Kadang janji adalah kebohongan termanis.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, ketiga anak tidur berjejer beralaskan kasur lantai di ruang tengah. Oma Elle pun, sudah terlelap di kamar. Hanya Joanna yang tidak sedikit pun terkantuk, malah memainkan ponsel yang diputar-putar di atas meja.
Ia mendesah kasar, punah harapannya. Pikirnya, jika sudah larut begini tidak mungkin lelaki itu akan datang.
‘Kamu ngajak gelud Ken, awas!’
Ponselnya bergetar, membuat gadis itu sigap mengecek. Hampir saja tubuhnya melompat, karena itu rupanya dari seseorang yang ditunggu-tunggu.
[Jo, kamu udah tidur?]
Joanna memilih untuk tidak membalas. Sengaja, biar pemuda itu tahu, kalau ia tengah merajuk.
[Kalau belum tidur, keluar sebentar ya. Aku ada di depan gerbang rumahmu.]
Kali ini Joanna benar-benar terlonjak. Ia melangkah, dan mengintip jendela di balik gorden. Benar saja, Kennan menunggunya di sana.
Joanna langsung menyingkap lengan piyamanya, siap-siap untuk menonjok pipi pemuda itu.
Dengan langkah sambil di hentak-hentak karena kesal, ia mendekati Kennan. Pemuda itu tersenyum dan mengangkat sebuah kotak plastik berukuran besar.
“Maaf Tuan Putri, aku datang sangat terlambat. Pintumu masih terbuka?” tanya Kennan.
Joanna membuka pintu gerbang dan mendorong Kennan kuat-kuat.
“Lo tau kan, gue paling gak suka sama orang yang ingkar janji dan jam karet. Minimal, kabarin kek biar gue gak nunggu-nunggu!” ujar Joanna setengah membentak.
“Aku__”
“Pulang gih! Acara makan malamnya udah kelar dari tadi. Kamu bikin anak-anak kecewa.”
Joanna segera masuk dan mengunci gerbang.
“Sayang ....”
“Jangan manggil sayang!”
“Pacar ....”
“Diam! Sana pulang!” Joanna memunggungi Kennan.
“Ya udah aku pulang, sekali lagi maaf. Dadah pacar.”
Hening.
Joanna memutar bola matanya, suasana sangat hening.
‘Apa mungkin, Kennan benar-benar pulang? Harusnya dia berjuang dulu dong, meluluhkan hatiku. Dasar cowok gak romantis.’
Menit berlalu, Joanna pun menoleh ke luar gerbang. Di sana sudah tidak ada lagi sosok Kennan. Wajahnya berubah kecewa, memang benar ia mengusir tapi hatinya tetap tidak ingin Kennan pergi.
Merasa masih penasaran, ia membuka gerbang dan menyapu jalanan area perumahan ke kanan dan kiri. Nihil, hanya cahaya remang saja dari lampu. Joanna pun memilih membawa kakinya kembali masuk, tapi ....
Grepp!!
Joanna membeku karena terkejut, seseorang memeluknya dari belakang.
“Ciee ... tadi ngusir, tapi ternyata ada yang ngarep aku gak pergi nih!” ujar Kennan.
“Ih! Bikin aku kaget.” Pipi Joanna merah seperti tomat. Ia benar-benar malu.
Dengan perlahan, Kennan mengurai rengkuhannya dan memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya.
“Masih marah?” tanyanya sambil menangkup kedua pipi putih milik Joanna.
“Masih, tapi gak segede tadi.”
“Biar makin mengecil gimana? Dikasih ini mau nggak?”” tanya Kennan seraya mengangkat apa yang tadi ia bawa.
“Apa itu?”
“Martabak.”
Joanna tersenyum dan menggamitnya. “Makasih. Tapi kamu berhutang penjelasan, kenapa telat.”
“Oke, tapi boleh masuk gak di sini dingin.” Kennan mengusap-usap telapak tangannya. Bagaimana tidak dingin, ia memakai motor dan hanya memakai kemeja.
“Boleh dong, yuk!”
Tapi, langkah Joanna terhenti. Ia seolah mencium aroma asing, lalu hidungnya mengendus-endus ke arah Kennan.
“Ken, bau apa ini?”
Kennan mengecek tubuhnya, dan menyadari apa yang membuat tercium oleh Joanna.
“Aku belum mandi ... duduk di kursi teras aja deh, gak masuk,” ujar Kennan memasang wajah malu seraya menggaruk tengkuknya.
“Gak apa-apa masuk aja, jangan ngambekan.”
Kennan tersenyum, ia meraih jemari Joanna. Sebenarnya, hatinya terasa lega karena Joanna tidak mengetahui aroma aneh apa di tubuhnya.
‘Jika Joanna tau, ini aroma wine yang diberi Laura. Pasti dia salah paham.’
Saat kakinya melangkah masuk, suhu hangat pun mulai terasa. Ia duduk di sofa dan melirik ke arah ruang tengah.
Di sana berjejer tiga anak yang tengah mendengkur halus.
“Aku buatkan minum dulu,” ucap Joanna.
Ken mengangguk. Ia menyandarkan bahu di badan sofa. Kepalanya sedikit sakit, mungkin efek minuman beralkohol yang diberi Laura.
‘Rubah siallan!’
Saat mengaduk teh manis yang dibuatnya, Joanna melirik sebentar ke arah Kennan. Ia tahu aroma beralkohol itu, karena sejak lama sering berurusan dengan preman pemalak yang tengah mabuk. Namun, ia memilih tidak memperpanjang urusan, karena ini sudah larut malam. Setelah selesai, Joanna membawa nampan dan menyuguhkannya pada Kennan
“Minum dulu ya, biar tubuhmu hangat.”
“Makasih, Pacar.” Kennan meraih cangkir berisi teh hangat dan meneguknya tiga kali.
“Mereka udah tidur. Pada marah gak?” tanya Kennan menunjuk ke arah Leo, Anne, dan Cilla.
Joanna menggeleng. “Cuma si Leo doang, katanya mau bogem kamu kalau nanti ketemu.”
Kennan terkekeh. “Aku akan ajak mereka ngamen, kalau senggang.”
“Jangan suka janji, apalagi sama anak kecil,” ucap Joanna menyindir, mengingat janji yang kemarin saja, Kennan hampir mengingkarinya.
Mendengar kalimat itu, Kennan menatapnya lekat-lekat. Rasa bersalah menyeruak.
Tidak banyak hal yang pemuda itu lakukan untuk membahagiakan Joanna, namun ia berpikir harusnya tidak sering mengecewakan kekasihnya.
“Maaf ya, ponselku mati karena gak ada waktu buat charge. Mama kemarin malam pingsan jadi mendadak membawanya rumah sakit. Aku sama Bi Mui sibuk mengurus dan jagain beliau.”
Mendengarnya, mata Joanna terbelalak dan menutup mulutnya. Ia merasa bersalah telah menuduh Kennan macam-macam.
“Saat pingsan. Tubuh mama biru-biru, aku curiga dua hal. Mungkin, papa memukulnya sebelum pergi, atau karena hal lain. Jadi, sebelum ke sini aku menyempatkan diri ke rumah papa untuk menanyakannya, tapi nggak sesuai rencanaku,” imbuh Kennan dengan raut kecewa.
Joanna mengira, mungkin inilah yang menyebabkan Kennan mabuk.
Tangannya terulur menggenggam jemari Kennan.
“It’s oke. Jangan membuat hal ini tambah membebanimu, fokus aja ke kesehatan Nyonya ya, aku akan sering menemui beliau buat menghiburnya. Aku juga minta maaf, karena udah bersikap kayak tadi.”
Senyum terukir. “Makasih, Jo.”
“Sama-sama. Aku antar kamu pulang ya, bonceng pakai motormu.”
“Jangan. Udah malam.”
“Kamu lagi gak baik-baik aja, jangan berkendara dalam keadaan begini.” Joanna memindai tubuh lelaki itu.
Kennan mengerjap, ‘Apa Joanna sadar, aku sedang mabuk?’
Joanna bangkit, dan mengambil sesuatu dari kamarnya, lalu kembali melangkah. Tangannya cekatan memakaikan jaket pada Kennan.
“Sebenarnya, jaket ini buat kamu, tapi lupa terus mau dikasih. Gak niat beli, tapi karena dulu tuh ada diskon 70%, ya udah aku ambil,” cetus Joanna santai. Ia menaikkan sletingnya sampai leher pemuda itu.
Tawa Kennan berderai dan langsung memeluk erat Joanna. Ada yang sakit dan juga bahagia bersamaan. Tuhan baik padanya, karena saat terpuruk, ada gadis yang selalu menghiburnya.
‘Terima kasih Tuhan, terima kasih Joanna.’