Bab 3. Baju jaring-jaring

1040 Kata
Edzard tak menanggapi ucapan istrinya. Lelaki itu keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal. Dalam hati dia menyumpahi Elea yang menggodanya. Apa gadis itu tidak takut jika dirinya khilaf lalu meminta hak? Bagaimanapun Edzard laki-laki dewasa yang normal, birahinya langsung teransang walau hanya dengan godaan. Edzard mengambil laptop, lalu duduk di sofa. Lelaki itu mau menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena lamaran dan pernikahan yang memakan waktu. Sesekali lelaki itu menoleh ke arah pintu kamar mandi. Belum ada tanda-tanda istri kecilnya itu keluar dari sana, padahal sudah lewat setengah jam. "Astaga, dia mandi apa meditasi, sih?" gerutunya sambil menggelengkan kepala salut. Edzard kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya lelaki itu sudah gerah dan ingin segera mandi, tetapi dia harus menunggu Elea selesai membersihkan diri. Tidak lama kemudian, Elea keluar dengan handuk yang terlilit di dadanya hingga lutut, tangan kanan mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Gadis itu berjalan saja menuju walk in closet, tanpa sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang menetapnya tak berkedip. Langkah Elea terhenti, ketika melihat suaminya yang diam seperti patung. "Om, kenapa?" tanyanya polos. Edzard meneguk salivanya dengan susah payah. Lelaki itu meletakkan laptop di pangkuannya, lalu berlari ke arah kamar mandi. "Huh, dasar gadis gila!" umpatnya kasar. "Apa dia sama sekali tidak malu?" gerutu Edzard. Edzard membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower. Bayangan Elea yang telanjang d**a tadi masih saja terngiang di kepalanya. "Ah, sial! Bisa-bisanya, aku membayangkan gadis gila itu," ujarnya merengut kesal. Setelah membersihkan diri. Edzard keluar dari kamar mandi dengan handuk yang memang terlilit di pinggangnya. Kening lelaki itu mengerut, ketika melihat Elea yang diam bingung di depan lemari. "Kenapa belum pakai baju?" Tahukah Elea, bahwa lelaki dingin itu menahan tengah menahan hasratnya? "Lea bingung, Om. Kenapa bajunya seperti jaring-jaring!" ujar Lea menghela napas panjang. "Ini seperti baju kurang bahan dan ukuran," sambungnya lagi. Edzard berjalan menghampiri istri kecilnya tersebut. Lelaki itu mendelik melihat lingerie yang berjejer rapi di dalam lemari. Ini pasti ulah sang ayah. "Lea malu mau pakai baju ini, Om," ujar Elea. Jangankan Elea, Edzard juga bingung. Kalau sampai Elea memakai baju itu, sudah dipastikan kondisi Edzard tidak aman. Dirinya adalah pria normal, bagaimana kalau dia khilaf? Edzard takkan menyentuh gadis itu karena dia sama sekali tak mencintai Elea. "Kamu pakai baju saya saja!" Edzard melempar kemejanya di wajah Elea. "Eh, Om!" Elea terkejut. Gadis itu merengut kesal, ketika baju yang dilempar sang suami malah menutupi bagian wajahnya. "Pakai sana!" suruh Edzard. "Pakai baju ini, Om?" tanya Elea bingung. "Iya, memang kamu mau tidak pakai baju semalaman?" Elea menggeleng dengan wajah polos. Gadis itu melenggang masuk ke kamar mandi dan mengenakan kemeja besar yang diberikan suaminya. "Setidaknya ini lebih aman dari pada baju jaring-jaring tadi," ujar Elea tersebut menatap pantulan dirinya di depan cermin. "Astaga, tidak terasa aku sudah menikah. Huh, walaupun om itu sangat dingin. Tapi, setidaknya aku bisa lepas dari cengkraman ibu." Elea sejenak terdiam, mengenang masa-masa sulitnya dulu. Setelah kepergian sang ayah, dunianya seketika runtuh dan tak berbentuk. Elea keluar dari kamar mandi, memakai kemeja Edzard yang panjang sampai lutut. Meski sedikit risih, tetapi ini lebih nyaman dari pada baju jaring-jaring kurang bahan itu. "Om." Edzard menoleh ke arah istri kecilnya. Lagi dia tak berkedip menatap Elea. Namun, secepatnya Edzard mengalihkan pandangannya. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah jatuh cinta dan menyentuh Elea. Kata-kata itu Edzard tanamkan pada dirinya. "Duduklah! Ada yang mau saya bicarakan sama kamu," ujarnya terdengar dingin. Edzard setengah bergeser, memberi ruang agar Elea duduk di sebelahnya. "Bicara apa, Om?" tanya Elea duduk di samping Edzard. Edzard menarik laci nakas, lalu mengambil kartu berwarna hitam. "Pakailah untuk kebutuhanmu. Beli apa saja yang kamu mau!" tukasnya. Sebagai seorang suami, Edzard tetap menjalankan tugasnya. Walaupun sebenarnya dia benar-benar keberatan. Kening Elea mengerut, melihat kartu warna hitam yang hanya pernah dia lihat di televisi itu. "Ambil!" suruh Edzard ketika melihat Elea hanya bingung. Elea malah mendorong kartu yang ada di tangan suaminya. "Lea tidak butuh kartu ini, Om. Lagian mau beli apa? Semua sudah ada." Gadis itu menguap beberapa kali, matanya sudah mengantuk berat. Edzard terkejut mendengar penolakan istrinya. Dia pikir gadis ini mau menikahi dirinya karena uang. Ternyata dia salah. "Ambil saja siapa tahu kamu butuh!" Edzard tetap memaksa. Dia adalah pria yang tidak suka ditolak. "Tidak usah, Om," tolak Elea. "Ambil!" Jadilah mereka saling dorong mendorong. "Ah, kamu ini." Edzard merengut kesal. Sementara Elea tertawa lebar. Malam pertama mereka diselingi perdebatan tak berunfaedah. "Jangan buat saya marah, Lea. Cepat ambil, saya tidak mau nanti papa malah beranggapan saya tidak menafkahi kamu," ujar Edzard meletakan kartu itu di tangan istrinya. "Iya sudahlah, karena dipaksa. Lea tidak bisa menolak!" serunya mengambil kartu tersebut. "Eh, Om! Kita 'kan menikah bukan karena cinta. Apa Om tidak ingin buat surat perjanjian seperti di novel-novel?" ujar Elea. Edzard mendelik. Sebenarnya pernah terbesit hal tersebut dari pikirannya. Namun, segera dia sadar bahwa perbuatan itu bukan hal yang baik. Bagaimana nanti kalau sampai ayahnya tahu? Pasti sang ayah akan sangat kecewa karena anak satu-satunya ternyata mempermainkan pernikahan. "Tidur sana!" usir Edzard. "Kamu tidur di ranjang, biar saya di sofa." Lelaki itu mengalihkan pembicaraan. Walaupun dia mulai terusik dengan ucapan Elea. "Oh baguslah kalau Om tidak mau tidur di ranjang. Tadi Lea sudah takut mau tidur sama Om," ujar Elea cengengesan. Dia merutuki pikiran mesumnya. "Siapa juga yang mau tidur seranjang sama kamu? Dasar bocah!" sindir Edzard memalingkan wajahnya. Entah kenapa ada perasaan aneh yang muncul saat berdekatan dengan Elea. "Jangan salah, Om. Walaupun Lea masih kecil, tapi Lea sudah bisa kok menciptakan anak kecil," godanya mengedipkan mata jahil. Edzard yang malas menanggapi malah kembali fokus pada laptop di pangkuannya. Pria ini memang tak suka banyak bicara dan terkesan dingin pada siapapun. Sifat itu hadir, setelah dia kehilangan sosok wanita yang begitu dirinya cintai. Entahlah, Edzard berpikir tak ada satu orang pun yang paham bagaimana sakitnya kehilangan. Tak ada satu orang pun yang tahu, betapa sulitnya mengikhlaskan kepergian. "Om belum tidur?" Ternyata gadis itu belum juga beranjak dari duduknya. "Belum selesai," jawab Edzard tanpa melihat sang istri. "Lea siapin bantal sama selimut untuk Om ya." Elea segera beranjak dari duduknya untuk mengambilkan bantal dan selimut. Gadis itu bernapas lega karena Edzard memilih tidur di sofa dari pada di ranjang. "Ini, Om. Selamat tidur!" Edzard seketika menegang saat Elea mengecup pipinya dengan lembut. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN