduanya kompak menoleh ke belakang.
Joanna tersenyum kotak dan melambaikan tangan, sementara Kennan mengalihkan pandangan ke arah Joanna.
“Hai, Bel.”
Seperti perempuan pada umumnya, jika bertemu saling cipika-cipiki dan terkikik entah menertawakan apa.
Wajah Kennan langsung berubah karena merasa kesenangannya terganggu.
“Aku cari kamu ke kelas, tapi gak ada, taunya di sini,” ucap Bella lalu menatap Kennan dengan pipi bersemu.
“Iya, lagi istirahat bentar. Eh, kenalan dulu dong. Bella, ini Kennan yang pernah kuceritakan,” ucap Joanna. Ia menyikut lengan Kennan agar mengulurkan tangan pada Bella untuk bersalaman.
Sangat terlihat, jika Bella senang karena pada akhirnya bisa bertemu dengan seseorang yang diam-diam ia sukai.
“Kak Kennan mungkin baru kenal aku ya. Tapi aku, udah lama tau soal kamu. wajar sih, karena Kak Kennan populer di kampus,” cetus Bella.
Kennan mengangguk samar, wajahnya datar dan dingin.
Melihat sikap Kennan, Joanna tertawa hambar. “Hehe, maaf ya Bell. Kennan, kayaknya gugup ketemu kamu, maklum.”
Semakin merahlah wajah Bella, ‘Segitu buncinkah dia sama aku, sampai malu begitu.’
“Makanya, dia tuh lagi belajar banyak hal sama aku termasuk gimana caranya mendekatimu,” ujar Joanna.
Kennan langsung melotot. “Ngawur! Lo aja gak punya pengalaman pacaran, gimana ngajarin gue!”
Bella terkekeh, sementara Joanna hanya mencebik.
“Iyain aja kenapa sih?”
Kennan membuang muka. “Iya lah, iya!”
“Gitu dong, lagian kenyataannya lo gak berani menyatakan perasaanmu pada Bella secara langsung. Gak gentle banget.”
Kennan membulatkan mata, ingin rasanya ia sumpal mulut Joanna dengan sepatu miliknya agar diam.
“Terserah! By the way, kita masih ada urusan, ayo pergi,” ujar Kennan.
Joanna mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah Bella.
“Bell, kami pergi dulu ya.” ucap Joanna.
“Eh, ta-tapi Jo!” Suara Bella tak terdengar oleh mereka karena dengan cepat keduanya berlari menjauh.
‘Hff! Mereka kok, bisa akrab dan kompakan gitu?’
****
Kennan mendekatkan bibir ke telinga Joanna. “Stop bahas Bella ya, kita pergi ke sana!”
Pemuda itu menunjuk lantai atas gedung kampus.
“Ayo, pergi sekarang!” imbuh Kennan menarik lengan gadis bertopi cokelat itu dan berjalan cepat menaiki anak tangga.
“Ke-kemana?”
“Buruan!” Langkahnya semakin cepat pada tangga yang Joanna tak tahu, kapan pemuda itu akan berhenti.
Napas Joanna senin-kamis, mengimbangi kecepatan Kennan.
“Aduh kakiku pegel. Jawablah, kita mau ke mana woy! Gak sampai-sampai dari tadi.” Joanna terengah-engah.
“Ke atap gedung ini.”
“Hah?” Joanna melongo, mungkin pikirnya untuk apa pemuda itu mengajaknya ke atap gedung kampus.
‘Dia ... gak lagi rencanain bunuh diri kan?’ batinnya was-was.
Joanna kadang suka tidak sengaja nonton drama yang sedang dilihat Oma Elle, jika pemain utamanya stres, pasti naik ke atap gedung untuk mengakhiri hidup.
Joanna menepis cengkraman pemuda itu lalu memindai tubuh Kennan. “Lo, nggak apa-apa Ken?”
Keduanya berhenti melangkah. Kennan menautkan alis.
“Emang kenapa? Pliss jangan bahas Bella, gak ada kaitannya dengan itu.”
“Iya gue tau. Ini soal, luka lo.”
“Lo masih mengkhawatirkan gue akibat kecelakaan motor beberapa waktu lalu? Kan udah sembuh, kalau belum gak mungkin gue ke kampus,” jelas Kennan di sela tawa.
“Bukan itu. Gue tau, luka fisikmu udah sehat. Bagaimana dengan yang di sini?” Joanna menunjuk dadda kirinya.
Kennan memiringkan kepala masih tidak mengerti, dan memilih menyimak apa yang akan dikatakan gadis itu.
“Pas lo gak masuk kuliah, gue banyak nanya sama Jimmy tentangmu juga keluargamu. Kalau kita sahabat, kenapa lo cuma bagi kisahmu ke Jimmy, tapi ke gue nggak. Gak adil.”
“Hei, kenapa jadi mengarah ke sana?”
“Habisnya, lo kayak baik-baik aja padahal nggak. Gue kan jadi takut, apalagi mau ke atap segala. Mau ngapain kalau bukan mau mati,” ujar Joanna tanpa tedeng aling-aling.
“Astaganagaa! Joanna, lo kok ngawur bin suuzan. Emang pikiranku sesempit itu apa? Gue kan belum nikahin lo, belum punya anak dan cucu dari lo__”
“Lo ngomong apa?” tanya Joanna shock.
‘Emmpptt’ Kennan langsung menutup mulutnya.
“Gue ngomong apa ya tadi? Ah, lupakan. Ayo kita naik lagi, sebentar lagi sampai,” ucap Kennan kembali meraih tangan gadis itu.
Masih dilanda bingung, Joanna manut saja.
****
Angin jenaka, mengibas pepohonan yang gemericik dan menyapu wajah keduanya.
“Di sini asyik kan Jo?” ujar Kennan menatap lurus.
Di bawah sana, bangunan-bangunan dan jalanan yang dipenuhi kendaraan tampak mungil seperti semut.
“Lumayan,” jawab Joanna pendek.
“Ini akan jadi markas kita mulai sekarang,” seloroh Kennan.
“Hilih, bahasamu! Kedengarannya kayak tempat gerombolan penjahat atau mafia.”
Kennan terkekeh. “Lo kaku amat! Khusus di sini, gue pengen ngobrol soal kita berdua aja, gak boleh bahas orang lain.”
Joanna menghela napas berat. Kadang, baginya sikap Kennan membuatnya bingung. Ia melirik gelang etnik bertuliskan nama lelaki itu di pergelangannya dan matanya pun bisa melihat ukiran namanya di gelang yang dipakai Kennan.
‘Bukankah, kita seperti couple? Tapi kenapa dia sukanya sama Bella?’
“Ken, sampai kapan lo melibatkanku soal perasaanmu sama Bella?”
Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu. Baginya, apakah Kennan tidak berpikir, bahwa ia risih berada di tengah-tengah Kennan dan Bella.
“Maksudnya?”
“Sebenarnya gak perlu lagi minta bantuanku deh, lo tinggal nembak Bella, beres. Soal diterima atau ditolak, belakangan.”
Hening!
Kennan menatap wajah Joanna lekat-lekat.
“Apa lo gak mau bantu gue lagi?” tanya Kennan sedikit kecewa.
“Sorry Ken. Tapi, gue risih berada di antara kalian, padahal simple-nya lo bisa bergerak sendiri.”
Kennan mengangguk paham, jauh sebelum Joanna mengucapkan itu sebenarnya ia sejalan dengan pikiran gadis itu.
“Lo ... mau sabar kan Jo? Sebentar lagi kok,” pinta Kennan.
Hfff!
Joanna melangkah ke depan.
“Tadi lo bilang, gue gak punya pengalaman soal pacaran. Jadi, ngapain minta bantuanku. Lo bisa tanya-tanya sama Jimmy, dia kan playboy. Jam terbangnya banyak.”
Kennan tergelak. “Dasar! Eh, tapi ya gue janji gak akan banyak melibatkanmu kok. Tetap di sisiku, itu cukup.”
Joanna tertegun mendengar kalimat itu. ‘Tuh, kan mulai lagi ....”
“Ya sudahlah. Asal ada syaratnya.”
“Hm, apa?” tanya Kennan.
Kini mereka saling berhadapan.
“Apa pun masalahmu, misal tentang orang tua lo. Cerita ke gue ya, gue seneng merasa dibutuhkan sama lo.”
Nyes!
Tiba-tiba, hati Kennan terasa dingin dan nyaman. Sekali lagi, ia dibuat bahagia karena diperhatikan.
Kennan menarik tubuh Joanna untuk ia dekap erat-erat, menghadirkan getaran yang cepat di hati mereka masing-masing.
“Makasih Joanna. Gue ....” ucapannya tertahan di tenggorokan.
‘Aku cinta kamu,' batin Kennan.