12. Berubah

1248 Kata
Sudah dua minggu sejak kejadian itu, aku tidak begitu menghiraukan suamiku. Semakin hari, aku dan Rei semakin banyak diam. Aku tetap melayaninya sebagai suamiku, menyiapkan segala keperluannya. Rei berkali-kali mencoba menyapaku dan memintaku untuk mengerti, tapi aku hanya diam. Rasa sakit hatiku masih jelas, mungkin nanti aku akan mengerti dia setelah aku melihat sedikit pengorbanannya. Pagi ini Rei bersiap akan berangkat ke kantor, "Sampai kapan kau akan diam padaku? Apakah kesalahanku begitu fatal? Tidak bisakah kau memaafkanku? Aku akan mengganti semuanya, percayalah. Bukan aku tak menncintaimu makanya aku melakukan ini. Aku lebih memilih membuatmu marah karena aku tau, hanya kamu yang akan mengerti aku. Tolong mengerti aku Dia, kalau bukan kamu siapa lagi?" Rei menghapus air matanya yang mulai menetes. "Jangan paksa aku Rei. Yah aku akan mengerti, tapi belum sekarang. Pergilah, nanti kamu terlambat" aku memberikan tas kerjanya. Rei membuang nafas kasar. "Oh iya, nanti Clarisa akan datang kesini. Dia akan tinggal disini bersama kita. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya" lanjutku. "Yasudah tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan kuliahnya?" tanya Rei. "Ayah meminta Clarisa pindah kampus kesini agar bisa menemaniku dan menjagaku." "Maksud kamu apa? Apa kau menceritakam ini pada keluargamu?" nada bicaranya sedikit meninggi. "Memangnya kenapa hah? Apa aku salah? Kalau bukan pada keluargaku, pada siapa lagi aku harus mengadu? Tadinya aku berfikir, setelah aku menikah aku sudah punya tempat untuk mengadu dan bahu untuk bersandar, yaitu suamiku. Tapi nyatanya justru suamiku yang membuat beban bagiku" kuseka air mataku. "Kau tidak berfikir, itu sama saja kau menjelekkan suamimu kepada orangtuamu" "Aku tidak menjelek-jelekkanmu, tapi itu kenyataannya." "Terserah. Kau memang keras kepala". Rei pergi meninggalkanku. 'Keras kepala? Apakah dia tidak sadar kalau perkataannya itu lebih tepat untuknya? Bukankan dia yang begitu keras kepala? Semua yang dia katakan harus aku turuti, bahkan dia bertindak sesuka hati tanpa meminta persetujuanku. Sedikitpun dia tidak menghargaiku sebagai istri' batinku. Hari sudah sore, adikku belum juga memberikan kabar, seharusnya dia sudah tiba. Aku mengambil telepon genggangku dam menghubungi adikku, tapi nomornya tidak aktif. Aku mulai khawatir, kuambil tasku. "Mbok, aku mau menjemput adik ke terminal. Sampai sekarang dia tidak ada kabar, aku takut terjadi sesuatu padanya. Tolong sampaikan pada suamiku kalau dia sudah pulang" pamitku. "Baik non" Aku berlari ke luar, tepat sekali ada taxi. Aku langsung meminta supir taxi untuk mengebut tanpa sadar aku sedang mengandung. Setibanya di terminal aku mencari-cari adikku. Rasanya aku ingin menghubungi orangtuaku, tapi aku takut mereka khawatir. Aku melihat sesosok gadis sedang duduk di sebuah warung, ternyata dialah yang kucari. Aku berlari dan memeluknya. "Kakak, kenapa begitu lama sekali. Aku sudah lapar menunggumu disini." kata Clarisa. "Bagaimana aku tau kalau kau sudah tiba. Kau tidak mengabariku dan handphonemu tak bisa di hubungi. Kau membuatku panik." kataku. "Iya handphoneku mati, baterainya habis" jawabnya. "Sudah berapa kali aku bilang, kalau kemana-mana jangan lupa hanphone di charger. Dan jangan main hanphone di perjalanan kalau tidak mempunyai powerbank, jika tidak hal seperti inilah yang terjadi." aku mendengus kesal dengan kecerobohan adikku. "Kenapa kau bisa lapar? Apa kau tidak memiliki uang untuk membeli makanan? Apa ibu hanya memberimu ongkos untuk berangkat saja? Setauku ibu tidak sepelit itu" lanjutku. "Bukan begitu, aku sudah membeli roti tapi aku masih lapar" "Apa kau hanya punya uang untuk membeli roti saja? Sejak kapan ibu sepelit itu? Apa ayah juga membiarkan hal itu?" aku masih mengomel. "Bukan, tapi aku tidak mau membeli makanan disini. Aku takut makanan itu tudak sehat." matanya mulai berkaca-kaca. "Kakak, kenapa kau galak sekali. Kenapa kau memarahiku, biasanya kau tak mau memarahiku" Clarisa menunduk. 'Astaga, ini semua karna mereka, sampai-sampai adikku kena imbasnya, awas saja kalian' batinku. "Ah tidak, maafkan kakak. Kakan tadi sangat panik, kau tau kan kakak sedang hamil. Emosi kakak sedang tidak stabil, jangan di ambil hati ya. Ayo kita pulang" Dia mengangguk. Sesampai di rumah, aku tidak melihat sosok suamiku. Aku menunjukkan kamar adikku tepat di sebelah kamar kami. Aku mencari-cari suamiku tapi tidak ada juga. Aku menghampiri si mbok yang sedang menyiapkan makan malam di meja. "Mbok, apa suamiku belum pulang?" tanyaku. "Belum non" "Baiklah, aku kembali ke kamar dulu ya mbok, mau mandi." mbok mengangguk mengiyakan. Aku membersihkan diri, setelah selesai, aku mengambil handphoneku ingin menghubungi Rei. Tapi, kuurungkan niatku setelah kembali mengingat semua kejadian-kejadian itu. Akhirnya aku memilih untuk turun dan makan bersama adikku. Selesai makan, aku meminta adikku untuk beristirahat karena dia pasti kelelahan seharian naik bus. Aku pun memilih untuk tidur tanpa menunggu suamiku. Rei Pov Aku tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi Dia, bahkan aku sudah membujuknya. Aku heran dengan Dia yang sekarang, biasanya Dia sangat penurut. Tapi sekarang, bukan hanya pembangkang, bahkan dia berani mengadu dan menjelek-jelekkanku di depan mertuaku. Ku tarik nafasku dalam dan kubuang kasar. Aku sangat lelah dengan pekerjaanku dan juga memikirkan istriku, akhirnya akupun tertidur. Aku terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Aku melihat telepon genggamku, jangankan panggilan, pesan singkatpun tidak ada dari istriku. 'Apakah dia sudah tidak menganggapku lagi? Bagaimana bisa dia tidak menanyakan kabarku sampai jam segini' batinku. Aku memilih untuk pulang meski sudah pukul empat dini hari, setidaknya aku harus mengganti pakaianku. Aku melajukan mobilku, aku berhenti di sebuah indomaret dan membeli segelas kopi. Setelah selesai minum, aku kembali melanukan mobilku. Aku langsung menuju kamar, kulihat istriku sedang tidur dengan nyenyaknya seolah tidak terjadi apa-apa. Aku segera membersihkan diri, saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat istriku sudah bangun dan memainkan telepon genggamnya. "Apa kau tidak mengkhawatirkan suamimu yang tidak pulang? Bagaimana bisa kau tidur dengan nyenyak sementara suamimu sedang mati-matian bekerja di luar?" tanyaku sedikit kesal. "Aku tidak tau kau sedang bekerja atau apa sampai pulang dini hari, hanya kau yang tau. Dan satu lagi, kalaupun kau bekerja sampai dini hari. Ops aku ralat, bekerja sampai mati-matian,itu memang sudah semestinya dan itu semua karena dirimu sendiri. Bukankah kau yang bilang akan membayar semua hutang mamamu dan akan menggantikan semua perhiasanku, jadi bekerjalah sebaik mungkin. Jangan sampai kau di pecat atau kita akan terlantar" jawabnya yang membuat aku semakin emosi. "Bisa-bisanya kau berfikir seperti itu. Tidak adakah sedikit nuranimu sebagai istri? Tidak bisakah kau sedikit saja menghargaiku? Tidak.." belum selesai aku bicara, istriku langsung memotongnya. "Hei, jangan tanya soal nurani. Apakah kau punya nurani saat ingin menamparku? Dan jangan tanya soal menghargai. Apa kau menghargaiku saat kau akan membayar hutang orangtuamu dan memberikan semua perhiasanku tanpa meminta persetujuanku? Jangan mengharapkan emas jika kau menanam besi. Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai. Jika kau menghargaiku, aku akan lebih menghargaimu. Jadi tolong, bertindaklah layaknya suami. Bertanggung jawablah sebagai kepala rumah tangga, bukan hanya sebagai anak. Karena tanggung jawab seorsng lelaki yang sudah menikah lebih besar untuk rumah tangga daripada keluarganya." aku terdiam mendengar perkataannya. Aku menggenggam tangan istriku. "Apa kau masih mencintaiku?" tanyaku. "Masih perlukah membicarakan soal cinta? Sebelu kau menanyakan itu padaku, sebaiknya kau tanyakan pada dirimu, apa kau benar-benar mencintaiku? sepertinya tidak. Jika kau masih dan benar-benar mencintaiku, kau tidak akan melakukan ini padaku." Dia berjalan menuju pintu, "Dan satu lagi yang perlu kau ingat Rei, sebelum kau bertanya apakah aku mencintaimu, harusnya kau bisa melihatnya. Jika aku tidak mencintaimu lagi, aku sudah tidak ada di hadapanmu lagi. Apa kau mengerti?" Claudia menangis dan pergi meninggalkanku. Aku mengutuki diriku, 'Aku benar-benar bodoh, kenapa aku tidak berfikir sampai kesitu. Benar yang di katakan Dia, kalau dia tidak mencintaiku, sudah pasti dia akan pergi. Tapi kenapa dia selalu menghindariku?' batinku. Rasanya kepalaku ingin pecah memikirnya, entah sampai kapan Dia akan mendiamiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN