"Kami titip Hana yah Bu Santi, semoga hana kecil bisa tumbuh dengan baik, sholehah, karena dia pantas bahagia dia anak yang baik." Pesan Ibu Panti sebelum melepas kepergian hana, ibu panti menundukkan kepalanya tangan nya menggenggam erat tangan Nyonya Santi.
"Tenang saja ibu, kami yang menginginkan Hana, kami akan bertanggung jawab dengan nafkah lahir dan batin Hana." seraya berkata Ibu Santi menggenggam tangan Ibu panti.
"Hanna sayang ikut kami yah, nanti di rumah Hana ngak sendiri ada dua orang kakak laki-laki yang baik akan menjaga Hana dan nanti Hana bisa sekolah di tempat yah bagus, banyak teman-teman disana, banyak mainan Hanna mau kan ikut ibu?" pak Lukman menatap mata anak itu dengan binar kasih sayang.
"Ii-ya Pak, Hana mau.. tapi Hana masih di ijinkan ke sini kan pak Bu?" anak itu menjawab dan bertanya dengan terbata-bata.
"Tentu boleh, Kami kan setiap dua Minggu sekali mengunjungi tempat ini, nanti Hana boleh ikut kami ke sini, benarkan Bu Panti?"
"Iya Hana, nanti kalau sampai tidak mengunjungi Ibu, Ibu yang datang untuk bertemu dengan Hana." ucap Ibu panti membesarkan hati gadis kecil itu.
"Baiklah Bu, Hana akan mengunjungi tempat ini saat libur." ucap Hana polos.
"Kalau begitu Ayo Hana pamit dulu dengan Ibu panti." Santi mengelus rambut panjang Hana yang tergerai indah.
"Hanna pergi dulu ibu, Hana pasti akan sangat merindukan Ibu dan suasana panti ini?" anak itu mendekati ibu panti dan meraih tangan keriput yang menua itu, lalu menciumnya dengan sayang ada rasa kehilangan mendalam yang tak bisa di utarakan oleh nya.
"Tentu Hana sayang, ibu akan selalu menunggu kedatangan mu nak." ibu panti mengecup pipi gembul anak cantik itu.
Setelah percakapan itu selesai Hana masuk ke dalam mobil mewah yang di miliki keluarga sanjaya, pikirannya melambung tinggi. Dalam hati kecil anak itu, mungkin di tempat baru dia akan bertemu dengan Ibu nya, anak itu ingin sekali mencari Ibu nya. Hana sangat merindukan ibu kandungnya. Walaupun dia mulai mengerti dan sadar akan takdir hidupnya.
"Hana, panggil Ibu dengan sebutan mama dan bapak dengan sebutan papah yah, seperti anak mama yang lain." Santi menoleh ke pada anak itu.
"Ii-ya Ma, Pah." Hana mengangguk, menatap wajah wanita cantik itu.
"Hana besok kita daftar sekolah yah, Hana nanti satu sekolah dengan Kakak." ucap Bu Santi.
"Ka-kak?" Hana menyengitkan dahi.
"Iya nanti belajar yang giat yah, di rumah ada dua Kakak laki-laki yang akan selalu menjaga Hana, Namanya Kak Galan dan Kak Gilang." Papa menengok kearah Kenya menjelaskan.
"Alhamdulillah Pah, semoga mereka mau menerima Hana sebagai adik mereka yah." Ibu Santi menarik nafas panjang, harapan dia kepada kedua anak nya, sebenarnya mereka telah menceritakan tentang Hana ke pada kedua anaknya tersebut, dan sepertinya mereka menyetujui tindakan bahwa orang tuanya akan mengangkat seorang anak wanita dari panti asuhan.
"Tenang saja Mah, Papah sudah menceritakan sedikit pada mereka tentang Hana, mereka sudah dewasa dan mereka sepertinya antusias dengan kedatangannya"
Hana membalas dengan tersenyum, walaupun dia sempat berfikir mungkin kakak angkatnya terpaksa menerimanya.
Sampailah mereka di gerbang keluarga Sanjaya, pintu besi tinggi bercat putih terbentang tinggi disana, saat memasuki gerbang rerumputan hijau menyambut mereka, taman yang tertata indah, bunga-bunga berwarna warni jauh dari bayangan Hana sebelumnya.
'Apa ini Surga dunia' batin Hana
'Ya Rob, apa ini hadiah untuk ku karena ikhlas menerima takdir dari Mu, aku harap bukan hanya luarnya tapi di dalamnya akan indah seperti penampakan di luar. Semoga kelak keluarga ini menerima ku dengan baik dan aku berjanji akan membuat bangga keluarga ini' dia Hana sebelum melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu.
Hana jelas terpesona melihat semua ini, rasanya ingin menangis dan memeluk mama Santi, tapi dia sadar dia bukan anak kandung tidak mau merasa terlena akan keindahan semata.
"Kenapa melamun Hana, ayo masuk Nak." Lukman merangkul pundak hanna, mempersilahkan anak itu masuk.
"I-iya Pah." Hana tersadar dari lamunannya, dia tak sadar ada beberapa pasang mata menatapnya dari jauh.
"Anak yang Imut dan cantik." bisik Gilang pada Galan
"Jangan berlebihan, nanti ke saing baru tahu rasa." Galan pergi meninggalkan gilang yang msh menatap kagum Hana dari balik tirai kamarnya.
"Jangan gitu donk Kak." Gilang berkata sambil mengejar Galan yang telah dulu keluar dari damar mereka.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu.
"Galan, Gilang ini Hanna yang papah kemarin ceritakan, dia akan menjadi adik kalian mulai hari ini dan kita akan menjadi satu keluarga." sorot mata pak Lukman menatap mereka bergantian.
"Hai.. Hana aku Gilang." Gilang berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Ha-halo Kak Gilang, sa-ya Hana." Hana masih merasa canggung dengan orang asing yang baru dia temui.
"Pakai bahasa aku kamu saja Hana, kita sekarang kan keluarga seperti yang sudah Papa bilang, aku Galan." Galan tidak mengulurkan tangannya, bola matanya tak lepas dari pemilik kedua manik coklat itu, sambil tersenyum.
"Ba-baik kak, Aku Hana semoga kalian bisa menerima kehadiranku." jawabnya pelan tapi bisa di dengar jelas oleh Galan dan Gilang.
"Tentu saja sayang kami semua menerima kehadiran mu" imbuh Pak Lukman yang ternyata ikut mendengar suara mungil Hana.
"Galan dan Gilang tolong jaga Hana seperti adik mu sendiri, Papah titip dia." Sambung Papa.
"Beres pah! tenang saja Hana, ngak percuma Gilang dari kecil belajar silat kalo tidak bisa melindungi adik perempuan Gilang Pah." Gilang memamerkan satu gerakan silatnya yang membuat Hana dan yang lainnya tertawa.
"Hayoo.. hayoo sudah bercandanya, kita belum makan siang kan, Mama dan Bi Inah sudah masak kesukaan kalian ayo ke marilah." Ajak Mama pada mereka semua.
"Wah asikkk, Mama memang yang terbaik." seru Gilang.
"Hayo Hana jangan sungkan, habis sini istirahatlah, kamar mu ada dilantai atas bersebelahan dengan kamar Galan dan Gilang." Papa menjelaskan pada hana.
"Iya Pah, terima kasih." mereka meninggalkan ruang tamu bersama, di ikuti olah mama mereka dari belakang.
"Sepertinya kamu sangat menyukainya mas, bahkan Gilang dan Galan juga, kamu memang anak yang cantik dan menarik Hana, semoga keluarga ini menjadi lebih hidup dan bahagia dengan kehadiran mu Nak." Santi berkata pada lukman sambil menatap Hana dari belakang.
"Iya Mah, aminnn Papa berharap begitu." Balas Lukman, hatinya sedikit tergores mengetahui kenyataan orang yang sangat dia cintai sudah tiada, bahkan keturunan nya harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, Jika saja Masita dulu tidak pergi darinya mungkin kini mereka akan bahagia.
Tapi kenangan tetap lah kenangan dia hanya berharap sampai kapan pun keluarganya tidak ada yang tau tentang asal usul dari anak cantik itu.