14. Meminta Uang Bulanan 2

1236 Kata
Kami duduk di ruang tamu, entah apa yang akan di bicarakan lampir tua ini. Semoga saja tidak membuat aku naik darah. "Sebenarnya mama ada perlu apa? Kenapa tidak mengabari Rei dulu?" tanya Rei. "Langsung saja, mama kesini mau meminta uang bulanan mama. Biasanya kan kamu setor ke mama setengah dari gajimu. Bulan lalu kamu juga gak setor ke mama, di tambah bulan ini jadi mama minta full gaji kamu" aku langsung berdiri. "Heh lampir tua, lintah darat atau apalah. Bisakah kau bicara pakai akal sehat? Bagaimana bisa kau meminta setoran setengah dari gaji suamiku. Apa kau lupa dengan uang yang kau pinjam pada rentenir? Tiap bulan gaji suamiku harus ludes untuk membayarnya. Bahkan kami harus terlantar dan menghemat sehemat mungkin supaya bisa menutupi hutang itu. Dengan tanpa rasa bersalah kau malah datang meminta setoran atas gaji suamiku yang sudah tidak seberapa lagi seperti seorang rentenir. Dan satu lagi, kau tidak berhak lagi mengatur keuangan suamiku, dia sudah ber-istri. Jadi itu sudah hak dan tanggung jawab istri untuk mengaturnya. Apa kau mengerti lampir tua?" emosiku sudah tak bisa ku kontrol lagi. "Dia jaga bicaramu, kau harus tau sedang bicara pada siapa. Kau bicara ada mamaku, mertuamu. Kau harus menjaga sikap" protes Rei. "Lihat ini Rei, inilah istri pilihanmu. Beginilah perempuan murahan, tidak ada etika sedikitpun. Kau bilang apa tadi? Aku tidak berhak? Rei itu anakku, aku berhak seratus persen. Apa kau pikif kau bisa meng-handel semua uang anakku? Jangan bermimpi kamu perempuan murahan" "Sudah cukup. Kapan sih kalian bisa tenang dan tidak berdebat? Dan kamu Dia, tolong kamu diam saja" aku hanya mendumel. "Mama memangnya butuh uang buat apa?" sangat lembut pertanyaan yang di lontarkan Rei pada mamanya, membuatku semakin kesal. "Kamu tanya buat apa? Mama harus membayar uang kuliar adikmu, gaji pembantu sudah nunggak dua bulan. Mama juga harus shopping" jawabnya tanpa dosa. "Shopping? Kau masih memikirkan shopping? Kami saja untuk makan sudah berhemat, dimana kau letakkan akal sehatmu?" kataku kesal. "Dia sudah. Bukankah aku menyuruhmu diam?" saat ingin kujawab, Clarisa menahanku. "Ma, Rei tidak punya uang segitu. Mama tau kan aku harus membayar utang pada rentenir? Aku hanya menerima gaji sepuluh juta rupiah saja, bahkan gaji si mbom aku bayar setengah saja, dan syukur si mbok mau. Untuk belanja saja aku hanya bisa memberi lima juta rupiah pada Dia" jelasnya. "Itu tidak adil, mama juga harus ada jatah. Kalau begitu kita bagi rata, kalian lima juta dan mama lima juta. Untuk apa kau memberikan uang belanja lima juta, itu terlalu banyak. Dan untuk pembantumu, kalau kau tidak sanggup bayar, kenapa masih pakai pembantu? Pecat saja pembantu yang tidak tahu diri itu. Disini kan ada adik perempuan murahan ini, enak saja dia tinggal gratis disini. Suruh saja dia jadi pembantu disini, beres kan? Sudah tidak punya uang masih saja membiayai orang lain" darahku semakin mendidih, aku langsung berdiri. "Apa kau bilang lampir tua? Kenapa tidak kau saja yang memecat pembantumu? Sudah tidak punya penghasilan, dengan entengnya punya pembantu. Dan satu lagi, sepeserpun Rei tidak pernah membiayai adikku. Semua kebutuhan adikku di tanggung oleh orangtuaku" protesku. "Apa uang makannya juga di tanggung? Apakah uang sewanya juga di bayar" sungguh menjengkelkan. 'Segitu perhitungannya kah lampir tua ini? Mana mungkin aku meminta biaya makan pada adikku sendiri? Dimanakah akal sehat lampir ini? Apakah di dengkulnya? Atau mungkin sudah jatuh dan di patok oleh ayam' batinku. "sudahlah ma, kenapa masalah itu di perdebatkan? Clarisa adik iparku juga" jawab Rei. 'Aku tau, suamiku sebenarnya ada baiknya. Tapi semua kebaikannya tertutup karena lampir ini. Aku habya bisa berdoa, semoga mata hati suamiku terbuka, tapi jangan mata batinnya, hehe. Astaga, apa-apaan aku ini, aku malah berdebat dengan pikiranku' batinku. "Lalu bagaimana dengab uangnya? Mama butuh uang" lampir ini seenak jidat aja kalau bicara. "Dia, kamu berikan tabungan kamu dulu sama mama, nanti kalau hutang kita sudah lunas aku ganti" Seperti tersambar petir aku mendengar ucapannya. 'Sepertinya aku harus menarik kata-kataku tadi yang mengatakan bahwa dia baik. Tidak ada bedanya dia dengan lampir ini, sama-sama ingin memerasku.' lagi-lagi aku membatin. "Cepat berikan uangnya, supaya kami pergi dari rumah ini. Bukannya kamu senang kalau kami cepat-cepat pergi? Sebenarnya kami juga tak sudi menginjak rumah orang seperti dirimu. Tapi demi anakku, aku rela datang berkunjung kesini" Lampir itu menimpali. 'Demi anak atau demi uang, dasar lintah penghisap.' batinku. "Dia, kenapa kamu bengong? Kamu punya tabungan kan? Berikan dulu sebagian pada mama, mama butuh uang" "Kamu fikir aku bekerja sewaktu masih gadis, untuk mengumpulkan uang buat lampir ini? Seenak jidat kamu bilang berikan." kesalku. "Cukup ya Rei, cukup kamu berikan semua perhiasanku untuk membayar hutang lampir ini. Lagian, kau tau darimana aku punya tabungan? Aku tidak punya tabungan, aku hanya punya uang belanja yang kamu beri tiap gajian." lanjutku. "Jangan bohong kamu Dia" Rei mengambil handphone dari tasku. "Aku tau kamu orang yang hemat, tidak mungkin kamu tidak punya tabungan. Apa susahnya sih memberikan sedikit uang kamu buat mama? Kenapa harus menunggu perdebatan dulu? Lanjutnya sambil me-ngecheck m-bankingku. "Memang dia itu pelit, bisanya cuman menguras tapi tidak mau memberi" kata mama mertuaku. 'Eh eh lampir b******k, harusnya kata-kata itu lebih tepatnya untukmu sialan. Daras lampir tua tidak tahu diri' Batinku. "Dia, kemana semua uang kamu? Tidak mungkin kamu tidak punya tabungan, disini hanya ada uang belanja yang aku berikan padamu" katanya seakan mengintrogasiku. "Sudah kubilang kan tidak ada. Kalaupun ada, aku tidak akan mau memberikan uang itu kepada lampir dan rubah ini." jawabku. "Tidak mungkin. Atau jangan-jangan kau memberikan uang itu kepada orangtuamu? Kenapa kau tidak memberitahuku dahulu, sedikitpun kau tidak menghargaiku" Rei melotot. "Aku sudah bilang aku tidak punya tabungan. Lagian kalau aku memberikan kepada orangtuaku memangnya kenapa? Apa aku harus meminta izinmu? Apa kau meminta izinku untuk membayarkan hutang mamamu bahkan sampai memberikan semua perhiasanku? Menghargai? Apa kau menghargaiku juga? Sebelum bicara, tanyakan semuanya pada dirimu" cairan bening menetes dari mataku, tapi aku tetap kuat. "Arghh aku bisa gila. Yasudah, mana uang belanja yang aku berikan pagi tadi, aku mau berikan ke mama" aku membelalak. "Kamu gila ya Rei, itu untuk belanja. Kalau aku kasih, kita mau makan apa, hah? Sampai segitunya kau padaku hanya karena mamamu" aku semakin kesal. " Kau terlalu banyak bicara" cetusnya. Rei kembali memainkan handphoneku. Setelah selesai, dia mengembalikan handphone itu padaku. Aku melihat ada notif dari m-bankingku, aku segera ma-ngecheck dan ternyata benar, Rei men-transfer semua uang belanjaku. "Apa-apaan kamu Rei, itu uang belanja kita" aku mulai menggila. "Sudah, jangan membantah. Ini ada uang lima ratus ribu rupiah, pakai ini untuk belanja. Usahakan sehemat mungkin karena ini adalah pertahan kita sampai aku gajian kembali" Rei meletakkan uang itu di meja. "Rei, lima juta rupiah mans cukup. Mama shopping saja ini sudah habis" protesnya. "Kalau tidak mau yasudah kembalikan" protes adikku, lampir itu hanya me-melototinya. "b******k kamu ya Rei, ini tanggung jawabmu sebagai suami? Bahkan aku mengurungkan niatku untuk periksa kandungan karena keuangan kita tidak memadai. Tapi apa, kamu malah memberikan uang belanja kita sama lampir ini. Kau benar-benar gila" Aku mengambil tas ku. " Ayo Clarisa, kita mencari udara segar. Aku bisa mati perlahan seperti ikan di laut yang meloncat kedarat karena menghadapi lampir tua dan suamiku yang b******k ini. Sungguh nasib buruk berpihak padaku harus menikah dengan pria yang selalu di ketiak mamanya. BIADAP" kataku lalu aku keluar, Clarisa mengekoriku dari belakang. Aku mendengar Rei meneriaki namaku, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Dan lagi-lagi dia hanya berteriak, bukan mengejarku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN