Pagi ini aku telat bangun. Aku melihat tidak ada Rei di sampingku. Sudah pasti dia tidak ada, jam sudah menunjukkan pukul delapan. Rei mungkin tidak berani membangunkanku, karena semalam aku telah menggila. Rasanya aku sangat lapar, aku segera membersihkan diri. Saat aku menuruni anak tangga, aku melihat Rei sedang duduk dengan seorang ibu-ibu dan dua laki-laki bertubuh besar.
'Oh, ternyata rentenir itu. Pantes saja dia tidak membangunkanku, dia ingin berbicara sendiri dengan rentenir itu tanpa sepengetahuanku. Aku ingin lihat, apa yang akan dia berikan untuk membayar hutang-hutang lampir itu. Teralu sulitkah meminta lampir itu untuk menjual perhiasan yang di belinya?' batinku. Aku mendekati mereka. Ternyata belum ada pembicaraan sama sekali, mungkin rentenir ini baru tiba disini. Aku duduk di sebelah suamiku, terlihat jelas suamiku sedikit panik, mungkin dia takut aku membuat onar.
"Bagaimana dengan hutangmu, apa kau sudah membicarakannya dengan mamamu? Apa kau sudah menyiapkan uang sesuai yang telah kusebutkan?" tanya rentenir itu.
"Begini bu, kemarin saya sudah bicara dengan mama saya. Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak bisa membayar sebanyak itu." jawab Rei.
"Apa kamu bilang? Kamu jangan macam-macam ya sama saya, pokoknya saya tidak mau tau, saya mau uang saya kembali" protesnya dengan mata melotot seperti ingin keluar.
"Bukan begitu bu, ibu tenang dulu, ibu dengarkan penjelasan saya dulu" jawab Rei. "Saya akan membayarnya, tapi saya tidak bisa membayarnya sekaligus. Saya ada tabungan tiga ratus juta, saya bayar segitu dulu bu. Sisanya saya akan cicil tiap bulan, tapi tolong jangan ada bunga lagi bu." lanjutnya.
"Itu masih setengahnya, bagaimana bisa saya terima itu" protes sang rentenir.
"Iya bu maaf, saya masih ada segitu. Ini sertifikat rumah kami sebagai kaminannya, ini ada perhiasan jika di uang kan totalnya seratus juta. Apa kamu masih ada tabungan sayang? siapa tahu cukup untuk mebayar hutang kita" tanya Rei. Aku terkejut melihatnya.
"Rei, kamu gila ya, itu perhiasan aku yang aku beli sebelum menikah sama kamu, dan juga perhiasan aku yang aku beli dari hasil keringat aku sendiri ketika aku masih bekerja. Bagaimana bisa kamu membayarnya dengan perhiasanku, bahkan kamu .asih meminta tabunganku yang bahkan sepeserpun belum pernah kamu berikan padaku?" Aku mengambil semua perhiasanku. "Tidak Rei, aku gak mau semua perhiasanku kau berikan untuk membayar hutang mama" lanjutku. Tiba-tiba rentenir itu mengambil semua perhiasan itu dari tanganku.
"Ini sudah sah, perhiasan ini milikku, jadi sisanya dua ratus juta lagi gimana?" tanyanya.
"Aku mencoba mengambil perhiasanku, tapi aku di halangi dua bodygoarnya. Rei menarik tanganku sampai aku terduduk.
"Apa-apaan sih kamu sayang, biarkan saja supaya hutang kita cepat lunas"
"Hello itu bukan hutang kita, itu hutang mamamu. Kamu tega memberikan semua perhiasanku tapi kamu tidak mau meminta mamamu untuk menjual perhiasannya. Itu hasil kerja kerasku bertahun-tahun Rei" aku tersulut emosi. Rei sama sekali tidak menghiraukanku.
"Saya minta keringanan bu, saya cicil selama lima bulan. Saya akan bayar empat puluh juta setiap bulannya" Kebetulan Rei mendapatkan gaji lima puluh juta per bulan di perusahaan besar itu.
"Baiklah, sesuai kesepakatan. Setiap tangggal lima kamu setor kepada saya. Nanti saya akan kirimkan nomor rekening saya." Rentenir dan kedua bodygoardnya pergi meninggalkan kami.
"Rei maksud kamu apa hahh. Kenapa kau tidak menjual perhiasan ibumu?" amarahku sudah sampai ke ubun-ubun.
"Sayang, mama gak bakalan mau jual perhiasannya" jawabnya.
"Kamu pikir aku mau menjual perhiasanku? Bahkan kau tidak meminta persetujuanku. Apa kau sekongkol dengan lampir tua itu untuk memerasku? Kalau aku tau begini, lebih baik aku tidak menikah denganmu. Lebih baik kuturuti permintaanmu untuk menggugurkan kandunganku ini" caian bening mengalir dari kedua mataku, tapi dari tatapan mataku terpancar api kebencian.
"Dia" Rei ingin menamparku, tapi tangannya terhenti saat dia melihatku menatapnya tanpa ada rasa takut.
"Kenapa? Kau ingin menamparku? Tampar.. Aku tidak takut lagi, biarlah anak dalam kandunganku ini menjadi saksi bagaimana kau setiap kali menamparku. Aku sungguh bodoh bisa berbaik hati menyelamatkanmu waktu itu, seharusnya kubiarkan saja kau mati perlahan disana, daripada aku yang harus mati perlahan disini. Aku pikir kau laki-laki yang begitu mencintaiku. Tapi kau sama saja sama mamamu si lampir tua itu, sama-sama b******k. Dasar sialan" kuseka air mataku lalu aku berlari menaiki anak tangga menuju kamarku. Kubanting pintu sekuat mungkin, aku tidak peduli dia mau melakukan apa.
Aku menangis sesenggukan meratapi nasibku. Aku mendengar suara mobil Rei, sepertinya dia akan pergi. Biarlah, terserah apa yang akan dia lakukan. Tiba-tiba aku teringat pada ibuku, sungguh aku sangat terpuruk. Sejujurnya aku tidak ingin membebankan ibuku, tapi aku tidak sanggup menanggunya sendiri, aku butuh tempat untuk mengadu di dunia ini. Aku mengambil telepon genggamku, aku menghubungi nomor ibu, tersambung tapi tidak ada jawaban. Aku menghubungi nomor adikku, tersambung
?Hallo kak
?Hallo dek, bagaimana kabar kalian?
?Sehat kak, ada apa ka?
?Kakak kangen dek.
Aku menahan tangisku, aku tidak mau adikku mendengarnya.
?Baru juga ketemu di pernikahan kaka, belum juga seminggu
?Hehe tapi kakak kangen. Ibu dimana dek, kakak mau bicara sama ibu
?Ibu di dapur ka, bentar ya ka aku kasih ke ibu.
Tak lama kemudian,
?Hallo nak, ada apa nak nelepon ibu pagi-pagi begini? Kamu baik-baik saja kan?
?Ibu hiks..hiks..
Aku tak bisa lagi menahan air mataku.
?Kenapa nak, kok kamu menangis. Cerita sama ibu nak.
Akupun menceritakan semua kejadian yang menimpaku sedetail mungkin tanpa ada yang terlewatkan.
?Yang sabar ya nak. Ibu gak nyangka kalau mertuamu seperti itu. Suamimu juga, bagaimana bisa dia seperti itu padamu? Maaf ya nak, ibu gak bisa bahagiain kamu.
?Ibu gak perlu minta maaf bu. Ini bukan salah ibu, ini salah Dia. Justru Dia yang minta maaf sudah membuat ibu sama ayah malu.
Ayah dan adikku yang mendengar itu tersulut emosi. Untungnya ibuku bisa mengendalikan ayah. Terdengar ayah meminta teleponnya dari ibuku.
?"Nak, kamu jangan khawatir, kami akan selalu ada untukmu. Clarisa, kamu maukan pindah kuliah ke jakarta?"Ayahku bertanya kepada adikku yang sepertinya dianggukkan olehnya. "Baiklah nak, adikmu akan pindah ke jakarta supaya bisa menjagamu. Kau sedang mengandung nak, ayak tidak mau terjadi apa-apa padamu. Jangan membantah dan jangan menolak, sekarang ayah tidak percaya lagi kalau suamimu bisa menjagamu. Baik-baiklah disana sampai kami selesai mengurus berkas-berkas adikmu"
?Baik ayah, aku tutup teleponnya ayah. Aku mencintai kalian.
?Kami juga mencintaimu nak.
Sambungan telepon terputus. Perutku mulai keroncongan, aku lupa kalau aku belum sarapan. Aku turun untuk sarapan, aku melihat mbok Sumi sedang sibuk di dapur.
"Mbok, temani aku sarapan" mbok Sumi melihat mataku yang sembab.
"Tapi non?" Mbok sumi merasa tidak enak. Oh iya, saya dipanggil non itu permintaan saya, karena saya tidak mau di panggil nyonya, rasanya itu seperti orang tua.
"Tidak apa-apa mbok, aku lagi gak mau makan sendiri. Rei juga gak ada kan, jadi kita makan berdua saja, gak boleh membantah." Mbok sumi duduk dan sarapan denganku. Aku hanya memakan beberapa sendok saja, mengisi perutku supaya aku ada sedikit tenaga. Selesai sarapan mbok Sumi membereskan meja makan.
"Mbok duduk sebentar, aku mau bicara sama mbok"
"Bicara apa non?"
"Saya salah gak sih mbok ngelawan suami gitu?" tanyaku karena mbok sumi melihat kejadian tadi.
"Melawan suami sebenarnya salah non, tapi kalau seperti tadi tuan juga salah tidak meminta izin non. Maaf non kalau saya lancang mendengarkan perdebatan tuan dan non sama si ibu tadi. Tapi mau gimana non, saya punya telinga hehe, maaf non."
"Tidak apa-apa mbok. Makanya saya bingung mbok harus gimana".
"Banyak sabar saja non, sekarang yang terpenting non fikirkan kesehatan non dan calon anak non."
"Iya mbok, tapi rasanya ini begitu berat" cairan bening mulai mengalir di pipiku.
"Iya non mbok tau, tapi namanya hidup non. Kita hanya perlu bersabar dan berdoa. Biarlah Tuhan yang membalas semua perbuatan jahat orang kepada kita" aku hanya terdiam.
"Yauda mbok, aku ke kamar dulu ya" mbok Sumi mengangguk mengiyakan.
Di kamar, aku memikirkan perkataan mbok sumi.
'MEMBALAS. Ya, aku harus membalas semua perbuatan lampir tua itu. Tunggu saja lampir tua, sudah cukup kau membuatku sengsara bahkan menghina orangtuaku. Maaf mbok, saran baikmu menghadirkan ide jahat untukku. Bukan salahmu mbok, tapi aku yang berniat' batinku sambil mengepalkan tanganku.