Confiuse

1195 Kata
Cahaya matahari pagi, masuk ke celah jendela rumah sakit. Oma Elle terbangun, dan merasakan seseorang tengah memeluknya dari belakang. Ia tersenyum karena tahu, itu adalah ulah dari cucunya. Wanita paruh baya itu pun, mencubit punggung lengan cucunya. “Bangun anak malas!” ujarnya. Joanna melenguh. “Omaa, masih ngantuk ....” “Tidak ada alasan! Oma kesempitan nih, lagian ini ranjang single, ngapain kamu tidur di sini?” gerutu Oma Elle berpura-pura, padahal ia senang jika Joanna dalam mode manja. Joanna bangkit dengan rasa malas, ia menggaruk rambut kusutnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menutup mulut karena menguap. “Astaga, anak gadis penampilannya awur-awuran. Sudah sana cuci muka, malu tuh sama orang-orang yang satu ruangan sama Oma,” imbuh wanita itu terus merutuki cucunya. “Yeah ....” ujar Joanna malas. Ia pun mengambil handuk muka dan berlalu ke kamar mandi. Menit berlalu, Joanna berjalan cepat mendekatinya. “Oma!” Wanita renta itu terperanjat karena kaget. “Ampun! Ada apa Jo!” “Aku baru ingat, Oma udah sadar! Oma gak apa-apa?” “Ish! Kamu ini! Kalau Oma udah bisa ngomong artinya udah sehat. Kapan, kita pulang?” Joanna mendelik malas, ia merasa sebal dengan tingkah neneknya yang sok kuat. “Baru juga semalam masuk sini, udah minta pulang. Kata dokter, nanti jam sembilan akan dicek kondisi Oma secara menyeluruh.” “Gak mau! Kelamaan di sini, bisa-bisa Oma stress karena makan makanan rumah sakit, ditambah gak bisa nonton drama kesayangan.” Joanna hanya bisa menepuk dahinya, ia memilih keluar membeli bubur, ketimbang menggubris panggilan neneknya. Sesampainya di sebuah kedai bubur, Jemarinya lincah mengetik balasan untuk Kennan. [Sorry, Ken. Aku gak bisa nemenin kamu ke panti, kemarin jadi gak menemui Leon dan dua kakaknya?] Menunggu balasan, ia mengetuk-ngetuk benda pipih itu ke dagunya. Satu panggilan masuk. “Halo!” ujar suara dari seberang. “Halo, Ken. Ma__” “Kamu emang ke mana kemarin? Oma juga gak ada di rumah! Kita kan udah janjian, misal gak jadi minimal kabarin aku, biar gak nunggu-nunggu kayak orang beggo!” Suara Kennan bernada kesal. “Oma kambuh. Jadi, aku langsung bawa beliau ke rumah sakit, boro-boro balas panggilan dan chat kamu, maaf ya.” Hening! “Be-begitu ya. Aku yang harus minta maaf Jo, udah marah-marah pula,” ucap Kennan merendahkan suaranya. Joanna terkekeh. “Santai aja kali.” “Ya udah, habis pulang kuliah aku ke sana. Kamu dan Oma mau dibawain apa?” “Gak usah!” “Wajib jawab!” “Idiih, ada yang begini. Ya udah, martabak keju aja. Jangan pake kacang ya, Oma gak suka.” “Oke! Sampai ketemu nanti, bye!” “Bye!” Di sana, Kennan asyik berjingkrak. **** “Boleh mama kepo?” tanya Rose, saat anaknya tak kunjung berangkat ke kampus dan mendapatinya menelepon seseorang di teras rumah. Rose perlahan mendekat dengan kursi rodanya. “Soal apa?” Kennan balik bertanya. “Habis menelepon siapa, wajahmu tampak bahagia?” “Oooh, Joanna.” Rose terkekeh. “Anak itu emang paling bisa menyenangkan hatimu, Ken.” Ting! Tiba-tiba muncul gambar lampu di atas kepala Kennan. Ia pun mengangkat sebelah sudut bibirnya, lalu berjongkok tepat di depan sang ibu. “Ma, boleh Kennan minta sesuatu?” Mata Rose membulat. “Of course. Apapun Sayang, katakan saja.” Kennan tersenyum penuh arti. **** Sepulang kuliah, Kennan mengajak serta Leon dan kedua kakaknya naik bus. Mereka membawa alat musik sederhana yang dulu sering dibawa, saat masih mengamen dan membawakan beberapa buah lagu. Bukan mereka kembali mengamen, tapi sekedar seru-seruan melepas penat. “Seru ya!” ujar Leon di sela tawa. Mereka duduk di halte yang sepi, sambil menyeruput es boba. “Iya!” Kompak Anne dan Cilla. Melihatnya, Kennan hanya tersenyum saja. Ia melirik arlojinya, dan meminta mereka bangkit. “Udah jam besuk nih! Sekarang, kita ke rumah sakit nengokin Oma,” ujar Kennan. Ketiganya kompak mengangguk. Dan berhambur mendekati angkutan umum. Perjalanan dihiasi candaan dan tawa hingga mereka sampai di rumah sakit. Tapi, tawa Kennan mendadak berhenti saat mendapati Joanna tengah mengobrol akrab dengan Gerald. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. “Kak, kok kita berhenti?” tanya Leon mendongak menatap Kennan. Anne dan Cilla saling menyikut, seolah paham perasaan Kennan. “Ayoo ... Kak!!” Leon tidak sabar, dan menarik tangan pemuda itu. Setelah semakin dekat, Leon berseru, “Kak Jo!” Joanna dan Gerald kompak menoleh. “Hei, Boy!” Joanna mengajak tos pada Leon dan kedua kakaknya. Sejurus kemudian, Joanna menggendong Leon sambil tertawa kecil. “Lo apa kabar? Kangen tau!” tanya Leon mencucu. “Gue baik, Oma yang lagi gak baik-baik aja, doain cepet sehat. Beliau bandel kayak lo-lo pada!” ujarnya. Ketiga anak itu mencebik lalu tertawa. Tanpa sadar Kennan menatapnya dengan tajam. Gerald mendekat ke arah Kennan. “Lo di sini Ken?” “Lo sendiri? Apa jabatan dokter, sesenggang ini kerjanya?” tanya Kennan sarkas. Dokter muda itu terkekeh. “Gue kan bukan kerja di bagian UGD, lagian jam kerjaku satu jam lagi.” Kennan hanya memasang wajah memelas, dan lebih tertarik mendengarkan celotehan Leon pada Joanna. Namun, Gerald menarik lengan Kennan untuk sedikit menjauh. “Jo, aku ngobrol dulu sama Kennan ya!” ujar Gerald. “Oh, oke. Kalau gitu, aku bawa anak-anak ke Oma Elle, ya.” “Sip!” Setelah Joanna dan ketiga anak itu sudah menjauh, Kennan menepis cengkraman Gerald. “Lo apaan sih, tarik-tarik tangan gue!” rutuk Kennan. Padahal, ia tidak seharusnya bernada ketus. Mungkin keakraban dokter muda itu dengan Joanna membuat darahnya mendidih. “Lagi PMS ya? Judes amat,” seloroh Gerald. “Lupakan. Mau apa?” “Kudengar, Oma Elle sudah bisa pulang besok. Gimana, kalau lusa kita hang out ke Dallas shooting Club, di tempat papaku? Ajak, Joanna dan teman dekat perempuanmu.” “Teman dekat perempuan? Lo kira, Joanna bukan perempuan? Justru dia teman dekatku, maksudnya teman akrab yang sangat-sangat dekat.” Nada Kennan meninggi penuh penegasan. Gerald mengerjap. “O-oh, bu-kan gitu maksud gue. Maksudku tuh, pacarmu. Kalau ada.” Kennan berdecih. “Lo lagi meledek gue? Udah tau gak punya pacar.” Gerald tergelak. “Yaa, kalau gak punya pacar sih, gak apa-apa. Kita pergi bertiga aja, udah seru kok.” Kennan pun menghela napas panjang lalu mengangguk samar. “Oke, kalau lo setuju. Nanti gue kabari lagi. Sekarang, mau siap-siap praktek nih!” Gerald menepuk-nepuk pundaknya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan sepupunya itu. Kennan menatap punggung Gerald. Di pikirannya banyak pertanyaan. ‘Tumben banget dia ngajak hang out. Apa karena, ada Joanna?’ Ia mengibaskan tangannya, berusaha melupakan dan memilih masuk ke ruangan tempat Oma Elle dirawat. Saat menyadari kehadiran Kennan, Joanna sigap menarik pinggang Kennan menghadirkan desiran halus di dadda pemuda itu. “Mau ngapain Jo? Aku bahkan belum menyapa Oma,” ujar Kennan, padahal hatinya asyik melompat-lompat. “Lihat ada chat!” Kennan meraih ponsel milik Joanna, dan membacanya. [Jo, tolong titip salam rindu dariku buat kak Kennan.] Wajahnya tiba-tiba berubah masam. “Ken, itu dari Bella,” seru Joanna sambil tersenyum. “Gak nanya!” Kennan melengos tak peduli dengan raut wajah gadis itu, dan memilih becengkrama dengan ketiga anak dan Oma Elle. Melihat itu, Joanna hanya menghela napas berat karena dilanda bingung dengan sikap pemuda tinggi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN