15. Cafe

1502 Kata
Renata Pov "Lihat Rei, lihat. Itulah istri pilihanmu, istri yang pembangkang. Dan sekarang, dia bahkan berusaha untuk menguasai hartamu. Kalau bukan karena kau, mama sudah lama menendangnya dari keluarga kita. Tapi kau selalu mempertahankannya. Apa baiknya dia, hah? Masih banya perempuan di luar sana yang lebih baik daripada dia" kesalku. "Kau dengar apa yang dia katakan? Dia tidak punya tabungan kan? Tidak mungkin dia tidak punya tabungan, bukankah dia sudah lama bekerja sebelum kalian menikah? Asal kamu tau Rei, sudah pasti dia memberikan uang itu kepada keluarganya. Bahkan sebentar lagi, dia akan menguras semua uang kamu dan memberikannya kepada orangtuanya. Sekarang kau tau kan, bahwa orangtuanya adalah lintah darat. Mereka menikahkan putrinya denganmu supaya bisa memiliki seluruh hartamu. Atau jangan-jangan mereka sengaja menyuruh dia hamil supaya kau menikahinya. Sungguh mama tidak habis pikir, dasar orangtua mata duitan, masih ada orangtua seperti itu zaman sekarang" lanjutku. "Sudahlah ma, jangan memperkeruh keadaan. Aku juga tidak tau harus gimana. Kalaupun Dia memberikan uang itu kepada orang tuanya, tidak mungkin aku memintanya kan ma?" katanya. "Kenapa tidak mungkin? Kau ada hak meminta itu, itu uang istrimu. Kalian sudah menikah, berarti uang istrimu uang mu juga. Lebih baik kau coba saja meminta uang itu, katakan kalian membutuhkannya." aku berharap Rei mendengarkanku. "Sudahlah ma, biarkan saja. Aku tidak mau nanti jadi menambah masalah" "Kau memang bodoh Rei, kau selalu saja di bawah ketiak istrimu. Kau tidak bisa begitu lembut padanya, bisa-bisa dia menginjak-injak harga dirimu. Kau lihat tadi, sedikitpun dia tidak menghargaimu." aku menggerutu kesal. "Lagian sudah tau ada masalah seperti ini, kenapa tidak kau suruh saja istrimu bekerja? Dengan begitu, penghasilan kalian bisa bertambah. Gaji istrimu bisa untuk keperluan kalian sehari-hari. Sedangkan sisa gajimu, bisa kau berikan pada mama sampai hutangmu pada rentenir itu lunas. Setelah lunas, gajimu kau bagi rata. Setengah untuk kalian dan setengah lagi untuk mama. Dia begitu enak makan tidur saja di rumah, ditambah lagi biaya makan dan tinggal adiknya. Suruh saja dia bekerja, anggap saja itu biaya untuk adiknya tinggal dan makan di rumah ini. Kau harus tegas Rei, kau kepala rumah tangga." jelasku panjang lebar. "Sudahlah ma, tidak usah dibahas lagi, aku pusing memikirkannya. Lagipula bagaimana mungkin aku menyuruh Dia bekerja, Dia sedang hamil. Tidak baik untuk wanita hamil bekerja." Rei menggaruk-garuk kepalanya. "Memang susah bicara denganmu Rei, kau sudah terhasut oleh istrimu." aku langsung berdiri, "Rosa, ayo kita pulang. Percuma kita lama-lama disini, tidak ada yang bisa di harapkan" Aku berjalan menuju pintu dan Rosa mengekoriku dari belakang. Belum sampai aku di pintu, "Ingat Rei, bulan depan kau harus memberikan uang pada mama. Sisa gajimu harus kau kirim semua pada mama. Untuk keperlusn kalian sehari-hari, minta pada mertuamu sebagai ganti biaya adik iparmu itu, atau suruh istrimu bekerja" cetusku lalu aku dan Rosa pergi meninggalkannya. Claudia Pov Akhirnya kami tiba di sebuah cafe yang sering aku kunjungi dan teman-temanku. Baru saja kami duduk, telepon genggamku berbunyi. ?"Hallo Say" ?"Iya Lan kenapa?" ?"Sarah sama Asih lagi di rumahku, katanya mau main ke rumah barumu. Semenjak kau pindah, kita belum pernah main kesana" ?"Aku sedang tidak di rumah, aku di cafe tempat kita biasa nongkrong bersama adikku. Aku mumet di rumah, kalian kesini saja" ?"Memangnya kenapa? Setiap kali kami mau ke rumah barumu, kau selalu tidak di rumah." ?"Nanti saja ceritanya kalau sudah sampai disini" ?"Oke, kita on the way kesana" Sambungan telepon terputus, tidak menunggu lama mereka tiba di cafe. "Disini" kataku sambil melambaikan tangan kepada mereka yang baru tiba. "Hei, kenapa kau tidak bilang kalau adikmu disini. Kita kan bisa mengajaknya jalan-jalan. Apa adikmu liburan disini?" tanya Sarah. "Ngerocos saja, kenalan dulu. Ini adikku namanya Clarisa" kataku memperkenalkan. Mereka pun saling memperkenalkan diri. "Dia tinggal bersamaku sekarang. Ayah memintanya menemaniku dan pindah kampus kesini" jelasku. "Kalian belum pesan makanan? Padahal aku berharap setiba disini langsung menyantap makanan segar" kata Asih. "Makan tuh meja. Makanan mulu yang ada di pikiranmu" kata sarah. "Iya, tadi kita baru sampai, Wulan langsung nelfon. Yah sekalian saja nunggu kalian, biar sekalian bisa di traktir" candaku. "Dasar bumil" kata Wulan dan oami terkekeh bersama. Akhirnya kami memesan makanan. Tak lama pesanan pun datang, kami menyantap makanan dengan lahap. Mungkin kami lapar berjamaah, seperti sudah di rencanakan. Setelah selesai makan, kami memesan minuman segar untuk menghilangkan dahaga nantinya setelah kami selesai bergosip ria. "Dia, memangnya apa yang terjadi sampai-sampai wajahmu begitu masam?" Wulan membuka percakapan. "Bagaimana tidak, lampir itu datang ke rumah" kataku. "Wah seru nih, terus.. terus.." Sarah serius mendengarkan. "Eh, kamu pikir ini sebuah film makanya seru. Teman lagi kesal, kau malah senang" protes Wulan. "Bukannya senang, hanya penasaran dengan lampir itu. Apakah dia sudah mulai mengangkat bendera untuk berperang atau tidak, supaya kita tau untuk mempersiapkan ancang-ancang" bela Asih dan akhirnya mendapat toyoran dari Wulan. "Sepertinya sudah kak, tanganku juga sudah mulai gatal ingin menjambaknya" adikku mulai ketularan ke-gesrekan Sarah dan Asih. "Nah benar kan. Adik cantik, berarti sekarang kau bisa jadi CCTV kami disana. Takutnya kakakmu tidak berani menceritakan semuanya, jadi kau bisa memberitahunya. Kau juga kesalkan, kita sependapat" kata Asih yang membuat adikku tertawa. "Sudah sudah. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Wulan. "Lampir itu datang meminta uang bulanan" "What? Gila tuh lampir. Sebenarnya dia lampir atau lintah penghisap Dia?" tanya Asih. "Dua-duanya" kataku bersamaan dengan adikku. "Wah, mantap. Kakak beradik yang kompak." Sarah mengacungkan jempolnya. "Terus gimana lagi Dia?" lanjut Sarah. "Dia meminta uang bulanan setengah dari gaji suamiku. Gaji suamiku setiap bulan lima puluh juta rupiah, jadi dia harus menerima dua puluh lima juta rupiah perbulan. Bulan lalu dia tidak mendapatkan uang itu, jadi dia datang dan meminta gaji sebulan suamiku. Dia meminta kami harus memberikan uang lima pulih juta rupiah, tanpa merasa berdosa telah membuat kami telah berhutang kepada rentenir. Bahkan dia tidak ingat atau pura-pura lupa aku tidak tahu, kalau gaji suamiku hanya sisa sepuluh juta rupiah perbulan karena harus menyicil ke rentenir. Sungguh menjijikkan bukan?" kataku dengan nada kesal. "Parah banget ya lampir itu, benar-benar gila" Sarah mulai jengkel. "Lebih parahnya lagi, Rei memintaku untuk memberikan tabunganku. Si b******k itu, rasanya aku ingin menceraikannya. Tapi kalau aku menceraikannya, aku tidak bisan membalas lampir itu yang sudah menghinaku dan menghina orangtuaku. Untung saja aku sudah ada firasat, jadinya aku menyimpan tabunganku pada Clarisa" jelasku. "Bagus" kata Wulan. "Lalu kau bilang apa pada suamimu?" Asih menimpali. "Aku bilang kalau aku tidak punya uang lagi, tapi dia tidak percaya dan langsung me-ngecek m-bankingku. Sudah pasti tidak ada uangnga, hanya ada uang belanja yang baru saja dia berikan. Rei menuduhku memberikan uang itu pada orangtuaku. Dan lagi, dia bilang aku harusnya izin dulu padanya, karena aku harus menghargainya sebagai suami. MENJIJIKKAN" aku berdecak. "Kalian tau yang lebih-lebih membuatku kesal? Dia memintaku untuk memberikan semua uang belanja itu pada lampir itu, aku bersikeras tidak mau tapi dia langsung men-transfernya dari handphoneku. Bahkan aku mengurungkan niatku untuk memereiksa kandungan supaya bisa berhemat, tapi Rei malah se-enak jidat memberikannya pada lampir itu. Aku sudah tak tahan lagi melihat itu, makanya,aku dan adikku kesini untuk menenangkan fikiranku" lanjutku. "Wah parah, lampir itu perlu di musnahkan. Dan Rei juga, apakah dia tidak punya otak? Maaf kalau aku mengatai suamimu. Tapi aku kesal, apa dia tidak memikirkan kau dan kandunganmu? Lalu kalian akan makan apa? Apa dia tidak takut anaknya kekurangan gizi? Benar-benar keterlaluan, CK" Asih berdecak kesal. "Sudahlah Dia, jangan terlalu di pikirkan. Lagian kau sudah ada adikmu untuk membantumu, kita juga ada disini untukmu. Yang penting kau harus menjaga kandunganmu" ucap Wulan, dialah yang selalu membuatku sedikit lebih tenang. "Sudah, lupakan masalah itu, kuta bahas yang lain yang bisa,membuat kita happy" Sarah mencairkan suasana. Kami beralih topik ke yang sedikit lebih menghibur, sesekali kami tertawa bersama. Tak terasa waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul delapan. Kami pun mengakhiri perbincangan kami, dan memilih untuk pulang. Tak lupa aku memesan makanan untuk si mbok, aku yakin dia belum makan. Sebelum kami bubar, "Dia, aku memberikan sedikit pegangan untukmu. Kau harus makan makanan sehat untuk perkembangan kandunganmu." Wulan memainkan handphonenya, tak lama notif pesan muncul di handphoneku. Satu juta rupiah. "Lan" mataku mulai berkaca-kaca. Sarah dan Asih juga memainkan handphonenya, masuk lagi dua notif pesan di hanphoneku. Satu juta rupiah dan satu juta lima ratus ribu rupiah. Aku tau kalau nominal paling besar itu dari Sarah, karena dialah yang paling bercukupan diantara kami. "Itu dari aku juga, periksalah kandunganmu besok." kata Asih. "Ingat Dia, utamakan menjaga kesehatan kandunganmu. Kau harus memakan makanan bergizi dan rutin kontrol sesuai anjuran dokter. Semampu kami, kami akan membantumu." tak bisa lagi kubendung air mataku. "Aku gak tau harus bilang apa lagi, aku mencintai kalian, hiks..hiks. kalian sudah melebihi keluarga bagiku, trimakasih untuk kalian sudah mau membantuku" air mataku pun mengalir, aku memeluk ketiga temanku. "Sudahlah Dia, mungkin saat ini kami membantumu. Bisa saja di lain waktu, justru kami yang akan meminta bantuanmu, roda pasti berputar." Wulan mengelus pundakku. "Yasudah, cukup mewek-meweknya. Yuk kita balik, nanti kemaleman" kata Asih. Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN