Elea mengeliat di balik selimut tebalnya. Gadis itu menguap beberapa kali sebelum akhirnya duduk. Wajah bantal dengan rambut acak-acakan malah membuatnya tampak imut dan juga menggemaskan.
Sekilas Elea melirik ke arah sofa tempat suaminya tidur.
"Lho, kok om Ed tidak ada?" gumamnya.
Segera dia turun dari tempat tidur dan tak lupa merapikan bantal dan selimut di atas ranjang.
Elea sudah biasa bangun pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah. Setelahnya, gadis itu langsung membersihkan diri. Seharusnya dia siap-siap ke kampus, tetapi karena permintaan mertua yang meminta cuti beberapa hari, akhirnya Elea menurut. Elea bernapas lega karena melihat pakaiannya di dalam lemari yang sudah lengkap. Tidak seperti semalam yang hanya berbentuk baju jaring-jaring kekurangan bahan.
Elea keluar dari kamar, tampak para pelayan sudah sibuk melaksanakan tugas mereka masing-masing.
"Selamat pagi, Nona Muda," sapa mereka ramah.
"Pagi, Bi. Pagi, Paman!" Elea sudah tebar-tebar pesona di pagi hari. "Oh ya ada yang lihat Om Suami?" tanya gadis itu.
"Seperti biasa tuan muda, selalu olahraga pagi, Nona," jawab salah satu pelayan.
Elea manggut-manggut, tidak heran jika tubuh suaminya terlihat sixpack dan kekar karena lelaki itu memang menjaga bentuk tubuhnya dengan rajin oleh raga serta mengkomsumi makanan sehat.
"Apa makanan kesukaan suamiku, Bi?" tanya Elea. Gadis itu celingak-celinguk melihat ke arah dapur.
"Tuan suka nasi goreng seafood, Nona," jawab Yummy, kepala pelayan di mansion mewah Edzard.
"Baiklah, kalau begitu aku akan masak untuk suamiku tercinta."
Gadis itu melangkah dengan lebar menuju dapur sambil bersenda ria. Sepertinya dia tengah bahagia pagi ini, apakah semalam dia telah melewati mimpi yang indah?
Eleea membuka kulkas. Di sana tersedia semua jenis makanan. Gadis itu sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung mau ambil yang mana.
"Memang kalau orang kaya itu beda. Stok makanan saja kayak orang mau dagang." Dia geleng-geleng kepala salut.
Elea mengambil beberapa bahan makanan dan sayuran. Ada udang dan cumi juga di sana karena kata kepala pelayan tadi suaminya suka nasi goreng seafood.
"Kamu sedang apa?"
"Astaga!" pekik Elea terkejut ketika lelaki itu tiba-tiba muncul. "Om kenapa sih bikin kaget saja?" ketusnya.
"Kamu mau masak apa?" Tampak Edzard tengah memakai baju singlet berbahan karet dengan celana pendek sampai lutut. Otot-otot tubuhnya tercetak jelas dari balik baju yang dia pakai. Ditambah handuk kecil yan digunakan untuk mengelap keringat, menambah kesan seksi di mata kaum hawa.
"Om mau dimasakin apa?" Jika wanita lain akan terpesona, maka berbeda dengan Elea yang malah biasa saja.
"Kamu bisa masak?" Kening Edzard mengerut. Jika dilihat, Elea ini sangat manja. Lalu apa dia mengerti masalah dapur?
"Bisa..." Elea tersenyum sambil memotong sayuran. "Masak air," sambungnya.
Edzard tak menganggapi, pria itu membuka kulkas mengambil sebotol air lalu menunggak isinya hingga tandas.
"Papa ke mana, Om?" tanya Elea.
"Keluar," jawab Edzard singkat.
Jeremy memilih tinggal di vila. Dia ingin memberi waktu dan ruang pada Edzrad dan Elea agar saling mengenal satu sama lain. Sebagai orang yang pernah muda, tentu dia tahu rasanya menjadi pengantin baru. Hal itu lah yang membuat dia memutuskan menghabiskan hari-harinya di vila, tempat kenangan bersama almarhum sang istri.
"Keluar ke mana?" tanya Elea penasaran.
Edzard tak menjawab, lelaki itu malah masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
"Dasar kulkas!" ketus Elea. "Dia sama saja seperti orang bisu, bicara hanya seperlunya. Kalau tidak ditanya, tidak akan bersuara." Elea terus mengomel dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
Kelamaan mengomel, hingga tak terasa masakkannya selesai juga. Gadis itu tersenyum puas, melihat hasil karya tangannya.
"Aku memang pintar memasak!" serunya sambil mengibaskan rambut pendeknya ke belakang. "Pasti Om Dingin itu menyukai masakan istri cantiknya itu," ujarnya dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Elea menyajikan masakannya di atas meja. Tampak senyum ceria tersirat dari wajah cantiknya.
"Hem!" Edzard duduk di kursi meja makan. Lelaki itu sudah lengkap dengan pakaian kantornya.
"Silakan sarapan Om Dingin eh salah..." Elea menepuk bibirnya yang salah ucapkan. "Om Suami maksudnya." Gadis itu menunjukkan jari v nya tanda damai, saat melihat wajah Edzard yang tampak kesal.
Edzard mengambil piring yang diberikan Elea. Lelaki itu sedikit ragu melihat makanan yang ada di depannya.
"Om tenang saja, Lea ini koki handal dan yang pasti makanan ini tidak ada sianidanya," tukas Elea duduk dan ikut sarapan bersama lelaki dingin itu.
Edzard memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya. Sejenak dia terdiam ketika makanan itu bersentuhan dengan lidahnya. Lalu dia mangut-mangut, seolah penilaiannya bagus.
"Bagaimana, Om? Enak 'kan masakan Lea?!" Gadis itu seolah tak sabar menunggu jawaban suaminya.
"Biasa saja." Lain di mulut lain di lidah karena terlihat Edzard yang makan dengan lahap.
"Memang kadang jujur itu menyakitkan, Om. Mulut bisa berkata lain, tapi lidah tidak bisa bohong," sindir Elea memasukan makanan itu ke dalam mulut. Wajahnya tampak ditekuk kesal.
Setelah sarapan, Edzard bersiap-siap ke kantor.
"Om!" panggil Elea
"Ada apa?"
Elea menghampiri sang suami, lalu gadis itu mengulurkan tangannya.
"Mau apa?" Kening Edzrad mengerut heran.
"Salam, Om!" Edzard terkejut ketika Elea mengecup punggung tangannya. Aneh, kenapa terasa ada sesuatu aneh yang menjalar di dalam tubuhnya. "Selamat bekerja, Om Suami. Hati-hati di jalan yang di hati jangan jalan-jalan!" seru Elea.
Edzard hanya membalas dengan anggukan. Dia sedikit terharu dengan perlakukan Elea, tak dia sangka gadis muda dan masih bocah itu ternyata tahu juga masalah sopan santun.
"Kalau kamu bosan di rumah, ajak saja Mang Ujang jalan-jalan. Dia supir pribadi kamu."
"Wah terima kasih, Om. Ternyata Om diam-diam perhatian juga sama Lea." Gadis itu tersenyum malu.
Edzard tak mengubris, dia malah melenggang pergi meninggalkan istrinya. Lalu masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan pekarangan.
Edzard menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mewah tersebut. Lelaki itu menghela napas panjang, sebenarnya dia masih cuti hari ini, tetapi karena tidak mau terus bertemu Elea akhirnya dia memutuskan untuk masuk kantor.
"Naura," gumamnya terdengar lirih. "Maafkan aku."
Ada rasa bersalah yang terselip di antara rongga d**a Edzard, padahal dia sudah berjanji akan setia pada cintanya. Namun sekarang dia malah menikahi gadis muda yang sama sekali tidak dia cintai.
"Aku sudah mengkhianati cintamu."
Tatapan mata lelaki itu tampak rapuh dan tak berdaya. Dia seperti tak memiliki semangat hidup untuk menjalani hari-harinya.
"Aku terpaksa," ucapnya lagi. "Demi papa." Edzard tak mau menyakiti hati sang ayah dengan penolakkannya.
"Aku berjanji padamu! Walau aku sudah menikahi gadis itu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya!"
Bersambung ...