Rencana Ketemu Mertua

1097 Kata
Setelah mandi bersama, Tama dan Ningrum melaksanakan sholat subuh berjamaah. Tama mengalunkan ayat suci Alquran dengan syahdu. setelah sholat Ningrum meraih tangan Tama, dan mengecupnya. dibalas kecupan kening oleh Tama. Ningrum tak pernah menyangka bahwa lantunan ayat suci yang keluar dari mulut Tama, begitu sangat indah. Tama yang tak pernah sekalipun dilihatnya sholat, ternyata suaranya begitu merdu. dan hal itu membuat Ningrum bersyukur. Terjebak dalam pernikahan dadakan dengan pria Sholeh ?. "Mas.. Ning suka suara mas saat membaca ayat suci Al-quran, suaranya merdu dan bacaannya fasih" puji Ning kepada suaminya. "kamu melupakan cerita mas semalam? mas tamatan Gontor sayang. wajar saja fasih dalam mengaji" Tama tersenyum. "hmmm... iya juga sih... tapi maaf ya mas...kalo aku ga salah 3 bulan terakhir ini tak pernah melihat mas Sholat. Jum'atan saja ga pernah kan mas? makanya di Puskesmas itu kami pernah ngerumpiin agamanya mas" jujur Ningrum tersipu. Tama garuk-garuk kepalanya yang tak gatal mendengar pertanyaan istrinya "hehe sejak saat memergoki Intan dan Bagas, mas protes sama tuhan, mas kecewa dengan semuanya. sejak saat itu mas ga sholat lagi. ga ngaji lagi,sudah satu tahun lebih dan kau mengajak mas untuk kembali mengucap syukur atas segala nikmat yang Allah berikan. terima kasih sayang..." tam merangkul Ningrum dan memeluknya erat. "sekarang...saatnya kita ganti baju. sebentar lagi jemputan kita akan segera tiba" "ha?kita mau ke mana sepagi ini mas?" "aku mau menemui mertuaku" Ningrum terbelalak "Mm...maksud mas kita ke Manado, menemui mama? mamanya Ningrum?" "Iya sayang...emang mertua mana lagi? dan gih ganti baju. atau...mau mas bantu?" timpal Tama. Tanpa bantahan Ningrum segera mengambil pakaian yang ada dalam tas mereka. dan buru-buru mengganti pakaiannya. begitu juga dengan Tama. "Mas...kita langsung cekout hari ini?" " kita akan balik lagi dan tinggal di sini sementara Sampai Rumah kita selesai di renovasi jadi bawa barang seperlunya saja. atau ga usah bawa barang juga ga papa...ayo...buruan...ntar kita ketinggalan pesawat lagi." "iii...iya...ayo" jawab Ningrum. dengan hanya menenteng Tas ransel kecil yang bisa dia gunakan dia melangkah bergandengan tangan dengan suaminya ke arah lobi. di lobi sudah menunggu orang yang kemarin meenjemput mereka di resto. mereka tiba di bandara pukul 06.00 dan langsung menuju ruang tunggu pemberangkatan. tak lama pesawat yang mereka tumpaling lepas landas dari bandara djalaludin menuju bandara Sam Ratulangi Manado. Setelah sampai di bandara Sam Ratulangi Manado, mobil yang mereka tumpangi sudah menunggu mereka di depan pintu masuk. Ningrum menarik tangan Tama "mas...itu mobil yang tadi bawa kita ke bandara kan? kenapa ada di sini juga?lengkap sama sopirnya lagi" tanya Ning heran. "hahahaha...iya, mereka ikut tadi di pesawat. CK ..yuk..." Tak lama berselang mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana namun asri di sebuah kompleks perumahan. Waktu masih cukup pagi untuk bertamu. Seorang wanita yang lagi asik mengutak ngatik tanamannya kaget dengan kedatangan tamu sepagi ini. "Assalamu Alaikum maaa" wanita itu menoleh dan kaget dengan kedatangan tamu sepagi ini. "Waalaikumussalam...Ningrum... berangkat jam berapa dari Gorontalo, pagi-pagi sudah d rumah? tunggu mama cuci tangan dulu. Ajak saja temannya ke dalam" ucap mamanya Ningrum ramah Ningrum mengajak Tama masuk, dan mempersilahkan untuk duduk di ruang tamu "mas .. duduk dulu ya. aku ke dalam buatin minuman" 10 menit kemudian Ningrum membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan, dia meletakkan di meja dan mempersilhakan Tama untuk mencicipinya. Tama POV Setelah menghidangkan Teh dan cemilan untukku dia pamit menemui mamahnya yang mungkin lagi mandi. tak berselang lama, mereka berdua muncul bersamaan d ruang tamu. "diminum dulu tehnya nak". aku berdiri dan menyalami mertuaku aku duduk di sofa single dengan perasaan yang deg-degan menunggu reaksi dari mamanya Ningrum. istriku mendekat ke arah mamanya dan duduk di sampingnya. dia mulai membuka cerita. "Ma...Ning mau cerita sesuatu sama mama. tapi janji...mama jangan marah ya..." Dan mulailah dia menceritakan kronologis kejadian mulai dari mati lampu sampai dengan peristiwa akad nikah. mamanya sangat terkejut dengan cerita kami. "Ning sudah bilang sama mas Putra sebelum Buku Nikah dikeluarkan oleh KUA, untuk mentalaq Ning saat itu juga, biar kita kembali ke kehidupan masing-masing. dan Ning akan mengajukan pindah tempat tugas ke dinas Kesehatan. tapi mas Putra tidak mau menceraikan Ning ma..." mamanya Ning mengalihkan tatapannya kepadaku meminta jawaban darinya. "iya Bu... saya memang selama 3 bulan ini tak kenal dekat dengan anak ibu. tapi sepintas lewat pergaulan dengan teman-teman di puskesmas, saya bisa menilai dia wanita yang baik, saya yakin dia bisa menjadi istri yang baik juga. dan kejadian yang menimpa kami, saya menganggap itu adalah jalan Allah untuk menunjukkan siapa jodoh saya, makanya saya datang ke sini untuk minta restu dari ibu. izinkan saya menjadi suami anak ibu. saya meminta restu dari ibu. saya mohon restui kami, doakan kami untuk menjadi keluarga yang sakinah ma waddah wa Rahmah" kulihat mamanya Ningrum menarik nafas berat. "saya tergantung anak saya. kalau Ning bersedia dan siap jadi istrimu, saya akan merestui kalian" aku tersenyum dan mengucap syukur dalam hati. Kulihat Ning pun tersenyum. "Ning...kamu mau menjadi istrinya?" dibalas anggukan cepat oleh istriku. " Baiklah... aku merestui kalian berdua. aku mohon bahagiakan anakku, jangan pukul dia" "saat kau sudah tidak nyaman bersamanya, saat kau sudah tidak menginginkan dia lagi di hatimu, kembalikan dia kepadaku. jangan kau pernah berbuat kasar padanya. karena dari dia lahir sampai detik ini tak sekalipun aku atau papanya berbuat kasar kepadanya" aku mengangguk menyetujuinya "terima kasih Bu...saya berjanji untuk bisa memberikan kebahagiaan untuk anak ibu. terima kasih untuk restunya" kuraih tangannya dan kucium sebagai tanad terima kasih karena telah mengizinkan anaknya untuk hidup bersamaku. "sekarang kau adalah menantuku. panggil aku mama seperti Ningrum memanggilku" aku mengangguk "iya ma..ma" "anak gadisku sekarang sudah menjadi istri orang. sekarang statusmu sudah berubah. kau sudah memiliki suami, jadilah istri yang baik, patuhi suamimu selama itu dalam kebaikan" nasehat mama kepada Ningrum sambil membelai rambutnya. Ningrum mengangguk sambil ter Isak. dan mereka berpelukan. aku tersenyum melihat kedekatan mertuaku dan istriku. Obrolan kami terhenti karena bunyi perutku. sudah jam 9 pagi dan kami melewati waktu sarapan. wajahku memanas malu dengan kelakuan perutku. "waduhh...ibu lupa masak karena tegang dengan cerita kalian. ya sudah...kalian ngobrol dulu, atau istirahat dulu di kamar. ibu ke dapur untuk masak" "kita sarapan di luar saja mah... perut saya sudah tidak mau kompromi lagi...dia minta di isi sekarang juga" kataku cengengesan menahan malu. "ooo...ya sudah...sana pergi dansetelah sarapan cepat pulang ya..." kata mama lembut "emmm...mama ikut saja. mama juga belum sarapan kan...." ajakku. "ayo maaa...ikut kita aja cari sarapan" kata Ning sambil mengandeng tangan mama. " ya udah.... ayo" bertiga Mereka masuk ke dalam mobil. Tama duduk di bangku depan dan mama sama Ningrum di bangku belakang. perasaanku lega... satu fase telah terlewati. tinggal restu dari ibu bapak yang harus di jemput. semoga Allah memberi kemudahan bagi kami, do'aku dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN