DEAR MAN

3685 Kata
Sudah beberapa hari Adelia dan Ridwan menginap di rumah orang tua Ridwan. Mencari rumah yang sesuai dengan ekspetasi Ridwan cukup rumit juga. Adelia pun tidak banyak bicara seperti di kontrakan Jakarta. Bukan berarti mereka tidak pernah bertengkar, hanya saja Adelia lebih memilih diam ketika Ridwan mengajaknya untuk mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya sepele. Adelia tidak enak hati saja jika kedua orang tua Ridwan mengetahuinya. Seperti sekarang, Ridwan yang sibuk dengan laptopnya, melaporkan operasi perusahaan cabang yang belum resmi dibuka ke pusat yang ada di Jakarta tepatnya kantor yang dipimpin langsung oleh Akbar. Sedangkan, Adelia sibuk memainkan ponsel dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ddrrttt…ddrrttt… Maryam is Calling… Adelia melirik sebentar ponsel yang rupanya milik Ridwan yang berbunyi. Ada rasa cemburu yang membakar dalam dadanya, menggebu-gebu ingin melabrak langsung perempuan yang menghubungi suaminya ditengah malam. Ridwan segera mengambil ponselnya, membuat Adelia menatap suaminya sinis. Bukannya mengangkat justru Ridwan menolak panggilan yang masuk ke ponselnya. Ridwan : Jangan telepon dulu, ada Adelia di rumah. Ridwan mengirimkan pesan memperingatkan Maryam untuk tidak menghubunginya untuk sementara waktu. Bukan Adelia yang ia takuti tetapi jika ketahuan oleh kedua orang tuanya. Terakhir kali, ayahnya sampai murka mengetahui anaknya menemui kekasih yang tidak direstui itu. Maryam : Iya, kemarin Maryam yang mengantar dia ke rumah mas Ridwan. Ridwan mendelik kaget begitu matanya membaca pesan balasan dari Maryam. Bukannya terkejut karena Maryam yang memberi tahunya, Ridwan lebih tertarik dengan sikap Adelia yang tampak biasa saja ketika datang ke Bandung padahal ia usai menemui kekasih gelap suaminya. “Jadi ketemu Maryam?” Tanya Ridwan membuka obrolan seraya mematikan ponselnya. Adelia tidak menjawab, ia memilih pura-pura tidak mendengar. Ia sudah mempunyai firasat jika ia akan bertengkar dengan Ridwan jika kemarin Maryam membantu Adelia diketahui oleh Ridwan. Ridwan yang tidak mendapatkan jawaban segera duduk di samping Adelia yang masih sibuk dengan ponselnya. “Del!” Panggil Ridwan memperingatkan jika ia tak suka ketika Adelia mengabaikan dirinya. “Adelia!” Bentak Ridwan kemudian menarik paksa ponsel Adelia dan menyembunyikannya dari perempuan di sampingnya yang kini memandagnya tajam. “Kenapa sih mas?” Tanya Adelia dengan nada sebal menatap suaminya yang benar-benar tak bisa membiarkan ia tenang tanpa pertengkaran yang terjadi di antara keduanya. “Jawab! Nggak punya mulut elo!” Bentak Ridwan tanpa rasa bersalah justru semakin meninggikan nada bicaranya. Entah mengapa Ridwan justru menjadi sosok yang posesif dan temperamen jika berhadapan dengan Adelia. Berbeda dengan suaminya, Adelia justru perlahan membangun tembok-tembok es di dalam dirinya mengubah dirinya menjadi sosok perempuan yang angkuh dan dingin. “Iya, aku ketemu sama Maryam, pacar gelapmu itu! Terus kenapa?” Tanya Adelia menantang akhirnya meluapkan segalanya di samping Ridwan. “Jaga mulut elo ya!” Ancam Ridwan mengacungkan jarinya pada Adelia yang kini membalas tatapan tajamnya tanpa rasa takut. Bohong, dalam lubuk hatinya yang paling dlaam Adelia menyimpan sejuta kesedihan, kerinduan, kecemburuan,kekhawatiran segalanya bercampur aduk menjadi satu. Kebahagiaannya justru berasal dari orang-orang sekitar yang hadir setelah ia menikah dengan Ridwan. Sedangkan dengan Ridwan? Hanya kesengsaraan dan luka hati yang kian lebar tanpa ada penawarnya. “Emang kalok Adel cerita sama mas Ridwan bakal baik-baik saja. Enggak kan! Yang ada malah adu mulut yang tiada habisnya. Emang Maryam cerita apa sih sama kamu sampai kamu semarah ini sama Adel.” Ucap Adelia mengucapkan segala yang membuat hatinya gelisah. “Maryam bukan tipe perempuan pengadu!” Tegas Ridwan menekankan setiap kata yang keluar dari bibir tipisnya. “ Terus apa yang kamu persalahin mas Ridwan!” Ucap Adelia dengan ucapan terdengar sangat putus asa. Ridwan tertegun begitu Adelia menatapnya dengan kasar menghapus air matanya yang mengalir begitu saja tanpa disuruh. Ada kesenduan dimata Adelia yang sangat jelas Ridwan lihat tapi perempuan itu berusaha menutupinya dengan sikap galaknya padahal hatinya benar-benar lembut. “Maryam memang tidak cerita. Tapi melihat sikap elo, gue yakin elo ngomong ya nggak-nggak sama Maryam.” Tuduh Ridwan membuat hati Adelia semakin teriris. Selama ini hanya itukah Adelia dipandangan suaminya, Ridwan. Sepertinya benar-benar tidak ada celah untuknya sekedar mendapat sudut pandang di mata Ridwan. Adelia mengalihkan pandangan matanya ketika matanya mulai memanas, air matanya tidak bisa dibendung selama ini suaminya tidak mempercayainya rupanya. “Iya, mending mas Ridwan tanya sama Maryam jangan tanya aku. Aku pinter mengadi-ngadi cerita! Kamu tidak akan percaya.” Ucap Adelia dengan suara serak sedikit parau, Ridwan yakin perempua disampingnya sekarang sedang menahan tangisnya. Adelia bangkit segera menuju kamar mandi, meninggalkan Ridwan yang hanya diam memandang Adelia yang selalu mengalah namun tetap saja menanggapi masalah yang ditimbulkan oleh Ridwan. Ridwan memandang Adelia yang sudah keluar dari kamar mandi, Adelia segera berbaring memiringkan badannya. Perempuan itu memilih membelakangi suaminya, daripada harus memandang wajah suaminya yang tidak pernah tersenyum kepadanya barang pura-pura sekalipun. Adelia memaksa memejamkan matanya meski hatinya menangis, air matanya mengalir dalam diamnya. Adelia menahan nafas agar ia tidak terisak. Menggertakkan giginya untuk saling menguatkan agar emosinya kembali stabil. “Hikss…” isakan Adelia lolos dari kendaliannya. “Nggak usah nangis, berisik tau nggak! Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis!” Omel Ridwan begitu suara isakan masuk dalam gendang telinganya. “Ya udah tidur di luar aja!” Usir Adelia sudah geram dengan sikap Ridwan yang semakin hari semakin menjadi-jadi semakin tidak terkontrol. “Ya elo aja sana!” Bentak Ridwan semakin menjadi bukannya merasa bersalah bahwasanya yang memulai eprtengkaran ini adalah dirinya sendiri bukan Adelia. Adelia hanya diam setiap caci makian yang dilontarkan Ridwan. Adelia bangkit menuruti perintah Ridwan, ia benar sudah diambang emosinya sendiri. Sudah kesekian berapa perempuan itu selalu dibatas kesabarannya menghadapi suaminya yang tidak waras setiap bertengkar. Ridwan bangkit dari berbaringnya, tidak menyangka Adelia menuruti perintahnya.baru saja tangan Adelia meraih gagang pintu digagalkan oleh Ridwan yang mencekal lengannya kemudian menariknya secara kuat. Adelia yang tanpa persiapan aba-aba, ditarik Ridwan kemudian dihempaskan di tempat tidur. Ridwan berada diatas tubuh Adelia, Adelia masih belum sadar dengan posisinya. Adelia masih terpaku dengan mata elang Ridwan yang menatapnya dari jarak yang cukup dekat sampai deru nafas Ridwan menyapu wajahnya. “Jangan main-main sama gue!” Ancam Ridwan membuat Adelia yang tersadar dari lamunannya segera mendorong Ridwan untuk beranjak dari atas tubuhnya. Sekuat-kuatnya tenaga perempuan akan tetap kalah dengan tenaga laki-laki. Adelia yang mendorong d**a bidang Ridwan sekuat tenaga sama sekali tidak menggoyahkan tubuh Ridwan yang menindihnya. “Mas Ridwan!” Desis Adelia pelan sangat lembut, matanya mensiratkan bahwa ia mulai ketakutan dengan posisi Ridwan yang berada di atas tubuhnya tanpa jarak sejengkalpun. Ridwan bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, Adelia segera berdiri dan membenarkan rambutnya. Ridwan melirik Adelia yang sudah memejamkan matanya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ridwan diam-diam meraba dadanya, jantungnya berdetak begitu cepat. Hal yang membuatnya bangkit dari atas tubuh Adelia bukan karena dorongan tangan mungil istrinya melainkan rasa takut, rasa takut jika Adelia mendengar detak jantungnya yang berdegup tidak teratur. *** Semilir angina bertiup diluar jendela, terlihat daun-daun pohon saling bergoyang satu arah melawan arah angina pagi hari datang. Sang fajar belum menampakkan dirinya, Adelia yang sudah terjaga usai menunaikan sholat melipat mukenannya. Ia melihat jam masih pukul lima pagi, Ridwan sepertinya sudah sholat duluan dan kembali tidur. Adelia mengetahuinya dari letak sajadah miliknya yang berubah tanda seseorang baru saja menggunakannya. Adelia mengikat rambutnya asal, ia membuka pintu kamar Ridwan hati-hati agar suaminya tidak terbangun. Adelia menuruni tangga menuju dapur melihat lampu dapur sudah menyala terang tanda seseorang berada disana. “Ibuk!” Panggil Adelia menghampiri Fatma yang sedang memotong wortel berbentuk seperti dadu-dadu kecil. “Udah bangun Del!” Ucap Fatma membalas sapaan menantunya. Adelia masih mengamati satu persatu bahan yang sudah disiapkan oleh ibu mertuanya itu. Adelia memilih membantu menggoreng tempe saja, bukan karena ia tidak bisa memasak atau bahkan tidak tahu apa yang akan diolah Fatma dengan bahan-bahan yang sudah tersedia. Hanya saja, Adelia harus belajar bagaimana racikan bumbu ala ibunda suaminya. “Biasanya masak juga nggak Del?” Tanya Fatma memulai obrolan, tidak mau membiarkan rasa canggung hadir di antara mereka. “Biasanya sih iya, bunda. Tapi kadang juga Adelia malas.” Jawab Adelia dengan senyum sungkan karena ia menjawabnya dengan blak-blakkan. “Memang kenapa? Ridwan ngomel terus ya?” Goda Fatma membuat Adelia menggeleng sambil tersenyum. “Enggak, malas ke pasarnya bunda.” Bohong Adelia, hampir saja raut wajah terkejutnya tidak bisa ia sembunyikan begitu tebakan dari ibu mertuanya sangat tepat. “Ridwan susah kalok harus makan masakan orang baru. Tapi kalok sama kamu enggakkan Del? Masa sama istrinya sendiri nggak mau.” Jelas Ibu mertua Adelia. Adelia menggangguk tanda sekarang ia paham mengapa Ridwan tidak pernah mau menyentuh masakannya, karena ia termasuk orang baru. Pemikiran Adelia yang mencoba menghapus sudut pandang negative Adelia terhadap Ridwan. “Nanti kalok ibuk pengen ke pasar sekarang ada yang nemenin. Bisa ajak Adelia.” Ucap Fatma mengungkapkan kebahagiaannya. Banyak mimpinya yang terangkai begitu ia mengetahui bahwa anaknya akan memiliki istri. Adelia hanya mengangguk mendengar keinginan mertuanya untuk ditemani ke pasar. Itu lebih baik baginya mengobrol basa-basi dengan ibu mertuanya daripada di kamar Ridwan yang memancing emosinya untuk bicara. “Nanti kata Ridwan mau lihat rumah ya di daerah mana tuh ibu lupa.” Ucap Fatma teringat obrolannya kemarin lusa dengan Ridwan ketika duduk di ruang santai belakang rumah. “Iya, kalok jadi.” Sekali lagi Adelia berbohong, pasalnya Ridwan tidak memberitahunya apapun tentang rumah kepada Adelia. “Adelia nggak risihkan ya dari keluarga berada sekarang menjadi bagian dari keluarga yang sederhana.” Sahut seseorang yang muncul dari balik pintu kamar. Rupanya ayah Ridwan yang mendengar obrolan pagi-pagi dari dapur ia memutuskan bangun dan ikut mengobrol dengan menantunya. “Enggak kok yah!” Jawab Adelia dengan sumringah begitu mengetahui ayahnya juga ikut bergabung di dapur sekarang meski hanya mengambil kopi bagiannya dan hanya duduk menatap interaksi antara anak menantu dan ibu mertua itu. “Soalnya kata Ridwan, ia pengen beli rumah yang nggak terlalu luas.” Jawab Rokhim kemudian meniup pelan-pelan kopi hitam dalam cangkir yang masih mengeluarkan asap. “Iya, Adel mah ikut mas Ridwan aja yah!” Ucap Adelia sambil membalik tempe yang ia goreng. Ibu yang sejak tadi hanya menyimak obrolan Rokhim dan Adelia hanya tersenyum senang mendengar jawaban Adelia yang sangat santai namun lugas dan tanpa mengandung basa-basi. Mereka bertiga tidak menyadari sosok yang sejak tadi di atas mengamati interaksi. Ridwan yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kamarnya memandang Adelia yang sibuk di dapur dengan ibunya. Ridwan tersenyum setiap mendengar jawaban Adelia yang sangat jelas terlihat bahwa perempuan itu berusaha menutupi ketidakharmonisan hubungannya dengan suaminya yang sebenarnya. “Wan! Udah bangun, sini!” Celetuk Rokhim menyadari Ridwan yang beridir di atas lantai dua. Ridwan tidak menjawab namun berjalan menghampiri menuju dapur, Adelia yang langsung mendongak begitu mendengar nama Ridwan buru-buru mengalihkan pandangannya. Kejadian kemarin malam terus menghantuinya, semakin membuat dirinya merasa tidak aman berdekatan dengan suaminya. “Wan, Adelia masakannya enakan mana sama punya ibu kamu?” Godan Rokhim yang langsung mendapatkan tatapan mematikan dari istrinya yang sedang mengaduk sayur itu. “Wah maafnya aja nih, ya enakan istri aku dong.” Sombong Ridwan semakin merasa geli ketika melihat ibunya berubah muram. “ Penjilat sekali rupanya!” Batin Adelia sambil tersenyum sinis mendengar ucapan Ridwan yang rupanya cukup pandai bersandiwara di hadapan kedua orang tuanya, demi image pernikahan yang tetap merasakan keharmonisan rumah tangga meski berawal dari perjodohan. “Oh sekarang gitu ya! Mentang-mentang udah ada istri, ibu dilupain.” Ucap Ibu dengan nada bercanda dan sedikit mengancam membuat seisi rumah justru tertawa. Dalam diamnya, Adelia tidak menyadari ada seseorang yang di antara mereka diam-diam tersenyum melihat tawa lepas Adelia, melihat bagaimana Adelia dengan mudah berbaur dengan keluarganya. Ridwan yang masih bersikeras menolak jika ia sudah jatuh dalam pesona Adelia, yang masih bersikeras bahwa ia masih mencintai Maryam dan hatinya masih milik perempuan berhijab itu. Kebutaannya terhadap perasaannya sendiri menggiring sikapnya yang justru menyakiti orang sekitarnya. Adelia duduk di tepi kolam renang, merendam kakinya sampai lutut di dalam air kolam yang tenang itu. Seraya memejamkan matanya mendongak ke atas, menikmati bagaimana sinar sang fajar yang baru muncul memberikan sentuhan hangat dan membuat wajahnya bersinar. Ridwan menghampirinya dan duduk di sampingnya, Adelia lekas membuka matanya merasakan air di sekitar kakinya sedikit bergerak. Adelia menatap datar Ridwan yang justru sibuk memainkan ponselnya. “Nanti jadi lihat rumah mas?” Tanya Adelia teringat ucapan ibu mertuanya tadi pagi. “Kok elo tahu?” Tanya Ridwan heran, ia sangat ingat dengan jelas jika ia tidak memberi tahu apapun soal beli rumah kepada Adelia. “Bunda yang bilang.” Jawab Adelia singkat kemudian menundukkan kepalanya begitu matanya dan mata Ridwan bertemu. Ada perasaan canggung ketika menatap bola mata hitam pekat milik suaminya. “Jadi, kapan-kapan. Elo nggak usah ngarep gue ngajak elo!” Tegas Ridwan lagi dan lagi mematahkan niat Adelia yang berusaha menjalin obrolan yang seperti ada umumnya, santai tanpa berujung pertikaian. “…” Adelia menatap dingin Ridwan yang justru menatapnya balik dengan tatapan mengolok-ngolok diamnya Adelia. Adelia memicingkan matanya mencoba membaca apa yang dikatakan mata elang itu, sangat sulit diartikan. “Gue ngajak Maryam!” Gumam Ridwan lirih namun dapat didengar oleh Adelia dengan sangat jelas. “Ah iya!” Jawab Adelia singkat mengakhiri obrolan. Perempuan itu kembali sibuk dengan acara berendam kakinya, ia tidak mau memperpanjang masalah yang sebabnya sama yaitu dengan sebuah nama perempuan, Maryam. Meski bersikap biasanya, Adelia tidak memungkiri setiap ucapan Ridwan tentang Maryam selalu menjadi beban pikiran tersendiri. Selalu menghantui fikirannya. Ridwan terdiam sejenak secara tidak sengaja justru matanya menangkap Adelia tidak mengenakan cincin pernikahan mereka. Selalu hatinya sedikit panas dan tidak bisa mengendalikan dirinya. Ridwan menarik tangan kanan Adelia membuat Adelia hampir saja terjungkal karena tidak terbiasa ketika Ridwan dan dirinya terlibat kontak fisik. “Dimana cincin elo?” Tanya Ridwan dingin membuat Adelia kembali merasakan suasana menjadi menakutkan dan tidak nyaman baginya. “Ketinggalan! “ Jawab Adelia asal justru membuat Ridwan menarik tangannya lebih kuat membuat Adelia terhuyung menjadi sangat dekat dengan Ridwan. “Beraninya elo, nanti kalok ayah dan ibuk tanya gimana?” Bisik Ridwan tepat ditelinga Adelia yang mampu membuat Adelia bergedik ngeri mendengarnya. “Siapa peduli!” Bisik Adelia sinis, ia justru sengaja memancing emosi Ridwan yang selalu meledak-ledak ketika bersamanya. “Nantang gue!” Ucap Ridwan remeh membuat Adelia menarik tangannya sampai terlepas. Begitu Ridwan lengah, Adelia segera bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Ridwan yang tersenyum geli melihat tingkah Adelia. Padahal ia hanya bercanda soal ancaman- ancamannya pada Adelia. Tetapi istrinya itu selalu menganggap ucapan tajam Ridwan semua adalah bersungguh-sungguh. Dddrtttt…dddrrrttt.. Maryam is Calling… Ponsel di samping Ridwan bergetar dan lelaki itu justru tidak bergerak mengabaikan ponsel itu tetap berdering sampai tak bergetar kembali dan kembali layar mati. Ridwan menatap bayangannya di kolam renang dalam-dalam, mencoba menanyakan kepada bayangan dirinya benarkah perasaannya sudah mulai pudar terhadap Maryam? Benarkah singgasana hatinya sudah di ambil alih oleh Adelia ? *** Adelia sudah mandi berdandan sebiasa mungkin, make upnya juga tidak terlalu menor. Sedangkan Ridwan yang menyisir rambutnya tampak mencuri-curi pandang dengan istrinya yang sedang bermain ponsel. Adelia mengerjapkan matanya setelah membaca sebuah nomor yang tidak ia kenal berkali-kali menghubunginya, beruntungnya ponselnya dalam mode silent jadi tidak akan terdengar atau terganggu. “Ayok!” Ajak Ridwan menghampiri Adelia, tak sungkan lelaki itu meraih tangan mungil Adelia kemudian menariknya untuk berjalan mengikutinya. “Mau kemana?” Tanya Adelia yang menurut saja, tak memberontak ketika Ridwan menarik tangannya. “Oh rupanya lagi-lagi pencitraan.” Batin Adelia begitu matanya menangkap kedua mertuanya sedang duduk di teras rumah sambil berbincang-bincang terkadang terdengar gelak tawa mereka. Begitu romantic tidak seperti rumah tangganya yang tidak bisa ia diskripsikan. Penuh kebohongan ! Begitu masuk mobil, Adelia menarik tangannya yang setelah masuk mobil Ridwan menggenggamnya. Melihat respon Adelia, Ridwan mendelik seperti tidak terima jika Adelia menghindari kontak fisik dengannya. “Udah sandiwaranya, mereka nggak lihat.” Ucap dingin Adelia, sebelum Ridwan yang mengacuhkannya ia lebih dulu sudahn siaga dengan apa yang akan dikatakan suaminya. “Emang elo udah tahu mau kemana?” Tanya Ridwan sambil memandang Adelia yang tengah memasang sabuk pengamannya. “Nggak!” Jawab Adelia singkat, memang sejak awal Ridwan tidak memberitahunya kemana lelaki itu akan mengajaknya dan menyuruhnya mandi pagi-pagi. “ Mau ajak Maryam jalan!” Celetuk Ridwan membuat Adelia menoleh spontan, tampak sekali wajahnya terkejut. “Bertiga?” Tanya Adelia tak menyangka dan tak mengerti arah pikiran suaminya. bagaimana bisa mengajak istri sah dan kekasih gelap dalam satu ruangan. Itu sama saja membunuh Adelia. “Iya.” Jawab Ridwan menatap lurus Adelia yang masih tampak terkejut dengan jawaban Ridwan yang begitu ringan tanpa rasa bersalah. “Kamu gila mas! Sama aja kamu bunuh aku!” Bentak Adelia dengan nada tinggi, suami dihadapannya ini benar-benar gila. “Nggak usah lebay deh!” Ucap Ridwan tersenyum, ia bercanda soal akan mengajak Maryam. Ia hanya menggoda istrinya itu. “Gini aja deh! Mas Ridwan sama Maryam lihat rumah baru. Nanti mas Ridwan turunin Adel dimana gitu.” Ucap Adelia setelah melihat tas mungilnya, ia membawa dompet dan uang cash yang cukup untuk jalan-jalan sendiri. Siapa yang bilang jika Adelia tidak mempermasalahkan Ridwan dan Maryam yang semakin lengket sejak kepulangan Ridwan ke Bandung. Namun Adelia tidak bisa memaksa Ridwan memberikan perasaannya kepadanya, hanya bisa perlahan mengalihkan perasaan Ridwan sedikit demi sedikit berpaling kepadanya. Meski membutuhkan waktu cukup lama. “Elo yakin siap gue pergi sama Maryam?” Tanya Ridwan memastikan perasaan Adelia akan baik-baik saja jika ia pergi dengan Maryam. Awalnya ia menggoda istrinya saja, tetapi ia tidak menyangka respon Adelia yang memilih diturunkan dijalan dan membiarkan suaminya pergi dengan wanita lain. “Semua keputusan itu ada pada diri kamu mas!” Ucap Adelia kemudian diam, lebih memilih memandang jendela luar. Ridwan pun diam, memang keputusan ada pada dirinya. Jika ia bisa menegaskan pada dirinya dimana hatinya akan berlabuh. Jika memang Adelia pilihannya harusnya ia bisa meninggalkan Maryam yang sudah menjalin hubungan dengannya beberapa tahun silam. Jikapun memang Maryam yang ingin ia pinang harusnya ia tegaskan menolak perjodohan yang ditawarkan Adam, papah Adelia yang kini menjadi papah mertuanya. Adelia melihat Maryam diujung jalan, perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia harus bisa menahan emosinya dan bersikap sebiasa mungkin. Dari kejauhanpun Maryam tampak memandang mobil Ridwan yang melaju menuju arahnya. Begitu dekat, kaca mobil Ridwan naikkan membuat Adelia memandang Ridwan tampak bingung. Tidak seperti bayangan Adelia, Ridwan tidak berhenti atau menjemput Maryam. Adelia terdiam, apa ucapannya menyinggung suaminya. sampai mobil memasuki sebuah rumah yang mempunyai halaman tidak terlalu luas. Di teras sudah ada yang menyambut kedatangannya, Adelia tidak banyak bertanya. Ia mengikuti Ridwan yang melangkah menghampiri pria paruh baya, Adelia pikir mungkin orang itu adalah pemilik rumah. “Pak Ridwan!” Sapa seseorang itu yang langsung dibalas anggukan. “Ini istri pak Ridwan?” Tanya orang itu menyambut jabatan tangan Adelia, Ridwan memandang Adelia kemudian mengangguk. “ Ya udah pak Ridwan lihat-lihat dulu pak. Nanti saya datang kembali.” Ucap orang itu kemudian keluar rumah membiarkan Adelia dan Ridwan melihat sendiri rumah yang sudah Ridwan beli untuk mereka tempati. Ridwan masuk rumah bercat warna putih itu, Adelia membututinya dari belakang. Disini, ia hanya sebagai penonton karena dia merasa tidak ada hak untuk berpendapat. Untuk apa? nanti semua yang di inginkan sudah diraih,Adelia akan dibuang oleh Ridwan. “Gimana?” Tanya Ridwan pada Adelia yang sejak tadi berjalan dibelakangnya namun tak berbicara sepatah katapun. “Apanya?” Tanya Adelia balik, ia tak memahami maksud Ridwan. Ia masih sibuk memikirkan mengapa tadi Ridwan justru melewati Maryam begitu saja. “Suka nggak? Nggak bisa beli rumah gede gue!” Jelas Ridwan dengan nada datar, seolah menyindir Adelia jika perempuan itu tidak bisa hidup tanpa kemewahan. Padahal Ridwan sudah tahu sejak kepindahannya ke kontrakan, Adelia tidak pernah mempermasalahkan apapun itu. “Bagus kok!” Jawab Adelia singkat ia bingung harus berkomentar yang bagaimana. “Kok jawabnya gitu, aslinya elo suka apa nggak? Kita bisa cari rumah yang lain kalok elo nggak suka.” Jelas Ridwan nampaknya Ridwan tersinggung dengan jawaban singkat Adelia yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan. “Tadikan bilangnya mau ngajak Maryam. Aku nggak tahu lah, nggak ada juga. Mas Ridwan bilang mau cerai nanti kalok udah kesampaian.” Ucap Adelia duduk di kursi tua sambil menunduk memainkan tas mungilnya. “Gue bercanda Del! Kenapa sih elo harus sok naif kalok di depan gue. Sok tegar banget jadi perempuan.” Bentak Ridwan geram melihat Adelia yang selalu menampilkan sikap polos dihadapannya. Ridwan selalu mengira apa yang dilakukan istrinya semata-mata hanya pura-pura bukan Adelia yang sebenarnya mengingat bagaimana dulu perempuan itu begitu agresif mengejar dirinya. Padahal justru sekaranglah Adelia menampakkan dirinya sebenarnya, bertapa ia tidak peka dengan perasaan lelaki. “Iya udah bagus kok rumahnya udah besar.” Jawab Adelia mengalihkan kemarahan Ridwan. “ Nanti elo yang design rumahnya mau gimana.” Ucap Ridwan sambil memandang pemandangan luar jendela, sedangkan Adelia tertegun kenapa justru sekarang Ridwan menempatkan dirinya seolah-olah menjadi istrinya sesungguhnya padahal dulu dia yang melarang keras seolah Adelia mendalami peran sebagai perempuan sesungguhnya. “Kenapa aku?” Tanya Adelia tak juga menerima kartu debit yang diulurkan Ridwan kepadanya. “Istri aku kamu apa Maryam Del?” Tanya Ridwan geram dengan sikap Adelia yang mendadak seperti orang linglung. “Ah iya.” Jawab Adelia tergagap menarik dengan cepat kartu debit Ridwan dan memasukkannya ke dalam tas mungilnya, Ridwan mengulum senyum melihat Adelia yang sangat tampak jika ia sedang gugup. “Tapi ini ada isinya kan mas?” Tanya Adelia memancing kemarahan suaminya yang sudah meliriknya dengan tatapan tajam. “Lo pikir!” Ucap Ridwan sambil menarik badan Adelia untuk didekapnya. Adelia langsung kelagapan bukan kepalang mendapat pelukan dari belakang secara tiba-tiba. “Heh mas ! lepasin nanti ada yang lihat.” Ucap Adelia berusaha melepaskan dekapan Ridwan di pinggangnya sedangkan Ridwan justru semakin mempererat dekapannya. Aroma khas tubuh Adelia benar-benar tak bisa dipungkiri menjadi candu baginya. Padahal ia hanya menghirup rambut perempuan itu yang tergerai bebas. Bukannya melepaskan dekapannya Ridwan justru sibuk dengan lamunannya sementara indra penciumannya sibuk menghirup dengan seksama aroma khas tubuh istrinya yang benar-benar menjadi sebuah kecanduan bagi Ridwan. Adelia merasakan suaminya diam dibelakangnya, namun dekapannya masih saja cukup erat. Adelia mulai merasakan ketakutan ketika Ridwan menempelkan wajahnya di bahu kanannya, seperti menghirup sesuatu secara kuat. “Mas !” “Mas !” “Mas Ridwan !” Ridwan tersadar dari lamunannya, suara panggilan dari Adelia membuatnya membuka matanya dan melepaskan dekapannya dengan cepat. Ia takut jika pemilik rumah tiba-tiba saja masuk ke rumah dengan posisi Ridwan dan Adelia yang tidak seharusnya banyak orang melihatnya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN