Teriak matahari membasahi tubuh wanita muda yang berparas cantik, Putri Hana bukan saja terkenal di Desa karena kecantikannya, tapi sifat ramahnya membuat pemuda di desa ini mengaguminya. Nenek suka khawatir akan keamanan Putri, terkadang saat menerima tawaran kerja mencuci atau menggosok baju dari para tetangganya, Putri sering merasa ketakutan jika berada di dalam rumah itu sendiri. Beberapa kali Putri hampir menjadi korban pelecehan s****l yang membuatnya ketakutan, jika sudah begitu dia akan kabur dari tempatnya bekerja tanpa mendapatkan uang bayaran sedikitpun.
"Hiks.. hiks .." Hana buru-buru menyeka air matanya.
"Putri sudah pulang Nak, kenapa sayang? Apa terjadi lagi, kamu ngak apa-apakan tapi-?"
"Putri tidak apa-apa Nek, Alhamdulillah Alloh masih jagain Putri" Isak Hana lalu memeluk tubuh renta Mak Minah.
"Alhamdulillah, Gusti Alloh paringin Putri selamet." ucap Mak Minah bersyukur, dia menyesal tidak bisa terus menjaganya, dia tau ada yang tidak baik menimpa cucunya itu, beberapa kali Putri mendapat perilaku tak senonoh dari pria sekitar hanya karena keluarganya miskin, cucunya hanya bisa diam dan melawan sendirian.
"Nek, Putri mau pakai jilbab, nenek mau kan antarkan aku ke pasar? Putri mau beli beberapa potong jilbab."
"Hijab Putri yakin?" tanya Mak Minah dan di jawab anggukan oleh Hana dengan anggukan. "Alhamdulillah Nenek akan antarkan, semoga kamu Istiqomah dalam hijab mu bukan semata melindungi aurat mu dari gangguan laki- laki yang jahat dan orang-orang fasik, tapi yang utama itu karena ini perintah Alloh SWT." Hana kembali memeluk Nenek nya kali ini pelukannya sangat erat, seolah meluapkan kegundahan hatinya selama ini.
***
Keesokan harinya setelah pulang dari pasar, Putri tak juga melepas jilbabnya. Mak Minah tau betul apa yang dirasakan Putri, walaupun dia jarang bercerita kejadian buruk yang menimpa. Hingga cucunya memutuskan untuk mengenakan jilbab dan menutupi kecantikannya, tapi bagi Mak Minah kecantikan Putri justru lebih terpancar dan bersinar setelah mengenakan hijab nya.
"Anak malang." ucap Bu Minah, dia bukan saja mirip dengan Masita tapi sifat baik anaknya turun pada cucu nya itu. Hanya saja gadis yang ini, terlalu menutup diri semenjak kecelakaan yang menimpanya. Dia takut bertemu orang banyak, dan kurang percaya diri akan fisik nya.
Beberapa hari kemudian, setelah melaksanakan sholat subuh. Seperti biasa Hana menuju ke dapur untuk merebus air hangat, tak lupa dia membuatkan teh manis untuk diminum dirinya dan juga nenek.
"Putri kamu sudah bangun, Nak." kata nenek yang melihat cucunya sedang sibuk di depan tungku. kompor yang di gunakan disini masih sangat tradisional hanya menggunakan tungku dan kayu bakar.
"Sudah Nek, Alhamdulillah. Hari ini ujian masuk perguruan tinggi, doakan Putri yah nek, biar mudah mengerjakan nya dan bisa di terima di UNPAD." Nenek sangat terharu saat Putri akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah, dia hanya ingin melihat cucunya bahagia. Karena dialah satu-satunya keturunan Mak Minah yang tersisa.
"Iya sayang, Nenek selalu doakan yang terbaik untuk Putri, setelah sarapan pergilah jangan sampai terlambat." Setelah mencium tangan Neneknya dengan semangat Hana berjalan menuju jalan desa, dari sana diakan menaiki bus ke arah Leuwipanjang. Hana selalu menenteng beberapa buku yang dia akan baca saat perjalanan, semenjak SMA di Garut Hana semakin giat belajar, nilainya di sekolah juga cukup baik.
Sampai di terminal Leuwipanjang Hana lantas menaiki bus ke arah Jatinangor. Lumayan waktu yang dia tempuh menuju UNPAD dia berfikir mungkin akan kos saja jika di terima nanti. Saat di jalan banyak pria yang mengagumi kecantikan Hana, tapi saat Hana sudah menggunakan kacamatanya yang tebal, tidak tampak terpancar kecantikannya itu, di tambah lagi ada bekas luka pada dahinya yang membuatnya terlihat tidak sempurna.
Dari turun bus Hana masih harus berjalan kaki menuju tempat kesekretariatan penerimaan mahasiswa baru. Karena terburu-buru tak sadar Hana terjatuh dan buku yang dibawanya ikut berserakan.
"Hai.. calon mahasiswa baru ya, ini buku mu." ucap seorang gadis cantik dan stylist membuat orang tertarik untuk melihatnya.
"Amiiin, belum tapi semoga saja." ucap Hana merendah.
"Stella..!" ucap gadis itu sontak membuat Hana tertegun. Stella tentu saja nama yang tidak asing di telinga Hana karena nama itu adalah nama teman sebangku sekaligus sahabat dekatnya hingga Hana lulus SMP.
"Nama ku Stella, Kamu?" tanyanya masih menatap Hana, lalu mengulurkan tangannya.
"Aku Ha-na, Pu-tri Ha-na, panggil saja Putri." ucap ku sedikit gugup, dan menerima uluran tangannya.
Hana bisa bernafas lega karena Stella tidak mengenali wajahnya saat ini, 3 tahun mereka baru bertemu kembali. Stella makin tinggi dan cantik, rambutnya di warnai hitam kemerahan sehingga menambah seksi penampilannya sekarang.
"Putri? kalau begitu senang berkenalan dengan mu, ayo masuk ke mobil ku, kita satu tujuan bukan." ajak Stella pada Hana, tapi Hana masih terpaku di tempatnya.
"Ah.. tidak usah saya jalan kaki saja, seperti nya sebentar lagi sampai." ucap Hana menolak nya dengan halus.
"Mulai sekarang kita teman, jadi sesama teman bukannya kita harus saling membantu, Ayo!" Badan Hana di dorong oleh Stella dari belakang sampai ke mobilnya, jadi dengan terpaksa Hana masuk ke dalam mobil Stella.
"Kau ini lucu deh.. Eum Put, aku dulu juga punya teman baik yang namanya sama dengan mu tapi dia- sudah- hmm.. lupakan, btw kamu mau ambil jurusan apa?" tangannya terkepal kuat dan mulai berkeringat, Hana sangat takut jika Stella sampai tau identitas aslinya.
"Put- kamu ngak papa?" tanya Stella, bingung karena Hana hanya diam saja saat ditanya.
"Ah maaf, A-aku tadi sedang mengingat hafalanku. Aku rencana mau ambil teknik Arsitektur" jawab Hana berusaha menghilangkan ketakutan nya.
"Woou keren tuh kalo kamu sudah lulus, kedepannya juga menjanjikan" ucap Stella penuh dengan semangat.
"Kalau kamu Stella?" kali ini Hana memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku sebenarnya menyukai dunia medis, tapi keluarga ku meminta ku untuk mengambil jurusan Hukum, meneruskan usaha Papa" Iya Stella dulu pernah bercerita jika Papanya berprofesi sebagai seorang Notaris, pantas jika dia terjun ke arah sana.
"Sudah sampai, kita parkir disini saja yah jalan dikit ngak papa kan Put?" ucap Stella, dia tidak pernah berubah di mataku, Stella walaupun berasal dari keluarga berada tak pernah dia membedakan teman, hanya dia cocok saat dulu bermain dengan ku.
"Ya ampun Stel... jalan jauh aku juga sudah biasa kok, Makasih yah tumpangannya." ucapku keluar dari pintu mobilnya. Tapi Stella justru diam terpaku menatapku. Stella merasa sangat familiar dengan wanita yang baru saja dia temui.
"Stella Ayo cepat!" tukas Hana sedikit meninggikan suaranya pada gadis berambut kemerahan itu.
Stella segera tersadar, dan mengikuti jejak langkah Putri. 'Mungkin hanya mirip' batinnya.
Biarlah dia mengalihkan pikirannya dahulu, untuk fokus pada ujiannya hari ini. mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan ujian, bersama calon mahasiswa yang lain berjuang untuk masa depan mereka.