Saling Terbuka 2

650 Kata
Setelah selesai makan malam, kami berpindah ke sofa depan tv. "kisah hidup mas sudah mas ceritakan, sekarang giliran kamu untuk menceritakan kisahmu" "hehe...kisah hidupku tidak semelankolis kisah hidupnya mas... hidupku datar-datar saja. aku anak tunggal, yang ditinggal papa masih kecil. saat papa meninggal aku tinggal berdua dengan mama. Mama berprofesi sebagai guru SMU, saat lulus kuliah aku memutuskan mendaftar di jurusan kebidanan, setelah tamat kuliah, aku ikut PTT dan ya...seperti mas lihat...saat ini aku berada di depan mas" Ningrum tersenyum. " Lah....sesingkat itu ceritanya..." "hahaha...kan sudah kukatakan sejak awal, kisah hidupku tak semelankolis kisah hidup mas ?" "kamu tak punya pacar?betul-betul tak punya pacar" Ningrum mengangguk, membuat Tama heran dan menepuk jidatnya "wah...wah...istriku hebat" Ningrum memanyunkan bibirnya. "hebat apanya...?" " yang di taksirpun tak ada? tanya Tama penasaran "emmm... pernah sih waktu kuliah, naksir dokter Koas saat praktek d Rumah sakit. tapi hanya sebatas teman dekat aja... ga sampe romantis romantisan kayak mas putra sama mba Intan" "gak sampai ciuman kan sayang?" telisik Tama "emmm...hihihi...pernah sih sekali. tapi karena kaget, aku menamparnya" "wahahahahaha....kenapa di tampar?" "habisnya tanpa aba-aba langsung nyosor aja. ya... karena refleks kutampar pipinya ?" setelah puas tertawa, Tama kembali bertampang serius. "di bagian mana kau dicium" tanya Tama, Ningrum menunjuk bibirnya. "Sini biar kuhapus jejaknya" tanpa aba-aba, Tama langsung meraup wajah mungil Ninrum dan melumat ringan bibirnya sekali. "berapa kali dia menciummu?sekali" dibalas anggukan oleh Ningrum. Tama pun melanjutkan aksinya. dia mulai menjelajahi bibir ranum istrinya, sambil tangannya mulai bergerilya meraba dan meremasapa yang bisa dijangkau nya.tangan Tama mencari sela-sela agar bisa masuk dan meremas langsung buah d**a istrinya yang mungil tapi sangat disukai oleh Tama. setelah berhasil, disibakkannya baju tidur yang digunakan istrinya, dan dia mulai mengulum p****g s**u yang masih segar itu. akibat kuluman itu Ningrum mendesah dan semakin membenamkan kepala Tama Ke arah dadanya, seakan -akan dia tak ingin Tama memberhentikan kuluman yang bikin keduanya mabuk kepayang.ke duanya kembali mendesah. kamar yang sekiranya sunyi, kembali ribut oleh desahan dan teriakan kenikmatan yang keluar dari kedua mulut mereka ber dua. untung kamar hotel ini dirancang kedap suara, sehingga desahan mereka berdua tak samapi tembus ke luar. dan icip icip jilid 2 pun berlangsung di atas sofa depan tv. awalnya menonton film ini malah mereka yang membuat film? tanpa sadar mereka sudah tak memakai sehelai benangpun. dan pergulatan panaspun terjadi. tapi tetap masih dalam batas. Masih sebatas icip icip. 30 menit saja waktu yang mereka habiskan. dan dalam tempo 30 menit itu, bercak merah menyebar di mana-mana baik di leher, d**a, bahkan s**********n ke duanya. setelah mencapai o*****e, mereka pun ambruk di atas sofa. Untung Sofanya luas, sehingga membuat mereka leluasa untuk berpelukan. Ningrum merebahkan kepalanya di atas d**a bidang Tama, dimainkannya buku-buku halus yang ada di d**a Tama. "sayang...masih belum cape? mau nambah lagi? ga puas mencicipiku?hmmmm? " ah...mas...cuman sekedar pingin peluk aja... ga lebih. Ga lebih untuk saat ini entah besok" canda Ning. Tama mengecup kembali bibir Ning yang sudah membengkak, hanya kecupan singkat. kemudian di dekapnya tubuh telanjang istrinya dan mereka pun terlelap kembali setelah melewati pertempuran yang sangat menguras tenaga. kring....kring...kring.... Alarm dari ponsel milik Ningrum berbunyi. waktu menunjukkan pukul 04.30. waktu subuh telah tiba. diusap lembut wajah suaminya. "mas...bangun...sudah subuh..." "uhhh....masih ngantuk yang... tidur aja dulu" Tama kembali merangkul tubuh Ningrum dan meneggelamkannya dalam d**a bidangnya. "maaassss.... subuh....ayo mandi. ntar terlambat lagi sholat subuh nya. "kasih kecupan dulu, baru mas bangun..." "ih...dasar m***m forever..." walaupun memprotes tetap saja dia mengecup suaminya sekali " yah...ga kerasa...ulang dong...di pipi" saat Ningrum mencondongkan bibirnya di pipi Tama, Tama malah menoleh, sehingga yang ketemu adalah bibir sama bibir. kesempatan ini tak disiasikan Tama, dikecupnya kuat bibir istrinya sekali tapi bisa membuat Ningrum kembali dilanda panas dingin. Tam bangun, kemudian menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi. "kita mandi bersama biar cepat. ntar lagi waktu subuh selesai" tanpa protes Ning mengalungkan lengannya di leher Tama. mereka pun m**i bareng, dan murni hanya mandi jangan ngeres dulu ???????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN