Rei menatapku bingung, sepertinya dia sedang menimbang-nimbang kesalahan apa yang dia perbuat sampai-sampai aku menatapnya sepeti itu. Sementara Clarisa, memilih untuk keluar. Dia mungkin mengerti kalau ini urusanku dan Rei, urusan rumah tangga kami yang harus kami luruskan. Saat akan keluar, aku melihat raut wajah Clarisa sepertinya sangat kesal, bahkan dia menutup pintu dengan sangat keras tanpa memperdulikan kalau ini adalah rumah sakit. "Katakan apa yang ingin kamu katakan" Lagi-lagi aku mengatakan hal itu, aku ingin memberi dia kesempatan untuk mengatakan sejujurnya kebohongan yang telah dia lakukan sebelumnya. "Apa maksud kamu Dia, aku tidak mengerti." Ucapnya ranpa merasa bersalah. "Apa kau fikir aku mengerti? Katakan!" Ucapku. "Apa?" Tanya Rei. "Apa?" Tanyaku balik bertanya. "

