Di tempat yang berbeda, dua insan terbaring posisi telentang dan menjadikan kedua tangan sebagai bantalnya. Menatap langit-langit kamar dengan raut wajah berbeda, yang satu penuh kesedihan dan luka, satunya lagi berbunga-bunga tanpa beban.
‘Mulai besok, aku harus melupakan Kennan. Dia benar-benar jahat!’ batin Joanna.
‘Mulai besok, aku akan menyatakan perasaanku pada Joanna,' batin Kennan percaya diri.
****
“Bagaimana keadaannya?” Suara dari seberang telepon.
“Baik. Dia sangat sibuk berkegiatan, kuliah dan bekerja.”
“Ah, anak yang manis dan kuat.”
Senyuman tulus terukir, ada gurat rindu di wajah seseorang itu.
Larut dalam obrolan, membuat Oma Elle tidak menyadari, jika Joanna menenteng sepatu converse – melewatinya.
“Sudah dulu ya. Sampai jumpa nanti.” Oma Elle bergegas menutup sambungan dan segera memasukkan ponsel ke sweater-nya. Ia menerka-nerka apakah Joanna mendengar percakapannya di telepon ataukah tidak.
“Oma lagi nelepon siapa?” tanya Joanna dengan santai.
Ia duduk berjongkok dan meraih salah satu kaos kaki.
Wanita paruh baya itu menggaruk rambutnya yang mulai memutih.
“Oh, i-itu ... teman lama Oma, dia juga nanyain kabar kamu. Terakhir kami ketemu waktu kamu masih kecil banget.”
Mendengar itu Joanna hanya mengangguk, dan tidak tertarik bertanya lebih – membuat Oma Elle cukup lega.
Suara klakson berbunyi. Joanna beringsut menjauh dari tempatnya dan cukup panik. Bukan karena terkejut dengan suara nyaring, tapi ia tahu klakson mobil siapa itu.
“Kenapa Jo?”
“Nggak. I-itu Kennan, Oma. Joanna masuk kamar dulu ya, kalau dia ke sini bilang aja aku udah berangkat ke kampus.”
“Kenapa Oma harus bohong?”
Joanna terdiam, ia menggigit bibir bawahnya. Sementara matanya mengarah ke jendela, tampak Kennan mulai masuk ke pelataran rumah.
“Joanna?” Kembali neneknya bertanya.
“Maaf Oma, aku gak bisa bilang sekarang. Tolong bantu dulu ya. Please.”
Joanna bergegas masuk ke kamar, pintu pun diketuk beberapa kali. Perlahan Oma Elle membuka pintu.
“Pagi Oma,” sapa Kennan ramah dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Pagi juga Nak Kennan. Mau berangkat bareng ke kampus ya?”
“Iya, Oma.”
“Sayang sekali, Joanna udah ke kampus duluan. Mungkin ada tugas yang harus dikerjakan.”
“Sepagi ini?” Tanpa sengaja, manik matanya menatap sepasang sepatu converse merah milik Joanna di dekat pintu.
“Iya. Tadi, tampak buru-buru sekali.”
“Begitu ya. Baiklah Oma, kalau begitu saya pamit dulu.”
“Oh, baik. Hati-hati ya.”
Kennan mengangguk, saat melangkah tepi matanya masih tertuju pada sepatu itu. Setelah pamit, ia kembali masuk ke mobilnya.
‘Ah, mungkin saja Joanna lagi pake sepatu lain,' batinnya menghibur diri.
****
Satu teman lebih bernilai dari pada seribu teman tapi palsu.
.
Joanna lega, karena ia ke kampus tanpa harus bertemu Kennan. Ia melenggang masuk ke kelas dan mendapati Bella tengah menyisir rambutnya sambil tersenyum manis di depan cermin.
Untuk beberapa detik, Joanna terpaku menatapnya namun mulai melangkah dan mempersiapkan senyum terbaiknya.
“Bell, kamu masuk ke kampus? Aku kira ....” Joanna todak melanjutkan ucapannya, dan memilih mendudukkan dirinya di kursi tepat di belakang gadis itu.
Bella menoleh ke arahnya. “Jujur aja, aku masih sangat trauma Jo ....” bisiknya, ia melirik ke sekeliling kelas, seolah khawatir ada seseorang yang mendengarnya.
“Aku takut ketemu kak Kennan. Tapi, kupikir mau sampai kapan. Gak mungkin kan terus menerus gak masuk kuliah.”
Joanna mengangguk. Entah ia harus kagum akan ketegaran Bella ataukah bingung. Untuk seseorang yang baru saja hampir digagahi lelaki, Bella terhitung biasa saja dan datar.
“Aku udah bertekad, untuk melupakan hal kemarin. Asalkan kamu mau menolongku untuk menjauh dari cowok itu, seperti janji kita kemarin, ya!”
“Oke, Bell. Kamu gak usah khawatir. Trus, biar kamu happy aku mesti ngapain lagi?” tanya Joanna kemudian.
“Gimana kalau besok, kita jalan-jalan yuk, ke mall.”
Joanna kembali mengangguk.
“Sip! Oya, aku ke toilet dulu ya.”
“Aku antar?”
“Nggak usah.”
Bella beranjak sambil merapikan bajunya.
Sepanjang koridor area kelas Kennan. Ia celingukan, dan seseorang yang dicarinya tampak keluar kelas menuju toilet. Tanpa menunggu waktu, ia dengan cepat mendekat ke arah pemuda itu.
“Kak Kennan!”
Kennan menoleh dan menunggu Bella mendekatinya.
“Ya?”
“Aku mau bicara sebentar boleh gak?” tanya Bella.
“Bilang aja sekarang.”
Bella menurunkan pandangan ke arah gelang yang dipakai Kennan, ia bahkan bisa menatap huruf-huruf yang bertuliskan ‘Joanna’. Barulah tersadar, kalau Joanna memiliki gelang yang sama.
‘Kenapa aku baru ngeh ya,' batinnya.
“Kok, diam? Aku mau ke toilet nih!” ujar Kennan.
Bella mengerjap. “Oh, iya. Sebenarnya ... kemarin itu, aku mau ngomong sesuatu, semacam syarat lah.”
Kening Kennan bertaut. “Syarat?”
Bella mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat.
“Hu-um. Kita gak jadi pacaran, karena Kak Kennan sukanya sama Joanna. Emang sih aku seneng kalau kalian jadian. Tapi, kayaknya pengen aja gitu, dikasih hadiah atas keputusan kamu kemarin.”
Kennan tampak terkekeh. Mungkin, itu pertama kalinya, ia seperti itu di depan gadis itu. Bahkan, Bella sempat berpikir, ‘Apakah Kennan, seceria ini saat bicara sama Joanna?’
“Kamu lucu juga ya, Bell. Kirain soal apa. Boleh-boleh, minta apa?”
Hati Bella terlonjak karena girang, namun ia berusaha menahannya.
“Aku mau, kita tetap temenan.”
“Tentu, kita bisa temenan.”
“Tapi bukan yang biasa, ya kayak kamu sama Joanna saat ini.”
Kennan tertegun. ‘Kayak ke Joanna? Mana bisa, beda lah.’
“Gimana Kak?” Bella kembali bertanya.
“Gak paham Bell. Karena, aku sama Joanna ya biasa aja kalau pas main. Seringnya malah hangout sama Jimmy.”
“It’s oke. Tapi, sesekali aku juga mau diantar ke kampus atau jalan-jalan.”
“Ooh, bisa aja. Tapi__”
“Asyyik! Kalau gitu besok ke mall yuk jam sebelas siang ada sesuatu yang penting mau kubeli. Jangan lupa jemput aku. Sampe ketemu nanti ya Kak. Bye!”
Bella memotong begitu saja ucapan kennan, dan berlalu pergi.
Sementara Kennan menggaruk rambutnya dengan kasar. “Arrrggh!!”
Bukan apa-apa. Ia kira, masalah kemarin sudah selesai, tapi malah terjebak di persoalan baru.