Aku masih saja bergulat dengan fikiranku, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan aku sampai tidak memperhatikan kalau Clarisa dan si lampir tua sudah mulai berperang lagi. Aku di kejutkan dengan sebuah tamparan yang mendarat di pipi adikku. Plak.. "Sudah kukatakan, jangan pernah berani-berani melawanku." Ucap si lampir tua sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan. Clarisa mulai tersulut emosi, aku bisa tau dari raut wajahnya. Clarisa meniup rambutnya yang acak-acakan mengahalangi wajahnya. Clarisa mulai meregangkan otot lehernya dan juga tangannya. "Lihat si cunguk sialan ini, sepertinya dia ingin menantangku lagi" Ucapnya, dan Plak.. Aku membulatkan mataku melihat Clarisa mendaratkan tangannya di pipi si lampir tua. 'Hebat' batinku. Rasanya aku ingin teput tangan dan me

