Teman Sebangku

1088 Kata
Setelah ujian selesai aku segera meninggalkan tempat itu, niatku ingin menghindari Stella. Tapi langkahku kurang cepat, karena gadis itu sudah berada di depan jalan dimana aku pasti akan melewati tempat itu. "Hana..." Sontak aku melirik kearah suara itu, ingin rasanya berlari menjauh tapi aku merasa tak enak hati pada Stella. "Mau pulang bareng?" tawarnya dengan ramah saat diriku sudah sejajar dengannya. "Maaf Stel, aku harus segera pulang, hari ini hari pertama aku kos di daerah ini, jadi masih harus berbenah dan lainnya" Jawabku berusaha menolak ajakannya. "Oh, jadi kamu kos wah asik dong aku bisa ikutan nginep di tempat kamu nanti" Aku melongo saat dia mengatakan hal itu pada ku. "Kamu- " "Iya kenapa?" "Eum... kosan aku kecil tau, kamu ngak akan betah nanti tinggal disana." "Loh bagaimana kamu tau aku berasal dari keluarga berada" Jawaban Stella seperti jebakan untuk ku. "Ah.. A-aku cuma menebak, maksudku seorang gadis menaiki mobil bagus pasti dia berasal dari keluarga ada." "Oh begitu yah, asal kamu tau ini bukan mobil milik pribadiku." "Eum.. terlepas dari apapun itu, aku harap kita lulus ujian hari ini" "Iya Aku kau benar, baiklah kalau begitu aku pulang" Dan Stella meninggalkan ku tapi sebelum itu kami berdua telah bertukar nomor handphone. Sampai juga di kosan kecil ku, rasanya capek sekali hari ini, dan hampir saja Stella mengenali ku. 'Humf bagaimana jika suatu hari dia mengenaliku, ya Tuhan apa yang harus aku lakukan.' Flashback Aku memasuki gerbang berhalaman luas. "Selamat Pagi Pak," sapaku sambil tersenyum kepada Pak Amet penjaga sekolah setiap pagi. Tahun ini aku memasuki sekolah menengah pertama. Aku dan Kak Galang bersekolah di tempat yang sama, karena memang kami kurang pintar di akademik jadi tidak bisa mengikuti jejak Kak Galan yang di terima di SMP unggulan. Dari pertama masuk Hana sangatlah populer karena kecantikannya dan sikapnya yang baik. Terlebih lagi dia adalah adik dari Gilang Sanjaya laki-laki terpopuler di sekolahnya. Bukan hanya tampang Gilang yang keren tapi dia merupakan atlet taekwondo dan ketua OSIS di SMP itu. Disekolah Hana mempunyai teman dekat bernama Stella, dia berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang, wajahnya juga tak kalah cantik dari Hana saat mereka berdua berjalan semua siswa disana mengaguminya. Awalnya Hana berfikir Stella mau bersahabat dengannya karena dia adik dari Kak Gilang yang sangat terpopuler di sekolah. Tapi ternyata Stella benar-benar tulus berteman dengan Hana, Stella bilang karena Hana ramah dan tidak sombong walaupun berasal dari keluarga terpandang di kota itu. "Na, Kak Gilang itu gimana orangnya." tanya Stella, keduanya sedang menonton pertandingan basket yang diadakan di lapangan sekolah, mereka berdiri dari lantai dua depan kelas mereka. "Iya gitu La." Hanna tersenyum ke arahnya. "Gitu gimana? Beruntung banget yah keluarga kalian Na, punya anak tampan kayak Kak Gilang, dan anak cantik kayak kamu." ujar Stella, matanya masih menatap kagum pada sahabatnya itu. "Emang kamu kurang cantik La" Hanna mengacak rambutnya kesal. "Tapi kan aku anak tunggal na, Gimana yah rasanya? kalau aku punya dua cowok tampan kayak kamu" kedua tangan stella menopang dagunya. "Alhamdulillah La, mereka sangat menyayangi ku, seperti adik, Ah - Adik yang harus di lindungi Hehehe" hampir saja aku keceplosan mengenai statusku. "Terus ngomong-ngomong Kakak pertama mu apa setampan Kak Gilang?" tanya Stella menatap Hana ingin tahu. "Namanya kak Galan, ehm... Gimana yah Aku tidak bisa menilai kadar ketampanan seseorang hanya di