Gantungan Kunci

1233 Kata
Di semester akhir ini semua ujian dan ujian praktik yang harus Mahasiswa lewati untuk mendapatkan gelar sarjana sesuai pendidikan yang mereka tempuh. Tak hayal Putri yang mencoba mendapatakan nilai baik bahakan sempurna di setiap ujian. Di kampus ini Putri memang tidak terlalu populer dan tak banyak memiliki teman, karena dia selalu saja merasa kurang nyaman saat bersama mahasiswa lain tentu saja faktor ekonomi yang membuatnya merasa tidak percaya diri. Jika mahasiswa lain mengajaknya untuk belajar kelompok sambil nongkrong di kantin, Sedangkan dia lebih memilih menahan rasa laparnya demi menyantap semangkuk mie instant di kos an. Tapi tidak dengan hubungan Putri dan Stella yang dari tahun ke tahun semakin dekat, Stella merasa Putri lebih mengerti dirinya di banding keluarga dan temannya sendiri. Bahkan di semester terakhir ini mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama. dan Stella mulai uring-uringan, beberapa waktu belakangan ini mereka jarang bisa bertemu karena sibuk dengan praktikum kuliah masing-masing. "Emang beneran si Putri mau datang?" Tanya Gilang pada kekasihnya, Gilang blm pernah sekalipun bertemu dengan Hana, Stella mengajaknya beberapa kali tapi karena satu lain hal mereka tidak bisa bertemu. "Iya, bilangnya sih gitu! Udah sana pergi aja, Aku ngak papa nunggu sendirian" "Kakak temenin deh, sampai Putri datang, Ngak usah nanti dia minder liat kakak lagi, udah sana! nanti kak Galan marah cemberut kalau sampai terlambat rapat gara-gara Stella." "Hahaha.... Iya sayang, kali ini ngak akan telat lagi. kamu ngak akan di teror lagi sama Galan si pemarah itu." "Ih kok gitu sama Kakak sendiri." "Ah.. Andai kamu kenal dia yang dulu, mungkin kamu naksir nya sama Galan." "Yang bener...?" "Kakak ku ini, sangat berbeda dengan Galan yang sekarang.. Oke nanti Aku hubungi jika rapat sudah selesai." "Ehm hati-hati dijalan." Gilang mengecup kening Stella sebelum beranjak pergi. Beberapa menit kemudian seseorang yang di tunggu Stella datang. Diliat dari jauh tidak ada yang spesial dari gadis ini, penampilannya yang sangat biasa di mata kaum laki-laki. Putri selalu mengenakan bajunya yang kebesaran, dengan jilbab menutupi bagian dadanya, saat berbicara kepalanya selalu menunduk seolah menyembunyikan sesuatu yang kurang pada wajahnya. Memang hana pernah bercerita pada dahinya terdapat luka jahitan yang cukup panjang, saat kecil dia terjatuh dan dahinya terkena pinggiran dahan pohon yang terbuka. Mungkin itu yang membuatnya tidak percaya diri batin Stella. Tapi itu tidak berlaku untuk Stella, karena beberapa orang yang mau bermain dengan stella hanya memanfaatkan kekayaan dan kuasanya, berbeda dengan Putri walaupun hidupnya kekurangan dia tidak pernah sedikitpun mengeluh dan meminta belas kasihan pada Stella. Itulah yang membuat Stella nyaman bersahabat dengan Putri, dia juga tidak suka menjelekan orang lain, hanya energi positive yang di pancarkan oleh gadis manis itu. mereka sering berdiskusi walaupun bukan dari fakultas yang sama. Putri sering bertanya dan memberi solusi akan tugas Stella, Iya stella sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dan sepintar Putri. "Put di sini." Stella memanggil putri kepalanya celingukan mencarinya "Sudah lama ya, Sorry...." ucap Putri, dia sudah memberitahu pada Stella bahwa dia akan terlambat karena harus menyerahkan tugas praktikum kepada dosennya siang ini juga "Lumayan tapi tenang aja, tadi aku nggak sendiri kok aku ditemenin sama Kak Yoga" Hana tersenyum melihat rona merah di pipi sahabatnya itu, yang dia tau Yoga adalah kekasih dari Stella. "Ya telat dong aku nggak ketemu dia lagi." Goda Putri. "Jangan Nanti kamu naksir lagi sama dia." tukas Stella "Hahaha segitu bucin nya sih Stel, Kak Yoga kamu ngak akan lah naksir sama cewek macem aku" "Ih, siapa bilang, kamu coba buka jilbab kamu, terus pake baju seksi siapa yang mau nolak" Stella berdecak seakan menyamakan semua lelaki sama. "Astagfirullah Stella" Hana berbisik mencubit lengan temannya itu. "Aduhh.... hihihi Sorry cuma bercanda, kamu tuh cantik Put, ngak harus pakaian terbuka kecantikan kamu sudah terpancar. Kamu aja yang ngak percaya diri." "Eh, ngak usah muji aku ngak akan Geer!" "Sumpah aku ngak bohong, aku saja sampai saat ini belum bisa menutupnya seperti kamu." "Tidak perlu menunggu kapan kamu bisa, jika mau sekarang pun bisa, itu yang dikatakan hidayah." "Hmm.... Kau benar." "Gimana ngak ada remedial kan untuk semua ujian praktik" tanya Hana sambil memesan minuman. "Ngak dong, aku benar-benar ngak kencan dengan Kak Yoga sebulan ini, dia sampai uring-uringan Hahaha." "Hihihi iya cepat habis lulus minta Kak Yoga halalkan biar berkah." "Katanya dia ngak mau melangkahin Abangnya... Duh-duh nitip dulu Put.. aku mau ke toilet." "Kenapa Stell." tanpa menjawab Stella segera berlari menuju ke arah toilet, tanpa dia tidak menyadari menjatuhkan sesuatu dari pangkuannya. "Apa ini, Bukankah ini?" Putri mengambil benda tersebut, jantungnya berdetak tidak karuan bukan dompet Stella yang membuatnya terkejut melainkan gantungan yang ada pada dompet tersebut. 'Mungkinkah Kak Yoga Stella adalah Gilang Prayoga?' batin Putri, dia termenung dan teringat kembali kenangan bersama kak Gilang. Flasback  "Put- putri kok bengong sih." Stella yang melambaikan tangan di depan wajah Putri. "Oh, maaf kamu sudah kembali?" jawab putri dengan gugup. "Tau nih perut ku tadi tiba-tiba melilit, dompet ku." Stella mengadakan tangannya pada Putri. "Ah ini" ucap Putri, lalu memberikan pada Stella. "Stella gantungan kunci itu." tanya Putri menunjuk pada benda kecil itu. "Oh ini tadi Kak Yoga menjatuhkannya sebelum pergi." Stella berkata sambil memainkan gantungan kunci itu dengan tangannya. "Jadi Itu milik Kak Yoga?" "Iya benar, lucu kan dia bilang adiknya yang memberikannya." "Adiknya, Bukankah kamu bilang pacarmu hanya punya seorang kakak." "Oh aku lupa cerita Put, jadi dulu keluarga Kak Yoga pernah mengadopsi anak bernama Sama denganmu tapi dia sudah tiada. Bahkan aku sempat menjadi sahabatnya saat kami duduk di bangku SMP yang sama" "Apa dia meninggal?" Tanya ku "Sepertinya iya karena jasadnya sudah tidak bisa dikenali lagi, setau ku dia menjadi salah satu korban banjir bandang di Subang 7 tahun yang lalu, Ah sudahlah aku tidak ingin mengingat hal itu lagi. Kenangan dengannya membuat aku dan Kak Yoga sangat terpukul" ucap Stella dengan berkaca-kaca. "Ah maaf kalau begitu." Ucapku, tidak mau terlalu mengungkitnya karena akan sangat menyakitkan bagiku. "Putri apa kamu sedang memikirkan setelah lulus kamu akan bekerja di mana." "Mungkin aku akan kembali ke kampung halamanku untuk merawat nenek ku, sembari Aku mencari pekerjaan untuk ku, Karena sejujurnya aku sangat berat untuk meninggalkan nenek ku. Aku malu Stel sampai saat ini aku belum bisa membahagiakan dia" "Bagaimana dengan aku Put, bahkan sampai saat ini aku hanya bisa menyusahkan kedua orang tua aku saja. Andai aku merasakan susah seperti mu mungkin aku baru sadar betapa berharganya uang. Saat ini aku hanya bisa menghabiskan uang dan semua yang ku mau pasti dengan mudah ku dapatkan." "Tidak begitu Stella, bersyukurlah kamu karena lahir dari keluarga yang berada dan terhormat." "Aku takut jika suatu saat perusahaan Ayahku akan collab jika aku yang menjadi pemimpinnya, Bagaimana nasib keluarga ku dan para karyawan nanti." "Tenang belajarlah belahan-lahan aku yakin dengan kemampuan mu, keahlian mu semua bisa kamu atasi. Kamu itu cantik penuh percaya diri, aku yakin kau akan mempertahankan seluruh aset keluargamu Percayalah." Putri menggenggam tangan sahabatnya itu dengan tulus. "Oh kau memang sahabat terbaik ku, terima kasih banyak atas dukungan mu selama ini." Stella membalas dengan memeluk Putri dengan erat. "Kamu pikir.. mau nyaleg?" Putri membalas pelukan sahabat itu. "Hahaha Putri Aku serius!" Stella kesal dengan candaan Putri. "Kalau begitu, aku Darius Hahaha." Minggu ini setelah ujian tulis nginap di rumah ku yah pokoknya. "Insyallah, kalau aku bisa ijin kerja yah belakangan ini pesanan buket bunga lumayan banyak, kasian Bu Anwar kalau harus kerja sendirian" "Pokoknya luangkan waktu aku mau adakan syukuran kecil-kecilan." "Ehm... akan ku usahakan." ucap Putri, dirinya merasa cemas karena takut bertemu dengan kak Gilang dan keluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN