Terkadang,
Orang yang bijak itu
harus pandai menilai
karena tidak ada yang tahu
kapan musuh itu menjadi teman
dan teman menjadi musuh
~~~~~~~~~
Joanna bersemangat menemui Bella, sebelum mata pelajaran dimulai.
Tampak gadis cantik itu, tengah berbincang dengan teman lainnya. Joanna sempat ragu mendekat, namun Bella lebih dulu menyadari kehadirannya sambil melambai – ia mengisyaratkan padanya untuk mendekat.
“Teman-teman, kenalin ini teman baruku namanya Joanna, dia mahasiswa baru dan satu jurusan denganku," ucap Bella.
Kedua teman Bella mengulurkan tangan disambut oleh Joanna.
"Joanna Olivia," ucapnya.
"Aku, Lisa."
"Aku Ezy."
Mereka saling melempar senyuman.
"Kedua temanku ini, dulu satu geng pas zaman SMA, Jo," terang Bella.
Joanna hanya menganggukkan kepala. Sementara Bella mengalihkan pandangan pada kedua sahabatnya.
“Nah, Joanna ini comblangnya aku, Guys. Dia itu ....” Bella tidak kuasa menahan kebahagiaannya. Pipinya memerah seperti tomat.
“Dia apa Bell? Comblang gimana maksudnya?” Lisa merasa tak sabar.
Sementara Joanna mendadak kikuk dengan kalimat Bella. Ia memilih diam dan tetap berdiri kaku.
Bella terkekeh. “Kalian ingat gak secret admirer-nya aku di kampus ini?”
Lisa dan Ezy saling menatap sejenak.
“Kak Kennan?” Ezy berusaha menjawab dengan nada ragu.
Bella mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat, wajahnya tampak sangat bahagia.
“Kalian pasti terkejut. Ternyata, Kak Kennan selama ini juga suka padaku lho. Tapi, dia malu-malu gitu buat pedekate. Makanya, kak Kennan minta Joanna buat comblangin aku sama dia!”
Kedua sahabatnya sontak membuka mulut dengan takjub.
“Whoaaaa!! Kamu hoki banget Bell, selamat ya. Tapi wajar sih, saling suka, secara kalian cantik dan cakep. Kalau sampai jadian, bakalan viral seantero kampus. Couple goals banget!” seru Lisa.
Mereka tertawa bahagia, sementara Joanna seolah tidak ada di antara mereka. Ia mematung dengan sangat lama. Pergi terasa sungkan, ikut tertawa pun rasanya tidak mungkin. Hanya hati, yang terasa teriris entah kenapa.
Tanpa mereka sadari, Kennan menatap Joanna di kejauhan saat baru saja menutup pintu mobilnya.
Ia urung menarik lengan gadis itu seperti biasanya, padahal hatinya ingin menyelamatkan gadis itu dari sikap Bella dan teman-temannya yang terkesan mengabaikan.
‘Jika aku membawa Joanna. Bakalan jadi pusat perhatian warga kampus, malas!’
Wajah suramnya terus ia bawa bahkan setelah sampai di kelas. Ia menaruh ransel untuk dijadikan bantal. Tidak ada semangat secuil pun untuk belajar, bahkan mengabaikan Dasya, saat gadis itu bersemangat membahas suatu pelajaran.
“Sya! Aku lagi malas mengobrol, tinggalkan aku sendiri!” ujar Kennan.
Dasya tiba-tiba terdiam dan mengangguk. Wajahnya langsung sendu.
Jimmy, yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya mendekat, dan duduk tepat di belakangnya. Ia memutar kursi untuk menghadap Kennan.
“Lo kenapa lagi, Bro?” tanya Jimmy.
Kennan menatap sekilas, dan kembali membenamkan wajahnya pada tas ransel.
“Kalau gak jawab, gue timpuk pake hp!” tantangnya sangar.
Helaan kasar terdengar. Kennan mendongakkan kepala.
“Menurutmu, apa yang bikin gue begini?”
“Joanna?”
“Nah, lo tau.”
“Segitunya. Tar makan siang kita ngobrol.”
Tak ada jawaban, Kennan tetap membenamkan wajahnya ke posisi semula.
****
Masih di tempat yang sama, Bella telah pamit pada kedua sahabatnya dan mengajak Joanna masuk ke kelas bersama.
Ia melirik sekilas wajah Joanna sebelum akhirnya berbicara,
“Joanna. Ini sudah hampir sebulan sejak kamu bilang kalau kak Kennan suka aku. Jujur aja, rasanya bergerak lambat bahkan tidak ada perubahan yang signifikan,” ucap Bella.
Gadis itu menahan Joanna agar mereka berhenti melangkah. Joanna menatap Bella dengan perasaan ragu, ia sangat tahu ke arah mana Bella bicara.
"Kira-kira kapan kamu akan membuat aku dan kak Kennan jadian? Kalau kamu kesulitan bilang aja, mungkin aku bisa bantu,” cetus Bella.
Kalimat itu, malah membuatnya merasa tidak berguna menjadi perantara mereka berdua.
Joanna menggeleng. “Oh, itu. Maaf ya Bell. Jujur aja, aku merasa kesulitan, masalahnya Kennan tidak menyuruhku apapun supaya kalian bisa dekat. Kayaknya, dia terlalu pemalu untuk memulai. Atau bisa jadi gak pernah pacaran jadinya merasa tidak percaya diri karena gak punya pengalaman.”
Bella terkekeh. “Kak Kennan lucu ya. Padahal, siapa sih yang bakalan nolak cintanya dia, ada-ada aja. Ya, udah kayaknya harus aku yang maju nih. Tokh, udah jelas kan kalau dia suka aku, tinggal mikirin apa yang bisa membuat kami dekat.”
Joanna hanya tersenyum tipis.
Mereka terdiam dan masing-masing tampak berpikir. Sejurus kemudian, mata Bella membola.
“Aha! Bagaimana kalau kamu bikin sesuatu yang buat kami dekat, kencan misalnya.”
Deg!
‘Kencan?’
Joanna seketika menelan salivanya dengan kasar.
Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika ternyata Bella dan Kennan bila benar-benar menjadi pasangan kekasih. Baru saja mendengar Bella mengatakan itu hatinya terasa perih.
Melihat Joanna yang dari tadi terdiam, Bella mengibaskan tangan di wajah gadis itu membuatnya mengerjap karena terkejut.
“Jo! kamu mendengar ucapanku kan?”
“Ah ya, aku dengar kok.”
“Terus gimana dengan ide aku tadi?” ucap Bella sedikit kesal karena Joanna tidak bereaksi apa pun.
Joanna menghela nafas panjang dan mengangguk. Tiba-tiba, ide muncul di kepala.
“Aku baru ingat, kalau lusa sepupunya Kennan, namanya Gerald. Mengajak kami ke suatu tempat. Bagaimana kalau kamu ikut?”
“Sepupunya Kennan? Wah kamu sangat dekat juga ya sama dia, sampai mengenal sepupunya segala."
Joanna tersenyum kikuk. “Ah, enggak juga Bell. kebetulan aja, aku pernah ketemu dokter Gerald pas Oma masuk rumah sakit baru-baru ini.”
“Oh, dia dokter?”
Joanna mengangguk. “ ... karena kami baru kenal dan ingin berteman, jadi dokter Gerald ingin merayakannya. Kamu boleh nimbrung, kuharap dengan ini kalian bisa saling dekat.”
“Umm ... idenya oke sih, tapi ke tempat apa kalau boleh tahu?” tanya Bella
“Ke tempat latihan menembak di tempat milik ayahnya dokter Gerald.
Wajah Joanna berbinar.
“Wow itu seru, Aku mau Jo! Aku mau! Makasih, ya.”
Melihat itu Joanna tersenyum tipis. Mungkin sudah waktunya ia bergerak untuk membuat Kennan dan Bella menjadi pasangan kekasih.
“Baguslah kalau kamu mau. Setelah ini, aku akan atur rencana selanjutnya, nanti kuhubungi lewat telepon ya,” ucap Joanna kemudian.
Bella mengangguk-anggukan kepala karena semangat. Ia meraih bahu Joanna untuk dipeluk.
“Sekali lagi, makasih ya.”
“Sama-sama. Sekarang, kita masuk yuk? Keburu dosen datang,” cetus Joanna.