Terik matahari benar-benar menyorot permukaan bumi hari ini, padahal matahari hanya sedang menjadi perannya sebagai fajar di pagi hari. Adelia menyeka pelan keringat yang mengalir di pelipisnya, hari ini ia mungkin akan mengunjungi rumah orang tuanya sebelum pergi ke Bandung dan menetap disana.
Untuk sementara barang-barang dirumah ini dibiarkan disini sampai Ridwan sudah menemukan rumah yang baru. Lagi pula jangka waktu kontrakan juga masih lama, jadi menurut Ridwan tidak perlu terlalu terburu-buru.
Adelia masuk ke dalam rumah melihat Ridwan yang sudah berkemas siap menuju Bandung, dengan beberapa kotak box yang berisikan dokumen kantor yang mungkin diperlukan untuk mengurus cabang perusahaan di Bandung.
“Mau berangkat sekarang?” Tanya Adelia mendekati Ridwan yang sibuk mengotak-ngatik ponselnya.
“Kalok nggak sekarang kapan?” Ketus Ridwan menjawab pertanyaan Adelia.
“Iyalah buru-buru mau ketemu Maryam.” Gumam Adelia entah pada siapa, Ridwan langsung menoleh mendengar gumanan Adelia yang masih sedikit keras.
“Apa elo bilang?” Tanya Ridwan menghampiri Adelia dengan wajah tajam membuat Adelia justru segera berlari menjauh ke kamar.
Adelia memilih pergi saja daripada harus berdebat di pagi hari tiada habisnya dengan Ridwan yang berujung kesalahpahaman. Ridwan justru menyembunyikan senyumannya melihat Adelia yang berlari secepat kilat masuk kamar demi menghindari amukan Ridwan. Padahal juga lelaki itu tidak marah.
Ridwan berjalan menuju kamar menghampiri Adelia yang ternyata baru selesai mandi, Adelia pun menyadari kedatangan suaminya ke dalam kamar namun ia memilih mengabaikannya. Ridwan duduk dibelakang Adelia yang kini memakai beberapa make up miliknya di meja rias.
“Beneran nggak mau ikut?” Tanya Ridwan menatap mata Adelia lewat pantulan cermin.
“Nggak, Adel mau ke rumah mamah dulu.” Jawab Adelia kemudian melanjutkan acara menyisirnya yang sempat tertunda demi mendengar pertanyaan Ridwan.
“Gue jemput aja nggak usah naik kereta.” Jawab Ridwan menunduk, sepertinya lelaki itu malu untuk mengatakan jika ia khawatir membiarkan Adelia pergi ke Bandung naik kereta apalagi Ridwan tahu benar Adelia tidak pernah naik transportasi umum di setiap bepergiannya kecuali keluar negeri atau beda pulau.
“Nggak perlu mas, Adel tahu…”
“Oh jangan-jangan elo mau di anterin lelaki elo dibelakang gue?” Tanya Ridwan tiba-tiba sinis karena permintaannya ditolak oleh istrinya. Adelia memejamkan matanya Ridwan kembali memancing pertengkaran di antara mereka.
“Nggak, Adel nggak mau ganggu acara kencan mas Ridwan sama Maryam!” Ketus Adelia mulai jengah dengan obrolannya dengan Ridwan.
“Jangan mancing ya Del!” Ancam Ridwan yang tidak menyadari bahwa yang memancing pertikaian hari ini dan sejak kemarin adalah dirinya bukan Adelia.
“Mas Ridwan yang mulai duluan.” Ucap Adelia tidak mau dijadikan kambing hitam.
Ridwan beranjak berdiri, mulai hari ini ia tidak masuk kerja lagi di Jakarta dan akan mulai masuk kerja di kantor perusahaan cabang Bandung. Adelia memutuskan untuk menyusul dan tidak berangkat bersama demi ingin berlama-lama untuk berkumpul dengan keluarganya.
“ Gue berangkat dulu!” Pamit Ridwan sebelum menghilang dibalik pintu kamar.
Adelia hanya mengangguk, tidak peduli apakah Ridwan melihatnya atau tidak. Kenyataannya lelaki itu melihat sebentar senyum Adelia yang ia lihat dari pantulan cermin meja rias. Adelia memandang Ridwan yang menghilang dibalik pintu kamarnya.
Adelia tidak mengantar kepergian Ridwan, suara mobil terdengar menandakan Ridwan sudah berangkat. Adelia menenteng tas selempangnya, ia juga akan pergi ke rumah kedua orang tuanya. Sudah sangat rindu dengan keisengan papahnya dan kelembutan mamahnya.
Kalau perempuan itu mau Adelia pasti sudah meminta papahnya untuk membelikan mobil. Tetapi, ia sengaja tidak membawa kendaraan apapun baik sepeda motor atau mobil guna ia ingin bergantung pada Ridwan. Kenyataannya justru sebaliknya Ridwan sama sekali tidak peduli dengan sulitnya Adelia untuk pergi kemana-mana.
Pesanan taxi Adelia sudah datang dan berhenti tepat di depan kontrakannya, Adelia segera masuk dan bersiapkan memasang wajah pura-pura bahagia dihadapan orang tuanya berkat pernikahannya dengan Ridwan.
Taxi melesat pergi menancap gas menuju rumah kedua orang tua Adelia, jarak yang tidak terlalu jauh ditambah jalanan yang tidak terlalu ramai hanya beberapa menit taxi yang dikendarai Adelia sudah sampai di rumah besar berpagar hitam.
Adelia turun dan masuk begitu saja, ia juga tidak mengetuk pintu. Langkah kakinya langsung menuju dapur. Adelia yakin mamahnya sedang memasak untuk makan siang sedangkan papahnya berada di ruangan kerja.
“Mah!” Panggil Adelia pada sosok wanita sedikit tua yang sedang berdiri membelakanginya.
“Adel!” Panggil Dea begitu membalikkan badan, suara Adelia begitu familiar di telinganya.
“Kesini sama siapa?” Tanya Dea celingak-celinguk di belakang Adelia mencari Ridwan. Adelia tidak menjawab justru hanya mengendikkan kedua bahunya.
“Siapa nih yang datang?” Suara berat seorang lelaki membuat Adelia menoleh, menemukan Adam yang sedang menuruni tangga.
Adelia tersenyum senang bukan kepalang, Adam yang menghampiri Adelia hanya mengusap pelan puncak kepala Adelia. Adelia bahagia meski ia sudah menikah, tetapi tetap saja ia masih gadis kecil bagi papahnya.
“Ridwan udah berangkat ke Bandung?” Tanya Adam menyadari Adelia datang sendiri.
“Iya, nanti Adelia nyusul ke Bandung naik kereta,” Jawab Adelia sambil mencemot tempe goreng yang masih hangat di hadapannya.
“Emang berani?” Tanya Adam dengan nada menggoda, Adelia yang mendengar tampak mmemanyunkan bibirnya kesal.
“Tuh kan Mah! Papah tuh ngeledekin Adel mulu ah!” Rengek Adelia pada Dea yang sudah selesai masak dan ikut duduk bersama adam dan Adelia.
“Ya kan Adelia nggak pernah naik kereta sendiri.” Ucap Adam membela dan menghindar dari tuduhan anaknya jika ia sedang meledek.
“Ah tauk ah terserah papah!” Ucap Adelia memilih menyerah saja daripada harus berdebar dengan papahnya yang selalu jahil kepadanya.
“Ridwan udah beli rumah?” Tanya Dea pada Adelia.
“ Lagi cari mah.” Bohong Adelia padahal kenyataannya ia sama sekali tidak tahu menahu tentang Ridwan apakah sudah membeli rumah? Atau berniat tinggal di rumah orang tuanya untuk sementara.
“Rencananya Adelia mau beli rumah seperti apa?” Tanya Adam membuat Adelia menghentikan acara makannya. Perempuan itu tampak berfikir rumah seperti apa yang akan ia tempati dengan Ridwan.
“Belum tahu pah. Nanti kalok cari rumah sekalian lihat-lihat kali aja ada yang tertarik.” Jawab Adelia padahal Adelia sama sekali tidak berfikir tentang rumah. Semua ia serahkan pada Ridwan, mengingat mungkin bisa jadi di masa yang akan datang mereka akan berpisah.
***
Ridwan sampai di rumahnya beberapa jam yang lalu. Ia masih dengan pakaiannya dan juga perlengkapannya masih berserakan di sampingnya. Ayah dan ibunya hanya duduk memandang anak semata wayangnya yang sangat terlihat gelisah tanpa Ridwan menyadarinya sendiri.
Beberapa kali, ia melihat ponselnya namun tidak ada pesan dari seseorang yang ia harapkan. Hanya pesan dari grup kantor dan juga Maryam yang menanyakan kabarnya. Untuk kedua kalinya, ia mengabaikan Maryam seperti dulu.
Ayah dan ibunya memandangnya tampak bahagia, ayahnya tidak menyangka jika perkembangan karir Ridwan begitu cepat tidak seperti bayangannya sebelumnya. Ibunya kini juga tampak tenang, melihat Ridwan lebih memilih menikah dengan Adelia daripada dengan Maryam yang sangat ditentang oleh ayah Ridwan, Rokhim.
“Wan, Adelia sampai sini jam berapa ?” Tanya Ibunya yang sejak tadi menatap kegelisahan di wajah Ridwan tidak berangsur hilang.
“Ridwan nggak tahu, bunda. Mungkin besok kalok nggak nanti sore.” Jawab Ridwan asal padahal dia belum mendapat kabar dari Adelia kapan istrinya itu akan tiba di Bandung.
“Udah dapat rumah Wan?” Tanya Rokhim yang mendengar maksud kepulangan Ridwan ke Bandung.
“Udah, rencana besok mau ajak Adelia lihat kalok udah sampai sini.” Jawab Ridwan.
Rumah yang ia pilih tidak terlalu besar, cukup sederhana dibandingkan luas rumah kedua orang tuanya rumah yang ia pilih tidak ada apa-apanya. Dibandingkan kemewahan rumah mertuanya rumah yang dipilih Ridwan tidak ada apa-apanya.
Tapi entah mengapa, ia menyukai rumah yang sederhana. Ditambah lagi istrinya yang berasal dari keluarga berada tidak pernah protes dengan keadaan yang ia lalui semenjak menikah dengan Ridwan.
Adelia : mas aku berangkat nanti sore dari Jakarta.
Sebuah pesan membuat layarnya berbunyi membuat Ridwan dengan cepat membukanya. Dan benar, pesan itu dari perempuan yang ia harapkan. Ridwan hanya tersenyum, entah mengapa sekarang pesan dari Adelia menjadi moodboosternya dibandingkan dengan pesan dari pujaan hatinya, Maryam.
Mungkin semenjak ia mengetahui ketika matanya terpejam, dirinyalah yang mendekap erat ketika Adelia tertidur. Adanya kenyamanan yang membelenggunya, aroma kash tubuh Adelia kini menjadi candu untuknya.
“Ya udah kalok mau istirahat.” Ucap ibunya kemudian bangkit menuju ruang tv untuk menonton acara televise kesayangannya.
Ayahnya pun mengikuti istrinya, sedang Ridwan kembali termenung membaca pesan dari Maryam yang mengajaknya bertemu. Rasanya enggan, tidak bersemangat seperti dulu, Ridwan benar-benar termakan oleh omongannya sendiri yang mengatakan jika ia tidak akan tertarik kepada Adelia.
Maryam : Mas Ridwan katanya pulang ke Bandung lagi ya!
Ridwan sama sekali tidak ada niatan untuk membalasnya, lelaki itu terdiam di tempat. Entah mengapa kedatangan Adelia dalam hidupnya benar-benar mengubah mindset Ridwan, padahal tidak ada kegiatan Adelia yang berlebihan semuanya normal tapi mampu membuat Ridwan benar-benar takluk meski kini masih ia sembunyikan.
Ridwan : Iya, mau ketemu?
Akhirnya Ridwan memutuskan membalas pesan Maryam daripada mendiamkan saja, fikirannya masih berpikir kalau dia akan kembali pada Maryam. Hatinya sejenak memihak Adelia. Dengan kembalinya ke Bandung, Ridwan berpikir untuk rasanya terhadap Adelia akan segera pergi dan rasa untuk Maryam yang sejenak memudar akan kembali lagi.
Ridwan bergegas membersihkan diri, guna segera menemui sang pujaan hatinya. Ia melirik foto pernikahan yang tergantung di kamarnya. Ia baru menyadarinya, sepertinya terakhir ia pergi ke Bandung untuk menemui Maryam belum ada mungkin ayah dan ibunya yang sengaja menggantungkannya di kamar.
Ia sengaja tidak berpamitan dengan kedua orang tuanya, ia melihat orang tuanya yang sibuk dengan acara televise. Ridwan melangkah kakinya secara diam-diam guna kepergiannya bertemu Maryam tidak diketahui orang tuanya.
Maryam : mas aku sudah di cafe biasanya.
Ridwan langsung menancap gas menuju café yang dimaksud kekasih gelapnya, jarak dari rumahnya tidak terlalu jauh daripada rumah Maryam dengannya. Melewati jalanan yang mulai terasa terik matahari membakar kulit, jalanan juga tidak terlalu ramai. Ridwan menyusuri jalan raya di lampu lalulintas yang tidak pernah sepi barang satu atau dua kendaraan.
Ridwan sampai di café, matanya menelisik ruangan café mencari sosok yang tentunya memakai hijab. Matanya tertuju lurus pada perempuan yang duduk membelakanginya mengenakan pakaian berwarna hijau tosca.
“Dah lama?” Tanya Ridwan menyapa perempuan yang sejak tadi menunduk memainkan ponselnya.
“Baru sampai!” Jawab Maryam pendek menatap lelaki di depannya yang tengah menata rambutnya usai melepaskan topi miliknya.
“Besok nggak bisa ketemu kayak gini kan ya?” Tambah Maryam membuat Ridwan yang tengah membaca menu makanan langsung mendongak.
“Kenapa nggak bisa?” Tanya Ridwan heran.
“Kan mas Ridwan istrinya ikut kesini!” Jawab Maryam dengan senyuman justru membuat Ridwan terdiam, ia tahu itu hanyalah sebuah candaan namun membuat Ridwan merasa itu berasal dari hati Maryam.
“Bisa aja! Adelia nggak mungkin marah sama mas kok.” Bantah Ridwan santai kemudian memanggil pelayan untuk memesan minuman.
“Saya pesan yang ini ya!” Ucap Ridwan menunjuk sebuah gambar bertuliskan vanilla latte.
“Jadi namanya Adelia.” Batin hati Maryam, entah mengapa ia tersenyum mendengar Ridwan menyebut nama istrinya.
“Mas Ridwan pakai cincin lagi?” Tanya Maryam basa-basi, dalam hatinya hanya ingin tahu sejauh apa Ridwan dan Adelia.
“Nggak enak kalok ditanyain ayah dan ibu apalagi papah dan mamah.” Jawab Ridwan berusaha tersenyum pada Maryam, bahwa tidak ada yang special jika ia memakai cincin perkawinannya dengan Adelia atau tidak.
“papah dan mamah?” Tanya Maryam mengerutkan keningnya heran.
“Mertua aku.” Jawab Ridwan singkat mulai tidak nyaman dengan obrolannya dengan Maryam yang justru membahas semua yang bersangkutan dengan Adelia, istrinya.
“Mas Ridwan yakin masih mau melanjutkan hubungan kita? Sedangkan nantinya akan banyak rintangan.” Tanya Maryam yang mulai cemas dengan hubungan yang mereka jalani.
Lebih tepatnya, hubungan yang memaksa waktu untuk diteruskan. Maryam merasa ini cukup jauh ia melangkah demi Ridwan. Nantinya justru ia sendiri yang akan sakit hati, Ridwan ? lelaki itu tidak akan mengalami rasa sakit separah Maryam nantinya karena adanya Adelia akan menjadi obatnya.
“Maryam kenapa? Daritadi yang dibahas soal pernikahan aku terus?” Tanya Ridwan lembut seraya menggenggam tangan kanan Maryam yang perlahan membalas genggaman tangan dari Ridwan.
“Aku nggak bisa bayangkan gimana perasaan Adelia kalok tahu semua ini.” Ungkap Maryam mengungkapkan segalanya yang menjadi unek-unek dalam hatinya.
“Adelia udah tahu sejak awal pernikahan.” Jawab Ridwan singkat membahas Adelia mengingatkannya bagaimana Adelia sudah benar-benar menyerahkan segala keputusannya pada Ridwan.
Padahal Ridwan tahu jelas Adelia ingin membantah dan melawan tapi perempuan itu memilih diam dalam kesedihan hatinya. Maryam melihat wajah Ridwan yang tidak bisa diartikan begitu ia sengaja mengungkit masalah Ridwan dengan istrinya.
“Kamu tenang saja. Nanti kalok semuanya udah aku dapat. Bakal aku ceraikan Adelia, dan semua akan kembali seperti semula. Dan kita akan menikah.” Ucap Ridwan mencoba menenangkan kecemasan Maryam.
“Tapi kalok nanti justru mas Ridwan jatuh cinta sama istrimu, mas Ridwan bisa tanggung jawab sama aku?” Tantang Maryam yang keluar begitu saja.
Ridwan bungkam, begitu juga Maryam diam membisu seribu Bahasa. Ia diterpa perasaan serba salah, bagaimana tidak ia mencintai seorang lelaki yang sudah beristri. Tetapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam perempuan itu juga tak ingin kehilangan Ridwan, pujaan hatinya.
Ridwan tidak bisa menjawab tantangan Maryam karena ia tidak bisa memungkiri bagaimana penagruh pernikahannya dengan Adelia. Ia mulai terbuai dan terlena dengan pesona Adelia yang cukup sederhana itu.
“Mending kita nggak usah ketemu dulu, Maryam. Percuma kita ketemu cuman untuk membahas masalah yang sejak dulu sudah aku jelaskan dan menyuruhmu hanya bersabar barang sebentar.” Ucap Ridwan kemudian beranjak pergi membuat Maryam terpaku dengan sikap Ridwan.
“Mas!”
“Mas Ridwan!” Panggil Maryam seraya berdiri begitu Ridwan tidak menghiraukan panggilannya dan lebih memilih meneruskan langkahnya menuju mobilnya.
Maryam mengalah dan membiarkan Ridwan pergi, Ridwan yang sudah menyalakan mobilpun segera keluar parkiran dan pergi menuju kediaman kedua orang tuanya saja. Entah mengapa, Ridwan menjadi sedikit sensitive ketika soal pernikahannya disinggung oleh siapapun termasuk kedua orang tuanya apalagi Maryam.
Dengan kecepatan sedang ia mengemudi mobil, beruntung jalanan sepi dan tidak banyak anak-anak yang melintas di rumahnya membuar ia dengan leluasa menambah kecepatan agar segera bisa beristirahat di kamarnya.
Begitu sampai rumahnya, Ridwan segera masuk kamar membaringkan tubuhnya yang belum juga ia bersihkan. Fikirannya kalut, ini pertama kalinya ia marah pada Maryam. Pertemuannya yang sejak tadi dengan terpaksa ia mengiyakan keinginan Maryam justru benar-benar membuahkan penyesalan baginya.
“Ini semua gara-gara elo, semua nggak akan rumit kayak gini!” Bentak Ridwan menatap tajam lurus pada foto mempelai perempuan yang berdiri disamping dirinya.
Tingg…
Maryam : aku minta maaf ya mas Ridwan, sudah bikin mas Ridwan marah.
Sebuah pesan masuk, Ridwan membacanya dengan teliti dan melempar ponselnya begitu saja. Ia berusaha memejamkan matanya. Baru saja mata itu terpejam, sebuah bayangan senyuman tulus Adelia yang selalu perempuan itu berikan kepada Ridwan melintas di fikirannya.
Ridwan membuka matanya dengan cepat, berusaha mengusir bayangan Adelia yang tiba-tiba saja menghantuinya. Ia menghela nafas panjang, berusaha menetralkan tekanan darahnya yang membuat jantungnya sejak tadi berdegup kencang membuat nafasnya tak beraturan.
“Takdir memang tak bisa dihindari.” Ucap Ridwan tersenyum getir menertawai nasibnya sekarang.
Terhimpit antara scenarionya sendiri dan juga scenario tuhan yang tanpa ia duga dapat mengubah takdirnya dalam sekejap. Fikiran dan hatinya yang juga tidak bisa sejalan semakin memperkeruh suasana.
Tanpa disadari, laki-laki itu mulai terlelap dalam tidurnya. Sebelumnya ia sibuk berperang dengan hati dan fikirannya dalam diam, memperebutkan siapa yang harus ia perjuangkan antara Maryam atau Adelia.
***
Adelia melirik jam arloji di tangan kirinya, sebentar lagi kereta yang ia naiki akan sampai di Bandung. Dengan tas mungil bawaannya dan beberapa bingkisan dari mamahnya untuk ibu mertuanya.
Semua pakaian Adelia sudah dibawa di Bandung dengan Ridwan terlebih dahulu, jadi Adelia tidak perlu repot-repot membawa barang banyak untuk kepindahannya ke Bandung. Adelia sangat semangat karena bisa menikmati perjalanan menuju Bandung menggunakan kereta api untuk pertama kalinya.
Adelia mencoba menghubungi Ridwan, ini sudah ketiga kalinya namun tidak ada jawaban. Pesan yang ia kirimpun belum juga lelaki itu baca, sedangkan kereta sudah berhenti di stasiun Bandung. Adelia turun menenteng bingkisan yang tidak terlalu banyak ia kemudian duduk di kursi penumpang yang menunggu jemputan.
Adelia mencoba menghubungi Ridwan kembali namun tidak mendapat jawaban, banyak orang berlalu lalang. Adelia menatap sekeliling dengan sangat cemas. Bagaimana tidak? Ia tidak tahu alamat pasti rumah mertuanya, sedangkan suaminya yang berjanji menjemput tak kunjung mengangkat panggilannya.
Drrttt…drrttt.
Akbar is Calling…
“Halo!” Sapa Adelia begitu mengangkat panggilan dari saudara kembarnya.
“Sampai mana, dek?” Tanya seseorang diseberang sana. Adelia sempat terpaku untuk kesekian lama saudaranya memanggilnya –dek-.
“ Ini udah sampai di Bandung, Kak. Mas Ridwan nggak bisa dihubungin.” Ucap Adelia tidak mau menutupi jika ia benar-benar cemas.
“ Gimana? Perlu gue telepon juga kah?” Tanya Akbar dari sambungan telepon sangat terdengar jika laki-laki itu juga cemas rupanya.
“Nggak deh! Kak Akbar bisa kirim alamat aja nggak? Biar Adelia naik taxi aja.” Jawab Adelia mencoba menenangkan saudara kembarnya bahwa ia tidak apa-apa.
“Ya udah gue kirim. Ntar sampai sana kabarin ya!” Ucap Akbar kemudian memutuskan sambungan telepon.
Harusnya Adelia kesal, namun berhubung masih dalam keadaan bingung ia memilih segera membuka room chatnya dengan kakaknya dan membaca sebuah alamat yang tercantum disana.
Adelia segera keluar untuk mencari taxi, ia tidak mau sampai sana terlalu malam hanya karena kebingungan dengan alamat. Adelia ingin marah nanti jika sampai Ridwan tidak mengangkat panggilan dari Adelia karena sedang bersama kekasih gelapnya itu.
Fikiran Adelia benar-benar kalut ia sudah tidak bisa berfikir jernih jika sudah berhubungan dengan Ridwan. Pasalnya bukan salah Adelia kan, setidaknya perempuan itu sudah menghubungi Adelia terlebih dahulu untuk meminta Ridwan datang menjemputnya.
“Pak ke alamat ini ya!” Ucap Adelia menunjukkan alamat yang tertulis di layar ponselnya.
Sopir taxi itu hanya mengangguk, kemudian menjalankan perlahan taxi yang ia kemudi. Adelia memilih memejamkan matanya terlebih dahulu, meski sepanjang jalan di dalam kereta ia sudah terlelap.
Taxipun menyusuri suasana kota Bandung sore ini, banyak pasangan berlalu lalang jalan-jalan di trotoar. Mobil-mobil pun tidak terlalu padat di jalanan sehingga taxi bisa menambah kecepatan di jalanan yang sepi.
Sampai taxi masuk di sebuah kampung, Adelia mulai terjaga karena beberapa kali tidurnya mengalami guncangan karena taxi melintasi jalan yang banyak genangan. Adelia mulai membaca plang yang menunjukkan ia sedang berada di jalan sesuai yang tertulis di ponselnya.
“Coba saya tanya sama ibuk-ibuk disana pak.” Ucap Adelia menunjuk ibuk-ibuk yang bergerombol disana.
Taxi berhenti dan Adelia turun menghampiri ibuk-ibuk yang kini semua mata tertuju pada Adelia yang melemparkan senyum, semuanya membalas senyuman Adelia dengan sopan.
“Maaf buk! Mau tanya rumahnya bapak Rokhim dimana ya?” Tanya Adelia dengan sopan pada pemilik warung sayur.
Semua mata saling lempar pandang, dan kemudian mengarah pada seorang perempuan yang kira-kira berumur dibawah Adelia. Perempuan yang menjadi pusat perhatian itu justru menggaruk tengkuknya yang terbalut hijab, rupanya sedikit sungkan.
“Mari saya antar!” Tawar perempuan itu menawarkan.
“Nah sama dia aja neng!” Usul pemilik warung itu menyetujui.
“Iya neng!” Ucap ibuk-ibuk yang lain mengiyakan saling bergantian.
Perempuan itu masuk ke dalam taxi duduk di belakang bersama Adelia, Adelia melemparkan senyum kepada seorang yang mau menunjukkan jalan kepadanya.
“Maaf sebelumnya enengnya ini darimana?” Tanya perempuan berhijab itu sopan pada Adelia.
“Dari Jakarta.” Jawab Adelia cukup singkat kemudian tersenyum kembali.
“ Namanya siapa neng?” Tanya perempuan itu, Adelia sedikit tertegun memandang wajah perempuan di sampingnya itu yang sedikit berubah begitu mendengar jawaban Adelia bahwa ia berasal dari Jakarta.
“Adelia, kamu?” Tanya Adelia sopan, ada perasaan familiar namun bukan perasaan senang rupanya.
“Maryam!” Jawab perempuan itu sambil tersenyum canggung.
Degg….
Adelia membisu ditempatnya, ia terpaku dan tidak menyangka bertemu dengan kekasih gelap suaminya dalam situasi seperti ini. Begitu juga Maryam, perempuan yang akan terluka olehnya justru kini ia sendiri yang ringan tangan menunjukkan rumah Ridwan.
“Makasih sebelumnya.” Celetuk Adelia memecah keheningan di antara keduanya usai saling memberitahu nama mereka.
Maryam tak memungkiri astmosfer berubah dingin, ia bingung. Maryam berusaha bersikap biasa, meski sesekali ia melirik Adelia yang ternyata juga ia dapati sedang meliriknya. Adelia tidak tahu harus bersikap bagaimana, lukanya semakin lebar menjalar di dadanya.
Matanya memanas, begitu mengetahui Maryam yang dicintai Ridwan setengah mati. Mampu membuat Ridwan membuang jauh-jauh hati nuraninya ketika menyakiti Adelia demi perempuan yang kini disampingnya.
“Iya sama-sama.” Jawab Maryam sambil melemparkan senyum tulusnya.
“Itu berhenti di depan rumah itu pak!” Ucap Maryam pada sopir taxi sambil menunjuk rumah yang begitu luas.
Adelia menoleh dan benar dugaannya, ia sempat berfikir bahwa perempuan yang duduk disampingnya bisa jadi adalah Maryam yang lain, bukan kekasih suaminya. namun mengingat wajah berubah begitu mendengar nama Adelia, Adelia yakin jika perempuan inilah yang selalu menjadi perbandingan dirinya dimata Ridwan.
Maryam dan Adelia kemudian turun bersamaan begitu Adelia mengulurkan ongkos untuk pengemudi taxi. Suasana tampak canggung, Adelia justru tak enak hati karena merepotkan perempuan yang harusnya ia benci karena sudah menjadi kekasih gelap suaminya.
Sedangkan Maryam canggung, tak enak hati jika sampai kedua orang tua Ridwan atau bahkan Ridwan sendiri mengetahui Maryam berada di sekitar rumahnya terlebih dengan Adelia. Sudah lama, perempuan itu tidak datang ke rumah sederhana namun luas itu. Terakhir ia datang dan tidak berani berkunjung kembali begitu ayah Ridwan secara terang-terangan mengatakan tidak mensetujui hubungannya dengan Ridwan.
“Adelia!” Panggil seseorang dari dalam rumah.
Seorang lelaki paruh baya yang membuat Maryam tidak berani memperlihatkan wajahnya, ia sudah mengenal suara yang berasal dari laki-laki yang berdiri di teras rumah itu. Adelia mendongak begitu namanya dipanggil, ia hanya melemparkan senyum. Namun, senyumannya hilang mendadak melihat raut wajah Maryam yang berubah seperti gelisah.
“Maryam mau mampir?” Tanya Adelia langsung mendapat gelengan cepat dari perempuan yang memakai hijab itu.
“Nggak neng, kapan-kapan aja ya! Saya permisi!” Tolak Maryam segera berpamitan pada Adelia yang terdiam melihat gelagat aneh Maryam.
Adelia hanya diam sambil menatap kepergian Maryam, perempuan itu berjalan dengan terburu-buru sampai akhirnya tubuhnya menghilang dibalik tembok sebelum gang rumah. Rokhim menghampiri Adelia rupanya, menantunya yang tak kunjung masuk rumah dan hanya berdiam diri di pinggir jalan raya.
“Ayo masuk!” Ajak Rokhim sambil membantu membawa barang Adelia.
Adelia terperanjat kaget, ia berlari kecil mensejajarkan langkahnya dengan ayah mertuanya yang rupanya sudah berjalan terlebih dahulu sebelum dirinya. Adelia masuk kamar Ridwan, ia terdiam ditempat memandang sosok lelaki yang tengah memejamkan matanya. Adelia tidak mau mengganggu acara tidur suaminya. ia memilih segera membersihkan badannya yang meski sebentar di dalam kereta namun cukup membuatnya letih.
Adelia teringat wajah Maryam yang sendu menatapnya, ia menjadi merasa bersalah, seperti menjadi benalu dalam sebuah hubungan seseorang. Adelia terus saja menyalahkan dirinya, ialah yang menghancurkan hubungan Ridwan dan Maryam. Padahal jelas skenarion Allah yang mengatur segalanya.
TBC