Bab 8. Gadis imut

1019 Kata
"Kamu berangkat sama siapa, Lea?" tanya seorang pria yang melihat mobil Edzard menjauh dari gerbang kampus. "Om-nya Lea, Kak," jawab gadis itu asal. "Om?" Kening pria tampan tersebut mengerut. "Om yang mana?" tanyanya lagi. Lelaki itu mengenal keluarga Elea, setahu dia gadis itu tidak lagi memiliki saudara setelah kedua orang tuanya meninggal. Adapun, tetapi tinggal di kota ini. "Om Edzard, Kak," jawab Elea jujur. "Edzard?" Lagi-lagi lelaki itu bingung. Siapa Edzard? Nama itu seperti tak asing dan begitu familiar di telinganya. "Aish, Kakak ini banyak tanya deh. Ayo masuk!" ajak Elea. Lelaki itu menggeleng. Walau sesekali dia masih melirik mobil Edzard yang menjauh. Elea keluar dari mobil mewah dari laki-laki yang dia panggil om. Apa gadis itu penyuka om-om atau menjadi sugar baby dari pria dewasa? Bisa jadi pria yang ada di dalam mobil itu sudah memiliki istri dan menjadikan Elea sebagai teman mainnya. "Kak, jangan mikir macam-macam!" Elea memincingkan matanya, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran lelaki tampan itu. "Aku masih penasaran, Lea. Sebenarnya dia siapa sih? Benaran om kamu?" cecar lelaki itu lagi. "Dih, memangnya Kakak pikir Lea macam-macam?" Gadis itu merengut kesal. "Dia benaran om-nya Lea, Kak. Nanti Lea kenalin ya," ujarnya. Ryandra adalah senior Elea di kampus. Lelaki itu salah satu pria yang banyak digilai kaum hawa karena tidak hanya tampan, tetapi dia juga memiliki kemampuan akademi di atas rata-rata. Wajah tampan dan memiliki karisma menjadikan dirinya dikagumi oleh banyak wanita. "Lea, kemarin aku datang ke rumahmu. Tapi, kata tante Milly kamu sudah tidak di sana, apa itu benar?" tanya Ryandra menatap wajah Elea dengan senyuman manis. Tatapan kekaguman pria itu tak bisa dia sembunyikan, terlihat jelas dari netra matanya. "Oh iya, Kak. Lea sudah pindah," jawab Elea jujur. "Kenapa Kakak datang ke rumah Lea?" sambungnya malah bertanya. "Kemarin mau mengajak kamu nonton film," jawab Ryandra. Banyak para mahasiswi yang iri pada Elea karena gadis itu bisa akrab dengan pria populer di kampus. Sementara yang lain hanya bisa menatap Ryandra dengan kagum tanpa berani mendekati lelaki itu. "Kamu tinggal di mana dan sama siapa?" tanya Ryandra lagi. Segala sesuatu tentang Elea dia seperti tidak mau ketinggalan. "Lea tinggal sama temannya almarhum ayah, Kak," sahut Elea jujur dan apa adanya, dia memang tinggal bersama teman almarhum ayahnya yaitu — Jeremy, walau statusnya adalah menantu. "Begitu ya!" Ryandra manggut-manggut. "Oh nanti pulang dari kampus, temani aku ke toko buku ya. Aku lagi cari-cari buku buat referensi skripsi." Mahasiswa semester tujuh itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan skripsi dan beberapa tugas akhir. Sejenak Elea terdiam. Kali ini dia bingung harus jawab apa? Mau jujur, tetapi Edzard sudah memperingatkan padanya agar tidak mempublikasikan masalah hubungan pernikahan mereka. Mau menolak, rasanya tidak enak. "Maaf, Kak. Tapi, kata om-nya Lea, setelah pulang dari kampus tidak boleh ke mana-mana dan harus pulang ke rumah," jawabnya lagi. "Om kamu posesif ya?" Ryandra tertawa hambar. Sebenarnya hatinya mencelos sakit saat Elea menolaknya, di kampus banyak yang ingin sekedar menyapa untuk dekatz tetapi hanya Elea saja yang tidak merenggek seperti yang lainnya. "Tidak juga sih, Kak. Mungkin karena Lea tanggungjawab dia," jawab gadis itu. "Lea masuk kelas dulu ya, Kak," pamitnya. "Iya, Ya. Semangat belajar, makan siang aku tunggu di kantin!" Ryandra melambaikan tangannya ketika Elea mulai menjauh. Lelaki tampan itu tersenyum simpul melihat tingkah lucu Elea. Gadis muda yang begitu menggemaskan, wajah cerianya seolah menular pada orang-orang yang ada di dekatnya. "Lea, Lea, kamu tahu tidak? Kalau kamu itu sungguh menggemaskan, jadi pengen gigit pipimu!" Dia terkekeh pelan lalu menuju ke ruang kelasnya. Sementara Elea masuk ke kelas dengan wajah ceria tanpa beban. "Yaya!" panggil dua gadis yang tidak lain adalah sahabat baik Elea. "Apa?" Gadis itu duduk memutar bola matanya malas. "Lama tidak masuk kampus, ke mana saja?" tanya Stefanie. "Tidak ke mana-mana," jawab Elea. "Ya, kamu harus lihat ini!" Ivonny menunjukan layar ponselnya. "Apa?" "Kamu jadi tranding topik, gara-gara tadi masuk bareng Kak Ryandra," jelas Ivonny takjub. "Hebat!" pujinya kemudian. Elea tak menanggapi. Gadis itu mengeluarkan buku dan pulpennya karena sebentar lagi dosen akan masuk dan menjelaskan mata kuliah hari ini. Setelah jam mata kuliah selesai. Elea, Ivonny dan Stefanie keluar dari ruangan kelas sambil mengobrol tidak jelas. "Ya, kamu tahu tidak? Kal–" "Tidak," jawab Elea cepat. "Jangan main potong saja, Lea!" sunggut Ivonny kesal. Elea tertawa pelan. Seperti suka sekali melihat sahabatnya itu kesal. "Waktu kamu tidak masuk beberapa hari, Kak Ray cari-cari kamu," ujar Ivonny. "Oh!" Elea hanya beroh-ria saja. Bukankah memang sudah biasa lelaki itu mencarinya dengan berbagai alasan. "Kenapa cuma oh?" "Terus Lea harus bilang apa?" Elea geleng-geleng kepala. "Dasar dodol, tidak peka!" Stefanie mendorong kening Elea dengan gemasnya. "Aw! Kejam." Elea mengusap-usap keningnya. "Makanya kalau jadi perempuan itu tidak usah polos-polos amat, Yaya. Sudah jelas-jelas Kak Ray itu suka sama kamu!" * * * Edzard masuk ke dalam mobil dengan membawa map berwarna merah di tangannya. Sesekali dia lirik map tersebut. "Tapi, bagaimana kalau gadis miskin itu malah mengadu sama papa? Bisa berabes aku." Dia menghela napas panjang. "Apalagi dia bicara asal keluar, bisa saja 'kan dia keceplosan?" Edzard sudah membuat poin-poin surat perjanjiannya dan Elea, perjanjian kontrak pernikahan. Dia berharap dengan adanya surat perjanjian itu, dia memiliki alasan dan kesempatan untuk menceraikan Elea. Sungguh Edzard sama sekali tak bisa memaksa dirinya untuk menerima Elea sebagai istri. Lelaki itu melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan. Dia akan menjemput Elea di kampus, bukan karena dirinya perhatian, tetapi karena gadis itu tidak mau naik supir pribadi. Edzard takut jika sang ayah tahu bahwa menantunya berangkat ke kampus naik ojek online. "Huh, lihat saja nanti. Akan kubuat gadis miskin itu tidak betah menjadi istriku. Dia benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Naura yang sempurna. Lebih baik aku melajang seumur hidup dari pada harus menerima dia sebagai istri." Mobilnya berhenti di depan gerbang kampus. Tak sengaja mata Edzard mengangkat Elea yang tengah berbincang-bincang dengan Ryandra. Tanpa sadar lelaki itu mencengkram kuat stir mobilnya, apalagi melihat Ryandra yang mengacak rambut Elea. Edzard menekan klakson mobilnya agar Elea segera masuk. Wajah lelaki itu tampak panas dan merah, ada rasa marah yang terselip di antara rongga d**a. Elea masuk ke dalam mobil dan tak lupa memasang sabuk pengaman. "Siapa laki-laki itu?" tanyanya ketus. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN