13. Meminta Uang Bulanan 1

1506 Kata
Claudia Pov Aku duduk di sebuah taman kecil di belakang rumah. Terasa tersayat hati ini mengingat apa yang telah kukatakan pada suamiku. Tapi aku sudah tersulut emosi, 'Bisa-bisanya dia lagi-lagi menyalahkanku. Tidak bisakan dia menghubungiku dan memberi kabar? Haruskah aku yang menghubunginya? Ah aku bisa gila memikirkannya' batinku. Adikku menghampiriku. "Kak, apa kalian bertengkar?" selidiknya. "Sudah, tidak usah di pikirkan. Nanti lambat lau kau akan tahu sendiri, ingat kau juga harus kuat. Tidak lama lagi kita akan berperang untuk melawan lampir itu. Sekarang kau siap-siap, kita akan ke kampus untuk mendaftarkanmu. Kampusmu sama dengan Rosa, si rubah kesayangan kakak iparmu. Kau harus bisa melawannya, kau mengerti? Tapi ingat satu hal, kau harus tetap fokus pada kuliahmu. Jangan sampai membuat ayah dan ibu kecewa, cukup aku saja yang sudah membebani dan mengecewakan mereka." kataku. "Siap ka, kakak tenang saja" adikku memelukku. Setelah selesai membereskan berkas-berkas dan sarapan, kamu menuju kampus T dimana Rosa kuliah. Setelah selesai dan di terima, kami pun pulang. Sesampainya di rumah, kami langsung menuju ke kamar Clarisa dan bergosip ria disana. "Kak, aku sudah tidak sabar ingin membalaskan perbuatan mereka ke kakak" kata Clarisa, dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Oh iya dek, kamu masih punya rekening kan? Apa kau masih pakai?" tanyaku. "Aku pakai kak, tapi hanya untuk jajan dan membayar uang kuliah kalau di transfer ibu." jawabnya polos. "Kakak cuman mau transfer uang kakak. Kakak takut sewaktu-waktu kakak ipar kamu memintanya untuk lampir itu, kakak tidak sudi. Secara gaji kakak ipar kamu hanya cukup untuk biaya kita sehari-hari dan gaji pembantu."Adikku mengangguk mengiyakan, aku langsung men-transfer tabunganku. Entah kenapa, firasatku tidak enak. Tidak terasa waktu berlalu, kandunganku sudah memasuki bulan ke-enam, aku ingin memeriksa kandunganku. Tapi ku urungkan niatku, aku hanya banyak berdoa, semoga Tuhan selalu melindungi dan memberi kekuatan pada kandunganku. Rei sudah dua kali gajian dan sudah dua kali membayar hutang pada rentenir itu. Sesuai perjanjian, Rei akan membayar hutang saat dia gajian, dan hari ini dia baru gajian untuk ke dua kalinya setelah kejadian itu. Rei hanya memiliki sisa sepuluh juta rupiah tiap bulannya. Rei memberikan lima juta rupiah kepadaku untuk keperluan sehari-hari, dan memberikan gaji si mbok dua juta rupiah. Sesuai kesepakatan dan atas persetujuan si mbok, kami hanya membayar gajinya setengahnya sampai hutang kami lunas. Setelah hutang kami lunas, gaji si mbok akan full dan kami juga aka langsung memberikan sisa gajinya. Sisanya untuk pegangannya selama sebulan, dan untungnya Rei tidak merokok jadi bisa menghemat pengeluaran. Untuk biaya adikku, orangtuaku selalu mengirimnya tiap bulan. Mereka tidak mau membebaniku. Aku berusaha berhemat agar bisa menyisihkan sedikit uang untuk ku tabung. Renata Pov "Rosa.." Teriakku. Rosa berlari dari kamarnya. "Ada apa sih ma teriak-teriak pagi-pagi begini" protesnya. "Kita harus ke rumah kakakmu, kita harus meminta uang untuk biaya kita sehari-hari. Bulan lalu dia tidak mengirimkan mama uang, dan mama tidak protes dan memilih diam. Mama fikir kakakmu itu akan memikirkan kita, tapi nyatanya tidak. Kali ini mama tidak akan tinggal diam, mama tidak mau dan tidak rela jika semua penghasilan Rei menjadi miliknya." aku mengepalkan tanganku. Rosa hanya mengangguk. "Kodir.." lagi-lagi aku berteriak. "Iya nyonya" jawabnya. "Siapkan mobil, kita akan ke rumah Rei" perintahku. Kodir mengangguk dan berlalu untuk melaksanakan perintahku. Aku menaiki anak tangga menuju kamarku untuk bersiap-siap, begitu juga dengan Rosa pergi ke kamarnya. Kami langsung menuju rumah Rei, sudah tidak sabar aku ingin menerima uang. Rasanya tanganku gatal inngin belanja. Claudia Pov Hari sudah sore. Aku dan Clarisa menuruni anak tangga, kami sudah tampil rapi dan cantik karena akan pergi ngopi-ngopi cantik ke cafe. Sebenarnya bukan ngopi, aku lebih suka nge-teh hehe. Baru saja kami tiba di bawah, aku melihat lampir tua dan rubah itu duduk di sofaku. Sungguh tidak tahu malu bukan? "Mbok.." Teriaknya seperti rumahnya sendiri. "Iya nyonya" "Buatkan kami minuman segar, cepat" perintahnya. Bahkan aku yang majikannya tidak pernah meneriaki si mbok. Aku dan Clarisa mengikuti si mbok ke dapur, dan melihat mbok sedang membuatkan jus. "Mbok, tolong tambahkan garam" si mbok dan Clarisa terkejut. "Kak, jangan macam-macam. Kalau lampir itu ngadu pada kakak ipar gimana?" mereka terlihat panik. "Tenang saja. Mbok pisahkan sedikit untukku dan Clarisa, untuk mereka tambahkan garam. Mbok tenang saja, saya yang akan tanggung jawab" si mbok mengangguk meski raut wajahnya menunjukkan rasa keberetan. Lalu si mbok memberikan jus itu kepada mereka dan langsung di minum seperti orang yang tak pernah minum jus. "Ahh asin" lampir tua dan rubah itu segera memuntahkan kembali minumannya dan dengan kompak membanting gelas ditangannya. "Apa-apaan kamu mbok, kamu mau meracuni saya? Kamu berani-beraninya ya kurang ajar sama saya, atau kamu di ajarin sama perempuan murahan itu untuk kurang ajar sama saya, hah?" bentaknya pada si mbok. Si mbok hanya menunduk, sebenarnya aku kasihan. 'Dia minta maaf ya mbok' batinku. Aku dan Clarisa segera menghampiri mereka. "Ada apa ini?" tanyaku sontak membuat si mbok kaget. "Tanya nih sama pembantu kurang ajar kamu!" kata Rosa. "Yang sopan dong kalau ngomong sama orangtua" sewot Clarisa. "Eh kamu anak kecil, jangan ikut campur. Berani-beraninya kamu menasihati anak saya, perasaan sok suci aja kamu. Kalau mau menasihati, nasihati saja kakak kamu ini biar gak murahan". Darahku semakin mendidih. Berani-beraninya dia menghinaku di depan adikku. "Eh lampir tua, anda hanya tamu disini. Sungguh tidak sopannya anda menghina tuan rumah, saya bisa saja menyeret anda keluar." Tiba-tiba Rei muncul dan kebingungan, "Ada apa ini ribut-ribut. Mama ada disini? Kenapa gak bilang-bilang kalau mama mau kesini?" tanya Rei. "Dan ini, ada apa ini, kenapa ada pecahan gelas disini? Kenapa si mbok hanya diam saja, kenapa tidak di bersihkan? Apa ini ulah kamu Dia? Kenapa kamu tidak bisa sekali saja tidak membuat onar kalau ada mama?" Emosiku semakin menjadi-jadi. "Eh suami b******k, datang-datang langsung menuduhku saja. Apa pantas aku menghormatimu sebagai suami? Perangaimu sama saja seperti lampir tua ini. Lampir tua ini selalu menghinaku, dan kau anaknya selalu menuduhku yang tidak-tidak" kataku. Sebelum kau menuduhku, seharusnya kau menyelidiki dulu supaya tidak membuatmu semakin bersalah" lanjutku membuat Rei terdiam. "Mbok, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku sedikit memberi kode. "Ini non, tadi nyonya meminta saya membuatkan minuman segar, saya buatkan jus. Nah tiba-tiba nyonya membanting gelasnya setelah meminum sedikit, katanya saya berniat meracuni nyonya karena jus nya asin, padahal saya tidak menambahkan apa-apa non, hanya gula sedikit saja" jelasnya. Sebenarnya aku sudah tau apa yang dikatakan lampir tua itu, karena aku dan adikku melihatnya dari jauh. Hanya saja, aku ingin supaya Rei mendengarkannya. "Benarkah mbok tidak memberikan apa-apa kedalam jus nya? Tapi kenapa mereka berkata jus nya asin? Atau mereka sengaja membuat onar di rumahku?" lagi-lagi aku memberi kode. "Tidak non" "Apakah masih ada sisa? Aku dan adikku ingin membuktikan apakah mbok benar-benar tidak melakukannya. Kalau sampai mbok melakukannya, aku akan memecat mbok hari ini juga" mbok mulai gemetar. "Ada non, sebentar saya ambilkan" si mbok segera mengambil jus dari dapur. Kulihat lampir tua dan rubah itu sedang tersenyum kemenangan. "Ini non" si mbok memberikan dua gelas kepada kami. Aku dan adikku segera meminumnya. "Sungguh segar, terimakasih mbok." aku beralih menatap lampir tua itu, "Apanya yang asin, apa aku keracunan? Apa kau sengaja menjelek-jelekkan si mbok supaya aku memecatnya? Sungguh sadis, bahkan pekerjaku pun kau lampiaskan atas kekesalanmu padaku." aku tersenyum sinis, sudah tak ada lagi sopan santunku berbicara pada lampir tua itu. "Tidak mungkin, ini pasti kerjaan mereka." Lampir itu menunjuk aku, Clarisa dan si mbok secara bergantian. "Pasti hanya punya kami yang di berikan garam" dia mulai histeris. "Apa kau bisa membuktikannya? Apa kau mau mencicipi jus yang ada di lantai ini untuk membuktikannya Rei? Karena hanya dengan begitu mungkin kau bisa percaya" Rei menatapku tajam dan ingin menamparkarku. Saat tangannya sudah terayun keatas, tiba-tiba dia berhenti ketika mendengar "Hentikan." teriak adikku. "Berani-beraninya kakak ingin menampar kakakku. Jadi begini kelakuan kakak selama ini di belakang kami? Begitu manisnya kakak saat datang ke rumah kami dan berbicara ada ayah dan ibu, tapi ternyata kakak selalu berlaku kasar pada kakakku. Tidak salah ayah memintaku untuk menemani kakak, akhirnya aku bisa menyaksikan bagaimana perbuatan kalian pada kakakku." Clarisa menatap Rei tajam. Rei menurunkan tangannya melihat Clarisa yang mulai mendekatinya. " Kakak. Kata sepertinya tidak pantas kusebutkan untukmu. Kau tidak pantas sebagai seorang kakak dan suami, sampai hati kau ingin menampar kakakku yang sedang mengandung anakmu, istrimu sendiri. Bahkan ayak tidak pernah memarahinya, apalagi memukulnya. Ayah bilang padaku setelah kakak menikah, bahwa kakak telah menemukan pengganti ayah yang akan selalu menyayanginya, yaitu suaminya. Tapi bagaimana bisa pengganti ayahku seperti ini?" lanjut Clarisa setengah berteriak. Rei hanya diam dan menunduk, terlihat jelas dia menahan air matanya. Rei sepertinya terpukul dengan ucapan Clarisa. "Hei bocah ingusan. Sudah dramanya? Kau.." Belum sempat mertuaku menyelesaikan omongannya "Sudah sudah.. Kalau kalian selalu saja saling menjawab, masalah ini tidak akan pernah selesai" Potong Rei. "Sebenarnya mama ada perlu apa datang kesini?" lanjutnya. "Ada yang ingin mama bicarakan" "Yasudah, kita bicara setelah aku mandi dulu" kata Rei. "Mbok, tolong bersihkan semua ini" lanjutnya, si mbok mengangguk mengiyakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN