Seharusnya, aku tidak jatuh cinta saat hujan.
Karena jika hujan itu datang di kemudian hari,
luka itu kembali hadir.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebenarnya, sangat-sangat malas bagi Kennan – mengiyakan permintaan Bella. Tapi, ia harus menyelesaikan apa yang sudah diperbuatnya.
‘Salah. Aku udah salah, jadi sudahi saja.’
Ia mendudukkan tubuhnya di jok mobil, memasang seat belt dan mulai mengendarai mobil miliknya. Sesekali ia menarik napas yang semakin berat.
Saat mulai fokus menyetir, ponsel berdering. Kennan meraih benda pipih itu dari dashboard.
“Kak Ken, aku udah sampai kafe,” ucap Bella di seberang sana.
“Oke, ditunggu ya. Aku lagi di jalan.”
Tanpa mengucap kata lagi, ia langsung mematikannya. Bayangan wajah Joanna, seolah menghalangi kaca mobilnya.
‘Dasar kamu!’
Lima menit sudah, ia telah memarkirkan mobil di pelataran kafe. Iris matanya bisa melihat, Bella telah duduk manis di bangunan yang berdinding kaca.
Sebelum masuk, pemuda itu masih menyempatkan mendongakkan kepala ke arah langit yang tiba-tiba mendung, pertanda hujan akan turun.
Kaki panjangnya mendekat ragu, dan ia menarik kedua ujung bibirnya pada Bella.
“Sore kak,” sapa Bella sumringah.
Ia tampak cantik paripurna dengan membiarkan rambut panjangnya digerai, ditambah dress motif bunga daisy yang manis.
“Sore. Udah lama nunggu?”
Bella menggeleng samar. “Belum. Baru setengah jam kok.”
“Itu namanya sudah lama,” cetus Kennan seraya mengangkat kedua alis tebalnya.
Bella terkekeh pelan, sikap anggun gadis itu membuat siapa saja terhipnotis.
“Bagiku, itu belum lama.”
“Well, aku mau pesan minuman dulu,” ucap Kennan.
Bella mengangguk, sambil terus menatap wajah menawan milik Kennan. Getaran halus itu kembali hadir, bahkan kian cepat saat semerbak parfum lelaki itu menggoda indera penciumannya.
Dua kopi s**u tersaji di meja bundar. Kennan merapatkan kedua jemarinya, yang ia pakai untuk menopang dagu.
“Sepertinya mau hujan, dan udara pasti akan dingin. Mari langsung aja, apa yang mau kamu katakan padaku,” ujar Kennan saat melihat, Bella hanya sibuk berceloteh tidak jelas.
Menceritakan apa-apa saja kegiatannya di kampus, siapa-siapa saja fans lelakinya dan baju-baju branded apa saja yang sering dipakainya. Sungguh, Kennan tidak tertarik walau seujung kuku pun.
“Ohw, hampir aja aku lupa. Ehm.”
Bella tiba-tiba terlihat sedikit gugup, ia merapikan duduk dan rambutnya yang sudah rapi, lalu manik matanya menatap mata arang milik Kennan.
“Kak, makasih banget ya udah cinta sama aku. Walau, caramu menyukaiku sangat unik, tapi ... itu malah membuatku merasa melayang, kamu memang beda dari cowok lain," cetus Bella.
Air muka Kennan berubah seketika. Ia sedikit membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tapi kalah cepat dari Bella.
“Sama. Aku juga cinta sama kamu Kak, bahkan sejak pertama masuk kuliah. Asal Kak Kennan tau, diam-diam kalau gak sengaja ketemu kamu, suka betah deh lihatin wajah tampanmu diam-diam,” imbuh Bella tersipu. Kini, wajah putihnya tampak bersemu.
Kennan menghela napas panjang, ia sudah menduga jika gadis itu akan menyambut baik kesalah pahaman ini, walau tetap saja membuat lututnya melemas. Lelaki itu, semakin merasa salah telah berbuat konyol. Kembali, wajah Joanna muncul di pikirannya.
Tangan Kennan terulur menggenggam kedua jemari Bella. Membuat jantung gadis itu nyaris terlonjak dari tempatnya.
“Bella. Sebelumnya, aku minta maaf. Ini sangat salah, dan aku lah biangnya.”
Bella tentu saja menautkan kedua alis.
“Maksud Kakak?”
“Maafkan aku, telah menjadikanmu alat untuk melakukan pendekatanku pada Joanna.”
Hening!
“Ya, aku meminta Joanna mencomblangkan kita, sebenarnya hanya sebuah alasan agar aku semakin dekat dengan dia. Jujur, gak nyangka akan jadi seperti ini. Maka dari itu, akan kuselesaikan sekarang.”
Bella menundukkan wajah, ia menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya, ia mulai paham maksud lelaki itu.
“Aku mencintai Joanna. Cuma terlalu takut dan malu mengatakannya sejak awal. Khawatir kalau aku jujur, dia malah makin jauh, makanya aku melakukan hal konyol ini. Maaf ....”
imbuh Kennan.
Masih dengan posisi menunduk. Kedua netra Bella menjatuhkan bulir bening ke pipinya.
Kennan semakin mengeratkan rengkuhan tangannya.
“Please, Bella. Maafkan aku, kuakui kamu sangat cantik, tapi hatiku hanya untuk Joanna. Kamu, bisa memaklumi dan memaafkanku kan?”
Byurrr!!!
Hujan turun dengan deras, bahkan sesekali petir terdengar menggelegar.
Bella memberanikan diri mendongak – menatap wajah yang selama ini ia kagumi. Sejurus kemudian, senyuman tipis mengembang, di antara air mata yang membasahinya. Tangan yang sedari tadi digenggam Kennan, ia tarik dan diturunkan ke bawah.
“Makasih, atas penjelasanmu Kak. Aku paham setiap orang yang jatuh cinta, pasti punya caranya sendiri. Termasuk kamu, yang ternyata malu-malu mengatakannya pada Joanna. Aku gak apa-apa kok, jangan terlalu dipikirkan. Mulai detik ini, jangan ragu ya, besok kamu harus nembak cewek itu, awas kalau nggak!” ucap Bella di sela senyum.
Tentu, senyuman dan kalimat itu menghadirkan kelegaan luar biasa. Kennan tidak menyangka, jika semudah ini Bella memahami. Benar kata Joanna, jika gadis ini sangat baik.
“Bell, kamu sangat baik. Makasih ya, dan sekali lagi aku benar-benar minta maaf.”
Bella mengangguk. “It’s oke. Aku baik-baik aja. Mari kita habiskan kopinya, dan bergegas pulang. By the way, aku alergi dingin hehe.”
“Oh, oke.”
Hati Kennan kini bersorak. Ide-ide di kepalanya berenang-renang, memikirkan bagaimana esok ia menyatakan cinta pada Joanna.
‘Semoga aja, aku gak ditolak sama gadis bar-bar dan tengil itu.’
Tanpa Kennan sadari, Bella menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
****
Diiringi senyuman termanis, Bella menolak diantar pulang oleh Kennan dengan alasan menunggu supir pribadinya datang. Maka, ia pun membiarkan lelaki itu lebih dulu pulang.
Setelah yakin mobil milik Kennan menjauh. Bella berjalan cepat menerobos hujan yang kian deras, tak peduli apa yang melekat di tubuhnya menjadi basah semua.
Entah seberapa lama Bella berjalan. Bahkan hari itu sudah mulai malam, lampu-lampu jalan kompak menyala menerangi kota metropolitan.
Langkahnya terhenti, tepat di sebuah gerbang rumah sederhana, kedua jemarinya memeluk erat lengannya sendiri, karena kedinginan. Sebelumnya, ia telah menelepon pemilik rumah itu, agar segera keluar.
Pintu terbuka, dan pemilik rumah itu berlari kecil mendekatinya, memakai payung dengan mimik terkejut.
“Ya Tuhan, Bella. Apa yang membuatmu datang ke rumahku hujan-hujanan? Malam begini pula,” ujar Joanna memindai tubuh gadis itu, masih dengan tatapan terkejut.
Bella bergeming, ia semakin menangis membuat Joanna sedikit panik.
“Ada apa Bella? Sebaiknya, kita masuk dulu yuk!”
Bella menggeleng, malah menarik Joanna ke pelukannya. Membuat payung yang dipegang Joanna, terlepas. Keduanya kini, sama-sama basah.
Joanna menutup matanya, merasakan getaran tubuh Bella yang menangis sesenggukan. Ia yakin, Bella telah menangis sedari tadi.
Tangannya terulur mengusap punggung Bella dengan lembut.
“Bella, kumohon katakanlah sesuatu agar aku gak bingung,” pinta Joanna dengan pelan agar Bella sedikit tenang.
Bella pun melepas pelukan itu dan menyeka air matanya. Joanna terdiam, memberikan ruang bagi gadis itu untuk siap berbicara.
“Jo. Kamu sahabatku kan?” tanya Bella dengan bibir bergetar. Bibirnya tampak pucat karena terlalu lama terkena air.
“Ya iya lah, kenapa ragu sampai kamu tanya hal itu?” Joanna balik bertanya.
“Aku terluka.”
“Hah? Mana? Sebelah mana?” Joanna menyentuh dan menelisik sisian tubuh gadis itu - sibuk mengeceknya dengan rasa khawatir.
Bella menggeleng, ia menunjuk dadda kirinya.
“Lukanya di sini.”
Joanna menatap dan terpaku sesaat, menyerap maksud Bella.
“Ma-maksudmu Bell?”
“Kak Kennan yang kamu kira baik, bahkan kalian bisa bersahabat dekat. Ternyata dia jahat!”
Mata Joanna membola.
Hujan tak sederas tadi, tapi masih mampu membasahi tubuh keduanya. Walau cahaya malam cukup temaram, Joanna dapat menangkap kedua manik mata Bella yang tengah menatapnya, dengan kilatan yang berbeda.
“Aku mohon, kamu tetap jadi temanku ya, Jo ....”
Sungguh Joanna belum paham maksud ucapan gadis itu.
“Ta-tapi ... soal Kennan, jahat yang seperti apa yang kamu maksud?”
Bella menunduk, air matanya kembali luruh.
“Kak Kennan ... tadi, hampir saja merenggut kesucianku. Kalau aja, gak ada orang lewat yang nolongin, entah apa jadinya nasib masa depanku.”
Tangisan Bella kembali pecah, namun Joanna menggeleng cepat – merasa tidak percaya yang dikatakan gadis itu.
Tawa hambarnya berderai. “Gak mungkin Kennan kayak gitu, aku kenal baik sama dia! Kamu lagi bercanda ya?”
Sontak Bella menghentikan tangisan dan menatap Joanna dalam-dalam. “Kamu gak percaya Jo??”
Seketika Joanna menelan saliva yang terasa pahit. “Bu-bukan begitu tapi__”
“Padahal, aku satu-satunya orang yang percaya, kalau kamu bukan pemakai obat-obatan terlarang dan hanya terkena fitnahan itu. Ingat gak? Tapi sekarang, kamu malah gak percaya sama aku,” potong Bella terkesan menekan Joanna, memaksanya untuk kembali mengingat kejadian itu.
Joanna membeku, tidak tahu harus apa dan bagaimana.
“Oke. Kita duduk di situ, biar kujelaskan detailnya.” Bella menunjuk kursi beratap tepi jalan.
Kini, mereka duduk bersisian. Sementara Joanna tak lepas memandangi Bella, menuntut penjelasan.
“Kak Kennan memintaku untuk ketemuan sore tadi di villa miliknya. Karena kukira dia baik, aku manut aja. Singkat cerita, kami saling mengutarakan perasaan. Aku pun bilang ke dia, kalau mencintainya juga. Kak Kennan girang dong, dia lalu peluk aku erat-erat, tapi habis itu tiba-tiba mendorong tubuhku ke sofa. Lalu ... lalu ... kamu tau apa yang terjadi habis itu ... hiks!” Tangisan Bella pecah untuk kesekian kali.
Srettt!!
Seolah belati tengah menggores dadda Joanna, mendengar rentetan kalimat itu.
Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba agar air matanya tidak keluar dengan lancang. Bibirnya seketika bergetar.
Bella menggasak rambutnya dengan frustasi, lalu berteriak histeris.
“Joanna! Walaupun aku cinta sama Kak Kennan, gak mungkin lah dengan bodoh menyerahkan keperawananku sebelum menikah! Jujur aja, sekarang aku benci banget sama dia! Psikopat, brrengsek! Aku menderita psikis sekarang, terlebih gak mungkin bisa laporin cowok itu ke polisi atas tindakan pelecehan, mengingat kak Kennan kan, anak pemegang saham terbesar di kampus,” ceracau Bella memecah keheningan.
Kata-kata itu, cukup mampu menghancurkan hati Joanna berkeping-keping. Sekali lagi, gara-gara cinta, membuat luka lamanya kembali menganga.
Tak cukup, Bella mengguncang kuat tubuh Joanna.
“Lihat mataku Jo! Lihat!!” Perintah Bella.
Joanna memberanikan diri menatap gadis itu.
“Kita sama-sama cewek. Kamu bisa rasain perasaanku saat ini kan? Bayangin!” tanya Bella.
“I-iya Bell ....” ucap Joanna lirih, namun bisa Bella dengar.
“Aku mohon dengan sangat, jauhi Kennan!” tegas Bella.
Deg!
Mata Joanna membulat sempurna.
“Demi aku, demi persahabatan kita. Jangan pernah kenal lagi dengan cowok bernama Kennan, mau kan??” imbuhnya.
Hening. Hanya rintik hujan dan angin yang samar terdengar
“Joanna!! Mau kan??” bentak Bella menatap tajam.
Joanna kembali menelan saliva untuk kemudian mengangguk.
Melihat itu, Bella memeluknya erat-erat. Derai air mata, kembali luruh di kedua pipi Joanna.
“Makasih Jo. Aku gak salah memilihmu jadi sahabatku, mulai detik ini kita cukup berdua aja tanpa ada nama Kennan di antara kita,” ucap Bella menutup percakapan keduanya.
Angin menusuk kalbu, namun entah kenapa rasanya begitu sakit bagi Joanna.
'Ken ... teganya kamu.'