Seminggu setelah ujian berlangsung, Hana tidak berharap bahwa dia akan diterima karena melihat banyaknya calon mahasiswa baru yang mendaftar.
Hana memilih jurusan teknik arsitektur, jurusan itu yang Hana inginkan sejak dulu karena bakatnya dalam bidang seni dan lukisannya sangat bagus semenjak dia duduk di bangku sekolah, baginya dengan melukis dia bisa mencurahkan isi hatinya yang terpendam.
Hari pengumuman pun tiba nama Hana masuk sebagai salah satu mahasiswa jurusan teknik arsitektur, yang lulus seleksi ujian reguler dia mendatangi bagian administrasi untuk daftar ulang dan melunasi seluruh biaya.
Tapi ternyata uang yang Hana bawa hanya cukup membayar uang masuk perguruan tinggi tersebut dan semester saja, itu juga karena ada keringanan untuk biaya gedung karena dia adalah anak yatim piatu dan bukan dari kalangan orang berada. Sedangkan untuk biaya SKS dan praktikum Hana masih harus mencari lagi, untung saja kedua biaya tersebut bisa di cicil.
"Putri saran Bapak jika kamu mau belajarlah dengan sungguh-sungguh, dan mendapatkan IPK yang baik, berprilaku baik, kami dari pihak perguruan tinggi selalu memberikan beasiswa terhadap mahasiswa berprestasi, Bapak harap kamu salah satu diantara mahasiswa tersebut." ucap pak Wardi yang menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru.
"Baik Pak terima kasih informasinya Saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik pada setiap semester, saya permisi dulu Assalamualaikum." setelah keluar dari ruang staf sekolah Hana berharap bahwa dia akan menjadi salah satu mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa tersebut nanti.
Sejak mendaftar di Kampus tersebut, Hana pamit kepada nenek untuk kos di daerah sekitar kampus. Nenek tentu saja keberatan tapi jika harus di laju akan menghabiskan banyak uang dan waktu. Sehingga akhirnya Nenek mengijinkannya.
Dari kampus dia berjalan ke arah Kosan nya untuk berganti pakaian, berbekal ijazah SMA nya Hana mencari pekerjaan di sekitar kampus, tidak muluk-muluk dia akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan toko bunga.
'Ping' Hana mengambil ponsel pada meja belajarnya, lalu membuka aplikasi hijau.
Stella
Putri aku lulus, kamu gimana dah buka hasil pengumuman belum ?
Putri
Sudah Stel, Alhamdulillah aku lulus.
Stella
Wah kita satu almamater, good job see you, kapan registrasi ulang?
Putri
Sorry aku baru aja pulang dari kampus untuk registrasi ulang.
Stella
Wah pelanggaran, baik Put besok aku akan ke kampus untuk daftar ulang, orang tua ku pasti akan senang sekali, sampai ketemu di kampus terhebat kita.
Putri
See you too :)
Hana lalu merebahkan tubuhnya yang lelah seharian ini, dia mencoba memejamkan mata berharap keesokan harinya tubuhnya bisa kembali lebih fit dari sebelumnya.
Karena mulai besok dia harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang tambahan walaupun tidak banyak yang di hasilkan tapi dia rasa cukup untuk membayar uang kos dan makannya sehari-hari. Sementara sisa uang yang di berikan neneknya dia simpan untuk kebutuhan kuliahnya.
***
"Bismillah..." ucap Hana saat pertama kali menginjakan kaki di sebuah toko bunga yang berada tepat di pertigaan jalan besar menuju arah kampusnya, jadi tidak akan memakan waktu untuk bisa bolak balik ke kampus dan tempat kerjanya.
Pemilik dari toko bunga ini di kenal baik hati dan ramah, Bu Anwar namanya dia warga kampung lokal yang merintis usahanya dari nol.
"Assalamualaikum... Pagi Bu, saya siap bekerja hari ini." ucap Hana dengan penuh semangat.
"Walaikumsalam, pagi Putri wah kamu cantik sekali yakin mau bermain dengan tanah dan menjadi kotor." tanya Bu Anwar yang merasa Putri tidak akan bertahan lama bekerja di tempatnya, sama seperti gadis lainnya, Karena itu Bu Anwar sengan menerima pekerja wanita. Tapi Putri datang dan meyakinkan nya bahwa dia bisa bertanggung jawab, Bu Anwar yang melihat kesungguhan gadis itu pun merasa iba, sepertinya memang Putri sangat membutuhkan pekerjaan paruh waktu.
"Iya Bu, insyaallah jika tanah itu membawa keberkahan saya akan jaga tanaman Ibu dan merawatnya dengan baik."
"Masyaalloh Tabrakalloh semoga berkah untuk kita semua Amin, yuk ibu kenalkan dengan teman-teman yang lain" Putri mengikuti langkah Bu Anwar ternyata di belakang toko tersebut terdapat lahan luas yang di tutupi oleh jaring pada atapnya.
"Ini semua tanaman anggrek yang harus kamu perhatikan adalah paparan sinar matahari, kelembapan, dan sirkulasi udara tempat kita menanamnya." Bu Anwar menjelaskan pada Putri dengan lembut.
"Sebagian besar anggrek membutuhkan kelembaban tinggi untuk memenuhi kebutuhan air yang diserap, jika tidak kuncup anggrek tidak berkembang dan menghambat pertumbuhan vegetatif, serta menyebabkan daun menjadi keriput." Lanjutnya.
"Pokoknya semakin kamu mendalami, semakin kamu menyayangi tanaman disini seperti keluarga sendiri." Aku mengangguk berusa memahami arti dari ucapan nya, tapi jujur sat pertama kali aku sudah suka berada disini mereka hampir sama dengan ku hidup dan bertahan sendiri, jika bukan tangan manusia yang memeliharanya mungkin mereka akan jadi tumbuhan yang tak ada nilainya atau bahkan mati.
"Iya Bu, Putri suka dengan tempat ini, dilihat indah, terasa nyaman dan damai." ucap ku.
"Itu Pak Burhan dan Mang Dadang yang bisa kamu tanyai seputar pemeliharaan bibit angrek, dia sudah pakarnya di tempat ini, yang itu Mang Ipan driver disini bagian pengantaran pesanan." Ibu Anwar mulai mengenalkan ku dengan para pegawai disana.
"Asalamulaikum nama saya Putri, mohon bimbingan bapak dan Ibu semoga saya bisa cepat beradaptasi di tempat ini"
"Baik kalau begitu Ibu tinggal dulu yah, kalau sudah belajarnya di sini bisa ke depan bantu ibu bersih-bersih toko." tukas Bu Anwar segera berlalu meninggalkan ku dan yang lainnya.
"Sini Put, mau belajar dari mana dulu nih jenis-jenis anggrek, cara merawatnya atau apa?"
"Mang Dadang teh langsung gercep, jangan mau neng dia mah sudah punya istri."
"Ehm... Sama siapa saja yang penting mau ikhlas mengajari saya." aku menarik nafas panajang melihat kelakuan rekan kerja ku.
"Neng Putri kok mau kerja disini." Tanya Pak Burhan dengan ramah pada ku.
"Saya baru saja di terima di UNPAD Pak, tapi karena saya seorang yatim piatu jadi saya tidak punya banyak uang untuk bisa kuliah, alias maksa gitu, Nenek saya ingin liat saya bisa berkuliah."
"Masaalloh Neng mudah-mudahan digampangkeun, Bu Anwar teh orangnya halus, paduli insyalloh Neng Putri di bantu nanti."
"Amin Pak, insyalloh saya sudah janji sama Nenek semoga bisa lulus dan jadi sarjana di kemudian hari."
"Aamiin." ke tiga pria paruh baya itu ikut mengamini doa ku.
"Tuh Pan ulah terus kawin jeung cerai, malu sama umur." ucap Pak Dadang dan di ikuti tawa kamis semua.
Rasanya kalau dipikir aku harus banyak bersyukur dengan semua yang telah terjadi di hidupku, aku masih mempunyai seorang nenek tempat ku bersandar, aku masih bisa bersekolah dan kali ini alloh memberikan aku pekerjaan, bos yang baik dan juga rekan kerja yang sangat menyenangkan.