Balasan

1590 Kata
Joanna cukup gusar. Bagaimana tidak, sudah puluhan kali ia menghubungi Kennan lewat sambungan telepon, ditambah rentetan chat, tapi tak kunjung dibalas. Ini sudah jam delapan malam, bahkan rencana makan akan dilakukan jam tujuh. Meja makan sudah dikelilingi tiga anak dan Oma Elle. Mereka yang sejak awal ceria, antusias bahkan tidak hentinya bercengkerama, mendadak membisu. Hanya suara sendok dan piring kosong yang beradu. Mereka belum secuil pun menyentuh makanan yang mulai dingin. “Hoaaaammm!” Leon menguap cukup nyaring. Menunggu memang sesuatu yang membosankan. “Leon! Yang sopan dong, masa nguap sampe kedengeran begitu,” ujar Anne sambil menyikut lengan mungil Leon. Oma Elle terkekeh. “Habisnya gue bosan. Kak Kennan mana sih, Jo? Dia kan belum kakek-kakek, masa lupa sama janji sih,” sungut Leon. “Maaf ya Leon. Gue udah nelepon dia sampe lima belas kali, tapi gak diangkat. Terakhir nelepon, hp nya tiba-tiba gak aktif. Entah sengaja dimatiin atau habis batre,” terang Joanna. “Uh, awas aja kalau ketemu. Gue kasih bogem!” Leon mengangkat kepalan tangannya. Cilla menoyor kepala adiknya itu. “Heh tuyul! Ada juga lo yang bakalan ditenggelamin ke keteknya kak Kennan, kalau coba-coba mukul.” Anne tergelak. “Bener tuh. Badan lo yang mungil ini, bisa-bisa diangkat trus diceburin ke sungai ciliwung.” Tawa kembali membahana, membuatnya sedikit tersenyum. Ia menatap mereka satu persatu termasuk Oma Elle yang mungkin saja sudah ngantuk. “Tenang gaes, kayaknya Kennan terjebak macet. Sambil nunggu, kita makan duluan aja. Kalau dia protes, biarin aja anggap hukuman buat dia,” cetus Joanna. “Begitu?” tanya Anne. Joanna mengangguk. “Ayo, mulai makan!” seru Joanna. Lalu, tanpa dikomando lagi mereka melahap makanan. **** _Di tempat lain_ Sebelum kembali ke rumah sakit, Kennan menjalankan motor dengan kecepatan tinggi. Ada satu tempat yang ingin ia tuju. Pemuda itu menerobos pekatnya malam tanpa peduli angin dengan jahat menyusup celah kain. Sesampainya di tempat tujuan, Kennan menatap sebuah pintu apartemen. Tidak menyangka, jika ia kembali datang ke tempat di mana ia pertama kali melihat perselingkuhan Hans dengan Laura. Setelah bel dipencet berkali-kali. Seseorang membuka pintu, tampak wanita yang sangat tidak ingin ia temui membulatkan mata. “Ken? Kamu ke sini?” “Mana Papa? Aku punya urusan dengannya,” Kennan balik bertanya. Tatapannya menghujam. Laura terdiam lalu menoleh ke belakang sekilas. “Oh, ada di dalam. Masuklah!” Kennan sempat ragu, namun ia tidak mungkin menyelesaikan urusannya di luar ruangan itu. Ia pun membawa kakinya masuk ke apartemen yang sebenarnya atas nama Rose. Matanya mengitari dekor dan fasilitas mewah. Semua isinya, banyak berubah dari terakhir ia menginjakkan kaki di sana. ‘Rubah ini ini benar-benar menghipnotis papaku,' batin Kennan. “Duduklah Ken, akan kubuatkan minuman.” “Gak usah. Aku datang ke sini gak ingin basa basi!” Laura mendekat, ia benar-benar berani menunjukkan sisian tubuhnya hanya mengenakan lingerie berwarna merah muda, tanpa berniat menggantinya dengan pakaian yang lebih sopan. Lalu, dengan berani mendekatkan bibir ke telinga Kennan. “Papamu sedang mandi, dan biasanya sangat lama. Karena asik berendam si bathtub ....” bisiknya. Kennan menjauhkan dirinya dari Laura, dan entah kenapa rasa gugup tiba-tiba menjalar. “Jangan coba dekat-dekat!” Kennan memperingati wanita itu. Masih di posisinya, Laura terkekeh pelan. “Sudahlah Ken, gak mungkin kamu hanya berdiri saja di situ. Sebaiknya duduk, sementara aku buatkan minum,” cetus Laura. Ia mulai melangkah mendekati mini bar. Kennan mendesah kasar, ia tak punya pilihan lain selain menuruti ucapan wanita itu. Laura menoleh ke arah Kennan yang tengah sibuk memainkan ponsel, sebelum akhirnya wanita itu membuka lemari kaca dan mengambil sebotol wine. Ia menuangkan jenis red wine itu pada gelas, kemudian kembali melangkah dan menyodorkannya langsung pada Kennan. “Minuman apa ini?” “Minum saja, yang jelas bukan racun,” jawab Laura, ia mendudukkan dirinya di samping Kennan. Matanya memperhatikan pemuda itu menyesap minuman berwarna merah itu. “Aaahkkh ....” Mata Kennan terpejam kuat. Sepertinya ia baru menyadari minuman apa yang ia sesap, membuat Laura terkekeh dibuatnya. “Kamu memberiku minuman memabukkan,” ucap Kennan. Ia segera menaruhnya di meja, namun Laura sigap menahan dengan tangannya membuat tatapan mereka beradu. “Wajahmu tampaknya lagi kalut, Ken. Dan minuman ini mampu membuat beban pikiranmu seketika lenyap, kalau gak percaya coba minum lagi.” “Nggak!” Kennan menyanggah. Tubuh tingginya hendak berdiri, namun lagi-lagi wanita itu mencoba menahan. Bahkan posisi wanita itu, kini tepat di hadapan Kennan karena tangannya menahan kedua bahu pemuda itu. “Kamu tau gak, kenapa dulu aku lebih memilih ayahmu dibanding dirimu?” tanya Laura. Manik mata mereka masih bersiborok. Hening. Kennan memilih diam, menunggu kalimat selanjutnya. “Hans lebih berani dan menantang. Kamu ... gak ada apa-apanya, bahkan aku sempat bertanya-tanya, pacarku ini lelaki tulen apa bukan,” bisiknya. Rahang Kennan mengeras mendengarnya, matanya menghujam seolah singa yang ingin menggigit mangsanya. Ia sendiri sedikit lengah, saat jemari Laura meraba bagian daddanya dan memegang salah satu kancing kemeja yang hendak dibuka, namun Kennan keburu tersadar dan sigap menahan tangan mulus itu. “Mau apa kamu?!” Mata Laura sayu, seolah ada dorongan yang aneh. Tubuhnya semakin dekat dan mendudukkan dirinya di pangkuan Kennan. “Ken ... kamu gak merindukanku, hmm?” dessah Laura. Kennan tentu saja lelaki normal. Saat menatap tubuh mulus terbuka dengan rambut tergerai panjang, sekali pun ia membenci wanita di hadapannya - tetap saja mampu membangkitkan sisi lelakinya. “Jangan macam-macam, singkirkan tubuhmu ini!” ujar Kennan. Alih-alih membentak, malah suaranya terasa berat. Laura menyodorkan red wine itu, dan sedikit mendorong gelasnya ke mulut Kennan. “Minumlah, dan lupakan beban yang menjalar pikiranmu,” ucap Laura. Seolah terhipnotis, Kennan menenggak minuman itu hingga tandas. Tawa berderai di bibir Laura, karena berhasil membuat Kennan mabuk. Wanita itu merasa, jika Kennan benar-benar mudah mabuk. Padahal, kadar alkohol di minuman itu sangat rendah. ‘Dasar lelaki lemah!’ Laura bangkit, dan mendorong Kennan dengan posisi tidur telentang di sofa. Seolah setengah sadar, lelaki itu mengikuti alurnya bahkan membiarkan Laura yang kini berada di atas tubuhnya. Jemari lentik Laura mengelus pipi Kennan. “ken ... andai kamu gak kaku, pasti aku lebih memilihmu dibanding papamu yang sudah tua itu,” bisik Laura sambil menatap mata Kennan yang mulai sayu, wajahnya pun memerah akibat pengaruh minuman itu. “Di mana papa sebenarnya, kenapa belum datang? Aku__” Laura menutup mulut Kennan dengan telapak tangannya. “Papamu sedang ada urusan di luar. Mungkin dini hari baru pulang. Sebaiknya ... kita nikmati malam ini ya, Ken. Dan jangan membahas ayahmu.” Kancing kemeja Kennan mulai dibuka satu persatu, dan menampilkan dadda bidang milik pemuda itu. Membuat jantung Laura berdetak kencang seolah ingin meledak, jemarinya terus mengelus sisian tubuh Kennan “Ken ... kamu benar-benar membuatku tergoda ingin ....” Laura mendekatkan wajah hendak mendekatkan bibir mereka, namun kennan menahan dengan tangannya. Setengah terpejam, Kennan tersenyum. “Walau aku mabuk, gak akan kubiarkan kamu menciimku,” tegas Kennan. Ia bangkit, membuat Luara tersingkir. “Kennan, apa kamu nggak selera melihatku?” tanya Laura. Ia merasa rendah dan terhina sekarang, karena baru kali ini ada lelaki yang menolak cciumannya. Kennan melirik dan memindai tubuh sekksi dan putih milik wanita itu. “Lumayan bikin hatiku deg-degan, sih. Tapi, otakku secara otomatis menolakmu. Mungkin, kandungan kebencian padamu jauh lebih tinggi dibanding red wine yang kamu berikan,” desis Kennan sambil tersenyum sinis. Ia masih sibuk mengumpulkan kesadaran, jangan sampai terlena dengan godaan wanita itu. “Siallan kamu, Ken!” bentak Laura. Tampak dari arah pintu, seseorang hendak membukanya. Laura tahu siapa yang datang, dan ia beringsut menjauh dari Kennan. “Ken, papamu datang. Cepat kancingkan kemejamu!” ujar Laura panik. Kennan malah membuka kemejanya hingga ia tellanjang dadda, lalu dengan cepat ia mendorong tubuh Laura di sofa dan dengan sengaja Kennan menindihnya. “Ken!” Laura berusaha berontak, tapi cengkraman tangan Kennan jauh lebih kuat. “Kenapa? Bukankah tadi kamu yang menginginkanku?” tanya Kennan. Pintu itu mulai terbuka, dan derap langkah mulai terdengar. Kennan menyunggingkan senyuman dengan posisi yang masih sama. Hingga ayahnya bisa menatap pemandangan itu. “Kennan??!!” bentak Hans. Seolah pura-pura panik, Kennan bangkit berdiri. “Papa sudah pulang? Kata Laura, baru besok pulangnya,” ujarnya. Laura menggeleng kuat. “Honey. Itu gak seperti yang kamu lihat.” ‘Honey?? Geli banget!’ batin kennan. Tangan Hans melayang dan mendarat kasar di pipi Laura. “Dasar brrengsek! Aku mengangkat derajatmu, tapi malah tega berkhianat.” Kennan berdecak, menyaksikan adegan keduanya. Hans pun hendak melayangkan pukulan pada Kennan, namun lebih dulu ditangkap oleh pemuda itu. “Papa mau memukulku?” Hening. “Gimana rasanya dikhianati, hmm?” tanya Kennan lagi. Tubuh Hans membeku sambil menelan saliva, ia mati kutu dengan kalimat anaknya. “Itu gak seberapa sakitnya dibanding mama,” imbuhnya. Kennan menarik napas panjang. “Besok pagi, aku tunggu di rumah sakit RSCM, tanya aja di ruangan apa beliau dirawat. Kita harus bicara.” “Rumah sakit?” tanya Hans heran. “Jangan pura-pura gak tau. Mama dirawat di sana, akibat ulahmu!” bentak Kennan. Sungguh, Hans tidak memahami ucapan Kennan. Namun ia memilih diam, karena kepalanya benar-benar penuh, memikirkan ini dan itu. Sebelum pergi, Kennan memakai kembali kemejanya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Laura. “Pantas aja, papa betah sama cewek jallang ini. Tubuhnya benar-benar, bikin darahku berdesir. Jaga dia baik-baik ya Pa, bisa aja aku kembali khilaf,” ujarnya. Mendengarnya, sontak Hans mendekat dan mencengkram kedua bahu anaknya. “Jangan macam-macam Ken!” “Weits. Santai aja, Pa. Aku udah mau pergi kok." Kennan melepas cengkraman ayahnya, dan berlalu meninggalkan keduanya. Sementara itu, Hans membanting gelas dan benda lainnya yang dekat dengannya sambil berteriak. Membuat Laura menutup kedua telinganya sambil ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN