Senja, dengan buliran rintik hujan saling melengkapi. Menciptakan aroma cinta yang jernih.
Kennan telah memesan taksi, untuk mengantarkan Leon dan kedua kakaknya pulang ke panti. Ia memilih duduk di kursi panjang, menatap rintik hujan sambil membaca chat dari Rose.
“Ken, lo belum pulang?” tanya Joanna. Gadis itu mendekat, dan duduk di sampingnya.
Ia pikir, pamitnya Kennan pada Oma Elle membuat lelaki itu sudah pergi dari rumah sakit.
Kennan mengangkat bahu dramatis. “Aku emang udah pamit sama Oma, tapi belum sama lo.”
“Idih. Ya, udah cepet pamit,” cetus Joanna terkesan santai.
Tapi Kennan menelisik air muka gadis itu. “Yakin nyuruh aku balik? Gak kangen?”
“Hah?” Joanna sibuk menyerap ucapan lelaki itu.
“Malah bengong. Kamu gak kangen sama aku?” Kennan mengulang pertanyaannya membuat Joanna jadi salah tingkah.
“Ngapain kangen, ada juga bosen, empat L. Lo lagi, lo lagi!” kilah Joanna.
Ah, gadis itu pandai bersandiwara!
Kennan terkekeh pelan. “Bohong banget, mana ada cewek yang gak kangen sama aku.”
Joanna sontak menendang punggung pemuda itu, hingga terjungkal. Bahkan tapak sepatu converse miliknya, tercetak jelas di punggung kemeja Kennan.
“Joanna! Rese lo!” ujar Kennan, ia berusaha bangkit sambil menepuk debu diiringi tawa Joanna.
“Lagian, pede kok dihabisin sendiri.”
Keduanya kembali duduk tenang, menikmati gemericik pohon terkena angin dan tetesan hujan.
“Gerald, ajak kita hang out, ke tempat shooting,” ujar Kennan tiba-tiba.
“Syuting film?”
Kennan kembali tersenyum. “Bukan. Tapi ke tempat belajar menembak, milik papanya.”
“Kapan?” Lagi, Joanna bertanya.
“Lusa.”
Joanna menggeleng samar. “Maaf, Ken. Siapa sih, yang gak mau main. Tapi, Oma kan masih sakit, gak ada yang jaga beliau.”
Kennan memberanikan diri menatap iris hazel milik Joanna.
“Kalau ada yang jagain, mau?”
“Siapa? Aku udah banyak merepotkan tetangga, kalau pas kuliah dan kerja.”
“Bukan. Tapi semacam perawat. Tugasnya, yang jagain Oma dan merawatnya, sistemnya digaji tiap bulan,” terang Kennan.
Mendengar itu, Joanna bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam karena marah. “Kamu lagi ngeledek? Udah tau, aku miskin mana mampu gaji orang!”
“Eh? Nggak Jo.” Kennan menggeleng kuat.
“Trus, maksud kamu apa ngomong gitu?!”
Kennan yang baru memahami, langsung menarik lembut lengan gadis itu untuk kembali duduk.
“Makanya, dengerin dulu ya. Jadi .... tadi pagi, aku punya permintaan pada mamaku.”
Joanna masih bingung, dan tetap bergeming untuk mendengarkan.
“Kan kamu nanti kuliah dan juga kerja di yayasan mamaku. Otomatis, waktumu akan banyak tersita dibanding menjaga Oma. Jadi, aku minta mama mencarikan seseorang yang bisa merawat dan menemani Oma mu, dan mama juga yang akan menggajinya tiap bulan, begitu,” sambung Kennan.
Joanna berdecak kesal. “Apa-apaan sih! Aku gak suka dikasihani, gak mau punya hutang budi!” tegasnya.
Kennan terjebak dengan jawaban Joanna. Ia lupa, bahwa gadis itu berbeda dari yang lain, dan sangat tidak ingin dicap memanfaatkan atau dengan mudah menerima bantuan.
“Jo, please. Jangan salah paham, aku sebagai sahabatmu mau bantu. Jujur aja, aku juga sayang dan peduli pada Oma. Coba deh pikir, gimana kalau pas kamu lagi gak di rumah, Oma tiba-tiba kumat?” tanya kennan.
Joanna terdiam. Matanya mendadak berembun. Sebenarnya, entah untuk yang ke berapa, Oma Elle jatuh pingsan dan ditemukan oleh tetangga yang kerap menengok neneknya itu. Lalu dilarikan ke rumah sakit.
“Buang egomu, Jo. Kulakukan demi Oma juga. Mau ya?”
Tampak Joanna menghela napas sambil tersenyum hambar.
“Aku malu merepotkanmu terus ... dengan apa harus kubayar?” Joanna mulai menangis. Fisiknya boleh tomboi, tetap hatinya sedikit rapuh.
Kennan mengangkat tangan dan mendaratkannya di rambut Joanna. Jemarinya mengelus surai cokelat itu dengan lembut.
“Kamu, bayarnya dengan tetap di sisiku, bersamaku. Oke?”
Walau tak paham apa maksud Kennan, Joanna mengangguk.
“Makasih, ya Ken. Bilang ini juga ke mamamu.”
“Yup! Satu hal yang mungkin sedikit bisa membuatmu tenang. Jadi, saat aku meminta hal ini ke mama, beliau seneng banget lho. Gak tau kenapa.”
Joanna hanya bisa tersenyum karena bahagia. Walau sisi hatinya yang lain, ia bingung dengan sikap Kennan.
'Berhentilah bikin aku ge-er!'
****
Teruslah berusaha
karena kita tidak tahu
kapan kesuksesan itu hadir.
.
Dokter telah mengizinkan Oma Elle pulang. Sesuai janji, Joanna harus segera bersiap.
Ia merapikan rambut, dan mematut di cermin.
One day, ia ingin seperti saat masih kecil. Membiarkan rambutnya tumbuh panjang, memakai dress selutut, dan sepatu flat shoes yang manis. Ah, cantiknya.
Plak!!
Tiba-tiba saja, ia menampar pipinya sendiri dan kembali pada dunia nyata.
Tangannya meraih sepasang sepatu sneakers dengan posisi jongkok, serta memakaikan dan menyimpul tali dengan cepat.
“Sarapan dulu Jo?” ujar Oma Elle. Joanna mendekat dan menyalami tangan renta itu lalu mengecupnya sedetik.
“Gak sempat Oma. Aku kesiangan, oya nanti jam sepuluh perawat baru Oma akan datang. Begitu, kata nyonya Rose.”
“Oh, iya. Makasih, beliau baik sekali ya.”
Joanna mengangguk-anggukkan kepala. “Hu’um. Kuharap, dengan begini Oma lebih diperhatikan. Maaf ya, harusnya aku yang full menjagamu.”
Oma Elle menggeleng, tangannya mengelus pipi mulus cucunya.
“Bahkan, harusnya kamu gak perlu bekerja untuk membantu Oma, mengurus ini dan itu selama ini.”
“Itu kan kewajibanku Oma Chan.” Joanna menyela.
“Emh, pake diganti jadi Chan segala.”
“Ya, kan chantik.”
Oma Elle hanya terkekeh mendengar selorohan cucunya.
"Oya, jangan lupa diminum obatnya."
"Ih, cucu siapa sih bawelnyaa. ya, Jo katanya buru-buru, cepat pergi," ucap Oma membuat Joanna tertawa.
Setelah Joanna pamit. Oma Elle masuk ke kamarnya, ia meraih pouch merah marun miliknya di laci nakas yang selalu dikunci.
Ia membuka sletingnya dan meraih sebuah kartu dan selembar foto seseorang.
Napasnya ditarik dalam-dalam. “Sabarlah sedikit lagi ya, cucuku sayang.”
Wanita renta itu, memilih merapikannya ke sebuah kotak hitam yang berisi hal-hal penting berkaitan dengan hidup gadis itu, dan memang sudah seharusnya ia menyerahkannya pada Joanna.
Harapannya, ada waktu baginya mengatakan semua karena tidak ada yang tahu, apa yang terjadi esok hari.
.
.
Sorry for typo. Happy reading.