Ciuman aneh

1321 Kata
Joanna melepas pelukan mereka. Masih ingin, tapi ia takut jika perasaannya semakin besar pada Kennan, sementara pemuda itu sibuk memberikan hatinya pada gadis lain. Tangan Kennan tanpa sadar terulur, melepas topi cokelat yang Joanna kenakan. Lalu telunjuknya mengaitkan beberapa anak rambut yang terkena angin, ke telinga gadis itu. “Wajahmu jernih, Joanna. Penuh ketulusan yang terpancar. Siapa pun yang dekat denganmu, akan bahagia.” Joanna mencebik, tentu sangat berlawanan dengan hatinya. “Gue gak punya duit buat bungkam mulutmu, agar berhenti memujiku.” Kennan terkekeh, padahal ia tengah serius. Namun ia lupa, seseorang yang diajaknya bicara tidak mudah diluluhkan. “Kasih yang lain dong, jangan duit apalagi recehan,” cetus Kennan. “Mau apa emang? Gue gak punya apa-apa.” Bola mata Kennan memutar, lalu menyeringai. “Ah, gue tau. Kasih ini aja.” Kennan menutup bibir Joanna dengan telapak tangannya, lalu bibir miliknya mencium punggung tangannya. Joanna terbelalak dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Ia mendorong Kennan kuat-kuat. “Ngapain sih lo!” pekik Joanna . “Menciummu,” jawab Kennan santai. Wajah Joanna memerah seperti tomat “Ciuman macam apa itu! Masa dihalangin sama telapak tangan,” Mendengar itu, Kennan terkekeh. “Oh, mau langsung menempel bibir ke bibir ya. Ya udah sini.” Tangan Kennan kembali terulur hendak menarik tangkuk gadis itu, namun Joanna dengan cepat mundur. “Haish! Gak ada siaran ulang!” “Yaaa, gak asik lo. Eh, by the way, gimana kalau mulai sekarang jangan manggil gue, lo. Tapi aku, kamu,” potong kennan. Joanna yang masih sibuk menata hati, sudah kembali dikejutkan dengan kalimat yang barusan Kennan ucapkan. Ia menelan saliva dengan susah payah. ‘Ujian yang berat.’ “Itu kan, panggilan yang biasa para sepasang kekasih lakukan. Sementara kita, cuma temenan,” ujar Joanna. Hatinya berdetak tak karuan, jika bersuara pasti sangat berisik. “Peraturan dari mana? Udah, jangan banyak protes. Mulai sekarang, aku panggil lo dengan sebutan kamu.” Joanna terkekeh sambil menonjok halus dadda Kennan. “Dih! Geli gue dengernya.” **** Jam pulang kuliah, Joanna berlari dengan cepat keluar kampus. Tidak mempedulikan Bella yang memanggilnya, atau mungkin saja Kennan yang pasti menginginkannya pulang bersama. Ciuman tadi, maksudnya - tempelan telapak tangan Kennan tadi, membuat pikiran dan hatinya tidak karuan. “Dari pada, gue pingsan melihat wajah Kennan, lebih baik untuk sementara ini gue menghindar,” gumamnya bersenandika. Ia sedang tidak membawa motor, dan memilih menyusuri jalan menuju halte. Tapi, dua orang bertubuh tinggi menghalangi jalannya. Tatapannya mengarah ke mereka dan seketika wajahnya merah padam. “Aduh! Gue bener-bener bosan lihat muka kalian,” ucap Joanna. Suaranya cukup lantang, hanya saja bisingnya kendaraan, membuatnya terdengar sedikit samar. “Lo pikir, kita senang,” ujar Sean. Masing-masing dari mereka tidak menyangka jika bisa berpapasan di jalan. “Trus, ngapain menghalangi jalan. Minggir!” Mark menahan dengan merentangkan kedua tangannya. “Lo pasti seneng, kita gak kuliah lagi di sana. Biar gembel, lo punya backingan juga ya, sampai berhasil mengeluarkan kita dari kampus,” desis Mark. Alis Joanna bertaut. “Lo ngomong apa? Gue gak paham!” tukas Joanna kesal. Mark berdecih, lalu melempar puntung rokok dan menginjaknya dengan sneakers miliknya. “Gua terlalu meremehkan. Gak nyangka aja, ada seseorang yang melindungi dan mengawasi lo. Jujur aja, gua gak yakin apa itu Kennan atau bukan. Tapi jika benar dia yang melakukannya, amazing banget buat cewek rendahan kayak lo!” Suara Mark meninggi, sementara Sean sibuk tertawa sinis. Joanna yang tak tahu menahu menggeleng dengan raut bingung. Ia mundur beberapa langkah. “Tapi oke sih, bikin gue jadi tertantang buat balas lo.” Mark dan Sean berlalu meninggalkan Joanna yang masih mematung. Joanna mencoba menghubungi Kennan lewat sambungan telepon. “Gue tunggu di kafe depan kampus,” ujarnya langsung menutup sambungan tanpa menunggu jawaban Kennan. Ia merapikan rambut mullet-nya, lalu mulai melangkah. **** Masih diliputi banyak pertanyaan, Kennan keluar dari mobilnya saat sampai di depan kafe. Ia menyapu ruangan kafe itu, dan mendapati Joanna yang tengah menghabiskan minumannya. Kennan tersenyum gemas dan mendekatinya. “Hei, katanya ngajak ketemuan tapi kamu gak menungguku buat minum bareng,” ucap Kennan sambil mendudukkan dirinya ke kursi. “Gue emang mau pesan lagi kok. Tapi lo yang bayar, sekalian sama cemilan,” cetus Joanna datar, namun ditanggapi dengan tertawaan oleh Kennan. “Si mungil jago makan!” selorohnya kemudian. Diam-diam, Kennan menatap wajah Joanna yang sibuk menggulirkan layar ponsel. “Ada apa Jo? Kok aku dicuekin pas nyampe sini?” “Hey! Serius lo, manggilnya jadi aku kamu? Geli tau! Yang biasa aja lah ....” protes Joanna. Kennan menggeleng. “Nggak. Aku lebih nyaman seperti ini. Dan berlaku juga buatmu. Kalau nggak, kamu harus bayar semua pesananmu ini.” Joanna mendengkus kesal, ia bingung kapan Kennan berhenti membuatnya melayang. Setelah minuman pesanan mereka datang. Joanna memperbaiki tempat duduk, dan memulai obrolan. “Ken. Bagiku, persahabatan itu menjunjung tinggi sebuah kejujuran.” Kennan mengangguk. “Setuju. Mauku juga gitu. Terlebih saat menikah, aku mesti selektif nyari pasangan yang setia dan jujur.” “Lo masih kuliah udah ngomongin nikah. Gue mau bahas yang lain nih!” sungut Joanna, dan seperti biasa ditanggapi dengan kekehan dari Kennan. “Oke-oke. Soal apa? Tapi aku – kamu ngomongnya,” ujar Kennan kekeh. Huff! Sepertinya, Joanna harus membiasakan diri memanggil sebutan itu. “Sebenarnya ... yang menjebakku, meminum obat-obatan terlarang itu, si Mark dan Sean.” Kennan menatap tak percaya. “Ya Tuhan, dan kamu baru kasih tau aku sekarang?” “Sorry, aku diancam kalau sampai kamu tau, mereka akan ngapa-ngapain kamu, dan aku takut. Mulai sekarang, hati-hati ya. Ke mana pun lo pergi, selalu waspada,” jelas Joanna. “Ada juga kamu yang harus hati-hati Joanna!” Kennan benar-benar kesal dengan sikap Joanna yang sok kuat. ‘Kok dia mirip mama sih!’ batinnya. “Oke, kita bahas yang kedua. Sama dengan yang pertama, kamu harus jujur,” ucap Joanna kemudian. Ia menjeda ucapannya untuk menyeruput macchiato miliknya. “Yeah, apaan?” “Kamu, gak menyuap pihak kampus buat mengeluarkan Mark dan Sean kan?” “Ya ampun Jo! Aku mesti ngakak apa tersinggung nih. Kok kamu gak percaya sih, kalau aku gak mungkin melakukan hal itu. Emang kenapa lagi?” Joanna mengangkat bahu dramatis. “Entahlah, aku merasa ada seseorang yang membuat pihak kampus mengeluarkan mereka, biar gak bisa lagi menggangguku.” Kennan tampak mengetuk-ngetuk dagunya. “Asal kamu tau Jo. Pak Roberto itu, selama jadi rektor, terkenal jujur dan tegas, pun sama halnya dengan dekan. Makanya, kampus ini menjadi primadona kota ini. Kecuali, ada seseorang yang memang tau, kalau Mark dan Sean jahatin lo dan meminta rektor buat melindungimu.” Deg! Aneh. Ucapannya sendiri, malah membuat perasaan Kennan tak karuan. ‘Apa mungkin, ada seseorang yang diam-diam suka sama Joanna?’ “Iya juga ya. Tapi siapa? Dan tujuannya apa? Kalau misalnya dia minta upah ke aku, karena berhasil mengeluarkan Mark dan Sean gimana?” Kennan tergelak mendengarnya. “Polos banget sih, kamu. Mana ada orang segabut itu. Sudahlah, gak akan berhenti bahas ini terus, by the way besok masuk kuliah nggak?” “Nggak ada mata kuliah. Kenapa?” “Kita main sama Leon, Cilla dan Anne yuk! Aku kangen sama mereka.” Joanna tersenyum senang. “Oke. Saat ini, mereka ada di panti asuhan milik mamamu beberapa hari lalu. Gak ngamen lagi.” “Syukurlah. Gak perlu lagi, aku bingung nyari mereka di jalanan.” Joanna tiba-tiba wajah sendu, ia menunduk memainkan cangkir yang sudah kosong. “Apa lagi yang kamu pikirkan, Jo?” “Entah, mendadak ... aku ingat, kalau minggu depan, udah mulai kerja di Yayasan Amarylis.” “Wow, bagus dong! Trus?” Joanna tersenyum tipis. “Nggak. Minta doanya aja biar lancar ya.” Kennan menggasak rambut cokelat Joanna. “Pasti!” Ah, Kennan tidak tahu saja, jika Joanna tengah kalut. Ia tidak punya baju yang pantas dipakai untuk bekerja. ‘Gak mungkin, gue pake baju slebor dan lusuh ini. Kalau beli, mana ada duit,' batinnya sambil menangis. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN