"Cie pengantin baru!" ledek John — teman baik Edzard.
"Mana laporannya?" ketus Edzard yang malah karena digoda oleh temannya sendiri.
"Ini, Pak Boss!" John meletakan laporan di atas meja. Lalu lelaki tampan itu duduk di kursi depan meja Edzard. "Ed, serius kamu dijodohkan dengan bocah?" tanya John.
"Mau bahas pekerjaan atau mau bahas pernikahanku?" ketus Edzard kesal.
John tertawa lebar, dia suka menggoda si dingin Edzard yang jarang bicara. Walaupun kadang ditanggapi tidak serius.
"Tapi istrimu sangat imut dan menggemaskan," ujar John.
Edzard langsung melayangkan tatapan tak suka saat John memuji Elea. Entah kenapa hatinya seketika panas?
"Kamu kenal dari mana?"
"Jangan lupa, Ed. Aku hadir di pernikahanmu yang kamu anggap kasat mata ini," ujar John memutar bola matanya malas.
Edzard tak lagi menanggapi. Lelaki tampan yang memiliki jabatan presdir di perusahaan miliknya itu malah asyik memeriksa laporan yang diberikan oleh John. Walaupun dalam hati ada rasa tak suka saat John membahas Elea.
"Hem, Ed, kamu sungguh-sungguh tidak menginginkan Lea, kan?" tanya John lagi.
"Lalu?" Alis Edzard terangkat dan menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik.
"Jika tidak, aku akan mendekati istrimu," ujarnya lagi dengan senyuman santai.
"Jangan macam-macam!" tekan Edzard penuh penekanan.
"Kenapa? Kamu suka sama Lea?"
"Bukan urusanmu! Cepat keluar sana!" Dia memberikan kembali berkas itu dan mengusir John agar segera keluar dari ruangannya.
John terkekeh pelan. Lalu lelaki itu keluar dari ruangan Edzard.
"Hem, apa ini? Tidak mungkin aku cemburu, enak saja. Aku sama sekali tdiak menyukai bocah itu!" kilah Edzard menggelengkan kepalanya.
Sejenak lelaki itu terdiam. Lalu tatapan matanya tertuju pada figura yang terletak di atas nakas.
"Naura," gumamnya. Edzard tersenyum kecut, begitu susah melupakan wanita yang dia harapkan kehidupan. Sudah berlalu bertahun-tahun pun perasaannya tak jua membaik. "Aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidak pernah menemui aku walau hanya dalam mimpi?"
* * *
Elea menata dengan rapi makanan di dalam kotak nasi di atas meja.
"Perfect!" serunya.
Gadis itu memasukkan kotak nasi itu ke dalam tas kecil agar terlihat rapi.
"Makan siang suami sudah jadi!" ujarnya.
Sejenak Elea terdiam, seperti mengingat sesuatu. Lalu gadis itu duduk di kursi meja makan. Dia menekuk wajahnya dan tampak berpikir keras.
"Om Ed punya pacar tidak ya?" ujarnya lagi. "Kalau punya pacar, kenapa dia mau nikah sama aku?" sambungnya kemudian.
Wajah gadis itu seketika lemas. Dia takut kisahnya seperti novel-novel yang dia baca. Menikah dengan pria dewasa yang kaya raya, lalu tiba-tiba dicampakkan begitu saja setelah mendapatkan restu menikah dengan kekasihnya.
"Ah sudahlah, kenapa aku repot-repot memikirkan pernikahanku? Lebih baik aku ke kantor Om Suami saja, antar makanan untuk dia!"
Gadis itu berjalan menuju mobil dengan wajah ceria. Sebagai istri yang baik, dia ingin menyiapkan makanan spesial untuk suaminya.
"Silakan masuk, Nona Muda!"
"Terima kasih, Paman."
Elea masuk ke dalam mobil. Senyumnya tampak mengembang dan ceria. Dia meronggoh tasnya saat mengingat sesuatu.
"Apa aku beli ponsel saja ya dengan uang ada di kartu ini?" ujarnya.
Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Elea telah sampai di sebuah gedung pencakar langit. Gadis itu keluar dari mobil dengan mulut tergangga melihat bangunan kokoh nan tinggi menjulang di depan matanya.
"Wah, keren. Gedungnya besar sekali!" seru Elea seperti orang kampung. "Lalu di mana ruangan Om Suami?" Gadis itu celingak-celinguk kebingungan.
Elea berjalan masuk ke dalam kantor besar itu. Tampak manusia berlalu lalang karena memang sudah jam makan siang.
"Lea!" Gadis itu terkejut ketika ada yang memangil namanya.
Tampak John berjalan setengah berlari ke arahnya. Kening Elea mengerut, dia tidak mengenal siapa lelaki ini, tetapi kenapa lelaki ini malah tahu namanya?
"Om, siapa?" tanyanya menatap penuh selidik.
John mendelik ketika Elea memanggilnya om. Sungguh keterlaluan sekali gadis ini. Apa Elea tidak lihat wajahnya yang sangat tampan dan masih muda? Memangnya pantas dipanggil om.
"Aku tempat Edzard. Kamu mau bertemu suami kamu?" tanya John menatap tas yang ditenteng Elea.
"Iya, Om," jawab Elea.
"Iya sudah, ayo aku antar!" ajaknya.
Elea berjalan mengikuti John. Walaupun sebenarnya dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa lelaki ini mengenalnya dan bahkan tahu bahwa dirinya istri Edzard.
"Om, kantor Om Ed besar sekali ya?!"
"Ini juga jadi kantor kamu. Kamu 'kan istrinya?" ujar John.
"Memang begitu, Om? Tapi Om Ed tidak bilang seperti itu pada Lea?" Gadis itu tampak menelisik kemewahan kantor suaminya. Dia baru pertama kali datang ke tempat seperti ini. Selama ini hidup Elea terus dikurung oleh ibu dan kakak tirinya. Dia melihat dunia luar hanya ketika ke kampus saja.
"Milik suami 'kan jadi milik istri juga. Mungkin Edzard lupa kali bilang begitu," tukas John terkekeh. Elea ini sangat lucu dan begitu polosnya.
"Begitu ya, Om. Nanti Lea tanya Pm Edzard deh!"
Mereka berdua masuk ke dalam lift karena ruangan Edzard berada di lantai paling atas.
"Kamu bawa makanan buat Edzard?" John melirik tas di tangan Elea.
"Iya, Om," jawabnya sambil tersenyum.
Keduanya telah sampai di depan ruangan Edzard. Segera John membuka pintu dan tampaklah Edzard yang masih sibuk dengan berkas yang ada di atas meja.
"Om," panggil Elea.
Mendengar suara tak asing di telinganya. Edzard mengangkat kepalanya, kening pria itu mengerut saat melihat sang istri datang ke ruangannya.
Sementara John langsung duduk di sofa dan memperhatikan suami istri itu. Ah dirinya jadi ingin menikah, tetapi sayang belum ada calon yang mau diajak ke pelaminan.
"Apa yang kamu lakukan datang k ke sini?" tanya Edzard dengan nada dingin.
"Lea bawakan makan siang untuk Om!" Gadis itu memamerkan rantang nasi di tangannya.
"Saya tidak lapar," tolak Edzard yang kembali fokus pada berkas di tangannya.
"Om tidak mau?"
"Saya sudah bilang, saya tidak lapar!" tukas Edzard penuh penekanan.
Ekspresi wajah Elea langsung berubah. Dia menatap kecewa kotak nasi di tangannya. Padahal tadi dia sudah bersusah payah memasak untuk sang suami, tetapi lelaki itu sama sekali tak menghargai usahanya.
"Sini, Lea. Kasih aku saja. Kebetulan aku belum makan!" ujar John melambaikan tangannya.
Sejenak Edzard terdiam. Lalu dia menatap John dengan marah. Kenapa dia tak suka? Apakah dia cemburu? Sangat tidak mungkin. Edzard tak mungkin cemburu hanya karena Elea. Dia tidak menyukai gadis itu. Sampai kapanpun tidak akan pernah menyukai Elea, hal itu ditekankan Edzard pada dirinya sendiri.
"Om mau?!"
"Mau dong, Lea. Masakan kamu pasti enak!" seru John.
Elea berjalan ke arah John untuk memberikan makanan yang ada di tangannya. Dari pada dibuang lebih baik berikan pada yang mau saja.
"Tunggu!" sarkas Edzard.
"Kenapa, Om?"
Edzard berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Elea.
"Saya lapar." Dia langsung merampas kotak nasi di tangan Elea.
"Lho, tadi katanya kenyang?"
Bersambung ...