16. Mabuk

1246 Kata
Rei Pov Aku duduk di sebuah club malam yang tak jauh dari rumah. Setelah mamaku pulang, aku memilih kesini untuk menenangkan fikiranku. Aku bingung dengan semua yang terjadi. Aku fikir dengan menikahi Claudia, semua masalah akan selesai dan kami bisa hidup bahagia. Tapi nyatanya masalah semakin rumit. 'Apa aku salah telah menikahi Claudia? Apa karena aku menikahi Claudia makanya nasibku sial?'batinku. "Arghhhh" aku mengacak rambutku, dan tiba-tiba teman-temanku muncul. "Rei, tidak biasanya kau minum" kata salah satu temanku. "Aku pusing, semenjak aku menikah, masalah datang bertubi-tubi padaku." kataku. "Lagian kenapa mau menikahinya? Kau melewatkan masa mudamu. Harusnya kau menikmati masa mudamu dulu dan bersenang-senang seperti kami, tapi kau malah memilih bertanggung jawab dan menikah. Makanya Rei, terkadang kita perlu kejam dan tidak memikirkan orang lain. Seperti kau sekarang ini, terlalu memikirkan hidup pacarmu dulu, yang akhirnya membawa masalah besar padamu. Akhirnya apa, kau sendiri yang mendapatkan beban hidup yang begitu berat. Lain kali jangan terlalu baik jadi orang, sesekali kita bisa jadi jahat, daripada begini?" celoteh salah satu temanku. "Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Lagian aku begini karena kalian sialan, kalau saja kalian tidak memberikan obat perangsang padaku, aku tidak akan begini" kesalku. "Siapa suruh kau melakukannya dengan pacarmu? Kami ingin kau bersenang-senang dengan wanita-wanita sexi yang ada disini, kau saja terlalu bodoh mau di perbudak cinta. Entah apa yang kau lihat sampai-sampai kau takut membuat pacarmu kecewa" "Arghh" aku mengacak-acak rambutku dan membuang nafas kasar. "Sudahlah, aku ingin melupakan masalahku. Aku kesini untuk menenangkan fikiranku, bukan malah membuatku semakin gila" aku meneguk minumanku. Akhirnya aku mabuk, karena aku sudah minum terlalu banyak. Teman-temanku mengantarku pulang, karena aku tak sanggup lagi membawa mobilku. Jangankan membawa mobil, berjalan saja aku sudah sempoyongan. Claudia Pov Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, belum ada tanda-tanda kedatangan Rei. Bukannya aku merindukannya, tapi aku sedikit takut terjadi apa-apa padanya. Biar bagaimanapun, dia adalah suamiku meskipun dia itu b******k. Tak lama aku mendengar suara mobil Rei, aku tidak berniat untuk turun. Jika aku turun, bisa saja dia semakin seenaknya padaku dan merasa aku sangat mencintainya dan berfikir aku akan mengalah padanya. Brak.. Terdengar suara keras saat Rei membuka pintu kamar, aku pura-pura tidur dan memunggungi ke arahnya, mungkin dia sedang gila. Tak lama aku mendengar seperti ada yang jatuh di ranjang, namu aku tidak mendengar sedikitpun suara keluar dari mulut Rei. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, aku berbalik badan dengan masih berpura-pura tidur. Belum juga ada reaksi dari Rei, akhirnya aku mencoba membuka sedikit mataku. Aku melihat Rei sudah terkapar di ranjang, sontak aku kaget saat mendengar dia berbicara, "Dia, kau ini b******k kau tau itu?" mataku terbelalak. 'Kau yang b******k, beraninya kau mengataiku b******k. Kau yang memiliki sifat turunan dari lampir itu' batinku. "Kenapa kau begitu pembangkang? Kau tidak menghargaiku" dia menunjuk-nunjuk keatas, seolah-olah dia sedang berdiri dan aku ada di hadapannya. 'Heh sialan, kalau kau ingin di hargai, hargai juga orang lain. Bahkan kau tak pernah menganggap aku ada kalau ada lampir itu' batinku. "Kapan kau akan mengerti aku Dia, kapan? hiks..hiks." 'Ternyata si b******k ini bisa nangis juga' batinku. "Kenapa kau selalu melawan mamaku Dia?" dia menurunkan tangannya. 'Bagaimana tidak, dia selalu mengajakku untuk berperang. Seharusnya kau mengatakan itu pada lampir itu sialan. Lebih tepatnya kau bilang kenapa kau selalu menyakiti istriku? Kalau kau berkata begitu, barulah kau suami yang bertanggung jawab. Tapi nyatanya apa, kau adalah suami brengsek.' Kami seakan berdialog yang ku jawab hanya dengan membatin. "Kau tau Dia, aku sangat mencintaimu" deg.. jantungku berdetak begitu kencang. 'Apa-apaan si b******k ini, kenapa dia jadi begini? Apa tadi kepalanya kepentok tembok? Atau mungkin dia habis beradu sundulan dengan banteng makanya otaknya sedikit geser? Sepertinya dia mulai sama dengan Sarah dan Asih, sebelas dua belas lah, sama-sama gesrek. Tadi dia memakiku, sekarang bilang cinta. Oh anak mudaa, memang mulut lelaki tak bisa di percaya' batinku. "Sebenarnya hatiku sakit mendengar mama menghinamu. Sakit Dia sakit, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Dari awal aku sudah bilang padamu, sulit untuk melawan mama" aku diam mendengarkan. "Tapi aku gak bisa berbuat banyak, aku gak mau i cap sebagai anak durhaka. Harus sampai kapan aku memohon padamu Dia, mengerti keadaanku. Suatu saat aku berjanji, aku akan membahagiakanmu. Tunggulah sampai keadaan membaik. Aku.." 'Kenapa berhenti? Aku apa? Lanjut saja, apa kau ingin menceraikanku b******k? Apa kau di hasut lampir itu? Kau tidak bisa menceraikanku sampai aku membalas dendam. Hei, kenapa kau diam saja?' batinku. Aku membuka mataku, kulihat Rei sudah tidur. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, aku mencium aroma alkohol. "Ck, ternyata kau sedang mabuk, tadinya aku sudah sempat tersentuh. Tapi ternyata, saat mabukpun kau bisa memakiku. Dasar b******k" aku membalikkan dan memunggunginya. Aku mulai berdebat lagi dengan fikiranku. 'Apakah yang dikatakan Rei itu benar? Apakah dia mencintaiku? Apa benar dia berniat untuk membelaku di depan mamanya? Kata orang-orang, perkataan orang mabuk itu adalah jujur. Tapi bagaimana bisa dia tetap membela mamanya meskipun dalam keadaan mabuk? Sungguh anak yang patuh, sankin patuhnya malah membuatku naik darah tiap hari.' tak terasa sudah larut malam, akhirnya akupun tertidur dengan sejuta pertanyaan, bukan sejuta mimpi. Paginya aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku tidak melihat lagi sosok suamiku di ranjang. Yah, sudah pasti dia sudah berangkat bekerja. Kali ini aku tidak melaksanakan kewajibanku untuk menyiapkan keperluan suamiku. Biarkan sajalah, toh juga dia tidak pernah menganggapku. Segera aku mandi dan turun untuk sarapan, aku melihat adikku sudah duduk di sofa, kebetulan dia libur hari ini. "Kak, kenapa lama sekali. Aku sudah lapar, kakak ipar juga ergi kerja tanpa sarapan" kata Clarisa. "Memangnya mbok gak masak? Mbok sakit? tanyaku penasaran. "Mbok sehat dan sekarang juga sedang kelaparan. Gimana mbok mau masak, semua bahan masakan sudah habis. Bahkan sebutir telurpun tidak ada, kita kan belum belanja bulanan kak" adikku mengingatkan. "Astaga kakak lupa, kakak juga sangat lapar" aku mengelus perutku. "Mbok.." aku memanggil mbok setengah berteriak. "Iya non" "Mbok suka lontong sayur gak?" tanyaku. Adikku tidak perlu ditanya, karena dia sangat menyukainya. " Suka non" "Yasudah, mbok belikan lontong sayur di depan untuk kita sarapan. Beli tiga porsi ya mbok." aku memberikan uangnya. Kebetulan di sebelah rumah ada yang jual lontong sayur. "Baik non" Tak lama mbok datang membawa tiga bungkus lontong sayur. Kami bertigapun sarapan, setelah selesai, "Dek, temanin kakak yuk periksa kandungan" kataku mengajak Clarisa. "Oke ka" "Mbok kita gak lama, anya periksa saja. Nanti untuk makan siang kita yang belikan, mbok cukup beres-beres rumah saja." kataku. "Siap non" Aku dan Clarisa pun berangkat untuk perisa kandungan. Di dalam taxi, "Kak, apa kita tidak belanja bulanan?" "Tidak" jawabku singkat. "Lalu kita makan apa kak? Apa kita akan beli makanan siap saji setiap hari? Itu kan boros ka, lagian kasihan si mbok. Usah gajinya di potong, makan harus beli juga." "Tidak juga. Kita tetap masak, tapi mbok yang belanja tiap pagi di mang Kus. Jadi mbok masak setelah kakak iparmu berangkat kerja." Mang Kus adalah tukang sayur keliling, mang Kus juga menjual ikan dan daging segar. "Berarti kakak ipar gak sarapan di rumah dong" "Lebih tepatnya gak makan di rumah" jelasku. "Kalau kakak ipar marah bagaimana kak? Apa kakak tidak takut?" adikku sedikit panik. "Kenapa tidak? Bukankah dia sudah mengambil uang belanja? Lalu kakak harus belanja pakai apa? Justru itu yang kakak tunggu, kakak mau lihat bagaimana dia akan marah jika tidak ada makanan di rumah. Jika dia berani berbicara, aku akan menyerangnya balik." Adikku hanya ber oh ria dan aku hanya tersenyum sinis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN