"Sudah siap bersekolah Put?" sapa nenek melihat Hana keluar dari bilik kamarnya.
"Insyaallah Nek, doakan Putri ya." ucapnya menatap sampul pada buku tulisnya. "Oh iya Nek, sebenarnya Ibu memberikan nama untuk ku Hana Namira Putri tapi tak apa kan Nek jika aku mengubahnya, aku hanya takut jika memakai nama itu seseorang dari masa laluku akan menemukan ku." ucap Hana sambil menelan Saliva nya.
"Baiklah sayang, nama Putri cantik untuk mu?" Mak Minah yang sebenarnya sudah curiga sejak awal Hana meminta nya menulis namanya di Kartu keluarga dengan nama Putri Hana.Tapi Mak Minah tau jika pasti ada sesuatu yang dia takutkan jika ada seseorang yang mengetahui identitas aslinya.
Hana dapat bersekolah di SMA negeri terdekat karena bantuan dari Mang Asep, mang Asep cukup terkenal di wilayah ini, dia ramah dan supel terhadap warga lain. Dengan jabatan lurah mang Asep dengan mudah mendaftarkan Hana sebagai siswa yatim-piatu, dan mengatakan semua ijasah Hana tersapu oleh banjir bandang. Kepala sekolah yang prihati mendengar kisah Hana memperbolehkan Hana melanjutkan pendidikan hingga lulus jenjang pendidikan SMA.
***
Dua tahun sudah berlalu setelah Hana diperbolehkan melanjutkan pendidikannya, Hana makin giat belajar dia tidak mau mempermalukan neneknya di desa. Selepas pulang sekolah Hana bekerja membantu nenek di ladang, mencabut singkong dan memetik sayuran lalu di bawanya ke pengepul. Kini Hana berada di kelas tiga dan sebentar lagi dia akan lulus dari SMA.
"Nenek..." panggil Hana menuju ladang milik neneknya.
"Putri, ngapain kesini? Sudah pulang saja berat Putri biar Nenek saja" ucap nenek pada Hana ketika membantunya memindahkan karung yang berisi singkong dan ubi menuju ke tempat pengepulan.
"Putri masih muda nek, tenaga Putri masih kuat" Hana kembali mengangkat karung-karung tersebut. Tapi ketika Hana berjalan tiba-tiba kepalanya pusing. Dia beristirahat sejenak hal ini beberapa kali terjadi pasca kecelakaan yang menimpa Hana dulu.
Dia sering mengalami kejadian serupa, jika terlalu banyak berhadapan dengan sinar matahari. Saat penglihatannya mulai kabur, kepalanya akan pusing, dan penglihatannya gelap. Namun hal ini dia rahasiakan dari Nenek nya, Hana hanya tidak ingin Nenek mengkhawatirkan nya.
'Apa begitu penting status sosial harus dilihat dari siapa keluarga mu, dari mana kamu berasal dan bagaimana rupa mu'
Itu semua tidak ada pada ku saat ini. Tentu saja semenjak kecelakaan itu, Aku bukanlah lagi sebagai wanita yang sempurna jika dilihat dari luar.
Aku hanya gadis Yatim piatu yang hidup sederhana bersama seorang nenek.
Itulah yang tertanam dalam hati Hana saat ini, Setelah dia mengetahui beberapa kebenaran mengenai masa lalu kedua orang tuanya. Kenyataan mereka berasal dari keluarga yang biasa saja bisa dikatakan di bawah garis kemiskinan, tapi bukan itu yang membuatnya sedih, Hana hanya berfikir kenapa mereka menitipkannya di Panti Asuhan saat itu?
Kenapa mereka tidak memilih Hana untuk dibesarkan bersama keluarganya yang masih hidup, padahal dia masih memiliki seorang nenek. Dan mungkin saja dia juga masih mempunyai saudara dari pihak Ayahnya, tapi hingga saat ini Nenek belum mau membahas tentang Ayah Hana.
Apakah mereka malu dengan keadaan Hana, tapi pada kenyataannya banyak orang yang mengagumi kecantikan Hana. Tapi dia sendiri tidak pernah mau untuk mempunyai Anugerah seperti ini, karena kecantikannya dia dibenci oleh Ibu angkatnya sendiri, hal itu sangat menyakitkan untuknya sehingga harus berpisah dengan mereka sekeluarga.
Tidak mudah untuk Hana melupakan kenangan manis bersama mereka ya sudah dia rajut selama 10 tahun. Mengetahui fakta bahwa Mama Sanjaya sangat membenci Hana itu adalah luka terdalam sepanjang hidupnya.
Tidak dapat dia bayangkan jika suatu saat mereka bertemu dengan Hana kembali. Akankah Hana bisa meminta maaf atas kesalahan kedua orang tuanya padanya, kesalahan yang sama sekali Hana tidak mengerti.
"Aku akan berusaha menghindari mereka, Maafkan aku Papa, Mama, kak Galan, kak Gilang jika sampai saat ini aku masih mengingat kalian." bisik Hana lirih, tatapannya kosong. Hana mengingat kembali kejadian kecelakaan beberapa tahun silam. Dia ditemukan oleh warga lalu mereka membawanya ke rumah sakit sekitar, tapi karena rumah sakit terdekat penuh dengan pasien yang hampir sama nasibnya dengannya, lalu dia di rujuk ke rumah sakit yang jaraknya lebih jauh dari lokasi dimana dirinya di temukan.
Nafasnya sesak, karena sebagian lumpur masuk kedalam indra penciuman dan mulut Hana, Setelah itu Hana kehilangan kesadaran dan dia tidak ingat apa-apa yang terjadi. Yang dia tau saat tersadar seorang wanita paruh baya sudah ada di sampingnya sambil menangis, Hana bertanya padanya Apa yang terjadi pada dirinya dan meminta Nenek itu untuk melindunginya. Saat itu dia hanya mengangguk tanpa berkata pada Hana, sehari setelah di rawat keadaannya jauh lebih baik, lalu tanpa alasan Nenek meminta Hana untuk tinggal bersama nya.
Di Kampung desa terpencil tempat teraman untuknya saat itu, tinggal di rumah sederhana tapi sangat layak untuk kami tinggali.
Dari bayi sudah menjadi anak yatim membuat Hana terbiasa hidup dalam kesedihan.
"Memang harusnya aku seperti ini, seharusnya aku menolak untuk diadopsi oleh keluarga itu dan akhirnya malah menambah luka dalam hatiku." batin Hana.
"Putri kemari lah." panggil Nenek.
"Iya Nek." Jawabku langsung menghampiri Nenek yang berada di ruang tamu.
"Kamu sudah lulus SMA, apa kamu tidak ingin kuliah?" tanya nenek sambil mengelus tangan ku.
"Tidak Nek, Putri bekerja saja. kuliah itu pasti membutuhkan banyak biaya Putri tidak ingin menyusahkan Nenek." sebenarnya Hana ingin melanjutkan sekolahnya, Gurunya sangat menyayangkan karena hasil rapot Hana sangatlah baik, di SMA bukan hanya terkenal cantik tapi Hanna juga pintar, apalagi bakatnya dalam menggambar selalu mendapat pujian dari guru dan kepala sekolah. Beberapa hasil karya Hana menghiasi dinding Mading di sekolahnya.
"Putri ini ada sedikit uang tabungan nenek hasil jual sawah beberapa tahun lalu, gunakanlah untuk biaya kuliah mu."
"Tidak usah uangnya simpan saja Nek, Putri selama ini bisa tinggal di sini saja sudah sangat bersyukur, maafkan Putri jika sangat merepotkan."
"Nenek justru senang ada kamu yang menemani nenek di masa tua. Dengar ini perintah Nenek nak, kalau kamu masih menganggap aku sebagai Nenekmu ini, gunakanlah karena Nenek tidak mau menyesal untuk kedua kalinya." Mak Minah masih saja merasa bersalah pada kematian anaknya. Dia merasa umur nya juga tidak akan lama lagi, sudah sepantasnya semua harta miliknya jatuh pada Hana cucunya.
"Hana akan pikirkan Nek, sarapannya ada di meja, Hana berangkat dulu Alhamdulillah ada cucian di rumah Bu Galuh Assalamualaikum." ucap Hanna dengan tulus.
Setelah nenek selesai berbicara Hana lantas pamit untuk pergi bekerja. Dua tahun belakangan ini, setelah pulang sekolah dan hari libur Hana menawarkan jasa cuci dan gosok kepada warga sekitar yang membutuhkan. Walaupun bayarannya seikhlasnya tapi sedikit-dikit bisa dia simpan untuk keperluan dirinya sendiri. Hana hanya tidak ingin terlalu memberatkan beban neneknya.
"Anak malang." ucap Bu Minah, Hana bukan saja mirip dengan Masita tapi sifat baik anaknya turun pada cucu nya itu. Hanya saja Hana yang ini, terlalu menutup diri semenjak kecelakaan yang menimpanya. Dia takut bertemu orang banyak dan masa lakunya. "Mungkin kah sudah tepat bagi Putri untuk mengetahui kebenarannya." tukas Mak Minah, menggenggam jemarinya yang sedikit bergetar. Kebenaran yang Nenek tua itu simpan selama puluhan tahun.