Pagi adalah sebuah syukur
Membuat hari memiliki waktu
Untuk mengingat sang pencipta
Dan secangkir kopi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Gerimis pagi itu, Kennan baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Selesai berpakaian rapi dan semprotan parfum maskulin, ia meraih ponsel di nakas untuk mengecek notifikasi chat dari Jimmy.
[Ken, anak-anak seangkatan ngadain party perpisahan sabtu malam. Ikut yuk, boleh ajak pacar.]
Kennan mengetik balasan.
[Gue gak janji, lihat situasi dulu ya. Soalnya mamaku lagi dirawat.]
[Astag, kapan?]
[Selasa malam.]
[Ya udah gak apa-apa. Lo utamain tante dulu, moga cepet sembuh. Nanti gue bakalan nengokin juga.]
[Thank's Bray.]
Suara ketukan, membawa kakinya melangkah ke arah pintu.
“Papa?”
“Kamu bilang, ada hal yang ingin dibicarakan kan? Sebaiknya bicara di sini saja,” cetus Hans, ia masih berdiri di ambang pintu. Wajahnya tidak bisa dibaca, namun cukup berbeda dari semalam yang tampak murka.
Kennan paham, mungkin sadar keduanya sering berselisih, jadi tidak ingin hal itu terjadi di rumah sakit.
Ia pun mengisyaratkan Hans, untuk duduk di sofa kamarnya.
“Kulihat, Papa gak semarah tadi malam,” ucap Kennan bernada santai.
“Laura sudah menjelaskan semuanya.”
Kennan tersenyum kecut, ia sudah menduga jika ayahnya benar-benar terhipnotis dengan pesona wanita itu.
“Tapi, aku gak bisa lama. Karena harus bergiliran jagain mama dengan Bi Mui,” ucap Kennan kemudian.
“It’s oke. Katakan, apa yang terjadi pada mama?” tanya Hans, seraya membuka kancing jas dan memperbaiki tempat duduknya.
“Malam setelah kita bicara ... Bi Mui menemukan mama pingsan di lantai kamar. Pas aku cek kulitnya biru-biru kayak habis dipukuli,” terang Kennan.
Mata Hans membulat.
“Papa gak mukulin mama lagi kan?” tanya Kennan mencoba meyakinkan dirinya.
Kini Hans paham, kenapa Kennan sampai datang ke apartemennya malam-malam. Ia pun menarik napas panjang, berusaha tenang.
“Papa sudah tidak pernah lagi berbuat itu. Bahkan malam itu, papa hanya datang menemuimu.”
“Kalau ucapan Papa benar. Lalu, apa yang terjadi pada mama sebenarnya?”
“Dokter belum memberitahu hasil pemeriksaan?” tanya Hans kemudian.
“Hasilnya baru akan muncul hari ini.”
“Ya sudah. Kita berangkat bareng, dan nanti akan segera tahu apa yang mamamu alami. Tapi, sebelum itu ... Papa ingin kamu memikirkan kembali rencana pendidikanmu di Perancis.”
“Ya Tuhan! Itu lagi, itu lagi.” Kennan menepuk dahi di sela tawa hambarnya. Ia heran, kenapa Hans masih sempat membicarakan itu selagi Rose masih sakit.
“Dengarkan dulu. Ini masih ada hubungannya dengan mamamu, kok. Dan papa yakin, kali ini kamu tidak bisa menolak,” ucap Hans, seolah mampu membaca isi pikiran anaknya.
Kennan tengah malas berdebat, ia menghela napas sambil mengangkat kedua bahunya. “Oke, mari kita dengarkan.”
****
Langit di atas kepalanya benderang, seolah mencurahkan seluruh sinar ke permukaan.
Kennan sempat melirik jam tangan, sebelum akhirnya masuk ke gedung rumah sakit diikuti Hans dari belakang.
Keduanya langsung mendatangi dokter yang menangani Rose.
“Nyonya Rose, terkena leukemia. Itulah yang menyebabkan di bagian tubuhnya terdapat legam. Sayang sekali, batu kedeteksi saat sudah stadium lanjut. Setelah ini, beliau akan saya serahkan pada dokter onkologi, agar tertangani dengan baik dan tepat,” terang dokter itu.
Kennan melemas seketika. Baginya, ujian tak henti menerpa sang ibu. Jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Semua menjadi tidak berguna.
Setelah hampir setengah jam, keduanya keluar dari ruangan.
Hans memegang salah satu pundak anaknya. “Kamu dengar kan kata dokter? Papa rasa, kamu harus menimbang obrolan kita tadi di rumah.”
Kennan tidak menggubris.
Netranya menangkap seorang gadis yang dikenalnya, berjalan cepat dan duduk di ruang tunggu. Tampak kepalanya sibuk menoleh kanan dan kiri, seolah mencari sesuatu.
Melihatnya, tanpa sadar Kennan terkikik geli karena gemas, Hans sontak menoleh ke arah anaknya. Padahal, ia yakin tadi di ruangan dokter wajah pemuda itu bermuram durja.
“Ken. Kamu jarang sekali tertawa, terlebih di saat sedih seperti ini. Apa yang bikin lucu?” tanya Hans.
Kennan yang tersipu langsung menggaruk tengkuknya.
“Nggak.” Hanya itu jawaban Kennan.
Ia dan ayahnya terus berjalan, dan melewati kursi-kursi yang berjejer, di mana Joanna tengah duduk di sana.
“Joanna!” tegur Kennan cukup nyaring, membuat gadis itu langsung menoleh ke arah suara.
Joanna langsung berdiri, sumringah dan merapikan rambutnya. Namun, ia menggigit bibir bawahnya karena merasa minder, tatkala menatap Hans yang berada di sampingnya. Dari gurat wajahnyaa tampak mirip dengan Kennan, maka ia langsung mengenal siapa lelaki paruh baya itu.
“Kamu gak ngabarin aku mau ke sini,” ucap Kennan sambil tersenyum.
“Masa iya aku gak nengok Nyonya. Tapi aku belum tau di mana ruangan beliau dirawat,” jawab Joanna.
“Oh, ya. Jo, kenalkan ini papaku,” ujar Kennan.
Joanna mengangguk hormat. Tangan mereka terulur bersamaan.
“Halo, Om. Selamat pagi, saya Joanna!” sapa Joanna.
“Siang, saya papanya Kennan.”
Joanna tersenyum kotak. “Eh, iya udah mau siang, hehe ...”
Kennan mencoba menahan tawa.
“Kamu bawa apa?” Kennan menatap sesuatu yang dibawa Joanna.
“Kotak bekal, buat makan siangmu. Aku, masak omurice kesukaanmu.”
Kennan terkekeh sambil menggasak rambut Joanna. “Makasih, perhatian banget.”
Hans dibuat takjub dengan mimik wajah Kennan yang tidak biasa, saat bertemu dengan Joanna. Ia tak bisa menghitung berapa kali anaknya itu tertawa padahal belum sepuluh menit mereka mengobrol. Ia akui, gadis itu cukup periang.
“Ya sudah. Mari kita ke ruangan mamamu, Ken,” ucap Hans.
Kennan mengangguk dan mengajak serta Joanna.
Karena hanya boleh satu orang saja yang masuk, maka Hans lebih dulu menemui Rose. Sementara Kennan dan Joanna kembali menunggu di luar.
Joanna menyikut lengan Kennan.
“Ken, pantes aja kamu ganteng, wong bibit unggul! Turunan dari kedua orang tuamu,” ujarnya seraya mengangkat jempol.
“Apaan sih, gak jelas!” Kennan sibuk menahan tawa.
“Serius ih!”
“Iya, iya. Tapi, ada obrolan yang lebih bermutu gak sih, selain itu?”
Joanna mengetuk-ngetuk dagu, karena berpikir.
“Habis lulus, kamu lanjutin S2 apa kerja?”
Pertanyaan itu, kembali mengingatkannya pada tawaran Hans.
_Flasback_
“Kenapa, Papa kekeh memintaku ke Perancis?” tanya Ken, tadi pagi.
“Biar kamu bisa kuliah di kampus bergengsi, dan juga menjaga mama selama pengobatan.”
“Maksudnya?”
“Pamanmu, Dokter Paul adalah seorang dokter. Beliau juga kenal dengan dokter ahli yang pastinya akan membantu penyembuhan mamamu. Keluarga mama, menelepon papa beberapa waktu lalu, untuk membawanya ke sana agar lebih terperhatikan, terutama untuk penyembuhan. Jadi, kalau kamu sayang pada mamamu, bawa serta ke sana.”
Kennan bergeming.
“Kalau kamu mengira, ini hanya akal-akalan papa. Kamu bisa dengarkan rekaman obrolan papa dengan keluarga mama,” imbuhnya sambil menyodorkan ponsel dan menyetel rekaman.
Kennan cukup tertegun. Satu sisi, ia bahagia karena masih ada yang peduli pada ibunya. Sisi lainnya ia merasa geram, seolah ayahnya bebas dan lepas tangan tentang urusan Rose.
“Papa ingin menemaninya selama pengobatan, tapi kamu tau sendiri kalau papa harus menjalankan perusahaan. Lagi, pula kamu tidak perlu khawatir, karena mamamu telah mengubah semua aset, harta kekayaan atas namamu. Papa hanya bantu menjalankannya saja,” terang hans panjang lebar.
_Flashback off_
.
“Ken?” Joanna mengibas tangan ke arah wajah Kennan, membuat lelaki itu mengerjap.
“Malah bengong! Aku dianggurin, ngomong sendiri!” ucap Joanna mencucu.
Tawa terdengar. “Eh, sampe mana tadi?”
“Gak tau ah?” Joanna memunggunginya sambil menyilangkan tangan di daddanya.
“Yah, ngambekan. Aku kan tadi, lagi mikir.”
Kennan meraih kedua pundaknya dan memutar pelan tubuh gadis itu.
“Maaf, ya ....”
“Tadi aku tanya, kamu mau lanjutin kuliah?”
“Nanti, karena harus kusesuaikan sama jadwal kerjaan. Pokoknya, aku harus kerja dulu. Biar bisa nikahin kamu.”
“Eh, apa-apa?” Joanna yakin, telinganya salah dengar.
“Iya, nikahin kamu.” Kennan mengulang kalimatnya.
Joanna mematung, memasang muka cengo-nya.
“Apa kepalamu terbentur tadi pagi?”
“Nggak. Kamu pikir, kita akan pacaran sampe kapan, hm?” selidik Kennan.
Oke, oke. Sebenarnya ini cukup mengejutkan buat Joanna karena ia pikir hanya bisa pacaran saja sudah membuatnya bersyukur. Tapi, jika harus menikah, itu artinya ia akan masuk ke keluarga Edberth. Sama sekali jauh dari pikirannya.
‘Memangnya Nyonya sama Om Hans bakalan menerima gadis miskin sepertiku?’
“Hei! Sekarang kamu yang bengong, Joanna Olivia!” Kennan menjentikkan jari di kening gadis itu.
“Aww! Sakit.” Joanna mengusap-usap keningnya.
“Jangan bilang kalau kamu gak mau nikah sama aku, Jo.”
“Mau, tapi ... orang tuamu gimana? Aku gak yakin mereka setuju.”
Kennan paham perasaan Joanna, ia menarik halus kepala gadis itu dan disandarkan ke bahunya, membuat sebagian wajah Joanna menempel ke ceruk lehernya.
‘Hmmm ... Kennan wangi. Hihihi, oke fokus!’
“Mama pasti setuju, karena beliau suka sama kamu. Soal Papa, kayaknya gak mungkin ikut campur urusan percintaanku, ngurusin dua istri aja kepayahan!” ujar Kennan.
Mendengar istri kedua, Joanna luput menanyakan ini, ia pun merasa belum pernah bertemu dengan ibu tirinya itu.
“Istri muda papamu, tinggal di kota ini?” tanya Joanna.
“Hu-um. Sudahlah, jangan bahas dia berlebihan.”
Joanna mengangguk. Sudah lama ia tahu, jika kekasihnya itu sangat membenci ibu tirinya.
“Jo. Aku pernah janji, gak akan pernah ninggalin kamu. Ingat?”
“Ingat banget, dan kamu tau kan aku paling benci sama cowok yang ingkar janji. Karena, cowok sejati itu, yang bisa dipegang omongannya,” terang Joanna.
Kennan mengangguk mantap.
“Yup! Kamu, bisa pegang omonganku. Aku janji, gak akan ninggalin kamu.”