Dengan gontai, langkah kaki kecil Galih mulai menapaki pekarangan mansion keluarga Abi. Mata kecil Galih yang memerah sudah menatap sayu sekitaran mansion yang terlihat ramai dihiasi papan bunga beserta orang yang berlalu lalang menggunakan pakaian serba hitam, seperti dirinya. Langkah yang terbilang lambat itupun mulai memasuki pintu besar dan langsung menyuguhkan pemandangan haru di dalamnya. Di sana, di dalam wadah persegi panjang dengan bunga di sekiranya terdapat satu laki-laki yang tergolek kaku tak bernyawa. Sontak d**a Galih seperti tengah di hantam sesuatu dengan keras hingga buliran tak disangka jatuh dari pelupuk yang hampir nyaris tak pernah menangis itu. Tanpa memperdulikan para pelayat yang tengah menontoni keterpurukan dirinya, Galih terus berjalan hingga kedua tangannya

