John mendelik ketika melihat Edzard makan dengan lahap. Lelaki itu menggelengkan kepalanya salut, memang kalau gengsi selalu kalah dengan cemburu.
"Masakan Lea enak 'kan, Om?" Elea tersenyum senang ketika lelaki itu menyantap masakkannya tanpa sisa.
"Biasa saja," ketus Edzard mengelap mulutnya dengan tissue.
"Hem, Lea. Aku jadi tidak kebagian. Padahal aku sangat lapar!" ujar John sendu sambil mengelus perutnya yang rata. Sejenak lelaki itu melirik ke arah Edzard yang sudah memasang wajah kesal. Dalam hati dia tertawa karena berhasil menggoda sahabatnya itu.
"Beli makan sendiri sana!" ketus Edzard. "Kamu..."
"Iya, Om?"
"Tunggu saya di sini, jangan ke mana-mana." Lalu dia kembali duduk di kursi kebesarannya.
Elea mengangguk saja. Lalu dia beralih pada John.
"Terus Om bagaimana?" tanya Elea.
"Nanti aku makan di luar saja, Lea," jawab John. Dia sengaja menggunakan kata 'aku' supaya terlihat lebih akrab dengan istri dari sahabatnya itu.
"Kenapa kamu belum keluar, John?" Hari ini mood Edzard sedang tak baik. Walaupun dia sama sekali tak memiliki perasaan pada Elea, tetapi ketika melihat wanita itu didekati lelaki lain, kenapa hatinya terasa perih?
"Iya aku keluar." John memutar bola matanya malas. "Lea, kamu tidak ingin main ke ruanganku? Di sana banyak wanita cantik. Kalau kamu bosan di sini, kamu di sana saja. Sekalian kenalan," ajak John, sengaja.
"Wah, bole–"
"Siapa yang suruh kamu keluar? Tunggu di sini!" Edzard menatap istrinya tajam.
"Iya, Om."
Melihat mood Edzard yang sedang tidak baik. Segera John keluar dari ruangan pria itu dari pada menjadi amukan kecemburuan Edzard.
Elea duduk seperti orang bodoh. Gadis itu celingak-celinguk menelisik ruangan mewah suaminya. Beberapa kali dia berdecak kagum dengan interior yang ada di dalam ruangan tersebut. Pantas saja Edzard berani memberinya kartu berwarna hitam karena ternyata lelaki ini sangat kaya raya.
"Om," panggil Elea.
"Hem!" Hanya dijawab dengan deheman. Sementara tangannya sibuk dengan stut keyboard laptop di atas meja.
Elea tampak berpikir, dia seperti ingin bertanya sesuatu, tetapi takut akan membuat lelaki itu marah.
"Tidak jadi, deh," ujarnya
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Edzard segera membawa istrinya pulang. Tidak banyak yang tahu soal pernikahannya, kecuali sahabatnya John. Pernikahan Edzard dan Elea memang sengaja tidak dipublikasikan atas permintaan Edzard. Dia tidak mau orang tahu bahwa Elea istrinya karena gadis itu jelas tidak selevel dengannya.
"Lain kali kalau mau ke kantor hubungi aku," ujar Edzard tanpa melirik Elea.
"Lea tidak punya ponsel, Om," jawabnya jujur dan polos.
"Ponsel kamu ke mana?"
"Kemarin diambil sama ibu!" Gadis itu mendesah pelan.
"Kenapa bisa diambil?"
"Gara-gara Lea telat pulang dari kampus, Om," sahutnya lagi.
Edzard terdiam. Dia tidak tahu seberat apa kehidupan gadis yang menjadi istrinya itu. Edzard memang sengaja tidak mencari tahu karena dia sama sekali tidak peduli siapa Elea.
Mobil Edzard memasuki mall mewah.
"Lho, kita mau apa ke sini, Om?" tanya Elea.
Seperti biasa, Edzard sama sekali tak menjawab. Lelaki tampan itu keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat.
Elea mengekor suaminya dengan setengah berlari. Dia menggerutu kesal karena sejak tadi bertanya, tetapi tidak juga dijawab. Elea merasa sedang berbicara dengan patung hidup yang sama sekali tidak bisa bicara.
"Om, jalannya jangan cepat-cepat. Kaki Lea sakit!" renggek Elea.
Edzard sama sekali tak peduli, bahkan ketika mereka menjadi pusat perhatian, lelaki itu pun tetap berjalan dengan wajah datarnya.
Hingga keduanya berhenti di depan sebuah toko yang menjual banyak ponsel karena terlihat dari etalase di depan.
Elea ikut berhenti. Gadis itu memijit-mijit betisnya yang terasa nyeri karena terlalu cepat berjalan.
"Om, berjalan apa lomba lari sih?" protes Elea.
"Pilih yang mana yang kamu mau!" ujar Edzard. Nada bicaranya selalu terdengar ketus dan dingin, seolah tak ada ramah-ramahnya sama sekali.
"Hah?" Elea tampak bingung dengan mulut terbuka lebar.
"Katanya tadi tidak ada ponsel. Sekarang, pilih yang mana yang kamu mau. Mau berapa saja boleh."
Elea menelan salivanya, orang kaya memang beda. Ketika tidak ada ponsel langsung pergi beli baru. Beda dengan dirinya yang dulu, walau almarhum ayahnya tergolong orang berada, tetapi sejak kehilangan sosok itu Elea hidup dalam serba kekurangan karena ulah sang ibu tiri. Namun, Walaupun begitu gadis tersebut tak pernah mengeluh atas hidup yang dia jalani.
"Lea lihat-lihat dulu ya, Om."
"Jangan lama-lama, saya sudah gerah!" Edzard melonggarkan sedikit dasi yang terasa mencekik lehernya.
Elea mengangguk, lalu dia melihat-lihat ponsel yang terpanjang di sana. Pupil mata gadis itu membulat sempurna ketika melihat harga yang tertera di kotak ponsel tersebut.
"Mahal amat, Om!" Dia geleng-geleng kepala.
"Ambil saja."
Elea mengambil salah satu ponsel yang cukup menarik di matanya. Ponsel bermerk apel gigit tersebut terlihat canggih dengan bagian belakang dilengkapi kamera khusus.
"Lea ambil ini saja, Om."
Edzard mengangguk. Pria itu mengambil kartu di dalam dompetnya untuk membayar ponsel Elea.
"Biar Lea yang bayar, Om."
"Simpan saja. Biar saya yang bayar."
Setelah membelikan istrinya ponsel. Edzard segera membawa gadis itu pulang ke rumah. Sebenarnya dia paling malas keluar apalagi sampai jalan-jalan ke mall hanya untuk membeli sesuatu tidak penting.
"Sini, ponsel kamu!"
"Ini, Om." Elea memberikan ponsel itu pada suaminya.
Lalu Edzard memasukan nomornya di sana secepat kilat.
"Ini nomor saya. Kalau butuh apa-apa telepon saja. Jangan masukan nomor orang lain, apalagi John." Edzard masih kesal karena digoda oleh sahabatnya itu, makanya dia sedikit sensitif.
"Lho, memangnya kenapa, Om? Kan Om John baik orangnya," ujar Elea.
"Jangan dekat-dekat dia. Dia orang yang berbahaya," ucap Edzard memperingatkan.
Elea mengangguk dengan polosnya, tanpa tahu bahwa lelaki itu sedang membohongi dirinya.
Sampai di rumah keduanya keluar dari mobil. Tidak seperti novel-novel yang Elea baca, di mana seorang pria kaya akan bucin pada istrinya. Secepatnya gadis itu menggelengkan kepala untuk mengenyahkan semua perasaan yang menjalar di kepalanya.
"Om, Lea siapin air mandi ya?"
Edzard membalas dengan anggukan kepala. Lelaki itu sibuk melepaskan jas dan dasinya. Hari ini dia merasa sangat lelah karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari dia tidak masuk.
"Om, air mandinya sudah siap!"
Lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan kata terima kasih.
"Hufh, kenapa dingin sekali sih? Huh, aku serasa mau beku." Elea geleng-geleng kepala.
Tatapan mata Elea tertuju pada sebuah figura yang terletak di atas nakas.
"Siapa perempuan ini? Cantik sekali!" Elea mengulurkan tangannya mengambil foto itu. Dia benar-benar penasaran, siapa wanita cantik yang tengah tersenyum di dalam foto itu?
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Edzard dengan wajah marah.
"Om."
Edzard segera merampas foto itu dari tangan Elea.
"Kamu tidak bisa sebebasnya menyentuh barang-barang saya. Apalagi sampai memegang foto ini. Karena wanita yang ada di foto ini, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dirimu!"
Bersambung ...