Mak Minah dan Hana menaiki sebuah bajaj yang terparkir di depan halaman rumah sakit, untuk menuju ke desanya.
Jarak dari rumah sakit lumayan jika harus di tempuh dengan berjalan kaki, setelah sampai Mak mengeluarkan uang dua puluh lima ribu rupiah kepada sang supir bajaj.
Hana sangat terkejut melihat tempat tinggal yang ditempati oleh neneknya tersebut keadaannya memperhatikan. Bagaimana mana tidak rumah itu terbuat dari kayu yang sudah reyot dan pada atapnya beberapa sudah banyak yang bolong hanya ditambal dengan kain terpal, penampakan luarnya saja seperti ini bagaimana dalam nya pikir Hana.
Tapi inilah yang Hana pilih dia hanya ingin hidup damai tanpa menjadi beban dan derita untuk orang lain di hidupnya. Mungkin di tempat sebelumnya dia merasakan kebahagiaan karena hidup dengan penuh kemewahan dan apa saja yang dibutuhkan tersedia di sana, tapi tidak di sini walaupun masih dalam bayangan tapi Hana tahu bahwa jika dia menginginkan suatu yang lebih, maka dia harus bekerja keras untuk mendapatkannya sendiri.
"Putri Ini rumah Nenek, Ibu mu dulu tinggal di sini bersama Nenek. Rumah ini dulu begitu bagus, karena termakan usia dan tidak ada yang merawat jadilah seperti ini." Aku hanya mendengar Nenek berbicara. "Kamu yakin betah tinggal di sini?" tanyanya membuat ku menoleh kearahnya.
"Kok Nenek bicara seperti itu, Nenek tidak suka ya Putri tinggal disini bersama Nenek, kalau begitu Putri akan pergi." Hana menundukkan kepala, jika dia harus pergi sekarang, dia pun tak ada tujuan.
"Bukan begitu Putri hanya saja Nenek merasa tidak mampu untuk memberikan kehidupan yang layak kepada mu kelak jadi kamu jangan sungkan jika nanti berubah pikiran." ucap Nenek sambil mengusap tangan cucunya itu.
Lalu nenek mengajak Hanna untuk duduk di bangku rotan di teras depan rumahnya.
"Apa Nenek tahu kehidupan ku sebelumnya, aku dititipkan oleh Ibu ku di Panti Asuhan. Tanpa Ibu memberitahu bahwa dia sedang sakit keras dan beberapa bulan Kemudian aku mendengar kabar bahwa Ibuku telah meninggal." Hana bercerita matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Maafkan Nenek Putri, pada saat itu Nenek sudah berusaha mencari Ibumu, tapi Nenek tidak berhasil menemukannya bahwa kenyataan jika dia telah mempunyai anak, Nenek juga baru tahu saat ini jadi mohon maafkan Nenekmu ini Putri" ucap Nenek mengusap bahu Hana yang mulai menangis, lalu Hana mengambil nafas dalam lalu menghembuskan mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Sudahlah Nek, kalau mungkin ini takdir Tuhan mempertemukan kita sekarang Putri sama sekali tidak merasa sedih justru Aku bersyukur karena mengetahui bahwa Putri masih mempunyai seorang Nenek" ucapnya menatap mata tua sang Nenek.
"Masya Allah nak betapa baik budi pekertimu, tutur kata dan sifatmu sama dengan Masita" Ibunya selalu mengajarkan Hana selalu diajarkan untuk bersyukur, dan saat di panti juga.
"Di luar sangat dingin, ayo kita cepat masuk, Nak." ucap Nenek yang membukakan pintu dan mengendong Hana untuk masuk bersamanya.
"Kemari lah Putri, ini kamar mu. Dulu kamar ini milik Ibumu, sekarang kau berhak untuk menepatinya" ucap Nenek yang memperlihatkan kamar berukuran sedang tapi terlihat rapi dan nyaman untuk di tempati.
"Kenapa bengong Ayo masuk, sejak Ibu mu pergi kamar ini tidak ada yang menempati, susunannya masih sama seperti dulu, Nenek tidak mau merubahnya, tapi jika kamu ingin silahkan"
Hana menatap semua yang ada dikamar termasuk beberapa foto lawas Sang Ibu saat masih kecil dulu, dan benar wajahnya sangat mirip dengan almarhum Ibu.
"Nek boleh Putri bertanya?"
"Silahkan sayang"
"Bolehkah aku tau siapa Ayah ku?" tanyanya ragu, Iya Hana tau dimana makam ibunya di kebumikan, tapi jika ayahnya telah meninggal sebelum ibunya dimana makam ayahnya, sampai saat ini Hana tidak pernah tau keberadaan nya.
Mak Minah menarik nafas panjang "Huff... lain kali kita akan membahasnya sayang sekarang mandilah dulu, nanti setelah itu baru kita makan, nenek mau masak dulu." ucap Mak Minah dia merasa bersalah akan masa lalu putrinya.
"Tapi nek-" Hana sebenarnya masih ingin tau, tapi dia tahan rasa penasarannya itu. Biar nanti dia akan coba tanyakan kembali pada nenek perihal Ayah kandungnya. "Eum.... Putri sama sekali tidak mempunyai baju, Pu-tri tidak membawa barang apapun." ucapnya pelan.
"Sepertinya di lemari Ibumu ada beberapa potong pakaian Ibu saat masih muda, Bukalah dan cobalah siapa tahu ada beberapa yang cocok denganmu."
Dilihat dari perawakan Hana dia lebih tinggi dari Masita harusnya baju May cukup untuknya. "Jika tidak ada yang cocok, Besok kita ke pasar untuk membeli beberapa potong pakaian untuk untuk mu."
"Terima kasih Nek, Putri akan mencobanya." ucap Hanna dengan ragu.
"Nenek ada di dapur untuk memasak kamu jangan sungkan, mulai sekarang anggaplah ini sebagai rumah mu sendiri."
Hana hanya mengangguk, kemudian menutup pintu setelah Neneknya pergi.
Hana membuka pintu lemari pakaian Ibunya dan melihat ada beberapa potong pakaian di sana Lalu mengambilnya.
"Ibu Hana rindu I-bu." Seketika Hana tak kuasa menahan kesedihannya kenapa dia harus kehilangan Ibunya sejak kecil, jika itu tidak terjadi mungkin dia lebih bahagia dan tidak akan pernah bertemu dengan keluarga Sanjaya.
Setelah beberapa jam Hana di dalam kamar, menangis dan merenungi nasib nya. Tapi karena perutnya sudah keroncongan di tambah tercium aroma masakan dari Neneknya, memaksa Hana untuk keluar dari kamarnya.
"Hum.. Wangi sekali Nek masak apa?"
"Nenek masak sayur daun singkong, Hanya ada ini kebun." Hana tersenyum begini saja dia sudah sangat bersyukur.
"Alhamdulillah masih ada yang bisa kita makan, Hana mau mandi, Kamar mandinya dimana, Nek."
"Kamar mandi ada di belakang sana." Nenek menunjuk lorong kecil di depannya ada pintu kayu.
"Hati-hati Hanna lantainya licin." Benar kata nenek, kamar mandinya licin, ini karena di tumbuhi lumut pada semennya. Bagaimana jika neneknya jatuh, Hana lalu mengambil sabun yang ada disana dan menyikat lantai kamar mandi tersebut, dia tidak mau terjadi hal buruk pada Nenek nya, karena kini hanya ada Nenek disampingnya.
Setelah mandi Hana masuk ke ruang Betapa terkejutnya Nenek melihat penampilan Hana.
"Putri kau benar-benar cucuku, Kau cantik sekali Hana memakai baju putih itu, baju kesayangan Ibumu."
"Benarkah Nek?!"
"Iya Nenek ingat sekali, saat Ibumu merengek waktu minta dibelikan baju itu kurang lebih usianya sebaya dengan mu." kata Nenek sambil menuangkan nasi dalam piring Hana.
"Oh begitu, terima kasih Nek untuk kenangan ini." Hana mengambil piring dari tangan Nenek.
"Nanti sering-sering cerita kan tentang Ibu yah Nek ke Putri." tukas Hanna bersemangat. Nenek sangat senang hidupnya kini tidak sendiri lagi, ada Hana yang akan menemaninya sekarang.
"Masakan ini enak, Putri bisa tambah gemuk nanti satu minggu di rumah Nenek." ucapnya memuji masakan Nenek padahal hanya sayur daun singkong dan beberapa potong tempe.
"Alhamdulillah.. Nambah lagi jika kau suka." Ucap Nenek lalu mereka makan bersama.
Setelah makan malam Hana kembali ke kamarnya untuk beristirahat, tak lupa Sebelumnya dia membentangkan sajadah untuk melakukan salat Isya. Di peluknya erat mukenah putih milik Ibunya itu sambil mengarahkan tangan kepada Allah.
Ya Allah.. jika menurut mu aku harus hidup di sini bersama dengan Nenekku, maka ikhlaskan lah hati Hamba untuk menerimanya, dan bantu hamba untuk menjaga dan membahagiakan nenek hamba di sisa usianya. Aku tahu Kau tidak akan memberikan cobaan yang tidak mampu di hadapi oleh hamba mu, aku percaya pada mu ya Allah. Doanya dalam hati.