"Laki-laki siapa, Om?" tanya Elea dengan kening mengerut heran.
"Saya rasa kamu tahu maksud saya!" ketus Edzard tanpa melihat gadis itu. Tatapannya fokus ke depan dengan sorot netra yang tajam.
"Oh, itu Kak Ray, Om," jawabnya santai. Tanpa Elea sadari bahwa laki-laki yang ada di sampingnya tampak marah saat mendengar ucapan gadis itu.
"Pacar kamu?" tanyanya terdengar tak suka, tetapi sebenarnya penasaran.
"Bukan, Om."
Ada rasa lega di hati Edzard saat mendengar jawab istrinya. Seketika lelaki itu menggelengkan kepala dan mengenyahkan semua perasaan anehnya. Kenapa dia malah senang? Ada apa dengannya? Edzard bahkan sampai melupakan surat perjanjian yang ada di sampingnya.
"Eh ini apa, Om?" tanya Elea.
"Bukan apa-apa." Segera Edzard merampas map berwarna merah itu.
Elea manggut-manggut tanpa penasaran atau sekedar ingin tahu apa isi dari map yang dipegang suaminya.
"Om, besok-besok Lea berangkat dan pulang sendiri saja. Om tidak perlu jemput," ucap Elea.
"Kenapa?" Ada sedikit rasa kecewa di hati Edzard. Lelaki itu semakin tak mengerti, ada apa dengan hatinya?
"Tadi Kak Ray bertanya Om siapa."
"Lah kamu jawab apa?"
"Lea jawab kalau om itu om-nya Lea," jawab Elea dengan jujur.
Kenapa hati Edzard mencelos ketika gadis itu malah mengakui dirinya sebagai om dan bukan suami?
"Kenapa kamu tidak jawab saja kalau saya suami kamu?"
"Lho, bukannya Om juga yang bilang, tidak boleh bilang siapa-siapa kalau kita pasangan suami istri?"
* * *
"Bagaimana keadaan menantuku, John?" tanya Jeremy yang tampak sibuk membolak-balik lembaran buku yang ada di tangannya. Hari-hari lelaki itu dia gunakan untuk membaca dan menikmati suasana hening di vila mewah ini.
"Sepertinya Edzard belum menerima Elea, Om?" John melirik lelaki paruh baya yang sudah dia anggap ayahnya itu.
"Edzard memang tidak menerima pernikahan ini. Dia juga menikahi Elea karena terpaksa," jawab Jeremy.
"Lalu kenapa Om setuju? Kasihan Elea." John mendesah pelan.
"Karena Om yakin, Elea bisa menyembuhkan patah hati Edzard," jawab Jeremy mantap dan yakin. "Elea yang berisik dan polos dipertemukan dengan Edzard yang dingin seperti kulkas. Bukankah mereka perpaduan yang unik?" Lelaki tua itu terkekeh pelan. Dia sengaja tinggal dan menepi di sini supaya Edzard dan Elea memiliki banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain.
"Om, tapi aku ragu." John tampak menghela napas panjang.
"Ragu kenapa?" Kening Jeremy mengerut heran.
"Edzard terlalu dingin dan kadang bersikap kasar pada istrinya. Bagaimana kalau Elea menyerah dan meninggalkan Edzard nantinya?"
Jeremy ikut terdiam. Jauh dalam lubuk hatinya dia memiliki ketakutan yang sama. Takut jika akhirnya Elea menyerah menghadapi sifat suaminya yang tempramental dan tidak memperlakukannya dengan baik. Apalagi, Edzard masih memikirkan wanita yang hingga kini bersemayam di dalam hatinya. Jika Elea tahu hal tersebut, pasti gadis itu akan merasa sangat terluka.
"Kalau Elea pergi, Edzard pasti akan terus memikirkan wanita itu. Kita bisa bahaya, Om," desah John tampak khawatir.
"John!" Jeremy memegang pundak pria tampan itu.
"Iya, Om?" John menetap Jeremy serius.
"Tugas kamu adalah membuat Edzard cemburu. Bagaimana pun caranya kamu harus buat Edzard jatuh cinta sama Elea!" titah Jeremy.
"Tapi kalau gagal bagaimana, Om? Aku tidak bisa mengontrol perasaan seseorang?"
"Kalau gagal, maka Edzard akan menyesal karena kehilangan Elea."
* * *
"Karena papa tidak tinggal di sini, mulai sekarang kita pisah kamar," ujar Edzard terdengar dingin.
Sejenak Elea terdiam, tetapi ada rasa terkejut di dalam hati gadis. Namun, lagi-lagi dia tidak banyak protes. Tak apa tidak dianggap kehadirannya, setidaknya Elea bisa tinggal gratis di sini tanpa harus menerima siksaan dari ibu tirinya.
"Iya, Om." Elea menurut dan tak banyak protes.
"Minta Bi Dewi pindahin barang-barang kamu!" titah Edzard.
Elea membalas dengan anggukan kepala, tak berani berkomentar apalagi protes. Sudah nasibnya begini, syukur-syukur lelaki itu tidak mengusirnya dari rumah.
Entah kenapa Edzard tak suka melihat Elea yang menurut? Dia ingin gadis itu melawan seperti pertama mereka bertemu. Kenapa tiba-tiba Elea ini, tidak keras kepala dan terkesan tak peduli apa-apa? Padahal harusnya Elea bertanya, kenapa dirinya diminta pindah kamar?
"Setelah selesai pindahin barang-barang kamu, saya tunggu kamu di ruang kerja." Lelaki itu melenggang setelah mengatakan hal tersebut.
"Iya, Om." Elea menjawab pelan, tetapo sayang sudah tidak didengar oleh Edzard. "Huh, dasar om-om dingin. Kapan aku malam pertama?" Dia menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali.
Bi Dewi yang mendengar celotehan Elea hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum gemas. Gadis ini ada-ada saja.
"Bi, apa Om Edzard itu punya pacar?" tanya Elea penasaran.
"Setahu Bibi pacarnya tuan sudah meninggal, Nona, nona Naura," sahut Bi Dewi.
"Naura?" ulang Elea. Nama itu seperti tak asing dan bahkan sangat familiar. Namun dia tidak ingat di mana dan ke mana pernah mendengarnya?
"Iya, Nona," jawab Bi Dewi.
Tak mau membuat suaminya menunggu, Elea segera menuju ruang kerja lelaki itu. Dalam hati bertanya-tanya kenapa Edzard memintanya ke sana? Apa pria itu meminta bantuannya untuk menyelesaikan pekerjaan?
"Om," panggilnya.
"Masuk!" suruh Edzard.
Elea masuk, lalu duduk di kursi depan meja Edzard sesuai dengan perintah sang suami.
"Ada apa Om suruh Lea ke sini?"
"Baca!" Edzard meletakan map berwarna merah di depan istrinya.
"Apa ini, Om?"
Edzard tak menjawab. Dia malah bersedekap d**a dan menatap gadis di depannya.
Elea membuka pelan map tersebut. Seketika pupil matanya seperti mau lepas saat melihat apa yang tertera di sana.
"Perjanjian kontrak?"
"Iya, sesuai dengan usulmu kemarin, maka saya mewujudkannya," sahut Edzard menyunggingkan senyumnya dengan mengejek.
"Tapi, Om–"
"Kamu sudah tahu 'kan kalau saya menikahi kamu karena papa? Saya tidak mencintai kamu dan begitu juga sebaliknya. Jadi, saya tidak mau mengikat kamu dengan pernikahan tak diinginkan ini. Saya memberi kamu kebebasan melakukan apa saja. Begitu juga dengan saya, kamu tidak boleh ikut campur apapun yang saya lakukan!" jelas Edzard penuh penegasan.
Elea benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu? Apa Edzard mau mempermainkan pernikahan.
"Kita akan menikah selama satu tahun. Tahun depan kita akan berpisah," sambungnya kemudian.
"Tapi, Om–"
"Saya tidak menerima penolakan dan protes. Kamu tenang saja, saya akan tetap menafkahi kamu layaknya tugas dan tanggungjawab suami pada seorang istri," ujarnya dengan angkuh. Lelaki itu mengajukan surat perjanjian kontrak, tetapi ketika istrinya didekati pria lain dia malah cemburu.
"Kamu tidak boleh ikut campur urusan pribadi saya. Tidak boleh tahu apapun tentang masa lalu saya. Kita fokus saja pada kehidupan masing-masing," jelas Edzard lagi.
Elea tak berkutik. Sebenarnya ingin protes, tetapi tak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
"Satu lagi, jangan sampai papa tahu tentang surat perjanjian kontrak ini. Di depan papa kamu harus bisa bersikap manis dan menjadi istri yang baik. Saya juga akan melakukan hal yang sama!"
Bersambung ...