Ke mana

1446 Kata
Bella merangkul bahu Joanna dari belakang. Saat gadis tomboi itu berjalan cepat di area toko buku. “Dorr!” Bella menepuk kedua bahu Joanna, membuatnya tersentak. “Bella kamu di sini? Kaget weyy!” ujar Joanna terkekeh. “Kebetulan ada di sini. Ngapain? Nyari bahan ujian?” Joanna malah menyeringai. “Nggak. Lagi nyari komik.” “Oh. Oya habis ini, ada waktu gak? Ngobrol yuk,” ucap Bella penuh harap. Joanna menghentikan langkah dan mulai berpikir. Ia sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan gadis itu. “Kalau bentaran sih, bisa. Soalnya, aku harus cepet pulang, udah janji sama oma untuk makan siang bareng.” “Oh, gitu. Kita duduk di sana yuk. sebentar aja kok. Habisnya, kita jarang ada waktu buat ngobrol. Kamu hobi ngilang-ngilang,” cetus Bella. Joanna hanya merespon dengan senyuman. Mereka keluar dari toko buku itu, dan memilih kursi panjang. Sesaat, netra keduanya menyapu area mall yang cukup ramai saat weekend. Mereka duduk bersisian. Joanna memindai tubuh Bella yang proporsional di balut dengan slip dress bermotif floral, dipadu tank top warna putih, menambah aura cantik yang paripurna. Kontras sekali dengan penampilan dirinya sendiri. Ia pun seketika insecure dan menghela napas panjang. “Joanna, mau tanya soal kak Kennan, sejak kapan dia menyukaiku ya? Soalnya, gak ada gelagat suka dari dulu. Aku mengetahui ini karena ....” “Karena apa?” “Aku ... suka diam-diam memperhatikannya. sejak pertama kuliah di sini, aku emang udah suka sama dia.” Seolah ada yang tergores di hati Joanna. Pikirnya, baik Kennan maupun Bella, saling menyayangi satu sama lain, jadi nunggu apa lagi. Joanna menghela napas panjaaang sekali. “Huff. Oke, jujur aja aku gak tau persisnya kapan, secara kan belum lama aku kuliah di sini. Mungkin aja sudah lama, cuma kalian gak menyadari satu sama lain.” Bella menggenggam kedua jemari Joanna. “Whoah, ini so sweet ya Jo. Gak nyangka, cintaku terbalas, ini kayak mimpi yang jadi kenyataan,” ucap Bella berbinar. Sekali lagi, Joanna berusaha untuk tersenyum. “Syukurlah Bell.” “Sekarang, tunggu apa lagi? Kapan kamu mau deketin kami?” Joanna menatap gadis itu, tampak tidak sabar. Wajar saja, karena tidak punya alasan lagi untuk menunggu lebih lama. “Hm, oke. Aku bakalan atur pertemuan kalian, tunggu kabar dariku ya,” cetus Joanna kemudian. Ia mulai bangkit dan meraih laptop miliknya. Wajah Bella kembali berbinar. “Makasih banyak Jo. Kamu, benar-benar sahabatku yang baik.” “Sama-sama. Aku pergi dulu, sampai ketemu nanti.” Bella mengangguk saja sambil tanganya terangkat dan melambai pada gadis tomboy itu. ‘Demi apa, aku bakalan jadi pacar Kennan. Anak dari orang terkaya di kota ini. Dengan begini, aku akan makin populer,' batin Bella bahagia. **** “Lain kali, Oma jangan ngeyel. Tunggu Jo pulang,” ucap Joanna saat ia sibuk memapah oma Elle untuk didudukkan di kursi. “Sampai kapan oma nunggu? Kamu kan, kalau pulang gak tentu kapan, sementara kalau dibiarkan, drama kesukaan oma keburu selesai,” gerutu oma Elle. Hfff. Joanna hanya bisa menarik napas panjang. Ia harus maklum dengan sikap kekanakkan neneknya yang di usianya menjelang 70 tahun, sifatnya mulai berubah. Tampak oma Elle duduk di kursi roda sambil memperhatikan cucunya naik ke kursi, Joanna sibuk membenarkan antena televisi. Sebelumnya, oma Elle sudah berusaha memperbaikinya dengan cara menaiki kursi. Namun keseimbangannya hilang, hingga terjatuh. Menit berlalu. “Tv nya udah bagus lagi gambarnya, Oma,” ucap Joanna sambil menyodorkan remote hitam pada neneknya. Wajah oma Elle langsung sumringah. “Perlu panggil tukang pijit gak?” Joanna mendekat duduk berjongkok sambil mendongakkan wajah ke arah wanita renta itu. “Nggak usah Jo. Oma gak kenapa-kenapa, makasih ya. Mendingan makan aja dulu, pesananmu udah oma tata di meja makan.” Joanna mengangguk saja seraya bangkit dan melangkah ke dapur. Netranya tertuju pada lauk yang tidak biasa, padahal ia tidak memesan makanan-makanan itu pada pesanan cepat saji. “Oma! Tadi pesan rendang dan buah-buahan ya?” ujarnya cukup nyaring dari arah dapur. Hening! Oma Elle tidak menyahut, mungkin saja terlalu fokus menatap layar televisi. Tapi ... ini terlalu sepi, karena biasanya ada saja hal-hal yang dibicarakan, apa pun itu. Gadis berambut cokelat itu tidak menghabiskan makanannya dan bermaksud mengecek oma Elle di ruang tv. Matanya membulat saat neneknya itu tiba-tiba meringis, tangan rentanya memegang bagian perut. “Oma!!” pekik Joanna. **** Di depan rumah Joanna, Kennan memencet bel namun penghuninya tampak kosong, bahkan ia mencoba menghubungi Joanna berkali-kali, tetap tidak ada tanggapan. ‘Kamu di mana sih? kan udah janji mau ke panti. Gak ada ngabarin pula,' batinnya sedikit kesal. Tak ingin lagi menunggu lama. Pemuda itu memutuskan untuk pergi ke yayasan panti asuhan milik ibunya, sendirian. **** Malam menjelang, menampakkan ribuan bintang yang bercahaya. Setelah Oma Elle tertangani, Joanna baru bisa menyempatkan diri mengecek ponselnya. Puluhan panggilan dan chat muncul dari Kennan. Ia baru ingat, soal janjinya untuk pergi ke panti. Pandangannya beredar ke ruangan kelas 2, tempat sang nenek dirawat. Tampak dua pasien lainnya berbaring ditemani keluarga yang membesuk. ‘Suasana tenang begini, artinya sudah larut. Gue gak mungkin balas semua chat dari dia, takut mengganggu istirahatnya.’ Soal janjinya, Joanna yakin, ada dia atau pun tidak, bagi Kennan tidak berpengaruh, lelaki itu bisa datang sendiri ke panti. Melihat Oma Elle tampak tenang dalam tidur, ia memilih ke luar ruangan. Menghirup udara sambil merapatkan coat hitamnya. Tap Tap Tanpa Joanna sadari, langkah sepatu mendekatinya. “Malam,” sapanya. Joanna menoleh ke belakang, dan tampak lelaki tinggi berparas blasteran tersenyum. Joanna langsung mengangguk hormat karena jas putih yang dikenakan lelaki itu, jas seorang dokter. “Masih ingat aku?” “Emm, sepertinya pernah melihat. Tapi di mana ya?” Lelaki itu terkekeh. “Ah, sedih sekali. Kukira, dalam sekali bertemu, bisa membekas di hatimu dan tidak melupakan wajahku,” selorohnya. Mendengar itu, Joanna menjadi tidak enak. “Aduh, maaf dok. Saya suka lupaan kalau mengenal wajah orang, apalagi baru sekali ketemu.” “Begitu ya, gak apa-apa kok. Tadi, cuma bercanda. Aku Gerald, sepupunya Kennan.” Joanna menepuk dahinya sambil tertawa. “Iya, baru ingat kkkk ....” Keduanya bersalaman. “Jadi, kamu ... pacarnya Kennan?” Joanna menggeleng kuat. “Bu-bukan dok! Saya, teman kuliahnya.” Tampak dokter muda itu menganggukkan kepala. “Begitu ya. Tapi ini jarang, karena Kennan tipe orang yang gak mudah mengakrabkan diri pada cewek. Pas lihat kamu datang waktu itu, air mukanya sangat beda, lebih sumringah.” Wajah Joanna tiba-tiba bersemu. “Kayaknya, cuma perasaan dokter saja.” Hening! Gerimis mulai turun membasahi pohon dan bunga, aroma khas tanah pun menguar. Dokter Gerald memperhatikan cara Joanna merapatkan baju hangatnya. “Pasti kedinginan. Ngomong-ngomong, kamu sedang apa di sini? Ada kerabat yang sedang sakit?” tanya dokter itu kemudian. “Omaku sakit.” “Waah, kamu cucu yang baik. Jarang lho!” Kembali Joanna terkekeh. “Kurasa wajar, hanya saya yang beliau miliki, begitu pun diriku yang cuma punya Oma di dunia ini.” Dokter itu berdehem, ia menyadari telah salah menggunakan kalimat itu. Gerald tidak meneruskan ucapannya tentang keluarga gadis itu, karena cukup memahami. “Oh iya, maaf. Emm ... kamu haus? Akan kuambilkan minuman hangat.” “Eh, ngg__” Gerald langsung memutar tubuhnya, menuju ruangannya yang tidak jauh dari sana. Joanna jadi merasa tidak enak hati, baru kenal sudah merepotkan. Tak lama, Gerald muncul dengan dua mug putih. “Hot cokelat instan. Sorry, adanya itu.” Joanna terkekeh. “Gak apa-apa dok, saya __” “Jangan saya, aku aja. Biar akrab,” potong Gerald. Gadis itu menggaruk tengkuknya, kalimat itu seperti yang pernah Kennan ucapkan. Tanpa menolak, ia pun mengangguk saja. “Terima kasih minumannya,” ucapnya lalu meneguknya sedikit. “Sama-sama. Kalau boleh tau, Oma mu sakit apa?” Joanna terdiam sesaat, matanya meredup sambil mengalihkan pandangan lurus ke arah taman rumah sakit. Ia bukan malas untuk menjawab tapi rasanya terlalu berat, pikiran buruk tiba-tiba menjalar. “Kanker perut stadium lanjut. Bukan aku gak mengobatinya, tapi dia jahat!” “Jahat?” Gerald menautkan alisnya. “Ya, Oma menyembunyikan penyakitnya selama tiga tahun ini padaku, sok kuat lah sebel! Padahal, kalau aja ketahuan sejak awal mungkin sekarang udah sembuh.” “Pernah terapi semacam kemo?” Joanna mengangguk. “Baru-baru ini, tapi kayak sia-sia aja karena faktor usia pun mempengaruhi juga. Entahlah ....” ujar Joanna bernada pasrah. Gerald hendak menyentuh salah satu bahu gadis itu, untuk menguatkan. Namun ia urungkan. “Sabar ya. Aku yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik.” “Makasih dok.” “Gerald, panggil namaku aja.” Joanna kembali menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis. “Boleh bertukar nomor hp?” imbuh lelaki itu. “Untuk?” “Berteman, kamu suka nambah teman?” tanya Gerald kemudian. Joanna terkekeh kecil, ia mengangguk dan merogoh ponsel dari saku jeans-nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN