Serius

1423 Kata
Gerald telah lebih dulu pulang dengan mobil sport-nya. Namun setelah itu, Kennan tidak mengerti, kenapa Joanna berlari ke arah jalan, sesaat setelah pamit pada Bella. Ia menyusul, lalu menarik lengan gadis itu, membuat Bella memandang dengan tatapan aneh di kejauhan. “Kamu mau ke mana?” “Mau pulang dong,” ucap Joanna terkekeh. Kennan berdecak. “Ngapain ke tepi jalan? kan tadi kita berangkat bareng. Ayo, masuk ke mobilku!” Joanna menatap Bella dari jarak yang cukup jauh. Lalu kembali menatap lelaki di hadapannya. “Aku lupa Ken, masih ada urusan. Kamu antar Bella aja, ya.” Kennan menggeleng, masih memegang pergelangan tangan gadis itu. “Gue gak beggo! Lo sengaja kan biar gue dekat sama Bella!” desis Kennan dan kembali mengucapkan panggilan ‘gue-lo’, seolah menegaskan ia tengah sangat kesal pada gadis itu. Hening! Joanna menelisik manik hitam milik Kennan. “Kamu ini kenapa? Bukankah ini kemauanmu, Ken?” Deg! Kennan merasa terhenyak dengan kalimat yang meluncur di bibir mungil Joanna. “Aku lagi ngerjain tugasku jadi comblangmu, bekerja samalah. Jangan bilang kamu lupa.” Joanna membuang muka. “Aku capek sebenernya, karena kamu gak bergerak buat deketin Bella. Udah sana, antar dia pulang, dan lakukan pendekatan, harus berani lah,” ujar Joanna. Matanya mulai berembun. Ia menunduk agar Kennan tidak melihat wajahnya yang kacau. Kennan masih bergeming, membuat Joanna cukup frustasi. Ia mendorong dadda Kennan. “Sana Ken! Ayo!” pekiknya. Tidak berhasil, ia pun memutar tubuh tegap itu sekuat tenaga, dan kembali mendorong punggung Kennan. “Ken, aku mohon jangan buatku susah. Cepat ke sana, Bella tampak bingung lihat kita,” sambung Joanna. Tanpa menunggu lagi, Joanna berlari, dan menyeberang jalan. Sementara Kennan, menutup mata kuat-kuat dengan napas yang terasa sesak. Melihat pemandangan itu, Bella mendekat ragu-ragu. “Kennan ... apakah kalian bertengkar?” tanya Bella. Lelaki itu memandang lurus ke arah lain seraya menggeleng. “Ayo, kuantar pulang,” ucap Kennan mulai melangkah ke arah mobilnya. Bella tersenyum bahagia walau masih sedikit bingung. Namun ia tidak banyak mempedulikan hal itu. Di tempat lain. Joanna sudah menaiki angkutan umum, ia sibuk menyeka air matanya dengan kasar. ‘Lo kenapa sih, lemah amat deketin cewek yang disuka. Bikin gue susah aja!’ batin joanna. Seolah meralat ucapannya, ia kembali bersenandika, ‘Itulah kenapa, gue gak mau jatuh cinta karena pasti bakalan sesakit ini.’ **** Di kamar yang didominasi putih dan hitam. Kennan meraup wajahnya dengan kasar. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang king size. ‘Kenapa jatuh cinta aja harus seribet ini sih! Apa yang dibilang si Jimmy bener, kalau gue payah dalam soal cinta? Aarrgh! Siall!’ Ponselnya bergetar. ‘Panjang umur,' batinnya terkekeh. “Halo, Jim.” “Lo di mana? Tadi pagi gue ke rumah lo, katanya lagi sama sepupumu.” “Hu’um, udah di rumah sekarang. Kenapa?” “Motoran yuk, cari angin.” Kennan langsung bangkit. “Mantap. Cuslah!” “Oke, gue tunggu di tempat biasa.” Setelah menutup sambungan. Kennan mengganti piyamanya dengan kaos yang ditutupi jaket kulit, dan celana jeans. Semangat menuruni anak tangga dengan cepat, ia melewati ruang tamu tanpa menyadari ada seorang lelaki paruh baya tengah duduk bersilang. “Mau ke mana Ken?” Kennan seketika menghentikan tubuhnya dan menoleh ke arah suara. Saat tahu siapa, wajahnya berubah masam. “Mau motoran sama teman. Tumben Papa di rumah,” ucapnya ketus. Hans melipat koran yang tengah ia baca. “Jangan sia-siakan masa mudamu dengan kesenangan semu, dan berleha-leha Ken. Kalau begini terus, kamu gak bisa sukses. Semua aset atas namamu, mau sebanyak apa pun bisa saja hancur, jika tidak bisa mengelolanya, pikirkan.” Kennan memutar bola mata seraya menghela napas kasar. ‘Bacot!’ batinnya. “Kenapa diam? Kamu mendengarkan ucapan papa kan?” tanya Hans. “Ya, aku dengar. Tapi Papa jangan suka menilai dari satu sisi, kan gak memperhatikanku selama 24 jam. Apa-apa aja yang lagi aku lakukan, kan gak tau.” Hans mendecih. “Kennan, Kennan. Walau pun papa gak ada di sini full. Papa udah bisa menilai sehari-hari kamu ngapain saja. Ditambah, Laura cerita ke papa kalau kamu tidak pernah mengikuti pelajarannya, malah asyik bolos. Jika terus begitu, bagaimana bisa lulus dengan nilai sempurna?” Mendengar nama Laura, wajahnya merah padam. Ia menatap tajam sang ayah sambil mendekat. Bahkan kini, jarak mereka tidak lebih dari sepuluh centi. “Udah kubilang jangan melihat dari satu sisi saja. Dengarkan juga dari Mama. Tapi Papa hanya mendengar dari wanita jallang itu, mengecewakan!” Rahang Hans mengeras, ia mengangkat tangannya namun sigap Kennan menangkapnya. “Mau apa? Menampar pipiku? Mau merendahkan harga diriku seperti yang kau lakukan pada mama?” tantang Kennan. Ia membuang ke udara tangan ayahnya. “Jaga mulutmu, Ken! Dan lihat, dengan siapa kamu bicara?” Hans mulai membentak. Kennan tersenyum sinis. “Tau, aku lagi bicara sama orang yang mengajariku tentang arti kesuksesan. Sementara dia sendiri, tidak mampu mendirikan perusahaannya sendiri, tapi sibuk menjabat sebagai direktur utama di perusahaan mama, tanpa ngerti apa-apa. Kasarnya, makan gaji buta!” Hans menatap tak percaya. “Jangan kaget kalau aku udah tau semuanya. Setelah dewasa, kini aku paham bahwa mama lah yang full mengendalikan perusahaan walau ia tidak mampu terjun langsung. Pantas saja, mama lebih memilih berlama-lama berdiam diri di kamar, ternyata ia sibuk berkutat di laptop, agar perusahaan tetap berjalan. Tanpa mama, kau bukan siapa-siapa. Keahlianmu cuma satu, mengendalikan perempuan!” Mati kutu. Sejatinya hal yang salah, jika Kennan melawan ayahnya sendiri. Namun, semua ucapan pemuda itu ada benarnya. Tanpa Rose, Hans bukan siapa-siapa. Malas berdebat lagi, Kennan segera meninggalkan ayahnya dalam kekakuan. **** “Bray!” teriak Jimmy memecah keheningan. Sudah setengah jam, ia dan Kennan berdiam diri di atas motor tanpa melakukan apa pun. “Ken!!” ulangnya. “Ish! Berisik lo!” “Lagian lo gak nyahut. Katanya mau motoran, malah diem kayak orang beggo,” sungut Jimmy kesal. Dari rumah, Jimmy sudah bersemangat akan berlomba dengan sahabatnya itu. Biasanya mereka akan taruhan siapa yang menang dan kalah. Dan yang kalah harus traktir makan ramyeon selama tiga hari. “Gue tiba-tiba gak mood. Abis berantem sama papa.” “Hah, berantem? Gak berkelas banget sih lo, hari gini masih berantem, sama orang tua pula!” tegur Jimmy. “Bukan kemauanku sebenernya. Tapi, gue muak punya orang tua macam dia, kenapa gak pergi aja biar hidupku tenang.” Jimmy menggelengkan kepala. Ia tak habis pikir kenapa Kennan begitu membenci ayahnya. “Ken, setauku papamu hanya menyakiti mamamu, bahkan bu Rose sendiri masih mau mempertahankan pernikahan. Kenapa lo yang heboh sendiri?” Kennan menajamkan mata ke arah Jimmy. “Heboh lo bilang? Jadi, maksudmu jika lo jadi gue bakalan legowo dan tetap baik sama ayahmu walau dia menyakiti ibumu?” Jimmy mengangkat bahu. “Why not? Gue gak membenarkan sikap ayahmu, juga bukannya gue sok baik, tapi biar gimana pun kita harus tetap baik sama orang tua. Tapi, itu sih pilihan masing-masing, gue gak bermaksud mengguruimu. Cuma, kalau gue jadi lo ya, yang pasti bakalan pegel hati tiap hari. Dih, ogah! mending nikmatin hidup.” Jimmy menjeda ucapannya. “Gara-gara kebencianmu pada orang tua, sampe gak mau jatuh cinta segala. Sekarang malah kena batunya, lo bucin sama Joanna tapi gak bisa ngomong,” ucap Jimmy menyindir. Mendengar itu, Kennan kembali ingat tentang Joanna. Tatapan gadis itu siang tadi, menyiratkan kesedihan yang tidak ia pahami. Ia menunduk dalam-dalam, dan disadari oleh Jimmy. “Kenapa lo? Baru sadar dari amnesia ya?” ketus Jimmy. “Ya, lo bener Jim. Gue terlalu mendramatisir keadaan, yang sakit hati mama tapi gue yang heboh sendiri.” Jimmy turun dari motornya dan menepuk bahu Ken. “Sekarang lo mau berubah kan?” Pemuda berhidung bangir dan alis tebal itu mengangguk. “Ya, capek gue. Mau menata masa depan dan fokus ke kebahagiaan gue sama mama aja udah.” “Good job! Soal Joanna gimana?” Kennan menarik napas panjang. Udara malam itu terasa dingin menusuk. Tampak dedaunan bergerak tak tentu arah di terpa angin, ia tidak ingin seperti daun itu yang menyerah begitu saja dibawa takdir yang buruk, maka baginya harus punya prinsip dan tujuan. “Gue akan menjemput kebahagiaan. Setelah lulus, gue akan mengelola perusahaan, dan melamar Joanna. Pokoknya, dia harus jatuh cinta sama gue.” Mata Jimmy terbelalak. “Seserius itu lo sama Joanna?” “Dua rius.” Jimmy terkagum dan bertepuk tangan. “Gue, bangga sama lo. Ini, barulah Kennan yang gue kenal. Pokoknya, apa pun itu gue suport lo sepenuhnya.” “Thank’s.” “Sekarang gimana nih, kita udah telanjur bawa motor,” ucap Jimmy mencucu seperti anak kecil. Kennan memakaikan helm miliknya. “Tunggu apa lagi, mari balapan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN