Pagi itu suasana masih terlihat mendung dan terdengar beberapa kali suara gemuruh petir. Terdengar langkah kaki seseorang berjalan cepat memasuki halaman luas tanpa di batasi oleh pagar besi hanya beberapa tanaman perdu liar mengitari halaman pada rumah tua tersebut.
"Mak Minah mangga geura buka panto" Mak Minah, tolong buka pintunya cepat. Ucap seorang pria.
"Kang Asep isuk-isuk ka dieu?" Mang Asep, ada apa pagi-pagi kesini? tanya mak Minah merasa heran dengan kehadiran kepala desa tersebut.
"Anu- ehm- Mak kuring nempo Masita di rumah sakit." Itu Mak saya melihat Masita di rumah sakit. Ucap mang Asep dengan terbata-bata.
"Astagfirullah alazim, eta leres Mang?" yang benar mang. tanya Mak Minah tidak percaya karena dari kabar yang dia dengar anaknya telah meninggal 15 tahun yang lalu, tapi sampai saat ini Mak Minah tidak tau dimana letak kuburan Masita.
"Leres Mak, hayu urang tingali heula abdi antar." ayo liat dulu Mamang antar. ucap mang Asep merasa yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Antosan sakedap Mang." Tunggu sebentar Mang. Mak minah mengambil jilbabnya dan beberapa lembar uang yang dia simpan di bawah lemari untuk berjaga-jaga.
Mak minah langsung menaiki motor mang asep yang terparkir tepat di depan halaman mak minah, kemudian motor itu melaju dengan cepat menuju Kota Subang disana terdapat rumah sakit dengan fasilitas yang cukup lengkap.
Mang asep bekerja sebagai perangkat desa, dia menawarkan diri untuk membatu aparat dan relawan untuk membantu korban bencana alam yan terjadi di kota Purwakarta. Karena banyaknya korban yang harus dilarikan ke rumah sakit dengan fasilitas rumah sakit yang ada di daerah itu, tidak seimbang dengan jumlah korban, maka sebagian besar korban di rujuk ke kota subang.
Mak minah berjalan mengikuti jejak langkah Mang Asep, hatinya tak sabar untuk melihat Masita walaupun baginya itu mustahil tapi ada satu harapan yang masih tersisa.
Mungkin saja itu hanya kebetulan wajah mereka mirip atau itu adalah keturunan yang Masita tinggalkan padanya, Mak minah sudah berusaha mencari keberadaan cucunya tapi sampai saat ini dia belum menemukannya, jika di kira-kira mungkin usianya sekitar 15 tahun.
"Ust.. dieu Mak." Ust.. sini mak. Mang asep membuka kerah tempat tidur bangsal yang ada di ruang UGD. Disana seorang gadis muda berparas cantik sedang tertidur lelap. Ada beberapa luka sayatan di kepala yang sudah di perban dan goresan pada tangan dan kakinya.
"Astagfirulloh Mang, ieu pisan sarupa Masita!" Mang ini mirip sekali dengan masita. Ucap Mak minah sambil menutup mulutnya tidak percaya, matanya pun berkaca-kaca melihat kondisi gadis itu yang terlihat lemah.
"Iya Mak, nuhun Akuring inget pisan ka Masita basa keur rumaja." Iya Mak saya ingat sekali gadis ini mirip sekali dengan Masita saat masih remaja. Ucap Mang asep yang dulu sempat mengagumi kecantikan Masita.
Mak Minah bersikeras ingin menemani gadis itu, setidaknya sampai dia sadar. karena dari informasi yang Mang Asep terima gadis itu merupakan anak yatim piatu, dan pada tubuhnya tidak di temukan identitas apapun.
Matahari terbenam dan malam pun datang, Gadis itu mulai bisa menggerakkan tangannya. Mak Minah yang melihat itu langsung memanggil perawat. Perawat itu memeriksa keadaan Hana.
"Pasien mulai sadar dan kondisinya baik, besok pagi kami akan pindahkan pasien ke ruang perawatan yah nek" ucap perawat tersebut.
Setelah di periksa mata Hana mulai terbuka perlahan-lahan, dia melihat sekelilingnya dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
"Apa saya di rumah sakit." Tanya tanpa memandang Mak Minah yang berada di sampingnya.
"Iya nak, kamu sekarang ada di rumah sakit, apa masih terasa sakit?" tanya Mak Minah sambil membelai kepala Hana dengan sayang.
"Alhamdulillah tidak Nek, saya merasa lebih baik sekarang." jawab Hana dia merasa bersyukur masih di berikan kesempatan untuk hidup.
"Maaf kalau boleh Nenek tau siapa nama mu, apa kamu punya keluarga?" suara Mak Minah sedikit berbisik.
"Nenek siapa? apa Nenek yang menolong saya?" tanya Hana kembali, ada rasa takut di dalam hatinya.
"Bukan nak, kamu di tolong bersama korban banjir bandang yang lain lalu di bawa ke sini, Nenek hanya melihat kamu mirip dengan anak Nenek yang sudah meninggal 15 tahun lalu, tapi mungkin Nenek salah jadi karena kamu sudah sadar nenek akan menghubungi keluarga mu-" belum juga Mak Minah melanjutkan kata-katanya Hana langsung bicara.
"Saya sudah tidak punyak orang tua nek, ehm.. sa-saya yatim piatu." ucapnya sedikit tercekat.
"Aduh.. Nenek minta maaf kalau begitu nak" Mak Minah merasa tak enak, tapi dia sangat penasaran akan identitas gadis tersebut.
"Tidak apa-apa nek, kalau boleh saya tau siapa nama anak Nenek yang tadi nenek ceritakan?" Hana kembali bertanya.
"Masita namanya, wajahnya mirip dengan mu" Jawab Mak Minah, gadis ini memang serupa dengan Masita hanya saja kulitnya lebih putih dan rambutnya lurus sedangkan masita memiliki rambut ikal.
"Masita! apa dia Masita Ibu ku?" mulut bergetar saat mendengar ucapan Nenek Minah.
"Ya Alloh... benarkah kamu putri dari Masita?" Nenek yang tadinya hendak pergi mengurungkan langkahnya lalu kembali bertanya.
"Iya Nek, Ibu panti pernah mengatakan nama Ibu ku Masita, tapi aku tak ingat rupanya karena dia meninggalkan ku saat aku masih kecil"
"Masyalloh May anak ku, terima kasih Ya Alloh telah pertemukan hamba dengan cucu hamba" Nenek memeluk Hana dan tangis keduanya pun pecah.
"Siapa nama mu, Nak?" Sontak Hana bingung harus mengatakan apa, dia tidak ingin identitas aslinya di ketahui orang lain.
"Pu- Pu-tri Ha-na" jawabnya terbata-bata.
"Putri Nenek senang bisa bertemu dengan mu." tangan nenek menggenggam jemari Hana yang masih terasa dingin.
"Nek bolehkah aku tinggal bersama mu?" tanya Hana dia tak tau lagi dimana dia akan tinggal setelah kejadian ini, orang tua angkatnya sudah tidak menyukainya, jika dia kembali ke panti mereka pasti akan melihatnya, Hana sangat takut saat ini, dia sangat berharap Neneknya akan membawanya pergi.
"Tentu Putri, Putri boleh tinggal di rumah nenek, karena rumah nenek adalah rumah Putri juga sekarang" ucap Mak Minah yang tentu saja senang di hari tuanya nanti ada Putri yang menemani nya.
"Iya Nek, Putri ingin cepat pergi dari sini apa bisa kita pulang sekarang juga?" Hana berfikir bagaimana pun dia harus pergi dari tempat ini secepat mungkin, karena keluarga sanjaya cepat atau lambat pasti akan menemukannya jika dia tetap berada disana.
"Baiklah, Nenek akan ke depan untuk urus administrasinya lalu menanyakan pada dokter apakah Putri bisa pulang hari ini juga?" Ucap nenek sebelum berbalik meninggalkan Hana.
"Tunggu nek.. jika di tanya maukah Nenek mengatakan bahwa kau adalah keluargaku." ucap Hana ragu.
"Kamu bicara apa Putri tentu Nenek akan mengatakan hal itu, kamu tenang saja, Nak." ucapku Mak Minah yang melihat raut wajah putri yang pucat.
Beberapa jam kemudian Hana di perbolehkan pulang dengan keterangan APS (Atas permintaan sendiri), tapi dokter menyarankan putri untuk menebus resep kacamata karena dokter mencurigai adanya gangguan yang terjadi pada kedua mata Putri.
Mak Minah dan Putri keluar dari pintu ruang UGD menuju apotik untuk mengambil obat setelah selesai, mereka melanjutkan instruksi dokter untuk melakukan pemeriksaan mata sebelum pulang. Namun pada saat menunggu antrian mata Hana melihat kearah jendela kaca, dia di kejutan dengan bayangan keluarga Sanjaya yang berada di luar rumah sakit menuju ruang UGD dimana semalam dia dirawat.
"Nek ayo kita pulang saja." sontak Putri menarik lengan neneknya itu.
"Tapi dokter belum memeriksa mata mu Putri." ucap nenek mencoba membenarkan perkataan nya.
"Lain kali kita bisa kesini lagi kan, tapi putri mohon sekarang kita pulang yah." tukas Putri dengan raut wajah cemas.
"Iya baiklah, kita pulang sekarang." Melihat putri yang seperti nya ketakutan, akhirnya Mak Minah mengikuti kemauan cucunya itu untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit dengan segera.