lihat dari fisik saja La." Ucapku sambil berkedip. "Ih kamu, buat aku penasaran aja Na" "Keduanya sama tampannya hanya saja sifat mereka berbeda, keduanya mempunyai kelebihan masing-masing." "Oh so sweet, kayaknya aku harus berkunjung ke rumah mu deh Na" Goda Stella yang sebenarnya telah jatuh hati akan pesona Kak Gilang. "Hahaaaa.... mo ngapain?" Hana yang bisa membaca Stella tak bisa menahan tawanya. "Mau kepo dong, terus siapa yang paling dekat dengan mu Na?" tiba-tiba Stella melemparkan pertanyaan yang sulit kepada Hanna. "Ehh... Kak Gilang kayaknya, dia suka bercanda dan humoris, jadi aku tindak sungkan bercerita padanya" Hana mengangguk membenarkan perkataannya. "Jangan-jangan kamu mau deketin Kakakku yah La" Stella lalu mendekap tubuh Hana dan memeluknya. "Hahahaha.... Ngak gitu juga Na, tapi aku mau coba" tawanya sambil berusaha melepaskan pelukan anehnya itu. *** Pulang sekolah adalah waktu yang Hana tunggu. Setelah menjemput Kak Galan dari sekolahnya, Mang Iki lalu menjemput Hana dan Gilang. "Cari siapa?" ucap Gilang melihat Hana celingukan. "Loh Kak Galan mana?" "Abang Lo lagi ada urusan, katanya tinggal aja tadi. Dia balik naik taxi online." "Oh gitu." padahal Hana sedih jika tidak melihat Kak Galan pulang bersamanya. "Siiiittt....!!!!!" tiba-tiba modil rem mendadak dan berhenti membuat orang yang ada di dalamnya hampir terjungkal. "ADUH... Ada apa mang Iki?!" tanya Gilang sedikit keras. "Anu den, itu ada orang di depan." "Ouch.. kamu ngak papa kan Na?" "Ngak papa kak!" "Orang siapa sih!" Gilang turun dari mobil dan memeriksa. Disana seorang wanita tersenyum dan melambai padanya. "Eh siapa Lu, kalau nyebrang hati-hati. Gw sama Adek Gw hampir mati gegara Lu!" ucap Gilang menunjuk pada wajah wanita itu. "STELLA?" pekik Hana kaget melihat sosok sahabatnya itu. "Kamu kenal Na?" tanya Gilang berdecak pinggang. "Eh, Teman Hana Kak" ucap Hana dan Gilang dengan kesal langsung meninggalkan mereka. "Ada Apa?" bisik Hana dengan cepat. "Na gw nebeng dong, supir gw ngak jemput! mobilnya mogok katanya." ucap Stella dengan nada cepat. "Oh bentar, gw tanya-" Hana mengetuk kaca mobil belakang dan bicara pada Kak Gilang. "Ngak Boleh, suruh dia nak taxi aja, atau angkot apalah terserah" belum juga Hana menyelesaikan ucapannya, Galang sudah menolak. "Ih Abang Lo galak banget yah!" Hana hanya meringis pada Stella merasa tak enak. "Ini kasihin Abang Lu yah" Hana menerima satu batang coklat berserta tulisannya. "Okeh, Sorry- yah sampai besok" bisik Hana sebelum pergi. "Ehm... ngak masalah sana cepat masuk." Stella mengibaskan tangan menyuruh Hana untuk segera kembali kedalam mobil. "Ini dari Stella." ucap Hanna. "Apaan nih, tuh kan cuma modus." lantas Gilang membuka bungkus kotak itu dan di dalamnya berisi coklat dan kartu ucapan yang isinya intinya Stella menaruh hari pada Kak Gilang. "Gila nih teman Lo berani bgt." "Stella baik loh Kak, cantik lagi." Hana mencoba menggoda Kakaknya. "Ogah gw mah sama cewek yang terlalu blak-blakan walaupun cantik. Mau Lo makan atau buat mang Iki" tanyanya. "Nyesel loh Kak, nanti kalo diambil orang." ucapku merampas coklat ditangannya. "Jiaahh kayak ngak ada cewek lain aja, lagian Abang Lo gampang cari cewek model beginian, cinta mereka ngak tulus Na cuma cari happy nya aja! Jangan mudah percaya." "Sejak kapan Kakak bener, tapi kayaknya Stella ngak gitu Kak, percaya deh." Hana berusaha meyakinkan kakaknya bahwa Stella bukan wanita seperti yang deskripsi kan Kak Gilang. "NO... Once no always No!" Dan perdebatan mereka pun akhirnya selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN