Hang Out

1115 Kata
Pagi yang lebih mampu memberikan semangat lebih dari biasa. Semenjak dari kamar mandi hingga selesai, Kennan senantiasa bersiul. Ia mendekati walk in closet miliknya yang berwarna hitam, dan matanya beredar mencari baju apa yang pas di pakai hangout. Sip! Tangannya terulur pada kaos putih yang mencetak tubuhnya dibalut jaket corduroy warna caramel. Paduan itu, ia tambah dengan bawahan celana jeans dan sepatu sneakers warna senada. Tidak lama untuk seorang lelaki di ritual semacam itu, hanya sedikit aksesoris jam tangan dan parfum sebagai pelengkap. Setelah itu, ia menuruni anak tangga - menyempatkan melirik jam tangannya dan mendapati Rose tengah menunggunya untuk sarapan. “Pagi, Ken.” “Pagi.” Tanpa menatap sang ibu, ia lebih memilih segera memakan omurice buatan bi Sumi. “Sudah rapi dan wangi. Mau ke mana?” “Gerald mengajakku hangout.” Rose tersenyum, “Syukurlah, kamu bisa bersenang-senang.” Kennan merespon dengan anggukkan. “Kebetulan, hari ini pun Papamu mengajak mama berjalan-jalan,” ucap Rose kemudian. Ia sukses membuat Kennan menghentikan suapannya. “Tumben,” cetus pemuda itu tersenyum sinis. “Bukankah itu bagus? Seenggaknya, papamu masih peduli pada mama.” Kennan hanya menghela napas panjang, ia sungguh tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran sang ibu, bisa-bisanya masih berusaha bahagia walau dikhianati. “Dia bilang, mau ngajak Mama ke mana?” tanya Kennan. “Ke Wiladantika, dan mampir juga ke resto tempat pertama kali papamu melamar mama dulu. Romantis kan?” “Yeah, terserah Mama. Asalkan benar-benar bahagia dan gak ada kepura-puraan, buatku gak masalah,” ujarnya seraya bangkit. “Ya sudah, aku udah selesai sarapan, mau pergi dulu.” “Ya Nak, hati-hati.” **** Berbeda dengan Kennan, Joanna sibuk menggaruk rambutnya karena di lemari bajunya tidak ada pakaian yang pantas. Semua baju di gantungan itu, hanya kemeja over size, kaos oblong longgar dengan gambar tengkorak atau gambar aneh lainnya. Ia pun tidak habis pikir, kenapa menghamburkan uangnya yang sedikit itu, untuk membeli baju-baju yang untuk sekedar jalan bersama teman saja tidak sepadan. Terdengar suara ketukan pintu. Joanna membukanya dan tampak Oma Elle memegang dua buah kotak. “Ada apa Oma?” “Ini, tadi perawat Oma nitipin ini buat kamu. Katanya, dari nyonya Rose.” Mata Joanna membulat. “Nyonya Rose kasih aku hadiah? Apa Oma?” “Ish! Mana Oma tau, buka dong!” Wajah sumringah itu berjongkok dan membuka dua buah kotak berukuran besar. Satu kotak berisi jumpsuit marun tanpa lengan dipadu t-shirt putih. Kotak yang satu lagi berisi sepatu skrit warna putih. Joanna tampak takjub, dari bahan dan modelnya saja ia yakin bukan harga yang murah. “O-Oma ... lihatlah, apa aku pantas pake ini?” ujarnya tak percaya. Ia memutar-mutar baju, dan mengecek detailnya satu persatu. Oma Elle, terkekeh. “Pantas banget dong! Nyonya Rose, sengaja memilih model baju dengan ciri khas kamu, walau gak menghilangkan sisi feminim.” “Iya, dia menghargai gayaku yang kayak gini, dan itu keren.” “Udah sana pake!” ujar Oma Elle kemudian, ia menyempatkan tertawa kecil melihat tingkah cucunya. Joanna mengangguk dan kembali ke kamarnya. **** [Aku udah ada di depan rumahmu.] Begitu, isi chat dari Kennan. Tak ingin lama-lama, Joanna bergegas menghampirinya. “Pagi!” sapa Joanna. Ia langsung masuk ke mobil dan memasang seat belt. “Tumben kamu telat wahai kulkas berjalan? Biasanya selalu on time,” sambung Joanna. Yang diajak bicara terus saja terdiam bahkan tanpa henti memindai tubuh Joanna. Sadar jika Kennan sibuk terpaku, gadis itu menoleh ke arahnya. “Ken, kamu kenapa?” Kennan tersadar, dan mengedipkan mata dua kali. “Oh, ng-nggak. Mari kita berangkat!” Kennan menginjak pedal gas dan keluar dari perumahan itu menuju jalan raya. Joanna tidak tahu saja, jika pemuda yang di sampingnya tengah sibuk menata degup jantungnya yang tiba-tiba cepat, menatap penampilan Joanna yang tampak manis di matanya. Setelah hampir tiga puluh menit, mereka sampai ke tempat tujuan. Keduanya disambut Gerald dengan memasang senyum terbaiknya. “Wow, penampilan dokter kelihatan beda. Dua kali aku melihatmu pakai jas dokter, dan sekarang pakai hodie, damage-nya beda,” ujar Joanna. Mungkin, maksud Joanna, ia tengah memuji dokter muda itu, namun terkesan blak-blakkan membuat kedua lelaki di hadapannya saling pandang. “Really? Merci Miss Joanna, malah kulihat kamu lah yang tampak menawan pagi ini,” ucap Gerald menciptakan percikan api di hati Kennan. “Tapi tolong, jangan panggil dokter jika di luar rumah sakit. Panggil aja aku Gerald,” imbuhnya. “Oke!” Tanpa menunggu lama, mereka mulai melangkah, namun baru beberapa detik berjalan tampak seseorang memanggil dengan cukup nyaring. “Joanna!” Ketiganya memutar tubuh hampir bersamaan, menatap siapa yang memanggil. Alis Kennan seketika bertaut. “Ah, Gerald. Aku lupa memberitahumu, boleh gak aku ajak serta teman cewekku? Gak nyaman deh, jadi cewek sendirian di antara kalian,” ucap Joanna beralasan. Gerald terkekeh. “Tentu boleh. Makin banyak orang, makin seru!” Mendengar jawaban itu, Joanna tersenyum lalu meminta Bella untuk mendekati mereka. Tapi, Joanna cukup terkejut dengan penampilan Bella. Gadis itu selalu tampak cantik, elegan dan classy. Hanya saja kenapa terkesan salah kostum? Bella mengenakan off shoulder yang sukses memperlihatkan kedua bahu putihnya, ditambah skort di atas lutut yang lelaki mana pun tidak akan mampu mengedipkan mata menatapnya. Kennan berdehem dan menatap Joanna. “Jo, apa kamu gak bilang ke dia kalau kita bukan sedang berjalan-jalan melainkan olah raga menembak?” bisiknya. Joanna tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum kotak yang dipaksakan. “Udah sih, tapi ....” “Oh, apa aku salah kostum?” tanya Bella seolah menyadari penampilannya. ‘Ya elah, pake nanya. Udah tau salah kostum, sok polos!’ gerutu Kennan. Dalam hati tapi, huft! Gerald mencoba menengahi, saat melihat ketiganya yang tampak kikuk. “It’s oke guys! Ini kan, kita sekedar seru-seruan aja belajar nembaknya, gak serius kok. Mari buat diri kita happy, come on!” Ketiganya mengekor Gerald menuju arena. Diam-diam, Joanna tampak terpukau dengan suasana ruangan itu, dan tampak hadir seorang lelaki paruh baya berwajah bule mendekat pada mereka. “Guys, beliau Mister Samuel, instruktur kita. Aku bisa sih, ngajarin kalian dikit-dikit, tapi rasanya kurang pas kalau gak menghadirkan ahlinya,” cetus Gerald. Samuel sang instruktur menepuk bahu Gerald sambil terkekeh. “Bisa saja kau!” Mereka pun saling berkenalan dan bersalaman. “Oke, Geng. Sebelum memulai, silakan ke ruangan itu untuk memilih senjata yang akan di pakai,” ucap Samuel. Keempat muda mudi itu mengangguk, Gerald membimbing mereka ke arah tujuan. Di belakang, Kennan menyikut lengan Joanna sambil berbisik, “Kamu ngapain ajak Bella?” “Kan, tadi udah kubilang biar aku ada temennya,” jawab Joanna. “Kok, aku gak percaya ya?” Kennan mendelik. Joanna berusaha menghindari tatapan intimidasi dari lelaki itu. “Jawab, Jo!” bisik Kennan memaksa. “Ish! Diamlah.” Kennan hanya menghela napas kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN