"Mbak Dia, kandungannya sehat, bulan depan di bawa kontrol lagi ya mbak" kata dokter yang memeriksaku.
"Baik dok" setelah selesai dan membayar biaya administrasi, aku dan adikku pulang. Sebelumnya kami mampir di sebuah mini market untuk membeli cemilan. Tak lupa kami membeli nasi padang untuk makan siang kami, aku ingin makan nasi padang, semoga saja mbok suka.
Selesai makan, aku dan Clarisa menonton televisi di temani dengan cemilan yang kami beli. Aku juga mengajak mbok nonton bersama karena pekerjaannya sudah beres. Awalnya si mbok menolak, tapi aku tetap memaksanya. Sesekali kami berbincang dan tertawa bersama. Kami seperti ibu dengan dua anak saja, aku sedikit melamun membayangkan ketenangan kami bertiga. Tiba-tiba lamunanku buyar mendengar bunyi handphone adikku.
?"Hallo ibu"
?"Hallo nak, bagaimana kabar kalian disana? Kami sangat merindukan kalian"
?"Kami baik-baik saja bu, kami sedang nonton. Ibu bicaralah dengan kakak". Clarisa memberikan handphonenya padaku.
?"Hallo bu, bagaimana kabar ibu sama ayah?"
?"Kami baik-baik saja nak, kalian harus jaga diri baik-baik disana. Ingat nak, jangan pernah bertengkar dengan adikmu, dan juga jaga kesehatanmu dan kandunganmu"
"Baik bu, Clarisa baik kok bu. Hanya saja sesekali dia melawan, akhirnya aku menjitaknya, hehe" Clarisa langsung memukulku. " Bohong bu" teriaknya.
?"Ini ayah mau bicara", terdengar ibu sedang memberikan handphone pada ayah. "Hallo nak"
?Hallo ayah, aku mencintaimu" seketika air mataku menetes.
"Ayah juga mencintaimu nak. Jaga dirimu baik-baik dan juga kandunganmu seperti kata ibumu. Baik-baiklah dengan adikmu. Ingat nak, apapun yang terjadi kau harus kuat. Ayah yakin, anak-anak ayah kuat" terdengar suara ayahku seperti menahan tangis.
?"Pasti ayah, aku akan selalu mengingat pesan ayah dan ibu" kataku menenangkan ayahku.
?"Yasudah ya nak, ayah mau kerja lagi"
?"Baik ayah, nanti kami pulang setelah Dia lahiran"
Sambungan teleponpun terputus, aku melanjutkan menonton TV bersama Clarisa dan si mbok.
Sudah seminggu Rei tidak sarapan dan tidak makan di rumah, mungkin dia tidak tahan lagi atau tidak punya uang lagi. Rei menghampiriku uang sedang duduk di taman belakan bersama Clarisa.
"Dia, kenapa kau begitu santai sementara tidak ada makanan di rumah?" katanya langsung pada intinya.
"Lalu?" tanyaku santai.
"Kau masih bertanya? Harusnya kau sebagai istri harus menyiapkan makanan. Karena kita ada pembantu, harusnya kau mengontrolnya untuk memasak makanan." dia mulai kesal.
"Oh ya?" aku masih santai.
"Dia, jangan membuatku jengkel. Aku lapat, aku tidak mau berdebat." dia mulai emosi. Aku berdiri dan menyilangkan kedua tanganku di d**a,
"Ya, harusnya aku sebagai istri menyiapkan makanan. Benar bukan?" tanyaku membuatnya bingung. "Dan harusnya kau sebagai suami harus memberikan nafkah, karena kau bekerja untuk menafkahi anak dan istrimu. Harusnya kau memberikan uang belanja supaya aku bisa belanja dan menyiapkan makanan untukmu, tapi kau malah memberikannya pada lampir itu." aku menarik nafas. "Kau lapar kan? Pergilah meminta makan pada mamamu yang sudah kau berikan uang belanja. Bukankah kau sudah memberikannya uang belanja? Jadi mintalah makan pada mamau. Jangankan untuk menyediakanmu makanan, untuk makanku dan anakmu saja apa kau memberikan uang? Bahkan aku tak bisa memeriksa kandunganku karena aku tidak punya uang. Apa aku harus meminta ibu dan ayahku untuk menafkahiku, hah? Lalu apa gunanya kau sebagai suami? Apa kau tidak punya malu b******k? Sana pergilah pada mamamu, kau selalu ada di bawah ketiak mamamu. Dan lagi, sudah berapa kali aku bilang, pikirkan matang-matang sebelum kau menuduhku, atau kau akan semakin menyesal." aku membuang nafas kasar, "Ayo masuk Clarisa, sungguh menghilangkan mood ku saja" aku masuk meninggalkan Rei, Clarisa hanya mengekoriku dari belakang. Kami masuk ke kamar Clarisa, aku tidak mau ke kamarku. Aku takut jika melihatnya, membuat darahku mendidih lagi.
Rei Pov
"Sungguh aku tidak tahan lagi, arghh" aku mengacak-acak rambutku. Ku ambil kunci mobil, aku melajukan mobilku dengan cepat menuju rumah orangtuaku.
"Mama" teriakku. Aku langsung menuju dapur, hanya ada telor dadar disana. Aku tidak peduli apapun, persetan dengan orang rumah yang entah kemana. Yang jelas aku sangat lapar dan aku ingin makan. Aku makan sangat lahap sampai-sampai aku tidak mendengar mama dan adikku datang menghampiriku.
"Astaga kakak, kau seperti orang kelaparan saja. Sudah berapa tahun kakak tidak makan?" tanya adikku.
"Apa kau tidak di beri makan oleh perempuan itu makanya kau datang kemari? Sudah punya istri tapi tidak punya tanggung jawab. Seharusnya dia menyediakan makanan enak untukmu, sekarang terbukti kan apa kata mama. Jadi kamu mau menunggu apalagi Rei, cepat ceraikan istrimu. Cari wanita lain, banyak kok wanita di luar sana yang mau jadi istri kamu, bahkan anak orang kaya sekalipun. Mama yakin bukan hal yang sulit untukmu mencari pendamping lagi." mamaku menimpali. Aku sudah selesai makan.
"Sudahlah ma, bisa kan tidak bahas itu, aku capek jika harus berdebat terus dengan mama dan istriku. Dirumah aku pusing, aku kesini untuk mencari ketenangan" kataku.
"Memang susah bicara denganmu. Kenapa kau datang kesini hanya untuk makan? Apa benar istrimu tidak menyediakan makanan untukmu?" aku mengangguk. "Dasar istri kurang ajar, itulah kau terlalu memanjakan istrimu. Apa hak dia tidak memberimu makan sementara kau sudah banting tulang mencari nafkah, hah?" tanya mamaku penuh emosi.
"Karena aku tidak memberikan uang belanja" jawabku jujur.
"Karena itu saja sudah bertingkah seperti ini? Bagaimana orang di luar sana yang harus banting tulang sementara suaminya tidak bekerja? MENYEBALKAN"
"Yah harus gimana lagi ma. Tentu Dia tidak belanja karena tidak punya uang. Apa yang harus di belanjakannya, kan uang belanja sudah ada sama mama. Lagian tidak mungkin Dia menafkahiku sementara aku yang bekerja, lain cerita dengan orang yang di luar sana, si istri yang menafkahi karena suaminya tidak bekerja. Aku kan kerja ma" jawabku.
"Sekarang kau mulai menjawab mama ya" aku menunduk. "Kalian tidak ada penghasilan karena harus membayar hutang, makanya suruh istrimu bekerja seperti perempuan di luar sana. Kau termasuk orang yang tidak bekerja karena tidak mendapat gaji lagi, jadi tidak salah jika istrimu bekerja, jangan malas-malasan."
"Ma, Dia hamil besar. Tidak mungkin dia bekerja, apa kata orang nanti"
"Persetan dengan perkataan orang-orang, yang penting bisa dapat uang. Kalau istrimu tidak bisa bekerja, bilang saja pada istrimu untuk meminta uang pada orangtuanya, simpel kan?"
"Ma, jangan membuatku semakin rendah, apalagi di depan mertuaku" katakuedikit memohon.
"Memang kamu sudah rendah kan? Semenjak kamu menikah dan melawan kata-kata mama, sejak saat itulah kau terlihat rendah." aku membuang nafas kasar.
"Sudalah ma, aku mau pergi ada urusan." kataku berbohong.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, pikiranku melayang-layang memikirkan semua kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Terlalu sibuk dengan fikiranku, aku tidak fokus mengendarai mobilku. Hingga akhirnya aku terkejut melihat seseorang menyebrang tepat di depaku, secepat kilat aku menginjak rem tapi apa yang terjadi?
Cittt..brak...