Bandara Djalaludi Gorontalo
Bandara Djalaludin Gorontalo
Kulangkahkan kakiku ke arah ruang tunggu bandara sambil sebelah tanganku memegangi Koper dan sebelah nya lagi memegang handpone yang diarahkan ke telinga “bapak di sebelah mana? Saya udah keluar dari ruang tunggu ke datangan nih….?” Kuarahkan seluruh penglihatanku dan tatapanku tertumbuk pada seorang lelaki parubaya yang sedang menerima telepon. “Pak Mat?” sang bapak menoleh sambil tersenyum “dr. Putra Pratama?” kuanggukkan kepala “ Iya pak…panggil saja Tama” “mari pak dok….mobilnya di arah sana…” sambil menunjukkan bagian kanan Ruang tunggu. Terlihat mobil Avanza hitam terpakir, dan kami mengarahkan langkah kami berdua ke arah mobil terparkir. “silahkan masuk dok…saya taruh barang bawaannya di bagasi dulu ya….” Aku mengangguk tanpa mengeluarkan suara apapun
Hmmmm….ini pertama kalinya aku melangkahkan kakiku ke daerah ujung timur Indonesia. Gorontalo kupilih sebagai tempat pengabdian PTTku setelah kumenyelesaikan Kuliah Kedokteranku. Kupilih Gorontalo Karena tidak banyak yang tau tentang daerah ini. Dan karena itu kumenganggap ini tempat pelarian yang paling tepat dari seluruh masalah yang ku hadapi saat ini. Ya…aku melarikan diri, aku bersembunyi, aku kalut…Aku lari dari kenyataan…kenyataan bahwa kekasih yang kucintai yang siap aku lamar ternyata selingkuh dengan sahabatku baikku sendiri, sahabat yang sudah kuanggap seperti sodara. Sahabat yang selama ini merupakan satu-satunya alasan aku kuliah di Kedokteran.
Kembali ingatanku melayang ke waktu ketika aku mendapati perselingkuhan ke 2 orang yang berharga dalam hidupku. Pagi itu aku menelepon Intan Kekasihku “sayang…maaf mas belum bisa menemani kamu saat ini. Karena mas masih di Bandung…mba Mia masih belum sadar…jadi untuk beberapa hari ke depan aku akan Stay di Bandung dulu ya…? Kudengar Intan mendesah” ok mas…nda papah…ntar aku minta tolong sama Bagas aja untuk membantu ngerjain tugasku ya… aku tersenyum “makasih sayang…terima kasih atas pengertiannya….I’m Gona Miss you Tan...Mmmmuaaach” “im gona mIss you to mas… hati hati..salam buat ibu dan bapak” kututup teleponnya dan aku focus lagi ke keadaan mba mia “
Dua hari aku berada di Bandung…Alhamdulillah mba mia udah sadar, dan uku bisa pulang ke Surabaya lagi. Aku sengaja tidak mengabari ke 2 orang terspecialku untuk memberikan kejutan…tak kulupa ini hari ulangtahunnya Intan. Aku merencanakan Dinner romantis berdua dengannya
Aku mampir di butik dan membelikan gaun yang indah buat intan. Ya aku sangat tau ukuran tubuhnya, walaupun aku tak pernah menjamah tubuhnya. Aku menghargai dia, aku ingin menikmati tubuhnya saat malam pertama kita nanti setelah menikah. Dari butik aku mampir ke toko bunga, membeli bunga mawar putih kesukaannya…
Entah mengapa mendekati Rumah kontrakan Intan, Hatiku berdebar, apa terjadi sesuatu dnegannya?kumendesah dalam hati.
Aku tiba dirumah Inta sudah mendekati malam Rumahnya kelihatan gelap dari luar, Saat ku ingin mengetuk pintu, Pintunya tidak terkunci, kubuka pintunya perlahan… suasananya temaram kuedarkan pandangan ke sekeliling, tak kudapati gadis pujaanku…dimana dia? Kulangkahkan kakiku perlahan menyusuri setiap sudut rumahnya. Samar-samar kudengar desahan dari kamarnya, dadaku semakin bergemuruh”mungkinkah Intan sedang menonton Video Bokep d laptopnya” ckckc…anak itu…kayaknya pengen segera kunikahi. Aku tersenyum sambil terus melangkah tanpa menimbulkan suara. “ahhh….ahh…” plek..plek…plek… “uh…kau nikmat sekali sayang” desahan dan erangan semakin nyaring ketika ku buka perlahan pintu yg tak tertutup sempurnah, jantungku serasa mau copot aku melihat adegan percintaan di atas ranjangnya intan, tanpa tau siapa yang bercinta, karena lampunya dipadamkan.ku dekati saklar lampu tanpa disadari oleh pasangan m***m entah siapa mereka. Ceklek Lampu menyala dan… aku terdiam menyaksikan adegan kitung-kitung di depanku. Kegiatan mereka terhenti akibat lampu menyala…
“Mas…” “Putra..” keduanya menyebutkan namaku secara serempak dengan posisi p***s Bagas masih menancap dalam lubang v****a Intan.Mereka terdiam sesaat, kemudian buru-buru Bagas mencabut Penisnya yang masih menegang, mungkin karena belum mencapai klimaksnya. "b*****t kalian..." hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku. kubuang buket bunga mawar putih dan paper bag yangg kubawa sebagai hadiah ulang tahunnya intan dan kuberlalu dari hadapan mereka ber 2. Tak ku hiraukan panggilan kedua pasangan durjana itu.
“Pak dok…kita sudah sampai di Hotel” Lamunanku terhenti. Hufff…tak terasa sudah tiba saja di Hotel.
Ku Usap wajahku “ah kenapa adegan itu tak pernah bisa lepas dari ingatanku?Kenapa Ya tuhan…padahal sudah sejauh ini aku menghindar” batinku
“dok…dokter Tama…Anda baik-baik saja?” Aku kembali tersadar dari lamunanku “Eh iya pak…saya baik-baik saja” Pak Mat Menarik nafas lega… “Alhamdulillah saya kira dokter lagi ga enak badan pengaruh Perjalan jauh” aku tersenyum kikuk “ga papa pak…yu pak…”
Setelah cek in aku berpisah dengan pak mat dan janjian ketemu besok setelah acara penerimaan PTT. Aku masuk ke kamar, dan meletakkan semua barangku, dan tanpa bersih bersih aku merebahkan tubuhku ke ranjang king size yang ada d hotel, dan aku terlelap