Bab 7. Mengantar ke kampus

1028 Kata
Elea tertegun mendengar ucapan suaminya. Namun, sesaat kemudian gadis itu malah menguap beberapa kali, bukankah sudah biasa dibentak dan dibandingkan? Bahkan dia pernah diperlakukan lebih tak wajar dari ini. Edzard menatap penuh amarah pada Elea. Entah kenapa dia tidak suka melihat gadis itu menyentuh foto almarhum kekasihnya? Sangat tidak suka, bagi Edzard Naura tak bisa dibandingkan dengan gadis miskin seperti Elea. "Pacar Om ya?" Elea tersenyum menggoda. Edzard tak menjawab. Lelaki itu menggeser tubuh Elea agar menjauh dari nakas kamarnya. "Jangan pernah sentuh barang saya lagi!" tekan Edzard memperingatkan. "Om ini bagaimana sih? Lea ini istrinya Om, masa sentuh barang Om saja tidak boleh. Aneh!" Elea memutar bola mata malas. Gadis itu sama sekali tidak tersinggung dengan bentakan suaminya. Dia malah terlihat biasa saja. Edzard melayangkan tatapan tajam pada Elea. Tangannya mengepal kian erat, ingin rasanya dia meremas wajah gadis itu. Namun, kenapa rasanya tak tega? "Sudahlah, Om. Lea mau mandi dulu!" Segera gadis itu masuk ke dalam kamar mandi. Elea bersandar di balik pintu. Tanpa permisi air matanya menetes, bohong jika dia tidak terkejut mendengar ucapan suaminya. Apalagi lelaki dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tak sebanding dengan wanita yang ada di dalam foto itu. Elea tahu lelaki itu tak mencintainya, tetapi haruskah mengatakan sesuatu yang menyakitkan. "Ayah, ibu!" Elea terduduk sembari menutup wajahnya. Bedanya bergetar hebat, dia lupakan semua rasa sakit yang terasa mencekam. Patah hati terhebat seorang anak adalah ketika dia dipaksa dewasa untuk menerima kenyataan saat kehilangan orang tua yang dia cintai. Elea masih muda, tetapi dia dipaksa dewasa oleh keadaan. Kehilangan kedua orang tuanya benar-benar meruntuhkan dunia Elea. "Lea kangen kalian!" ungkapnya lagi. "Lea pikir Om Edzard orang baik dan Lea bisa lepas dari ibu dan Kak Nia, tapi ternyata Lea malah makan hati, Bu," ujarnya seolah sedang berkata dengan orang yang masih hidup dan berdiri di depannya. Tak mau merenungi nasib. Gadis itu segera membersihkan dirinya. Elea berusaha kuat dan menerima takdir yang mempermainkan kehidupannya. Mungkin, ini memang jalan yang harus Elea jalani. Setelah membersihkan diri, gadis cantik itu keluar dari kamar dan menyiapkan makan malam untuk suaminya. "Om mau dimasakin apa?" Edzard tak menjawab sama sekali. Dia masih kesal karena ulah Elea tadi. Entah, kenapa emosinya selalu tak bisa ditahan setiap kali melihat gadis itu? "Om!" renggek Elea kesal. "Om mau makan apa?" Gadis itu menghentakkan kakinya. Edzard menghela napas panjang. Lalu melirik ke arah Elea. "Tidak usah masak, saya tidak sudi makan masakan kamu," ujarnya tanpa perasaan. "Kenapa tidak sudi? Om takut ya, kalau Lea kasih racun sianida?" Gadis itu tersenyum tanpa dosa. Namun, itulah cara dia menutupi luka. "Kamu mau bunuh saya?" Edzard menatap nyalang gadis itu. "Lea tidak bilang begitu," kilah Elea mengangkat bahunya. "Mulai sekarang, kamu tidak perlu masak untuk saya!" "Memangnya kenapa, Om? Bukannya Lea istri Om? Seorang istri 'kan harus melayani suaminya?" Edzard tersenyum mengejek mendengar kepercayaan diri istri kecilnya itu. "Jangan terlalu percaya diri. Saya menikahi kamu karena papa, bukan karena saya menyukai kamu. Kamu harus ingat baik-baik, bahwa saya tidak akan pernah jatuh cinta sama kamu, sampai kapanpun. Lebih baik kamu segera sadar diri dan berhenti cari perhatian saya!" * * * Elea bangun pagi-pagi. Hari ini dia sudah mulai masuk kampus seperti biasa, setelah mengambil cuti beberapa hari. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Elea tak repot menyiapkan sarapan untuk suaminya, lelaki itu sudah mengatakan bahwa dia tidak akan sudi makan masakan istrinya sendiri. "Nona tidak masak untuk tuan?" tanya Bi Dewi, salah satu pelayan yang bekerja di sana. "Tidak, Bi. Bibi masak saja untuknya ya. Lea buru-buru ke kampus," sahut Elea sambil melirik arloji yang melingkar di tangannya. Edzard berjalan ke arah meja makan. Keningnya mengerut ketika melihat hanya sepiring nasi goreng di depan Elea. Biasanya gadis itu memasak banyak, kenapa kali ini hanya untuknya? "Pagi, Om," sapa Elea. "Hem!" Edzard duduk dengan tenang. Dia melirik Elea yang sarapan dengan lahap tanpa menawari dirinya. "Silakan sarapan, Tuan," ucap Bi Dewi. Edzard menatap makanan yang tertata di meja makan, semua makanan kesukaannya, tetapi kenapa dia seperti tertarik dengan nasi goreng yang ada di piring Elea? Elea lebih dulu menyelesaikan makannya. Gadis itu mengusap perutnya yang setengah membuncit karena nasi goreng yang dia buat tadi. Sementara Edzard menelan salivanya. Kenapa dia jadi ingin makan nasi goreng buatan Elea? Padahal dia juga yang meminta gadis itu agar tidak memasak untuknya. "Om, Lea berangkat dulu!" Gadis itu berdiri dan mengulurkan tangannya. "Mau apa?" Kening Edzard mengerut. "Alah, kelamaan." "Eh!" Edzard terkejut ketika gadis itu menarik dan mencium punggung tangannya. Seketika hati Edzard menghangat, ini pertama kalinya seseorang mencium punggung tangannya setelah dia dewasa. "Selamat bekerja, Om Suami. Hati-hati di jalan yang di hati jangan jalan-jalan!" serunya. "Berangkat sama siapa?" Edzard berusaha menetralisir detak jantungnya. "Naik ojek," jawab Elea santai. Edzard langsung menatap istrinya tajam. "Kenapa tidak dengan supir?" tanyanya. "Lea tidak biasa naik mobil, Om. Enaknya naik motor saja," kilah Elea. Padahal dia tidak mau bergantung pada lelaki itu. "Jangan banyak alasan, naik mobil saja!" tegas Edzard. Apa kata dunia, seorang istri dari CEO ternama, tetapi ke kampus malah naik motor? "Ta–" "Saya akan antar kamu!" "Eh." * * * Mobil yang dikendarai oleh Edzard berhenti di depan gerbang kampus Elea. Segera gadis itu melepaskan sealbeat yang melingkar di tubuhnya. "Lea masuk dulu ya, Om." Edzard membalas dengan anggukan kepala. Lalu Elea keluar dari mobil. Gadis itu segera berjalan masuk dan di sana tampak ada seorang laki-laki tampan yang menunggunya sejak tadi. Edzard menyimpitkan matanya, menatap penuh selidik. Siapa lelaki yang terlihat begitu akrab dengan istrinya itu? Lalu, kenapa tiba-tiba hati Edzard terasa panas? "Aku tidak mungkin cemburu," kilahnya. Edzard tak paham dengan perasaannya sendiri. Dia sering mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati Elea. Namun, saat gadis itu tak lagi perhatian padanya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Edzard menjalankan mobilnya meninggalkan kampus Elea. Wajah lelaki itu tampak datar tanpa ekspresi. Raut wajahnya memang selalu begitu, tak pernah hangat apalagi lembut. "Sial! Kenapa bayangan gadis miskin itu terus terngiang di kepalaku? Apa dia memberiku guna-guna?" tudingnya. Edzard kadang salut dengan kepribadian Elea. Gadis itu sama sekali tidak tersinggung atau sakit hati dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Edzard. "Hufh, apa aku buat saja surat perjanjian dengan gadis itu? Seperti yang dia katakan kemarin." Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN