Sepatutnya

1396 Kata
Joanna sangat kesal. Saat ia susah payah menjauh dari makhluk yang bernama Kennan, ia malah berpapasan dengan lelaki itu di tepi jalan raya, tepat saat hendak menaiki angkutan umum. Kennan merentangkan tangan, menghalangi jalannya. “Ken, lo menghalangi jalanku!” “Lo? Kok, manggilnya lo, gak kamu lagi?” Joanna menarik napas kasar, ia bahkan membuang muka sejak tahu Kennan sudah ada di depannya. “Terserah gue lah! Jujur aja, gue gak nyaman manggil aku-kamu. Kayak pacaran aja.” “Oh gitu. Ya udah, yuk pacaran, biar manggilnya aku-kamu lagi,” cetus Kennan tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi. Deg! Joanna membeku seketika, mendengar kalimat itu. “Pacaran?” Kennan mengangguk cepat. “Iya. Aku cinta kamu, jadi mari kita pacaran.” ‘Cih! Lelucon macam apa ini?’ batin Joanna. “Lo gila ya. Pacaran jadi bahan becandaan.” “Lho, gue serius mau pacaran sama kamu, Jo.” Gadis itu tercenung. Ia tak habis pikir kenapa Kennan mengucapkan kata itu padahal baru kemarin mengucapkan perasaan cinta pada Bella bahkan sampai melecehkan gadis itu. Sekarang, Joanna makin yakin jika Kennan kurang waras. ‘Bisa-bisanya aku bersahabat sama orang bermuka dua!’ “Joanna. Aku benar-benar serius, jawab pertanyaanku.” Plakk!! Satu tamparan mendarat di wajah tampan milik Kennan. Lelaki itu meringis seraya mengelusnya pelan-pelan. “Kamu menamparku!” “Iya, mau lagi!! Makanya, jangan suka seenaknya nembak cewek habis itu ....” Joanna memilih menelan saliva ketimbang meneruskan ucapannya. “Habis itu apa?” tanya Kennan bingung. “Sudahlah. Mulai detik ini, gue gak mau deket-deket lo, sebaiknya kita gak usah temenan lagi.” Joanna mencegat salah satu angkutan umum, dan bergegas menaikinya. “Eh, Joanna! Tunggu!” Mobil itu berlalu meninggalkan Kennan dengan perasaan berkecamuk. ‘Yang kutakutkan terjadi,' batin Kennan sendu. **** “Aduk aja teroz! Sampe hancur mie itu kayak bubur,” ujar Jimmy bersungut-sungut. Entah sudah berapa menit, Kennan mengaduk mie di mangkuk itu, tanpa sedikit pun masuk ke mulutnya. Bahkan tatapannya kosong, lurus ke depan. “Bray, lo kenapa?” Kembali Jimmy bersuara. Kennan mengalihkan pandangan ke arah Jimmy. “Jim, gue ganteng gak?” “Hah?” “Gue ganteng gak!!?” suara Kennan lebih keras, membuat pengunjung kedai, menatapnya sesaat. Bahkan di antara mereka bergidik saat melihat adegan dua lelaki saling menatap dan mengharapkan pujian atas fisiknya - tampan atau tidak pada sesama lelaki. Oh Man! “Sttt! Pelan-pelan dong! Lagian, ngapain tanya kayak gitu?” bisik Jimmy. Ia agak lega, para pengunjung tidak menatap mereka lagi. “Masa, gue ditolak Joanna. Apa gue kurang ganteng?” tanya Kennan. Air mukanya menunjukkan rasa tidak percaya diri. “Uhuk! Uhuk!” ucapan Kennan membuat Jimmy terkejut hingga tersedak. “Jo-Joanna nolak cinta lo?” tanya Jimmy tak percaya. “Iya.” Kennan menunduk, wajahnya sangat lesu. Hff! Kini Jimmy paham, apa yang membuat sahabatnya itu kalut. “Menurut gue, lo ganteng seperti biasanya. Kalau Joanna nolak, mungkin ada yang salah sama gadis itu.” “Maksudnya?” “Gue emang ngerasa hal ini sejak pertama ketemu Joanna. Lihat aja dong, penampilannya yang manly. Mungkin aja, dia penyuka sesama jenis.” Bugh! “Awww!!” pekik Jimmy. Buku tebal milik Kennan, mendarat dengan kasar di lengan Jimmy. “Enak aja lo bilang, kalau Joanna-ku gak normal,” tukas Kennan dengan napas memburu karena kesal. Jimmy mengangkat bahu dramatis. “Habisnya, aneh aja. Mana ada cewek yang nolak cowok seganteng lo. Gue aja, banyak yang naksir, gimana lo.” Hening. Kennan tampak berpikir. “Apa cara nembakku salah, ya?” Kini, Kennan mulai meragu. “Emangnya, tadi gimana?” Sejenak Kennan mengetuk-ngetuk dagunya. “Tadi, gue nembaknya di jalanan. Gue bilang ayo kita pacaran, biar bisa manggil aku-kamu, nggak gue-lo lagi. Gitu Jim.” “Buset! Di jalanan, dan langsung nembak gitu aja?” Kennan mengangguk. “Dengan alasan, biar bisa manggil aku-kamu??” Jimmy mencoba meyakinkan. Kembali Kennan mengangguk, membuat Jimmy menepuk dahinya. “Ya Tuhan, makasih udah memberikan ketidak sempurnaan pada Kennan. Akhirnya, dia punya kekurangan juga.” “Serius Jim!” bentak Kennan. Jimmy menggasak rambutnya, ia sendiri bingung harus bagaimana. Kalau saja dia perempuan, sudah dari tadi menangis saking kesalnya. “Duh, kalau emang lo cinta sama Joanna. Kenapa nembak di jalanan? Kan bisa di restoran atau tempat romantis, dan dengan kalimat yang meyakinkan. Wajarlah dia nolak lo. Kesel gue!” ketus Jimmy. Tangannya terasa gatal ingin mencakar wajah sahabatnya itu. Mendengar kalimat dari Jimmy, semakin lemas saja lutut Kennan. “Trus, kalau udah begini bagaimana? Yang kutakutkan terjadi, Joanna jadi menjauh. Kalau tau bakalan kaya gini, mendingan gak usah jujur soal perasaanku, asalkan tetap bisa dekat sama dia.” Jimmy terdiam. Oke, katakanlah Kennan terlalu dramatis dan berlebihan. Tapi untuk seorang Kennan Alister Edberth, lelaki super dingin yang alergi jatuh cinta, bisa sedalam ini menyukai Joanna? “Ken, lo ... seserius ini cinta sama Joanna?” “Haish! Gue gak nyangka, lo masih ragu. Apa karena Joanna kalah cantik dan feminim dari pacar lo?” Kennan menatapnya tajam. Jimmy menggeleng kuat. “Ng-nggak gitu, Bray. Gu-gue cenderung kagum kok. Lo, bisa sebesar ini cinta sama seorang cewek, salut.” Kennan menyandarkan punggung di badan kursi. Pikirannya semrawut, entah apa yang harus dilakukan. “Gini aja deh. Joanna kan kerja di yayasan pendidikan milik mamamu. Kenapa gak minta bantuan Tante Rose, biar kalian dekat, kayak gimana kek caranya.” Kennan seketika menegakkan tubuhnya. Demi apa, tidak biasanya sahabatnya itu memiliki ide cemerlang. “Wow! Kata-katamu, bikin gue bersemangat traktir lo makan,” ujar Kennan di sela senyum. Jimmy membalas dengan kekehan. “Good! Kebetulan, gue masih lapar.” Jimmy dengan sigap mengangkat tangan, untuk kembali memesan makanan. Sementara Kennan, terus menerus berterima kasih padanya. **** _Di tempat lain_ Sesampainya di rumah, Joanna merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama sebuah mobil Mercedes, terparkir anggun di pelataran rumahnya. Seorang wanita berkaca mata hitam, rambut disanggul kecil dengan gaun sebetis berwarna navy, duduk manis di kursi roda. Sang sopir mendorongnya hingga tepat di pintu depan. Suara ketukan pintu, membuatnya terbangun dan bergegas membuka pintu. “Oh, Nyonya Rose?” “Selamat sore Joanna. Sibuk tidak?” “Tidak, saya baru pulang dari kampus. Mari masuk, Nyonya.” Gadis itu melebarkan pintu dengan sedikit membungkukkan diri. “Terima kasih.” Rose, mengedarkan pandangan ke seisi ruang tamu, lalu mengisyaratkan pada sopirnya untuk membuka bagasi mobil. “Permisi Nyonya, saya buatkan minuman dulu. Mau minum apa?” tawar Joanna. “Ah, teh pahit saja ya, jangan pakai gula.” “Segera, Nyonya.” Tak lama, Oma Elle keluar dari kamarnya karena menyadari seseorang datang ke rumah. Ia menyambut dengan ramah dan berbincang hangat. Menit berlalu, Joanna membawa nampan berisi secangkir teh, dan sebuah toples berisi kacang. “Maaf, Nyonya. Kami hanya punya ini,” ucap Oma Elle. Rose tersenyum. “Tidak apa-apa. Ini cukup.” Sopirnya masuk, hingga bolak balik membawa paper bag berukuran besar, dan menaruhnya di lantai. Oma Elle dan Joanna masih menyerap keadaan, entah apa yang dilakukan sang sopir. Hingga paper bag itu sudah menumpuk banyak, membuat Jonna tidak tahan lagi untuk bertanya. “A-apa ini, Nyonya?” “Paper bag itu berisi baju-baju kamu, berikut tas, sepatu, aksesoris dan alat make up. Kurasa, selama bekerja padaku, kamu butuh semua ini. Tolong diterima.” Mata Joanna membola sempurna, ia menatap sang nenek dengan raut wajah yang sama. “Oh, ya. Ada baju juga buat Oma,” sambung Rose. “Terima kasih, jadi repot-repot.” Oma Elle menimpali. “Nyo-Nyonya, ini sangat berlebihan bagaimana saya bisa membalas?” cetus Joanna. Seperti biasanya, ia tidak suka diberi hadiah atas sesuatu yang bukan prestasinya. Mungkin, lebih kepada tidak ingin merepotkan dan mempunyai hutang budi. “Saya rasa ini wajar. Kamu kan, sudah menjabat sebagai salah satu pengurus yayasan, jadi harus tampil elegan dan sopan. Maaf, jika ini terkesan memaksamu Joanna, terlebih saya yakin pakaian-pakaian yang ada dalam tas itu, bukan gayamu.” Mendengar itu, Joanna menggeleng. “Tidak begitu Nyonya. Jujur saja, selama bekerja pada Anda, saya khawatir kurang menghargai dengan penampilanku selama ini. Tapi, rasanya sekarang sudah punya solusi dari Anda, terima kasih.” Rose tersenyum lega. “Syukurlah, dan mulai hari ini, saya akan sering ke sini untuk mengajarimu bagaimana cara berpakaian, berjalan dengan elegan. Lalu, belajar memoles wajahmu dengan make up,” jelas Rose. Tentu saja Joanna bahagia, namun tanpa mereka tahu, Oma Elle jauh lebih bahagia dan merasa terharu. ‘Kamu patut mendapatkannya Jo, atas kesedihan dan kesusahanmu selama ini.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN