Sekian Lama

1181 Kata
Matahari terbit dengan sempurna hari ini dan sinarnya memancarkan keindahan wajah gadis cilik yang sudah mengenakan baju seragam sekolah barunya. Bismillah Hana sudah siap menatap hari baru nya, semoga saja dia bisa membanggakan keluarga ini dan membalas semua budi baik mereka, doanya sebelum dia keluar dari kamar tidur untuk menuju meja makan. Diatas sana telah terhidang lima porsi nasi goreng beserta telur ceplok sebagai pelengkap dan lima gelas teh hangat dengan asap mengebul di atasnya. "Pagi Hana, sudah bangun sayang, bagaimana tidurmu semalam?" Bu Santi menatap anak angkatnya itu dengan terpesona melihat bertapa cantiknya dia dengan seragam barunya. "Sudah mah, alhamdulillah tidur nyenyak semalam." Hana berbohong pada Ibu sambungnya itu, masa iya dia bisa dengan cepat tidur nyenyak di tempat yang baru dia tempati, walaupun itu adalah tempat ternyaman saat ini dalam hidupnya. Hana masih berdiri di pinggir meja makan tersebut, dia selalu menunggu keluarga yang lainnya untuk duduk, sebelum dia menduduki kursinya. "Pagi mah, pagi Hana wah baju seragam itu cocok sekali untuk mu, Nak." Ayah turun lalu mencium istrinya dan menyapa Hana, Hana membalas pujian papanya dengan senyuman, dan di belakang tuan Sanjaya anaknya yang lain galan dan gilang berjalan beriringan menuruni tangga. "Duduk Hanna kok masih berdiri." tegur Mama. "Iya mah" setelah semua bangku terisi Hanna baru menduduki bangku kosong di sebelah mamanya. "Makannya yang banyak Hanna jangan sungkan yah, ini hari pertama mu sekolah, belajar dan bermainlah disana, jika ada masalah bicara pada kakak-kakak mu ini." tuan sanjaya berkata pada hanna "Baik pah, Hanna mengerti." Jawab Hana, walaupun dalam hatinya dia berjanji tidak akan membuat masalah di sekolah barunya nanti. "Galan, Gilang tolong jaga Hanna yah, lindungi dia, jadi kalian berangkat dan pulang bersama mulai hari ini." ucap Papa pada kedua putra mereka. "Okeh Pah." hanya Gilang yang menjawab dan Galan hanya mengangguk pelan. 'Kriiiiiiiiiiiiiing...........!!!!' Alarm ku membangunkan ku dari kenangan masa lalu ku. Iya sampai saat ini aku masih saja mengingat masa laluku secara sadar atau melalui mimpi dan itu cukup menggangguku. "Pagi Bu, maaf saya terlambat." Ucap Hana pada Bu Anwar pemilik toko Bunga Florist. Tidak terasa sudah hampir 4 tahun aku bekerja sambilan disini jika hari biasa aku akan bekerja selepas pulang kuliah hingga jam 7 malam. Saat weekend aku bekerja di pagi hari hingga jam 3 sore. Cukup sulit memang bagiku membagi waktu untuk kuliah dan bekerja tapi jika tidak aku lakukan mungkin aku tidak bisa bertahan sampai saat ini. "Masih 5 menit dari jam 8 Nak, tidak masalah." Ucapnya lembut, bagiku bu Anwar sudah ku anggap sebagai orang tua ku sendiri karena di kota ini aku tidak punya sanak keluarga, aku sangat amat menghormati dan menyayangi nya. "Terima kasih Bu, saya masuk dulu." Hana memasukan tasnya dalam loker, lalu memakai celemek. Banyak toko bunga memang di daerah sini, tapi hanya toko ini yang paling besar dan banyak menyediakan berbagai macam tanaman hias terutama bunga anggrek. Disini juga menyediakan jasa membuat buket bunga untuk acara special, karangan bunga untuk ucapan pernikahan, berduka dll. "Put tolong pindahkan bunga mawar itu ke pot yang lebih besar." ucap Ibu Anwar pemilik toko bunga tersebut. "Baik Bu" Hana dengan tanggap mematuhi perintah Ibu Anwar, memasukan krikil, media tanam, pupuk dan tanah lalu memindahkan bunga mawar ke tempat barunya yang lebih besar. Cacing, serangga, kotoran hewan sudah menjadi temannya. "Hana sarapan dulu yuk, ibu tadi beli nasi uduk dua bungkus." ujar Bu Anwar menyuruh Hana duduk menemaninya sarapan. "Baik Bu, saya rapikan ini dulu yah, sebentar lagi Hana menyusul." "Hana, setelah lulus kamu sudah pikirkan ingin bekerja di perusahaan mana? Ibu dengar nilai IPK mu cukup baik." tukas Bu Anwar sambil menyendokkan nasi uduk pada mulutnya. "Saya tidak mau jauh dari nenek saya sebenarnya Bu, mungkin saya akan mencari pekerjaan di sekitar desa saya." "Bukannya Ibu mau ikut campur, tapi sangat disayangkan ijasah mu jika kamu tidak pergunakan dengan baik, jika bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik, ibu rasa Nenek mu tidak akan keberadaan jika kamu pergi ke Ibu kota." ucap Bu Anwar, aku tau dia mengerti isi hati ku, tapi 4 tahun ini aku sudah meninggalkan Nenek untuk berkuliah, bagaimana aku tega meninggalkannya lagi sedangkan kondisinya sudah semakin renta. "Ehm.. iya Bu, Putri mengerti. Nanti saat pulang ke desa Putri coba bicarakan dengan Nenek." Ucapnya sambil mengulas senyum. "Eh seperti nya ada pelanggan datang, sudah kamu habisi dulu, biar Ibu yang melayani." Bu Anwar bergegas ke depan menjamu pembeli yang datang. Dengan cepat Hana melahap habis makanannya dan merapikan meja tempat mereka tadi makan. Saat Hana keluar kaki nya lemas, karena melihat tamu yang datang. Walaupun sudah kurang lebih 7 tahun mereka tidak berjumpa rasanya tak banyak yang berubah dari wajah mereka, hanya Papah terlihat lebih kurus dari terakhir Hana ingat. "Put kemari!" Panggil Bu Anwar, dengan panik aku membenahi kacamata lalu mengambil masker untuk menutupi sebagian wajah ku, aku takut mereka akan mengenali ku. "Putri tolong ambilkan anggrek bulan putih dan ungu yang terbaik." "Ba-baik Bu." dengan linglung aku berjalan menuju ruangan anggrek. Ya Alloh tolong jaga aku, tolong lindungi aku, jangan sampai mereka mengenali ku saat ini, sungguh aku belum siap. "Mawar ini bagus juga yah Pah." ucap Ny. Santi. 'Kurasa Tuan dan Nyonya Sanjaya tidak mengenali ku atau memang mereka mungkin telah melupakan ku' batin Hana dalam hati, dengan sedikit gemetar Hana menaruh dua bunga anggrek di hadapan mereka. "Woow bagus banget anggreknya, saya ambil ini semua." Ucap Bu Santi matanya tak lepas dari bunga anggrek bulan itu. "Baiklah bungkus Put, terus kamu masukan ke bagasi mobil mereka." Aku hanya mengangguk, lalu mengangkat bunga anggrek menuju bagasi. "Galan buka! tolong bukakan bagasi belakang." Ucap Tuan Sanjaya yang mengetuk kaca mobil. Deg seketika aku membeku, tapi dadaku bergemuruh saat nama itu di sebut 'Kak Galan bagaimana rupa mu sekarang kak?' aku memandangnya dari belakang, air mata ku tiba-tiba saja menetes. 'Aku sangat merindukan mu kak' ucapku dalam hati. "Aku juga sangat merindukanmu." Ucap kak Galan, sontak membuat ku menatapnya. "Iya nanti malam aku ke rumah mu Jesy, Bye." sambungnya lagi pada lawan bicara nya di ponsel. Air mataku lolos begitu saja. Harusnya aku sadar ucapan itu selamanya tak akan aku dengar dari pria itu, aku cukup tau diri dan kelak tak akan masuk kedalam keluarganya lagi. "Mbak! Taruhnya yang rapi yah mbak, tanahnya jangan berhamburan kotor nanti." aku tak menjawab ucapan kak Galan, aku merekam suara yang sudah 5 tahun tidak lagi ku dengar. "Mbak...! malah bengong lagi!" ucap Galan membuka pintu depan mobilnya lalu berjalan menghampiri ku. "Eh udah belum mbak masukin nya, lama banget! Sini saya saja!" dia merebut pot bunga yang bersi tanaman anggrek itu dari tangan ku, lalu aku tersadar saat mata nya melihat ke arah ku, lalu ku tarik pintu bagasi agar tertutup kembali. "Ada apa sih lan teriak-teriak." ucap pak Sanjaya menegur kak Galan. "Cepat Pah, Galan ada janji sama Jesy." ucapnya meninggalkan ku yang masih berdiri menatap Papa "Ini nak tips nya, terimalah." pak Sanjaya mengulurkan uang kertas biru kepada ku, aku mengambilnya lalu menempelkan tangannya pada kepalaku. "Eh, kenapa Nak" aku hanya menunduk kan kepala lalu pergi meninggalkan mereka. Papah maafkan Hana, semoga kalian selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan dunia akhirat. ucapku sambil menahan air mataku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN