Takut

1267 Kata
Setelah masing-masing memegang handgun, keempat muda mudi itu memakai kaca mata yang disodorkan Gerald. “Aku yakin, kalian pada gak bawa kaca mata. Pake ya!” “Untuk apa?” tanya Kennan. Gerald berdecak. “Haish! Pertanyaan macam apa itu? kacamata ini penting banget untuk siapapun yang latihan menembak. Alasannya, kita gak tahu ke arah mana peluru akan memantul. Bisa aja ke arah muka, atau even worse ke mata kita sendiri,” terang Gerald. Joanna bertepuk tangan kagum, membuat Kennan kesal dibuatnya karena seperti orang bodoh. ‘Siallan!’ DORR! Joanna terlonjak, saat di kejauhan instruktur Samuel tengah menembak sasaran. Ia bahkan tanpa sadar meremat lengan Kennan kuat-kuat. Kennan menatapnya heran. “Jo, kamu takut?” Mata Joanna membola, lalu tertawa sambil melepas rengkuhannya. “Mustahil. Gak mungkin lah, wajar tadi aku kaget lagi sepi tiba-tiba ada letusan peluru,” kilahnya, ia sontak menjauh dan sibuk merapikan rambut. Tapi, Kennan dapat melihat raut wajah Joanna yang tampak pucat, ia mendekatkan bibir ke telinga gadis itu. “Hei, bagaimana kamu bisa belajar menembak kalau kagetan begini?” Joanna menelan saliva, antara gugup karena parfum lelaki itu menggoda indera penciumannya, dan juga tidak mampu membayangkan bagaimana nanti ia belajar menembak. “Diamlah, Tuan sok tahu! Kita lihat aja nanti.” Gerald mendekati mereka yang sibuk berdebat. “Kalian berdua, udah siap?” Keduanya mengangguk. “Oke, mari kita ke arena.” Joanna menghela napas panjang, berusaha menenangkan hatinya, sekali lagi itu disadari oleh Kennan yang mengkhawatirkannya. Di saat itu, Joanna tak lupa akan misinya. Diam-diam, ia mendorong Bella agar mendekat ke arah Kennan, sambil mengedipkan sebelah mata pada gadis itu – berisyarat agar Bella mematuhi arahannya. Bella pun tersenyun paham. Joanna sengaja berjalan ke arah Gerald, membuat Kennan menyadari dan menautkan alisnya. “Oke Geng! Kita akan buat dua kubu ya,” ujar instruktur Samuel. “Gerald, kamu latihan dengan gadis ini, ajari dia juga ya.” Samuel menunjuk ke arah Joanna. “Siap Mister.” “Dan kalian berdua, saya yang akan mengajari,” cetus Samuel mengarah pada Bella dan Kennan. Joanna tersenyum, karena ini sesuai harapannya untuk mendekatkan Kennan dan juga Bella. Sementara Kennan sedikit gusar, ingin ia menolak tapi tercekat di tenggorokan. “Geng! Sebelum mulai, dengarkan arahan dan penjelasan saya dulu ya,” ucap Samuel, kemudian. Keempatnya mengangguk bersamaan. “Senjata yang kalian pegang, adalah Metrillo handgun. Bentuknya mirip sama yang di game PUBG itu, kalau kalian jeli. Tipe ini bisa menampung maksimal sembilan peluru dalam satu magazine. Pistol ini efektif untuk kegiatan menembak yang butuh respons cepat dan jarak dekat,” terang Samuel. Mereka masih terdiam, menyimak. “Kalian pernah kan lihat aktor di film action bisa memegang pistol pakai satu tangan, sambil loncat atau tiduran? Atau, mereka terlihat sangat kaku dengan dua tangan memegang erat pistolnya?" ucap Samuel di sela tawa. “ .... Ternyata postur kayak gitu gak disarankan oleh para profesional, Geng. Harusnya rileks! Tangan dan pundak harus dilemaskan. Kaki sebisa mungkin stabil, arahkan selebar pundak. Kalau nggak tembakan bisa aja nyasar. Setelah itu, genggam kuat-kuat dan tarik pelatuknya biar bisa menahan hentakannya. Begitulah cara yang benar. And now, selebihnya kita coba aja sambil diarahkan. Gerald, mari kita mulai.” Gerald mengangguk, dan meraih pergelangan tangan Joanna untuk berdiri di posisi mereka. Sementara Kennan dan Bella berada di dekat Samuel. Namun manik mata Kennan tak lepas memandangi Joanna dan Gerald yang tampak intim. Bahkan, posisi Gerald seolah tengah memeluk Joanna dari belakang dan membuat hawa ruangan ber- AC itu terasa panas bagi Kennan. Samuel menepuk bahu Kennan. “Bro, mari kita fokus!” Pemuda itu mengerjap dan mencoba menatap ke arah depan. Lamat-lamat, Kennan dapat mendengar Gerald yang tengah mengajari Joanna. “Jo, telunjukmu diselaraskan dengan laras pistol, jempol kanan disandarkan pada pembatas khusus ini. Tangan kiri diletakkan di depan tangan kanan. Kamu harus rileks, biar bidikannya maksimal ....” Gerald terus menerangkan, membuat Kennan semakin terasa gerah! ‘Peluk aja teros! Peluuuk!’ batin Kennan makin kesal. Alih-alih, mencoba mendekatkan Bella dan Kennan. Joanna malah sukses membuat pemuda itu cemburu padanya. Tapi, Bella tidak mau tinggal diam, ia pun berusaha mendekat. “Ken, bantu aku ajari megangnya,” pinta Bella. “Ikuti aja arahan Mister Samuel,” ujar Kennan acuh tak acuh. Tepi matanya masih sibuk mengawasi Gerald dan Joanna. DORR! Kembali satu peluru terlepas dari pistol milik instruktur Samuel, membuat rasa kaget Joanna kambuh. Bahkan, kali ini ia tidak mampu menguasai rasa terkejutnya. Gerald mampu merasakan getaran hebat di tangan Joanna. “Jo, kamu gak apa-apa?” Joanna menelan saliva, titik peluh mulai menjalar di sekujur tubuh. “Ng-nggak. Aku, oke.” Dokter muda itu tidak bisa dibohongi, ia menggeleng dan melepas rengkuhan. Ia menurunkan kedua tangan mereka, dan menghadap ke arah Joanna. Tampak gadis itu sangat pucat. “Kamu gak baik-baik aja Jo!” ujar Gerald. Kalimat itu, terdengar di telinga Kennan, Bella dan Samuel. Ketiganya mendekat. “Ada masalah?” tanya Samuel. Gerald berusaha tersenyum, agar mereka tidak khawatir. “Joanna kecapean aja.” “Owh, ya udah. Bawa dia istirahat,” ucap Samuel kemudian. Gerald mengangguk dan meraih pinggang Joanna untuk membimbingnya menuju kursi, lalu menyodorkan sebotol minuman. Kilatan cemburu itu, tidak bisa lagi kennan tahan ia hendak mengambil alih namun Bella sigap meraih tangannya. “Ken, mari lanjutkan. Kita belum selesai.” Jika saja tidak ada instruktur Samuel, Kennan pasti sudah berhenti dan mendekati Joanna. Ia pasrah dan kembali melakukan latihan, walau fokusnya sangat terbagi sekarang. Manik matanya kerap menatap Joanna, bahkan tak jarang pandangan mereka saling bertemu. Namun, Joanna berpura-pura biasa saja dan lagi-lagi menghindari tatapan lelaki itu. **** Latihan selesai. Itu melegakan bagi Kennan. Ia bergegas berlari mendekati Joanna tanpa peduli pada Bella yang sibuk mengimbangi kecepatan langkahnya. “Jo, kamu gak apa-apa?” tanya Kennan khawatir. Ia duduk di samping Joanna. Joanna mencoba tersenyum dan mengangguk. “Aku oke,” ucapnya pelan. Kennan menonjok halus lengan gadis itu. “Lo covernya doang macho, fisikmu gak sekuat itu,” seloroh Kennan membuat Joanna terkekeh pelan. “Aku ada sedikit masalah dengan suara keras. Maaf ya, membuat kegiatan kita jadi gak seru,” ucapnya pada mereka. Hal itu cukup membuat Kennan tertegun. Barulah sadar, jika ia tidak banyak tahu tentang gadis itu. “Kata siapa? Tadi itu seru kok. Kamu hanya perlu adaptasi, lama-lama juga terbiasa,” cetus Gerald mencairkan suasana. Mendengar itu, Joanna merasa lega. Walau tanpa mereka ketahui, ada sisi trauma di masa kecil yang berhubungan dengan sebuah tembakan. ‘Bagaimana mungkin lupa, jika aku phobia pada ledakan pistol?’ batin Joanna. “Oke Guys! Habis ini, kita makan-makan. Para maid-ku udah nyiapin makanan buat kita. Mari ke lantai atas sekarang,” ujar Gerald kemudian. Kembali mereka berjalan beriringan menaiki anak tangga, dan Joanna memilih berjalan di sisi Gerald agar Kennan bisa lebih dekat dengan Bella. “Ken, besok ada waktu luang?” tanya Bella. “Kenapa?” “Please, luangin waktu bentar ya. Ada hal yang sangat penting untuk aku katakan.” Keduanya menghentikan langkah, membuat jarak mereka dari Joanna dan Gerald semakin jauh. “Sekarang aja, di sini,” ucap Ken datar. Bella tersenyum. “Mana enak ngomong di sini, bagusnya juga gak terkesan buru-buru lah. Aku gak nyaman.” Kennan menghela napas berat. “Ya udah. Mau di mana?” Batin Bella bersorak. “Kafe Fun, jam lima sore ya.” “Oke,” jawab Kennan singkat. Tanpa mereka sadari, Joanna menoleh ke arah mereka dengan tatapan sendu. “Joanna, bagaimana apakah kamu jauh lebih baik sekarang?” tanya Gerald. “Udah, Ger. Makasih ya.” Gerald mengangguk dan membimbingnya menuju ruangan yang menghidangkan banyak makanan di sebuah meja kotak berukuran besar. “Mari kita makan dan berfoto!” seru Gerald pada ketiganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN